Kisah Engkau yang Terindah

Kebanyakan dari manusia adalah kepo. Sudah kodrat sepertinya. Terlebih dengan orang yang kita ada rasa tertarik kepadanya. Padahal hanya pada Tuhanlah sudah sepantasnya kita kepo maksimal. Tapi yasudahlah.

Dan beberapa kali ketika mbaca al-Qur’an, gua menemukan pattern bahwa sebetulnya Allah itu selain tidak menitik beratkan pada fisik hamba-hamba-Nya, Dia juga tidak menitik beratkan pada nama juga rupanya. Banyak individu yang diceritakan Allah dalam al-Qur’an tapi nama mereka tidak disebutkan di dalamnya. Dia hanya ingin kita fokus pada pembelajaran yang bisa kita ambil dari hidup mereka. Termasuk seorang wanita yang ingin gua bahas kali ini.

Seorang wanita rupawan, berkedudukan terhormat, dari kalangan bangsawan, hidup bergelimang kemewahan, dan indah akhlaknya. Seorang wanita yang dari dulu gua tertarik padanya. Suka gua mendengar cerita tentang dia. Sumber inspirasi, dan gua ingin seperti dia, (kecuali bagian disiksanya, kayaknya gua ga mau, T_T).

Namun yang bikin gua sedih adalah, Allah tidak menyebutkan namanya. Wkwkwk. Padahal dia adalah salah satu wanita teratas, terhormat, tertinggi di Surga Firdaus. Ini kayak gua kesengsem sama cerita dia, pen tahu siapa dia, tapi Tuhan tidak memperkenan gua untuk mengenalnya lebih jauh di dunia ini. Eh nggak deng, Allah ternyata ngasih clue banyak tentang wanita ini. Dan dengan segenap energi kekepoan gua, gua menemukan kebahagiaan mencari tahu jati diri wanita ini di runutan panjang kisah sejarah bangsa-bangsa kuno.

Photo by u0410u043bu0435u043au0441u0430u043du0434u0440 u041fu0440u043eu043au043eu0444u044cu0435u0432 on Pexels.com

Tersebut seorang raja geje ga tahu berterima kasih bin kurang ajar yang hidup di satu masa di mana perbudakan suatu bangsa ia legalkan. Raja ini adalah raja pertama dari kalangan bangsanya yang mengaku dirinya adalah tuhan, tuhan tertinggi, yang dia tidak merasa ada tuhan lain di samping dirinya. Allah pun ga sudi menyebut nama aslinya di al-Qur’an. Ga penting juga. Mending gua belajar mengenali nama-nama bunga daripada tahu namanya. Tapi gua jadi kepaksa harus tahu namanya kalau gua mau tahu gebetan surgawi yang satunya.

Jadi, si raja akhlakless bin kasar ini, punya istri yang halus hatinya. Kita sebut saja sang Ratu. Sang Ratu, suatu hari, menemukan basket berisi bayi di sungai yang melewati tempatnya. Dia pun melihat bayi ini, tatapan mata sang bayi membuat sang Ratu terkesima dan bergetar. Dia pun membawa si jabang bayi ke hadapan raja seraya mengajaknya untuk mengadopsinya menjadi anak laki-laki mereka. Si raja tampaknya tertarik juga melihat si jabang bayi, tumbuh rasa cinta pada bayi tersebut.

Singkat cerita si bayi tumbuh menjadi pemuda perkasa, rupawan, nan baik fisiknya. Tersebut pemuda ini sanggup membuat KO seseorang hanya dengan sekali hajar. Masya Allah, alpha male sekali. Eh bentar, ngapain kok dia main hajar-hajaran? Si Doi jadi ini suatu hari pas lagi ngider jalan-jalan, menemukan dua orang bertikai, seorang dari bangsanya dan seorang dari bangsa yang memperbudak bangsanya. Dia pun langsung menghajar orang dari bangsa yang memperbudak bangsanya. Koit dong. Si Doi ketakutan, khawatir dikejar aparat karena sudah membunuh seseorang. Dan apesnya, yang dibela ternyata individu yang bermasalah. Jadi yang sebetulnya salah adalah yang dibela, dan yang benar adalah yang koit tadi. Sebuah pembelajaran, janganlah jadikan kebencian kita pada seseorang, membuat kita tidak adil padanya. Nah, yang dibela ini super kurang asem banget, malah sebar identitas si Doi bahwa Doilah yang membunuh orang kemarin. Halah, orang kayak gini mending ditendang aja tititnya, ditolong malah nggigit. Kemudian, si Doi pun kabur ke negeri lain khawatir ditangkep. Doi memohon pada Tuhan untuk diselamatkan dari kaum lalim ini.

Anyway, singkat kata, si Ratu kan jadi sendirian di istana. Ga deng, pelayan-pelayannya masih di sekeliling dia. Si raja masih berkutat dengan dosa-dosanya. Terjadilah insiden di istana mereka. Ada anak si raja yang lapor ke raja bahwa, tukang make-up-nya abis ngaku kalau dia beriman pada Tuhan-nya si bapak. Si bapak ketrigger, dia kan ngerasa dia adalah tuhan, kok ada orang yang beraninya bilang kalau dia punya Tuhan. Dipanggillah si tukang make-up ini. Si tukang make-up tidak menyanggah. Maka diperintahkanlah dibuatkan kuali gede membara berisi minyak panas dan diperintahkan si tukang make-up dan ketiga anaknya dilempar ke dalam kuali tadi. Bangsat emang si raja ini. Anak pertama diceburin. Anak kedua diceburin. Dan pas anak ketiga mo diceburin, si ibu gamang. Ajaibnya, si bayi ngomong, kalau si ibu ga usah takut, karena siksa Tuhan di akhirat ga ada apa-apanya dibandingnya kuali anget begini. Si tukang make-up ini pun akhirnya tegar diceburin sama si bayi ke dalam wajan.

Drama pun berlanjut. Semua yang nonton pasti syok dong. Ada bayi bisa ngomong sedari kecil. Mana konten omongannya berkebalikan sama si bangsat tadi. Siapapun yang melihat adegan itu pasti bergetar hatinya dan goyah melihat mukjizat. Dan di situ tentu saja hadir sang Ratu. Klo gua inget-inget lagi ya, kadang gua mikir, duh mba, ngapain juga kawin sama bangsat kayak gitu. Sifat mereka kayak berkebalikan 180 derajat. Si bangsat penghuni kerak Neraka, dan si Ratu wanita jajaran teratas di Surga.

Photo by Sergei Shmigelskii on Pexels.com

Lanjud. Trauma melihat kejadian begituan. Si Ratu pun ngomong ke raja ini bilang, +-, ‘Aku tidak beriman kepadamu. Aku tidak perduli kamu mau ngapain sehabis ini.’ Drama gelombang selanjutnya pun mengudara. Sudah ada 2 sampling di sini, dari kalangan kasta terbawah, si tukang make-up anak raja, dan dari kalangan teratas bangsawan istana, beriman kepada Tuhan semesta alam. Jika sampel dari dua kubu ekstrim ada, maka bisa dipastikan, di antara kedua kubu tadi, pasti ada juga orang-orang dari berbagai lini kehidupan yang sudah tidak percaya pada kebullshitan raja tadi. Dan yang menjadikan adegan ini spesial adalah yang mengingkari sang raja adalah orang kedua terkuat di seantero kerajaan, yaitu si Ratu itu sendiri.

Jadi kayak, kamu sudah punya segalanya, dunia di dalam genggamanmu, dan kamu tidak perduli lagi kebahagiaan duniawi lagi karena ada yang lebih penting daripada itu, yaitu Tuhan. Si raja pun menyuruh si Ratu ditelanjangi di depan umum.

😦

Hmmm… Ya Allah, ini Ratu, orang-orang di sekelilingnya melihatnya langsung atau menyentuhnya langsung aja pasti mikir-mikir. Seseorang yang dari kecil, tidak pernah mendapatkankan perlakuan kurang ajar, selalu disayang, selalu dibanggakan, selalu ditreat dengan baik dan penuh kasih sayang dari orang-orang sekelilingnya, sekarang tiba-tiba mendapatkan penghinaan memalukan seperti itu. Dan si Ratu ini ga perduli. Dia tegar dan kuat menghadapi raja asem ini. Sang Ratu pun mulai disiksa oleh si raja. Orang-orang pun melihat penyiksaan itu.

