Manusia…

Jam 10:30 gua mulai nulis ginian di jam kompi yang gua pakai. Mmm… Tadi gua baru aja mbaca dari blognya anak-anak, mulai dari yang gua kenal deket, kenal tapi gak deket, sampai yang gua ga kenal sama sekali gua baca. Dan gua nggak tahu kenapa gua jadi senyum-senyum sendiri.

Maksudnya gini…

Selama ini, mungkin gua tipe-tipe orang yang acuh sama perasaan orang lain. Masalah temen misalnya. Walau gua anggep semua orang itu temen, tapi kadang-kadang gua berpikir, orang yang gua kenal, lebih baik tidak selalu dianggap teman. Nggak kayak ppkn, slogan pilih-pilih temen itu perlu terkadang ada benernya. Tapi akhir-akhir ini gua punya cara pandang yang berbeda sama orang.

Klo ngeliatin orang yang duduk di sekitar kita sepintas, rasanya nggak ada perasaan apa-apa. Tapi pas gua coba mengamati orang lain dengan seksama dari mimiknya, matanya, alisnya, cara mulutnya ngomong, gua jadi sadar, orang yang ada di depan gua itu punya perasaan dan luapan emosi yang sama, kayak gua.

Misal~ Sebutlah ada seorang teman yang bernama X. Di mata gua dia SO (Study Oriented) banget. Dan gua dari dulu sebetulnya ga suka sama orang-orang yang SO, atau mungkin, pintar karena rajin. Intinya, gua benci paradigma “dia pintar dan dia bodoh”, hanya dari alasan nilai-nilai. Akhirnya gua definisikan pintar dan bodoh menurut definisi gua. Akibatnya, dari alam bawah sadar gua, gua ga nyadar bahwa gua diam-diam ga terlalu suka berdekatan dengan orang-orang SO ataupun rajin, walau bisa jadi orang tersebut luar biasa baik. Aduh…, sorry banget… ==’ Dan belakangan ini setelah entah kenapa tiba-tiba gua mencoba mengobservasi orang-orang di sekitar gua, gua menemukan satu hal yang krusial. Yaitu, semua itu ada alasannya.

Alasan gua ga suka ama orang SO dan orang rajin. Alasan kenapa mereka SO. Alasan kenapa mereka rajin. Bahkan alasan berteman dengan teman-teman tertentu. Walaupun terdengar konyol, tapi semua itu menurut gua cuma sekadar wujud usaha kita untuk menunjukkan eksistensi kita di hadapan orang lain. Siapa sih yang mau diacuhkan di pergaulan? Siapa sih yang mau dikucilkan? Semuanya, semuanya yang waras pasti nggak mau itu terjadi. Akhirnya, muncullah jalanhidup-jalanhidup yang kita ciptakan sendiri, dengan harapan dengan cara yang kita tempuh itu, orang lain peduli dengan kehadiran kita.

Ekstrimnya gini, si X misalnya, dia SO, mungkin alasannya dia SO adalah biar orang lain mau mendekat kepadanya, walau sekadar bertanya tentang pelajaran atau apa. Kalau sudah begitu, walau dia sadar bahwa dia hanya dimanfaatkan orang lain kalau hanya dibutuhkan, tapi dia sudah cukup bahagia dia punya orang lain yang mengakui keberadaan dia. Hmmm… Sorry, keknya itu contoh yang terlalu ekstrim dan semoga hanya ada di dunia sinetron aja. Hehehe… :D

Gua sendiri? Oh~ gua juga manusia biasa, yang butuh orang lain yang jadi temen gua. Cuma mungkin gua caranya bukan di SO atau rajin. Dan karena gua pikir mereka yang gua gak suka itu sama aja sama gua, jadi yah~, mereka juga manusia biasa, yang gua ga pantas membenci mereka. Mmm… bukan membenci sih, cuman ga suka aja. :p

Bayangkan ketika ada orang lain yang berbicara berhadapan dengan kita, dia ingin berbicara secara tulus, misal, luapan perasaannya seperti, “Eh, gua tadi abis dibeliin es krim loh~”. Orang yang tatapan matanya lurus ke mata kita, isyarat dia membutuhkan kita sebagai pribadi yang membuat dia tenang bahwa dia ada dan telah mengalami sebuah kejadian hidup yang penuh berkat. Orang yang napasnya berdinamika karena sudah merencanakan ingin mengutarakan sesuatu. Orang yang berbicara dengan mulut sinis, tersenyum, tanpa ekspresi, atau semacamnya tapi isi pembicaraannya sangat tulus. Yang artinya kita sama-sama manusia yang butuh orang lain…

Rasulullah saw bersabda, “Berlaku baiklah kepada sesama manusia. Mereka menyukai kalian selagi kalian hidup dan menangisi kalian ketika kalian meninggalkan dunia ini.” (dikutip dari irib)

Yah~ semoga saya bisa menjadi orang yang berbuat baik kepada orang lain dan menjadi orang yang disebutkan oleh Rasulullah. Amiin… :D

コメントを記入