Ini sebetulnya si raja ga pandang bulu menghukum, seakan dia mengirim sinyal jelas ke orang-orang, siapapun yang melawan dia bakal dihukum. Hingga akhirnya, menuju puncak penyiksaan sang Ratu, para algojo diperintahkan untuk menggelindingkan batu dari puncak bukit dan dijatuhkan ke tubuh sang Ratu di bawah. Sang Ratu tidak bergeming. Dia menjadi contoh keberanian bagi siapapun yang melihatnya. Jangan cengeng. Apapun strata kehidupanmu, apapun jabatanmu, berdirilah tegak di atas kebenaran.

Sang Ratu berdoa kepada Tuhannya, untuk diselamatkan dari orang-orang lalim ini. Doa yang sama yang dipanjatkan oleh si Doi. Si Doi ternyata tumbuh dengan baik di bawah asuhan ibu angkatnya ini. Si Doi belajar banyak kebaikan dari sang Ratu ini. Dan kini, apa yang Ratu ajarkan pada anak angkatnya, ia pergunakan untuk dirinya sendiri.

Tepat sebelum batu tadi jatuh di atas tubuhnya, sang Ratu memohon kepada Tuhan.

… رَبِّ ٱبْنِ لِى عِندَكَ بَيْتًا فِى ٱلْجَنَّةِ …

… Tuhanku, bangunlah untukku di dekat-Mu sebuah Rumah di Surga … [Q66:11]

Ya Allah indah bat. Ini susunan pemilihan kata-katanya pun sungguh indah. Coba ya kita lihat. Dia memulai dengan memanggil “Tuhanku”. Dia pingin dapat perhatian dari Raja diraja, Tuhan semesta alam. Dia mengucapkan kata kerja “Bangunlah”, yang artinya dia ingin Tuhan melakukan sesuatu. Untuk siapa? Kata lanjutannya adalah “Untukku”. Apakah itu?

Dia melanjutkan, “di dekat-Mu”.

Ini menarik banget sebetulnya. Dia masih belum menspesifikasikan apa yang dia inginkan. Pikirannya dia kembali lagi kepada siapa yang dia panggil di awal tadi, yaitu Tuhan. Yang sebetulnya dia inginkan adalah Tuhan melakukan sesuatu untuknya. Karena sang Ratu sebetulnya ingin dekat-dekat dengan Tuhannya. Simpelnya, modus. Gapapa, sang Ratu mengajarkan kita cara modusin seseorang. T_T. Tapi modusnya indah. Karena modusnya masih tentang diri-Nya, maka sang Ratu pun ingin agar keinginan dia yang kedua tersampaikan.

Dia ucapkan “Rumah”. Ini jujur, indah banget. Satu kata namun beragam maknanya. Si Ratu ini orang yang cerdas sebetulnya. Pemilihan katanya efisien dan menyasar pada semua lini kehidupannya. Dan bisa jadi, orang-orang yang kelak akan mendengar cerita tentangnya.

Pertama, kata “Rumah” ini bisa merujuk pada rumah mewah yang ia tinggalkan sekarang di dunia. Kehidupan mewah yang dia miliki sekarang. Seakan dia berkata pada Tuhan, bahwa dia meninggalkan rumah dunianya untuk rumahnya yang lebih baik di dunia sana.

Kedua, kata “Rumah” ini bisa merujuk pada gelar yang dipergunakan oleh raja bejad tadi. Kata “Fir’aun”, sebelum raja bejad ini berkuasa, memiliki makna yang sederhana sekali, yaitu “Rumah” atau “Rumah Besar”. Ini adalah gelar yang biasa dipakai orang-orang dari kalangan istana. Kemudian, kata ini dipergunakan oleh raja bejad ini, pertama kalinya, dalam sejarah bangsanya, sebagai kata yang bersinonim dengan dirinya, atau raja. Sehingga, ketika orang-orang menyebut kata Fir’aun, benak mereka akan teralihkan pada dua hal, yang pertama “Rumah Besar” dan yang kedua si raja bejad itu sendiri. Dan si Ratu, meminta ke Tuhan, untuk dibangukan “Rumah” yang sesungguhnya untuk dirinya.

Ketiga, karena kata “Rumah” tadi ini bisa merujuk pada suaminya, maka Ratu tadi meminta Allah sebagai penemannya kelak, pengganti suaminya yang mengkhianati dirinya sendiri, suami yang ia pilih tinggalkan di dunia ini. Dia meminta Allah sebagai pengganti suaminya. Di mana? Kata terakhir ratu adalah “di Surga”. This is actually a bold thing to ask. Yet, extremely beautiful.

Sang Ratu tidak kehilangan kehormatannya. Sang Ratu tidak kehilangan kekayaannya. Sang Ratu tidak kehilangan kebahagiaannya. Dia hanya memindahkan kehormatannya, dari dunia menuju akhirat. Dia memindahkan kekayaannya, dari dunia menuju akhirat. Dia memindahkan kebahagiaannya, dari dunia menuju akhirat.

Allah pun membukakan tabir langit, menampakkan calon Rumah sang Ratu, langsung di hadapan mata sang Ratu, tepat sebelum kematian menghampirinya. Semua penderitaan yang dialami sang Ratu hilang seketika. Sebuah Rumah yang jika mata memandangnya, lenyaplah seluruh penderitaan yang pernah dialami di dunia. Sebuah Rumah yang begitu indahnya, membangkitkan kebahagiaan bagi siapapun yang memandangnya. Sang Ratu tertawa melihatnya. Allah menghiburnya kontan langsung di hadapan orang-orang bejad yang menyiksa dia. Mereka menyangka sang Ratu gila. Namun sesungguhnya merekalah yang gila, memperlakukan orang terbaik di seluruh penjuru bumi dengan kejahatan yang kelak balasannya akan mereka rasakan sendiri di kerak neraka terdalam.

Selesai.

Photo by Alexandr Podvalny on Pexels.com

Dan, Allah tidak menyebutkan nama asli sang Ratu. Seorang pahlawan terindah sepanjang masa.

Ada sih dalam hadith disebutkan nama sang Ratu. But then, it is just a simple little name. Bahkan bisa jadi nickname. Berhubung orang-orang di area tersebut biasa punya nama panjang-panjang dan ribet. Nama lengkapnya nggak disebutin. Tapi gapapa, ada hikmahnya, Allah sengaja membangkitkan rasa penasaran bagi siapapun yang penasaran tentangnya. Dan namanya sebetulnya terekam indah di bumi ini. Nama yang begitu terkenal dan indah.

Asia.

I hope we can meet there. I am your fan. I wish I know more about you. I wish I know more about your story. I wish I know more about your mother, your father, your family, your friends, and your Son in law. They raised you and educated you in the way that is extremely perfect. You are molded in the perfect environment for you to grow. And I wish, I can be your close friend there. This is my prayer to You, my Lord. So forgive me with a beautiful forgiveness, for I also try to forgive others who hurt me.

Negeri Cobaan

وَأَنَّهُۥ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ

Dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan tertawa dan menangis [Q53:43]

Masa-masa UTS anak-anak baru aja lewat. Ada yang baik-baik saja ada pula juga yang agak baik-baik saja. Sedari kecil gua udah dicekoki juga di sekolah yang namanya ujian, yang kayaknya gua masih inget, tiap malam jam 7 sampai jam 9 kudu belajar sesuatu. Gua juga masih inget jaman-jaman belajar bahasa asing, tiap hari ngelihat, ngapalin, dan ngucapin keras-keras kata-kata yang asing sama sekali di telinga gua. Dan seinget gua, masa-masa ini menyiksa banget, ga ada enak-enaknya samsek.

Eh, nggak deng.

Klo boleh jujur, sebetulnya ada sisi menyenangkannya sih. Menyenangkan belajar sesuatu yang baru. Atau kalau boleh dibilang, kesibukan yang menyenangkan. Lelah yang menyenangkan.

Masuk kuliah, ritme belajar ternyata semakin naudzubillah. Ada apa ya, masa-masa gua cuman tidur beberapa jam hanya untuk mempersiapkan ujian yang total nilainya ga seberapa. Amburadul lah, LOL. Tapi tetep, kalau waktu bisa diputar dan gua diberi kesempatan lagi, gua pengen mengulang masa-masa kuliah gua dari awal sampai akhir. It’s extremely beautiful.

Jatuhnya gua dulu mikir, keknya anak sekolahan hidupnya ujian melulu apa ya. Ternyata, semakin dewasa, ujian terus menyelimuti dan datang silih berganti. Ada yang gua ngerasa sukses ada pula juga yang gua ngerasa gagal total. Percampuran antara kebahagiaan dan kesedihan. Dan soal-soal ujian yang dulu pernah gua lalui semasa sekolah, sekarang muncul dalam bentuk yang mulai kelihatan jluntrungnya. Bahasa Asing? Belajar bahasa asing itu enaknya cuman di awal-awal. Namun ketika kita sudah berhadapan dengan orang asing dan dipaksa untuk mempergunakan bahasa mereka, problemnya sudah bukan bahasa lagi, tapi manusia yang kita hadapi sekarang. Bisa jadi pahit, bisa jadi getir, bisa jadi manis, dan bisa jadi nano-nano. Bahasa hanyalah alat, problem sesungguhnya adalah realitas yang kita hadapi.

Dan belakangan, gua sedang diuji dengan kebahagiaan. Kebahagiaan yang terlampau membahagiakan. Ada sih kesedihan, satu dua, tapi ya, masih bisa diatasi. Kalau diuji dengan kebahagiaan itu bagian yang agak tricky sebenernya adalah bagaimana cara kita mensyukuri kebahagiaan itu. Bisa dengan cara menghargai kebahagiaan yang kita punya sekarang, atau dengan membagikan kebahagiaan yang kita punya ke orang lain agar orang lain juga ikut bahagia merasakan.

Photo by Sam Kolder on Pexels.com

Kadang juga, misal, dari 10 kebahagiaan yang bisa gua hitung, ada 1 kesedihan yang bikin gua lupa bersyukur ada 10 kebahagiaan yang ada selama ini menemani. Gua kadang takut gagal di situ, gagal menjadi orang yang bersyukur dengan apa yang gua miliki. Padahal klo dipikir-pikir kesedihan itu obat mujarabnya bisa dengan berdoa dan bersabar. Dan sabar berhubungan dengan waktu. Kadang gua ngerasa, ‘Ya Allah, kok ujiannya yang ini lama bat ya. Kapan berhentinya ya Allah.’ Terus gua di tengah kesedihan iseng buka Al-Qur’an. Dan gua langsung disajikan Ayat-Ayat yang menampar gua.

تَعْرُجُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ وَٱلرُّوحُ إِلَيْهِ فِى يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُۥ خَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

Para Malaikat dan Ruh naik kepada-Nya dalam sehari yang setara hitungannya 50.000 tahun [Q70:4]

Hm? Gua pas baca Ayat ini sebetulnya takjub sih. Umur gua aja keknya ga bakal nyampe 100 tahun. Dan sekarang pun di umur 30 tahunan gua udah ngerasa lelah banget melihat berbagai macam hal. Terus gua bertanya-tanya pas baca bagian sini. Kan gua lagi sedih ya, ngapain ya Allah ngobrolin tentang perjalanan para Malaikat dan Ruh yang butuh waktu puluhan ribu tahun ini. Ternyata Ayat lanjutannya begini.

فَٱصْبِرْ صَبْرًا جَمِيلًا

Maka bersabarlah dengan kesabaran yang indah [Q70:5]

Hah! Ya Allah. Mo nanges. Aku kan sudah sedih, kok jadi pen nanges begini. :’)

Ga deng. Sebetulnya gua jadi mengatai diri gua sendiri yang goblok. Setiap cobaan ada limit waktunya, dan pasti berhenti. Paling banter berapa lama sih kita hidup di dunia, rata-rata juga 60 tahunan. Gua sudah dekat sekali waktunya untuk bertemu dengan Tuhan. Masa puluhan tahun itu kalau dibandingin sama 50.000 tahunnya para Malaikat kek cuman, halah, bentar banget ga ada apa-apanya. Apapun yang gua alami nanti di dunia ini adalah sebentar. So be strong Agi!

وَٱلْـَٔاخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰٓ

Dan Akhirat itu lebih baik dan lebih kekal [Q87:17]

Bukankah dunia ini dedesain untuk menjadi tempat ujian dan cobaan bagi siapapun yang singgah di dalamnya. Negeri cobaan ini suatu saat akan berakhir dan digantikan dengan negeri yang lebih baik. Kampung yang lebih indah dan lebih kekal. Maka dari itu ya Allah, terima kasih banyak atas setiap cobaan yang Engkau berikan kepadaku, cobaan Kebahagiaan dan cobaan Kesedihan.

Tambahlah kebaikan-kebaikan pada diriku. Jadikanlah aku seseorang yang berbuat baik di kerajaan-Mu. Jangan jadikan aku seseorang yang sombong lagi tidak tahu berterima kasih. Bangunlah untukku di dekat-Mu sebuah rumah yang indah di sana. Dan kumpulkanlah aku dengan orang-orang yang aku cintai.

Hello Ramadan, We Meet Again

Alhamdulillah. Hari pertama puasa. Masih dipertemukan kembali dengan bulan suci ini. Segala puji bagi Tuhan semesta alam, yang masih memberikan aku kesempatan untuk hidup dan berbuat sesuatu.

Tuhan, terima kasih sudah memberiku kehidupan yang sangat indah selama ini. Terima kasih sudah mengilhamiku untuk melakukan sesuatu yang belum pernah terbesit di hatiku sebelumnya. Terima kasih sudah mengajariku pelajaran-pelajaran indah. Terima kasih telah mempertemukanku dengan orang-orang yang selama ini Engkau rencanakan aku bertemu dengan mereka. Terima kasih sudah mengabulkan doa-doaku seluruhnya. Aku akan terus berdoa dan berdoa, memohon-Mu sesuatu yang membawa kebaikan bagi diriku dan orang-orang di sekitarku. Terima kasih atas nikmat yang selalu Engkau guyurkan padaku di setiap detiknya.

Lembutkanlah hatiku. Perbaiki akhlakku. Perindahlah akhlakku sebagaimana Engkau telah memperindahku.

Photo by Aron Visuals on Pexels.com

Maafkanlah aku. Tutupilah kesalahan-kesalahanku. Perbanyaklah kebaikan-kebaikan dalam diriku. Jadikan aku terang dalam gelap. Kasihilah kedua orang tuaku sebagaimana mereka telah mengasihi aku sedari kecil. Kasihi orang-orang terkasihku sebagaimana mereka telah mengasihiku. Berkatilah keluargaku, teman-temanku, murid-muridku, semuanya. Jadikan juga mereka lilin-lilin dalam gelap, yang tidak mengutuki kegelapan, tapi menciptakan terang.

(‘:

Amiin.

Photo by Lisa on Pexels.com

Mereka bilang, ketika Ramadan, sifat asli kita akan muncul dengan sendirinya. Di mana sumber keburukan dibelenggu pada bulan ini. Sehingga, jika kita berbuat kejahatan pada bulan ini, maka tidak seyogyanya kita menjadikan setan sebagai kambing hitam. Bukan begitu logikanya?

I did a little test. One night before Ramadan begins, I went to a remote place, and analyzing my feelings about something. It was emotional, I cried a lot. My heart keeps crying and crying. Nobody saw me, so I think that was my genuine feeling. I remember a lot of my stupidity.

Then, I do it again, but now, I do it at the night of Ramadan. I went to that remote place again. And I want to know, how I behave about my feelings. Interestingly, not a single drop of tears came out from my eyes. I am still trying to remember about my stupidity, my mistakes, and my weird things. But my heart felt so calm and clear. It was very logical. I analyze things in the way that I should analyze things. I can clearly distinguish between good and bad of something. I criticize myself when I do bad things, and I praise myself when I do good things. I like this version of me. Then I try to find what can make me cry in this moment. I tried to remember a lot of topics, but none make me cry. Except, when I remember God, Paradise, and Hellfire, I am starting to cry uncontrollably. The One who created me, the One who created this earth, the One who created the 7 Heavens, this is the Lord that I should serve with all my heart. I really like this version of me. LOL

I hope we can pass this Ramadan with flying colors. 😀

The Preview of Paradise

Gua masih inget, pas gua baru balik ke Indonesia, itu adalah salah satu masa-masa gua paling ngerasa kesepian di dalam hidup gua. Mo keluar ga ada temen, temen gosip gua udah pada ke mana, cafe sukaan gua ga ada, usaha pun jatuh bangun.

Gua pun curhat ke Yang Menciptakan gua.

Photo by Kaique Rocha on Pexels.com

Dan Dia ngirim temen lama gua dari Vietnam dateng. Wkwkwk.

Setelah 7 hari 7 malam ngintil bareng anak ini keliling Jogja Bali, cara pandang gua ke nih anak udah berubah total. Gua dah nganggep dia jadi sodara gua sendiri. Pas dia mau balik, wajahnya sumringah sekali. Mungkin merasa bahagia bakal lepas dari gua. Trauma kali ya gua bonceng hampir kecelakaan. Wkwkwk. Sedangkan gua sedih ngelihat dia balik.

Postingan lebih lengkapnya bisa dilihat di sini. https://agipras.wordpress.com/2016/05/13/akhirnya-gua-nyerah/

Selepas itu, gua sadar, ga seharusnya gua meninggalkan temen-temen lama gua. Gua pun mulai menormalkan kembali hubungan gua sama temen-temen lama gua. Tak berapa lama, Dia pun memberi gua bonus teman-teman baru yang lain. Buanyak banget. Malam kegiatan jadi padet banget, mulai dari ngobrol-ngobrol, ngafe, olahraga, sampai jalan-jalan sama anak-anak gua jabani.

Yang awalnya gua merasa sendiri tiba-tiba gua diliputi kesibukan bersosialisasi. Perubahan kondisi ini dimulai dari ‘curhatan’ kecil gua ke Yang Maha Kuasa. Dia ngerti gua kesepian pas pulang ke Indonesia, dan Dia langsung ngasih hint untuk lepas dari kegalauan ga jelas gua. Gua pun mencoba jadi sering banyak-banyakin ngobrol sama Dia.

Gua pun berdoa, untuk, hmmm…, dihadirkan seorang bidadari dalam hidup gua. Gua spesifik banget doanya. Detailnya gua sebutin. Ya ga detil-detil amat sih. Dan beberapa hari kemudian, Dia menghadirkannya, dengan cara yang sama sekali tidak pernah gua duga sebelumnya, yang sampai sekarang, Alhamdulillah, menjadi teman kehidupan terdekat gua. :p

Iseng gua pernah tanyain doi. Doi cerita ternyata beberapa waktu sebelumnya juga pernah minta ke Yang Menciptakan doi untuk dipertemukan dengan seorang lelaki. Dan doa kita ternyata saling terkabul. T_T *terharu

Photo by brittany on Pexels.com

Jadi intinya, apa ya, hahaha, dunia itu di mata gua seperti simulasi Surga, semacam trailer, atau preview. Salah satu fitur di dunia ini yang mirip dengan fitur kehidupan di Surga adalah, permintaan. Di Surga, segala sesuatu yang kita inginkan bisa dikabulkan sekejap. Di dunia, segala sesuatu yang kita minta ke Yang Maha Kuasa, akan dikabulkan, dengan kondisi terbaiknya, dengan bonus-bonus tak terduganya.

Dulu, pernah, uang gua menipis sekali, yang gua sendiri bingung nanti makan pakai apa di hari-hari selanjutnya. Gua pun berdoa minta tolong. Kemudian Dia pun mengirimkan seseorang kepada gua, yang bawain makanan. Literally, makanan. Enak pula, dan bisa buat stok berminggu-minggu.

Pernah juga gua minta ke Dia, pen jalan-jalan ke suatu negara. Datanglah kesempatan itu, gua dapet rezeki yang tidak disangka, dan gua pun bikin Visa. Visa gua ditolak, karena salah tanggal. Hmmm… Ya Allah, berasa kena prank. T_T

Eh nggak deng, ternyata Allah kalau ngeprank itu indah sekali. Beberapa tahun setelahnya, Dia ternyata mengabulkannya ga cuman di satu negara, tapi banyak negara. *terharu lagi

Pernah usaha gua ditimpa krisis, ada kayaknya setengah kapital gua hilang. Duh Gusti… Gua doa lagi, dalam keadaan stres. Kemudian gua pun mengerahkan seluruh ilmu yang pernah gua pelajari dari awal kuliah sampai akhir kuliah. Ga bo’ong. Beneran. Gua eksplor mati-matian hampir semua matkul yang pernah gua pelajari, buat mencoba bangkit usaha gua. Setelah berjalannya waktu, kapital kembali lagi, dan Dia ngasih gua bonus cabang ilmu pengetahuan baru yang ga pernah terbersit dalam hati, yang gua pakai buat mencari nafkah. Pernah juga gua lagi nyari anak ilang, terus berdoa malem-malem, di mobil, hujan-hujanan, beberapa detik kemudian yang dicari muncul.

Dari berbagai pengalaman dalam doa berdoa ini, gua bisa simpulkan, Dia mengabulkan seluruh doa. Kalau Dia menganggap do’a kita terlalu remeh, kita tinggal berdoa lagi, dengan skala yang jauh lebih besar, karena Dia suka mengabulkan doa dengan skala yang jauh lebih besar.

وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ …

Your Lord has proclaimed, “Call upon Me, I will respond to you… [Q40:60]

Sehingga gua jadi sering berpikir, dunia itu jatuhnya kayak latihan sebelum ke Surga, karena Dia menyuruh kita meminta apapun juga, dan Dia akan meresponnya. Sama seperti di Surga, kalau mau sesuatu, tinggal minta kepada-Nya. Dia justru tidak suka dengan siapapun yang menyombongkan diri di hadapan-Nya, seakan tidak butuh bantuan dari-Nya.

While in fact, we are the ones, who are in desperate need of Him.

Jadi intinya apa ya, hmmm…, intinya adalah, mari kita sering-seringkan waktu kita untuk ngobrol dengan-Nya. 😀

Grateful

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

And proclaim the blessings of your Lord. [Q93:11]

Kadang, gua berpikir, rumput tetangga lebih hijau. Kalau ngelihat tetangga sebelah, “Enak ya, dia bisa ini. Dia punya itu. Sedang gua nggak.” Kadang juga dalam beberapa hal, “Coba gua jadi dia, mungkin gua lebih bahagia.”

Gua pernah berpikir kayak gitu. Cuman semenit sih. Terus ga jadi pengen. lol.

Gua pernah menanyai lebih detail tentang orang-orang yang gua pikir kehidupannya lebih enak daripada gua. Btw ini orang-orang dekat gua semuanya, jadi mereka mau-mau aja share cerita. Mereka bercerita tentang masalah-masalah yang, hmmm, ga mereka bagi ke kebanyakan manusia. Dan tiap kali gua denger list problem mereka, keinginan untuk ada di posisi mereka hilang seketika. Kelebihan yang tampak di luar hanyalah salah satu sisi kehidupan mereka, ada kesusahan yang mereka hadapi di sisi yang lain, yang gua sendiri ga yakin gua bakal sanggup ngehadapinya.

Tidak ada satu pun list problem dari mereka yang pengen gua emban dalam kehidupan gua. Kemudian, gua yang melihat list problem gua sendiri pun menyadari, ini adalah problem-problem yang masih wajar gua hadapi, masih bisa gua tangani. Tuhan sudah mendesain problem yang gua hadapi spesifik untuk gua, untuk kemampuan gua sendiri. Gua lebih memilih list problem gua sendiri dibanding mereka.

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya… [Q2:286]

Thank You, my Lord, You have given me a chance to be born, to come to this world, as a guy named Agi. Thank You for the blessings You give me all this time. I am grateful for everything You gave me, My Lord. I even cannot count Your blessings You gave me yesterday. Everyone deserve to be happy in their life. So, My Lord, increase the happiness from You to me. Give me from Your special vault there, a continuous blessing, an unimaginable blessing, that I need. Thus, make me the source of happiness for the people around me.

Photo by eberhard grossgasteiger on Pexels.com

Life is Beautiful

One night, I asked Him to write for me a beautiful story for my life,

all the way,

from the day when I asked Him, the day He take me from this world, the day I wait for Him in the grave, the day He resurrect me, the day I meet Him, the day I talk to Him, the day I talk my stories to Him, the stories He wrote for me, the day He grants my prayers,

till forever.

Then at the next day, story upon story arrive in my life. Some make me laughing, some make me crying.

When I thought I was hopeless, just any beautiful stories, the help arrives unexpectedly. The helps are so unexpected, they come from the angle I never imagine. All of them outweighed the problem I faced.

And never have I been in my supplication to You, my Lord, unhappy.

However, when I look back to my old life, then I realized, all of them are beautiful. He already granted me, beautiful stories, even before I asked Him. Life is, indeed, beautiful.

Thus my Lord, forgive me, for I have disobey You a lot.

Make me the source of smile for people around me.
Make me the source of friendliness for people around me.
Make me the source of happiness for people around me.
Make me the source of easiness for people around me.
Make me the source of kindness for people around me.

Make me one of those who are most beneficial to people.

Memelihara Burung

Sekitar bulan Februari kemarin, gua dan temen gua memutuskan melakukan penelitian tentang burung. Gua ke pasar burung, beli burung, dan beli sangkar burung. Lovebird yang gua pilih waktu itu. Burungnya lucu sekali, matanya bulet dikelilingi lingkaran putih, warna bulunya juga gradasi merah kuning hijau ke biru.

Awal-awal gua masih takut pas mau ganti makanan di kandang. Tangan gua digigit dong. Dan sakit. Jadi burungnya gua taruh luar di pelataran. Kalau malam pulang dari kerjaan gua bawa masuk lagi. Kadang gua tinggal pas lagi hujan deras di pelataran. Dia diem. Kadang juga gua tinggal berhari-hari ke luar kota, jadi dia nangkring di kandang seharian dengan makanan yang gua siapkan cukup ditinggal selama gua pergi. Pulang-pulang, gua kaget denger suara dia teriak-teriak, dari kejauhan gua melangkah, dia kayak mulai mengenali suara langkah kaki gua.

Dan hari itu tiba. Gua pandangi dia, lucu. Tapi raut wajah dia emang diciptakan Tuhan seperti itu. Hati dia, gua blank sama sekali. Akhirnya, gua beranikan buka kandangnya. Dia diem.

Besoknya, gua coba masukin tangan gua ke kandang yang terbuka. Karena pintunya agak kecil, gua agak susah sebetulnya masuk menggapai-gapai tempat makanan minuman dia. Bulunya langsung berdiri ketika tangan gua masuk. Dia mencoba nyerang gua. Gua urungkan.

Di lain hari gua coba masukin botol parfum, dia langsung marah kayak nyerang si botol. Gua urungkan.

Hingga suatu hari, dia mencoba keluar kandang. Dia nangkring di pintu masuk. Gua gelisah ngelihat dia nangkring di pintu kandang. Lama dia mikir. Terus dia masuk lagi.

Besok-besoknya dia kadang masih iseng juga nangkring di pintu keluar, terus masuk lagi, ga jadi keluar.

Suatu hari, dia nangkring di pintu keluar. Terus, entah kenapa dia kayak jatuh gitu. Dia teriak-teriak. Ketakutan dia terbang ga tentu arah. Kepalanya mbentur tembok kamar gua. Kasihan. Hingga akhirnya dia bertengger sekuat tenaga di korden jendela. Ngos-ngosan. Gua deketin sangkarnya. Dia pun masuk ke sangkar.

Berganti hari, dia iseng keluar lagi. Tetep masih panik. Dia terbang ke segala arah. Gua ga tega kalau dia nabrak tembok. Tapi akhirnya dia nangkring di kusen gorden. Di besi panjang gorden. Lama dia nangkring di situ. Gua biarin 1 jaman. Terus gua bawa kandang deketin dia lagi. Akhirnya dia masuk lagi.

Di lain waktu, dia mulai keluar dengan pelan-pelan. Jadi dia memanjat pakai paruh dia. Eh, sekarang dia turun deng dari kandang. Begitu menyentuh lantai, dia langsung lari ke “gang koper”. Karena gua naruh koper yang gua pepetin ke dinding, dan dia sembunyi di baliknya situ. Ternyata dia suka tempat gelap dan sempit.

Singkat kata, dia mulai keluar masuk “gang koper” ke kandangnya dia buat makan. Klo tidur dia ke “gang koper”. Perlahan, dia mulai berani keluar dari “gang koper”, jalan-jalan ke kamar gua. Gua pun mulai mendekati dia, dan gua ajak berinteraksi layaknya “manusia”. Gua kasih dia privasi, gua ajak dia ngobrol, gua kasih makanan kesukaan dia, gua kadang suruh dia keluar kamar buat jalan-jalan di halaman, gua mandiin, dan sekarang, dia kadang bobok di sebelah gua.

🙂

Setelah berinteraksi dengan burung ini, gua jadi jatuh cinta sama hewan peliharaan gua satu ini. Gua jadi paham kebiasaan dia. Dia juga paham kebiasaan gua. Dia kalau bahagia suka teriak-teriak ngajak ngobrol gua. Kalau sakit, dia jadi ga semangat kalau ngobrol. Dia sering naik ke pundak gua ngelihatin gua kerja. Kadang klo nonton youtube, dia ikutan datang, nonton youtube juga. Ini burung ya, kalau gua amati, mungkin binatang paling lugu yang pernah gua temui.

Hatinya baik. Beneran. Ini bukan kayak kucing atau anjing yang kadang ngeselin walau bentuknya lucu. Atau kayak sapi atau kambing yang bengong-bengong di taman. Atau kayak kecoak yang suka lari-lari ga jelas.

Burung itu kayak bayi. Hatinya lucu sekali, seperti penampilannya yang lucu. Dia punya perasaan, dan masih inget kalau abis diperlakukan kurang baik. Dia suka melakukan perbuatan yang menyenangkan pemiliknya dan diulang ulang sama dia.

Dia bisa diajak bicara, paham perintah-perintah tertentu, asalkan konsisten. Dan dia juga bisa mengartikulasikan perasaan dia lewat suaranya. Dengan bahasa lain, dia bisa bicara, ada makna di setiap cuitannya yang berbeda-beda. Kalau jeli, setiap cuitan dia selalu konsisten dengan mood dia atau perasaan dia. Kayak ngomong sama anak kecil, anak kecil bisa berbicara dengan kata-kata tertentu dan konsisten dengan maknanya. Tapi ya itu, anak kecil kalau ngomong ya topiknya lucu-lucu. Wkwkwk.

Satu lagi. Dia disiplin. Ini belum gua eksplor lebih dalam di penelitian gua. Anjing memang bisa dilatih dan bisa bantu polisi buat mencari sesuatu atau berburu sesuatu. Burung, juga sama, dia punya ritme penyerapan perintah baru dengan perilaku tertentu. Misal gua mengeluarkan bunyi tertentu, “tok”, dengan nada tertentu. Gua bisa assign kata ini dengan suatu kegiatan, atau perilaku tertentu, dan si burung dengan beberapa repetisi bisa paham maksud bunyi “tok” tadi, asalkan kita disiplin dan dia disiplin dalam tukar informasi tadi. Kenapa ada kata “disiplin”? Karena si burung ini kalau gua amati, bisa diajari dengan metode reward and punishment. Kalau secara reward, dia bisa kita ajari sesuatu yang menyenangkan, dan biasanya butuh makanan buat memancingnya. Tapi kalau gua amati, kita bisa ajari dengan cara memberi punishment juga untuk mengajari sesuatu. Ini menarik sekali sebetulnya kalau dieksplor. Tapi jujur gua ga tega ngepunish si burung. 😦

Terakhir, gua bisa ajari si burung ini jadi “tentara”. Kebetulan, ada binatang yang lumayan mengganggu yang kadang berkeliaran di kamar. Si burung ini, begitu sudah dekat sama gua, gua bisa tinggal nunjuk binatang yang mau diserang tadi, dan dia otomatis dengan senang hati, dengan wajah lucu, langsung mengattack binatang tadi. Seriusan. Ini bagian yang agak horor sebenernya. Wkwkwk. Sehabis dia menyerang binatang tadi, dia balik lagi ke gua dengan wajah polos, kayak ngomong “Halo. Yuk main lagi.” 😦

Btw, gua nulis ginian dengan bias. LOL

Anyway, selamat berakhir pekan. Kapan-kapan gua tulis diary gua dan burung gua lain waktu. 😀

Something just doesn’t change

One day I thought, humanity day by day evolve their knowledge into something better, something that has more complexity and beauty than the previous one. We move forward into something that more advance. We are getting better and better. And something new always arrives in front of humanity doorstep. Every day we may think like, “What’s new? Did something happen? What kind of thing that we can innovate today?”

But, it’s not always the case.

Do we think that we are kind of special generation that lived outperform our ancestors? Do we, as a species, have better critical thinking and innovation than our previous generation?

Let’s appreciate our languages now. The languages that we have now, arguably, much simpler than the old languages. At least, that’s the impression I get when I learned Akkadian language, a family of dead language from the past, the language itself is so weirdly hard. It is so hard, that you need special registered memory in order to read an ordinary word that is written using a mixture of the previous writing system, named Summerian, and a bunch of weird reading technique. It is not alphabetical like the characters we had today, it was pictogram. And not only Akkadian, the other old languages most of them are pictograms, resulting in hundreds or thousands of characters needs to be remembered in order to read a simple sentence.

Sometimes, in our modern time, their language is just not efficient. Their numbering system is also weird. But, is it suitable for them? Well, Egyptians build pyramid eventually. And building pyramid is not an easy job. You need to calculate complex thing with math obviously.

Our ancestor thought differently than most of us now, they thought things in a complex manner.

And here we are, living a simple life, with a simple writing system (except those Chinese and Japanese), with simple language. In this case, we as species may tend to think simpler than our ancestor.

It is just the language part. There are also other parts which we didn’t really advance as a human being. But anyway, there is something else.

No matter wherever you live, no matter what kind of era you live, no matter how advanced humanity will become, humanity has the same desire on their mind.

We love goodness in this life. We love kindness. We want to be treated fair in this life. We want to live in beautiful place. We want to have good friends. We should help each other in goodness. In particular, we should help the unfortunate among us.

Be trustful. Be kind. Be charitable. Be honorable.

This is what will never be changed in human desire.

Surga Allah

Sebuah kajian menarik pernah gua dengar dari Ustadz Nouman Ali Khan. Postingan kali ini adalah rangkuman kajian beliau saat itu. Al-Qur’an sering sekali menggunakan kata [Samaa’ :: السَّمَاءِ] dan [Samaawaat :: السَّمَاوَاتُ] ketika merujuk tentang ‘Langit‘. Kedua kata ini, walau sering diperlakukan sebagai kata yang sama dalam bahasa Indonesia, namun keduanya memiliki makna yang sama sekali berbeda.

thanks to: Nick Risinger

[Samaa’ :: السَّمَاءِ] adalah kata berjenis tunggal atau singular. Adapun, [Samaawaat :: السَّمَاوَاتُ] adalah kata berjenis jamak atau plural. Maka, [Samaa’ :: السَّمَاءِ] seharusnya lebih kecil ukurannya daripada [Samaawaat :: السَّمَاوَاتُ], bukan?

Sayangnya bukan.

Dalam bahasa Arab, [Samaa’ :: السَّمَاءِ] justru memiliki konsep ‘apapun yang ada di atas’. Sedangkan, [Samaawaat :: السَّمَاوَاتُ] justru merujuk pada ‘Ke-7 Langit’. Sehingga, [Samaa’ :: السَّمَاءِ] yang singular ini bermakna ‘sesuatu yang hampir tak terbatas’, dan [Samaawaat :: السَّمَاوَاتُ] yang plural ini justru bermakna ‘sesuatu yang terbatas’. Karena kita tahu dari Hadith, ukuran ‘Ke-7 Langit’ ini jika dibandingkan dengan [Kursi :: الكرسي], seperti sebuah cincin terhadap luasnya Gurun. [Kursi :: الكرسي] pun dibanding [`Arsy :: عَرْش] jika dibandingkan, seperti sebuah cincin terhadap luasnya Gurun. Kecil sekali [Samaawaat :: السَّمَاوَاتُ] ini bagi Allah, walau bagi kita teramat besar.

Dari al-Qur’an dan Hadith, kita tahu Surga itu ada banyak. Al-Qur’an mendeskripsikan salah satu Surga tersebut dalam ayatnya berikut.

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan Surga yang seluas [Samaawaat :: السَّمَاوَاتُ] dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa [Q3:133]

OK di sini, Allah menyuruh untuk bersegera terhadap suatu Surga, yang secara deskripsi, merujuk pada sesuatu yang ukurannya sebesar ‘Ke-7 Langit’ ciptaan Allah, yang mana ukurannya seharusnya tidak terlalu ‘besar’ dibandingkan ciptaan Allah yang lain. Kata kuncinya adalah ‘… disediakan bagi orang-orang yang bertakwa‘, yang mana pada Ayat-Ayat selanjutnya al-Qur’an menyebutkan kriteria orang-orang yang bertakwa adalah,

  1. Orang-orang yang berinfak di kala lapang dan sempit, dan
  2. Yang menahan amarah, dan
  3. Yang memaafkan orang lain, dan
  4. Orang-orang yang apabila berbuat keji dan dzalim mereka mengingat Allah dan memohon ampun atas dosa mereka.

Dan ini semuanya, al-Qur’an menyebut kriterianya pakai kata ‘dan‘ semuanya. Padahal, masuk satu kategori saja sudah susah dan luar biasa sekali. Apalagi ke-empat-empatnya, akan lebih sedikit lagi jumlah orang yang masuk kualifikasi tersebut. Surga yang dimaksud yang ini jelas, adalah Surga elit di antara Surga-Surga yang lainnya.

Namun dalam Ayat-Nya yang lain, Allah berfirman.

سَابِقُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas [Samaa’ :: السَّمَاءِ] dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. [Q57:21]

Kali ini, al-Qur’an menyebut Surga, dengan kata [Samaa’ :: السَّمَاءِ] yang jauh lebih luas dibanding ‘Ke-7 Langit’ tadi. Dan kriteria yang dipasang kali ini jauh lebih ringan dibandingkan yang tadi, cukup beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Ini adalah Surga yang jauh lebih luas jangkauannya dan lebih mudah dimasuki oleh banyak orang, dari sejak zaman Ia ciptakan makhluk-Nya pertama kali (yang notabene bukan manusia) sampai di akhir zaman kelak, semuanya berkesempatan untuk bergabung ke dalam Surga Allah.

Sekian.

Wassalamu’alaikum wr wb.

Kajian al-Qur’an :: Orbital Composition :: Q2 dan Q38

Postingan ini mengandung postingan sebelumnya tentang Struktur [al-Baqarah :: البقرة] yang telah diedit untuk mempermudah runut analisis Surat [Saad :: ص].

Kesan random sebenernya sering muncul dari orang yang baru pertama kali mbaca al-Qur’an secara menyeluruh. Coba suruh orang mbaca [al-Baqarah :: البقرة], Surat terpanjang di al-Qur’an, untuk pertama kali, terus suruh ngejelasin runutan ceritanya. Susah bok. Malah adanya kesannya ceritanya lompat-lompat ndak ada kronologis mendasarnya. Salah satu penjelasan kenapa al-Qur’an terkesan lompat-lompat tidak lain dan tidak bukan adalah bagaimana al-Qur’an itu diwahyukan. Wahyu turun biasanya menanggapi pertanyaan-pertanyaan random yang muncul di kehidupan seputar nabi. Ada orang tanya itu, turun Firman Allah menanggapi. Ada persoalan itu, turun lagi Firman Allah menanggapi. Jadinya kelihatan random.

Kembali ke [Saad :: ص] dan [al-Baqarah :: البقرة]. Ajaibnya, nih Surat-Surat gampang diinget. Bahkan seluruh al-Qur’an, gampang diinget. Klo mo nyoba nginget sih. Ngalir aja gitu, walau gak ngerti artinya. Apalagi klo ngerti artinya, itu cem tingkat pengingatannya jadi 2 kali lipat. Padahal seperti tadi dibahas, isi cerita di al-Qur’an kebanyakan tampak gak tersusun kronologis dari awal sampai akhir. Sebaliknya gua pribadi, nyoba ngehapal pembukaan UUD 45 aja rasanya udah kempot-kempotan.

Struktur Langit

Anyway, selain tentu saja alasan buku ini turun dari pemilik `Arsh, ada alasan lain kenapa al-Qur’an yang tampak random ini gampang diinget. Berikut adalah hipotesis gua.

Al-Qur’an secara keseluruhan, tersusun seperti gerakan bintang-bintang di langit.

Dari mana gua bisa mengambil kesimpulan seperti ini? Mari kita simak Ayat-Ayat berikut.

فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ. وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ

Lalu Aku bersumpah dengan [Mawaaqi`i :: مَوَاقِعِ] bintang-bintang
Dan sesungguhnya sumpah itu, kalau kamu tahu, [`Adziim :: عَظِيمٌ] [Q56:75-76]

Kata [Mawaaqi`i :: مَوَاقِعِ] memiliki kata dasar [و ق ع]. [و ق ع] sendiri punya range arti yang termasuk luas banget, mulai dari penyebab, kejadian, kiamat, terjadi, posisi, dan terbenam. Maka jika kata-kata seperti “jika kejadian itu terjadi” atau “jika posisi-posisi diposisikan” disebutkan dalam bahasa Indonesia, maka kita bisa menangkap nuansa kata-kata tadi merujuk pada Ayat pertama Surat [al-Waaqi`ah :: الواقعه]. Sampai di sini pendengar bisa langsung paham kalimat tadi merujuk pada hari kiamat, di mana pada hari itu Jin dan Manusia sudah diposisikan pada posisinya masing-masing mengikuti para penyeru yang menyeru mereka. Adapun kata [Mawaaqi`i :: مَوَاقِعِ], bentukan kata ini hanya muncul sekali dalam al-Qur’an. Kata ini biasa dipahami sebagai posisi-posisi, atau tempat beredar. Jadi, Allah bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Walau begitu, nuansa dari arti [و ق ع] yang lain pun juga masih terasa mengikuti. Apapun itu yang jelas satu, Ayat ini berbicara tentang sesuatu yang ndak main-main gedenya.

Kalau di postingan sebelumnya gua mencoba membahas planet, kali ini gua mencoba membahas tentang bintang-bintang. Bintang, sebagaimana kita tahu, merupakan benda-benda langit yang membuat kita ngerasa ndak ada apa-apanya di alam semesta ini. Lokasi Bumi di galaksi Bima Sakti aja nyempil di pinggiran. Dan Bima Sakti bahkan bukan galaksi terbesar di alam semesta. Dan memang seharusnya kita sudah sepantasnya merasa seperti itu, karena kehidupan kita ini, kehidupan Dunia ini, sudah cukup melambangkan begitu kecilnya kita di hadapan Yang Maha Kuasa. Tidak heran ada hadits berkata, Dunia itu lebih hina bagi Allah daripada bangkai bagi manusia.

Bahkan, kata Dunia itu sendiri, [Dunyaa :: دُنْيا‎], memiliki dua macam arti, yang paling dekat atau didekatkan, dan yang satu lagi, yang paling bawah atau terbawah. Ini adalah kehidupan terbawah di langit terbawah. Kalau tidak karena belas kasihan Allah, tidak ada yang bisa dibanggakan sama sekali dari kondisi kita sebenarnya. Boro-boro kehidupan di langit-langit lain, kehidupan di bawah permukaan bumi saja masih awang-awang kita tahunya. Di hadits lain bahkan Allah seakan tidak begitu mempermasalahkan sekiranya seluruh Jin dan Manusia tidak beriman kepada-Nya sama sekali. Kebesaran-Nya tidak akan bertambah atau berkurang. Dia bisa saja mengganti kita semua dengan kaum yang baru jika Dia berkehendak. Dan Allah mengajak berbicara makhluk-makhluk di kehidupan terbawah ini mengenai tempat beredarnya bintang-bintang.

Bentar, tadi ngomongin apa sih? Bintang-bintang. Sekarang, jika kita punya akuarium dan seekor ikan, maka hal apa yang lebih besar daripada ikan di dalam akuarium itu sendiri? Ruang-ruang yang dilewati ikan selama dia di akurium tadi. Sama halnya seperti bintang-bintang. Jika semua bintang-bintang dari galaksi-galaksi tadi ini digabung, kira-kira apa yang lebih besar dari mereka? Jawabannya, ruang yang dilewati oleh bintang-bintang tadi semenjak kejadian bintang-bintang tadi muncul sampai bintang-bintang tadi mati. Maka nggak heran, Allah berkomentar di Ayat selanjutnya, bahwa sesungguhnya ini adalah sumpah-Nya yang [`Adziim :: عَظِيمٌ], sumpah-Nya yang sangat besar, sumpah-Nya yang sangat agung, jika engkau mengetahui. Dan salah satu atribut nama Allah adalah al-`Adziim, Yang Maha Agung.

Btw, kenapa Allah pakai embel-embel “jika kamu mengetahui”? Di zaman nabi, pemahaman geosentris adalah salah satu pemahaman manusia paling populer tentang alam semesta. Banyak manusia beranggapan mereka makhluk spesial di tengah-tengah jagad raya dengan bumi sebagai pusatnya dan bintang-bintang kecil kelip-kelip mengelilinginya. Di zaman ini ada juga sih yang masih percaya begituan. Dan di zaman itu begitu banyak bangsa yang menganggap mereka bangsa pilihan Allah, dan hanya kepada mereka Allah melimpahkan Rahmat-Nya. Allah berkali-kali mengingatkan gak usah ge-er, dia menurunkan Rahmat-Nya kepada siapapun yang Ia kehendaki. Jin sekalipun, yang jauh lebih maju dibanding manusia, yang sudah cukup banyak menjelajah langit, ada segolongan mereka yang dengan rendah hati mau mendengarkan Firman Allah. Atau ndak usah jauh-jauh tentang bani Israil, suku Quraysh aja dengan kearoganannya bahkan disentil sama Allah tentang rendahnya derajat mereka dalam kedudukannya di bangsa-bangsa lain dunia. Bahkan Allah ndak sudi menurunkan pasukan dari langit untuk menghancurkan sebuah kaum yang mendustakan tiga nabi yang dikirim kepada mereka. Cukup dengan satu teriakan, kisah mereka berhenti dari sejarah peradaban bumi. Dan Allah berulang kali mengomentari betapa rendahnya Dunia dan betapa besarnya benda-benda langit yang Ia ciptakan.

Sekarang pertanyaannya, untuk apa sumpah ini?

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ

Sesungguhnya ini al-Qur’an yang sangat mulia [Q56:77]

Allah menganalogikan Firman-Nya dengan peredaran bintang-bintang di langit. Sampai di sini, gua sebenernya sudah curiga setengah mati, bahwa al-Qur’an secara keseluruhan, tersusun seperti gerakan bintang-bintang di langit. Memangnya bintang-bintang di langit gerakannya gimana? Muter-muter, berevolusi mengelilingi sesuatu, biasanya black hole atau lubang hitam di pusat-pusat galaksi.

The Big Epic

Memang, Ayat-Ayat al-Qur’an banyak sekali membentuk pattern yang kalau dalam bahasa literatur dikenal sebagai, ring composition [a]. Kok disebut ring composition? Karena mereka muter-muter membentuk simetri seperti lingkaran topiknya. Tadi sebutlah [al-Baqarah :: البقرة][al-Baqarah :: البقرة] pun sebenarnya gak random sama sekali kalau yang mbaca jeli, karena alam bawah sadar kita secara langsung mengenali pola [al-Baqarah :: البقرة]. Karena Surat ini super epic. Makanya gak heran, banyak orang hapal Surat super panjang ini tanpa sadar. Secara sederhana [al-Baqarah :: البقرة] bisa dibagi seperti ini.

[al-Baqarah :: البقرة]

  • Iman dan Kekafiran
    • Penciptaan dan Ilmu
      • Hukum diberikan kepada bani Israil
        • Ujian bagi nabi Ibrahim
          • Perubahan arah Kiblat
        • Ujian bagi umat Islam
      • Hukum diberikan kepada umat Islam
    • Penciptaan dan Ilmu
  • Iman dan Kekafiran

Ajaib kan?

Topik tengah-tengahnya aja udah ngomongi kiblat, tentang arah pusat Shalat. Lebih spesifiknya lagi, di tengah-tengah pusat topik [al-Baqarah :: البقرة], Allah menyebut umat ini sebagai umat pertengahan [Ummatan Wasathan :: أُمَّةً وَسَطًا]. Ada kata tengah di sana. Untuk pembahasan lebih jauh tentang [al-Baqarah :: البقرة], silahkan merujuk pada karya Raymond K Farrin, Surat al-Baqarah: A Structural Analysis [b].

Surat ini sama sekali gak turun runut langsung satu plek dalam satu hari, tapi dalam rentang yang lama dan dalam kondisi loncat-loncat menjawab pertanyaan dan masalah umat saat itu. Semua pertanyaan dan masalah umat tadi ada campur tangan dan diatur oleh Kuasa Yang Maha Agung tampaknya.

Sampai di sini, gua sebetulnya agak gak rela disebut ring composition, mulai sekarang, meminjam kata-kata al-Qur’an gua nyebutnya, orbital composition. Tapi keindahan [al-Baqarah :: البقرة] belum selesai lho, di dalam tiap-tiap topik tadi juga membentuk orbital composition sendiri. Dan di dalam orbital composition mini tadi ini, di dalamnya juga ada orbital composition mini lagi. Total secara keseluruhan sampai 3 level, orbit dalam orbit. Ayat Kursiy, contohnya, Ayat ke-255 dari [al-Baqarah :: البقرة] ini, kalau yang mbaca ndak jeli menghayati apa-apa yang dibacarakan di dalamnya, dia bakal melewatkan bahwa Ayat Kursiy juga terdiri dari 9 topik yang juga membentuk orbital composition.

Meminjam pemahaman manusia akan galaksi, sebetulnya galaksi kita juga terbagi atas 3 level jenis orbital. Jenis orbital pertama, bintang-bintang mengelilingi black hole. Orbital kedua, planet-planet mengelilingi bintang-bintang. Orbital ketiga, satelit-satelit mengelilingi planet-planet. Dan [al-Baqarah :: البقرة], adalah ‘galaksi’ terbesar dalam al-Qur’an. Oh ya, gua teringat tentang kasus [Kawaakib :: الْكَوَاكِبُ] yang gua bawa di blog sebelumnya, di sana pada [Q76:19] gua ngebahas tentang kesudahan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan, mereka ini diibaratkan seperti bintang-bintang di langit, yang dikelilingi oleh para pemuda kekal yang diibaratkan sebagai planet-planet yang mengelilinginya. Topik utamanya masih sama, orang-orang yang berbuat kebajikan ini bagaikan bintang. Dan pas haji, kita disuruh jadi bintang-bintang juga, muter-muter alias tawaf ngelilingi Ka’bah. Kayak, kita jadi galaksi kecil-kecilan muteri lubang hitam. Lubang hitamnya hajar aswad. Dan artinya hajar aswad adalah batu hitam.

Saad, Multi-Epic

Hyuk kita lanjut ke Surat [Saad :: ص].

Surat ini juga mirip-mirip sama [al-Baqarah :: البقرة] ke-epic-annya, di mana di dalamnya bisa dibagi jadi 9 bagian besar juga. Klo di [al-Baqarah :: البقرة] pusatnya berisikan satu topik, Surat [Saad :: ص] ini justru pusatnya terdiri dari 2 topik yang berpasangan. Dan ini mengingatkan akan argumen gua sebelumnya, bahwa makna [Saad :: ص] dari Surat [Saad :: ص], merujuk pada konsep pasangan-pasangan kebaikan dan keburukan. Konsep pasang-pasangan ini jadi isu sentral di sepanjang Surat [Saad :: ص]. Bahkan, kata-kata yang mengandung abjad [Saad :: ص] pada berpasang-pasangan.

P07-Orbital Composition

Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat orbital composition yang dipunyai Surat [Saad :: ص].

[Saad :: ص]

  • A 1-16 Peringatan tentang Kaum-kaum yang Mendustakan
    • I 17-29 Perkataan nabi Dawud dan Dijadikannya sebagai Khalifah
      • U 30-40 Ampunan dan Kekuasaan untuk nabi Sulaiman
        • E 41-48 Orang-orang Terbaik di Dunia
          • O 49-59 Surga dan Neraka
        • ē 60-64 Orang-orang Terburuk di Akhirat
      • ū 65-66 Ampunan dan Kekuasaan Allah
    • ī 67-76 Dijadikannya Manusia sebagai Khalifah dan Perkataan Iblis
  • ā 77-88 Peringatan tentang Iblis

Menarik ya.

Dan tiap-tiap topik ini masih ada orbital composition kecil-kecilnya, yang saling bergandengan sama orbital composition kecil-kecil di topik yang berpasangan. Hyuk kita amati strukturnya di grup A dan ā.

Grup A dan ā

  • A.M 1.a Saad (Huruf Misteri)
    • A.N 1.b-3 Al-Qur’an sebagai Peringatan
      • A.O 4-8 Orang Kafir menuduh Nabi sebagai Pendusta
        • A.P 9-10 Perbendaharaan Kerajaan Allah
          • … (lanjut)
        • ā.p 86.a Nabi tidak Meminta Imbalan dari Manusia
      • ā.o 86.b Nabi tidak Mengada-ada
    • ā.n 87 Peringatan seluruh Alam
  • ā.m 88 Diungkapkannya Beritanya sebentar lagi
  • A.Q 11-13 Daftar Umat-umat yang Dibinasakan
    • A.R 14 Umat-umat yang Mendustakan
      • A.S 15-16 Mereka Meminta Adzab Disegerakan sebelum Hari Kiamat
      • ā.s 77-81 Iblis Meminta Adzab Ditangguhkan sampai Hari Kiamat
    • ā.r 82-83 Janji Iblis Menyesatkan Umat Manusia
  • ā.q 84-85 Neraka Diisi Iblis dan Semua yang Mengikutinya

Adapun grup I dan ī, topiknya terstruktur sebagai berikut.

Grup I dan ī

  • I.M 17-19 Nabi Dawud, Gunung, Burung, semuanya Taat/Kembali kepada Allah
    • I.N 20 Diberikannya Hikmah dan Kebijaksanaan dalam Berbicara
      • I.O 21 Memanjatnya Dua Golongan yang Berselisih
        • … (lanjut)
      • ī.o 75.b Merasa Lebih Tinggikah Statusnya (Iblis)?
    • ī.n 76.a Iblis Berbicara
  • ī.m 76.b Alasan Iblis tidak Taat Perintah Allah untuk Bersujud
  • I.P 22-23 Rendah Hatinya Golongan yang Meminta Diadili
    • I.Q 24-25 Bersujudnya Nabi Dawud dari Kesalahannya
      • I.R 26 Dijadikannya Nabi Dawud sebagai Khalifah di Bumi
      • ī.r 71 Dijadikannya Manusia dari Tanah
    • ī.q 72-73 Bersujudnya Malaikat atas Perintah Allah
  • ī.p 74-75.a Iblis Diinterogasi/Diadili apakah Menyobongkan Diri, atau

Begitu pula grup U dan ūE dan ē, dan O. Panjang bok klo ditulis semua di sini. Intinya, ini Surat epic pisan komposisinya. Gua jadi pengen bikin tulisan lengkap daftar orbital composition untuk Surat-Surat lain yang sempet gua temui struktur-struktur ajaibnya di dalam al-Qur’an.

Tapi mungkin yang paling menarik bagi gua adalah pusat dari Surat [Saad :: ص] itu sendiri, yaitu grup O. Mari kita amati grup menarik ini.

Grup O

  • O.M 49 Bagi Orang Bertakwa, Tempat Kembali Terbaik
    • O.MX 50 Surga `Adn dengan Pintu Terbuka
      • O.MXA 51 Buah-buahan dan Minuman banyak
      • O.MXB 52 Pasangan-pasangan yang Sebaya
    • O.MY 53-54 Inilah, Janji akan Rezeki yang Tidak Habis
  • O.N 55 Bagi Orang Durhaka, Tempat Kembali yang Buruk
    • O.NX 56 Jahannam, Seburuk-buruk Tempat Tinggal
      • O.NXA 57 Air yang sangat Panas dan Air yang sangat Dingin
      • O.NXB 58 Dan Jenis Adzab lain yang Berpasangan
    • O.NY 59 Inilah, Hinaan Pembukaan kepada Penghuni Neraka

Khusus pada grup O, pusat topik dari Surat [Saad :: ص], Ayat-Ayatnya tidak membentuk pasangan yang saling menutup di ujung-ujung topik yang dibahas. Namun, mereka membentuk pasangan dengan polanya sendiri, seakan topik-topik Surga dan Neraka yang sedang dibahas sama-sama setara runutannya tanpa perlu membentuk orbital composition.

Bagian O.MXA dan O.MXB ini benar-benar mengingatkan gua akan Surat [al-Waaqi`ah :: الواقعه]. Di mana manusia akan terbagi menjadi 3 golongan, 1) Golongan Kanan, 2) Golongan Kiri, dan 3) Golongan Elit Terdepan (Saabiquun :: السَّابِقُونَ). O.MXA adalah hadiah sambutan pembuka bagi Golongan Elit Terdepan (Saabiquun :: السَّابِقُونَ), dan O.MXB adalah hadiah sambutan pembuka bagi Golongan Kanan. O.MXA dan O.MXB membicarakan tentang dua golongan berbeda di Surga.

Adapun bagian O.NXA adalah salah satu menu adzab pembuka bagi Golongan Kiri. Dan adzabnya, berpasang-pasangan. Walaupun Surat ini indah baik rima maupun strukturnya, tapi sebagian apa yang dibacarakan sebenernya horror luar biasa. Nyesek gua bacanya pas bagian Neraka. T_T

Semoga kita semua dilindungkan Allah dari adzab Neraka.

Sadaqallahul Adzim. Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Sekian.

Wallahualam.

Wassalamu’alaikum wr wb.

Disclaimer

Di Disclaimer ini, gua ingin berdoa semoga Allah mengampuni dosa gua kalau gua melakukan kesalahan besar dalam analisis ini. Semoga Allah memberikan petunjuk selalu kepada kita semua.

Referensi

[a] Ring Composition :: https://en.oxforddictionaries.com/definition/ring composition
[b] Surat al-Baqara: A Structural Analysis, Raymond K. Farrin :: https://www.academia.edu/8642515/Surat_al-Baqarah_A_Structural_Analysis