Kajian al-Qur’an :: Orbital Composition :: Q2 dan Q38

Postingan ini mengandung postingan sebelumnya tentang Struktur [al-Baqarah :: البقرة] yang telah diedit untuk mempermudah runut analisis Surat [Saad :: ص].

Kesan random sebenernya sering muncul dari orang yang baru pertama kali mbaca al-Qur’an secara menyeluruh. Coba suruh orang mbaca [al-Baqarah :: البقرة], Surat terpanjang di al-Qur’an, untuk pertama kali, terus suruh ngejelasin runutan ceritanya. Susah bok. Malah adanya kesannya ceritanya lompat-lompat ndak ada kronologis mendasarnya. Salah satu penjelasan kenapa al-Qur’an terkesan lompat-lompat tidak lain dan tidak bukan adalah bagaimana al-Qur’an itu diwahyukan. Wahyu turun biasanya menanggapi pertanyaan-pertanyaan random yang muncul di kehidupan seputar nabi. Ada orang tanya itu, turun Firman Allah menanggapi. Ada persoalan itu, turun lagi Firman Allah menanggapi. Jadinya kelihatan random.

Kembali ke [Saad :: ص] dan [al-Baqarah :: البقرة]. Ajaibnya, nih Surat-Surat gampang diinget. Bahkan seluruh al-Qur’an, gampang diinget. Klo mo nyoba nginget sih. Ngalir aja gitu, walau gak ngerti artinya. Apalagi klo ngerti artinya, itu cem tingkat pengingatannya jadi 2 kali lipat. Padahal seperti tadi dibahas, isi cerita di al-Qur’an kebanyakan tampak gak tersusun kronologis dari awal sampai akhir. Sebaliknya gua pribadi, nyoba ngehapal pembukaan UUD 45 aja rasanya udah kempot-kempotan.

Struktur Langit

Anyway, selain tentu saja alasan buku ini turun dari pemilik `Arsh, ada alasan lain kenapa al-Qur’an yang tampak random ini gampang diinget. Berikut adalah hipotesis gua.

Al-Qur’an secara keseluruhan, tersusun seperti gerakan bintang-bintang di langit.

Dari mana gua bisa mengambil kesimpulan seperti ini? Mari kita simak Ayat-Ayat berikut.

فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ. وَإِنَّهُ لَقَسَمٌ لَّوْ تَعْلَمُونَ عَظِيمٌ

Lalu Aku bersumpah dengan [Mawaaqi`i :: مَوَاقِعِ] bintang-bintang
Dan sesungguhnya sumpah itu, kalau kamu tahu, [`Adziim :: عَظِيمٌ] [Q56:75-76]

Kata [Mawaaqi`i :: مَوَاقِعِ] memiliki kata dasar [و ق ع]. [و ق ع] sendiri punya range arti yang termasuk luas banget, mulai dari penyebab, kejadian, kiamat, terjadi, posisi, dan terbenam. Maka jika kata-kata seperti “jika kejadian itu terjadi” atau “jika posisi-posisi diposisikan” disebutkan dalam bahasa Indonesia, maka kita bisa menangkap nuansa kata-kata tadi merujuk pada Ayat pertama Surat [al-Waaqi`ah :: الواقعه]. Sampai di sini pendengar bisa langsung paham kalimat tadi merujuk pada hari kiamat, di mana pada hari itu Jin dan Manusia sudah diposisikan pada posisinya masing-masing mengikuti para penyeru yang menyeru mereka. Adapun kata [Mawaaqi`i :: مَوَاقِعِ], bentukan kata ini hanya muncul sekali dalam al-Qur’an. Kata ini biasa dipahami sebagai posisi-posisi, atau tempat beredar. Jadi, Allah bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang. Walau begitu, nuansa dari arti [و ق ع] yang lain pun juga masih terasa mengikuti. Apapun itu yang jelas satu, Ayat ini berbicara tentang sesuatu yang ndak main-main gedenya.

Kalau di postingan sebelumnya gua mencoba membahas planet, kali ini gua mencoba membahas tentang bintang-bintang. Bintang, sebagaimana kita tahu, merupakan benda-benda langit yang membuat kita ngerasa ndak ada apa-apanya di alam semesta ini. Lokasi Bumi di galaksi Bima Sakti aja nyempil di pinggiran. Dan Bima Sakti bahkan bukan galaksi terbesar di alam semesta. Dan memang seharusnya kita sudah sepantasnya merasa seperti itu, karena kehidupan kita ini, kehidupan Dunia ini, sudah cukup melambangkan begitu kecilnya kita di hadapan Yang Maha Kuasa. Tidak heran ada hadits berkata, Dunia itu lebih hina bagi Allah daripada bangkai bagi manusia.

Bahkan, kata Dunia itu sendiri, [Dunyaa :: دُنْيا‎], memiliki dua macam arti, yang paling dekat atau didekatkan, dan yang satu lagi, yang paling bawah atau terbawah. Ini adalah kehidupan terbawah di langit terbawah. Kalau tidak karena belas kasihan Allah, tidak ada yang bisa dibanggakan sama sekali dari kondisi kita sebenarnya. Boro-boro kehidupan di langit-langit lain, kehidupan di bawah permukaan bumi saja masih awang-awang kita tahunya. Di hadits lain bahkan Allah seakan tidak begitu mempermasalahkan sekiranya seluruh Jin dan Manusia tidak beriman kepada-Nya sama sekali. Kebesaran-Nya tidak akan bertambah atau berkurang. Dia bisa saja mengganti kita semua dengan kaum yang baru jika Dia berkehendak. Dan Allah mengajak berbicara makhluk-makhluk di kehidupan terbawah ini mengenai tempat beredarnya bintang-bintang.

Bentar, tadi ngomongin apa sih? Bintang-bintang. Sekarang, jika kita punya akuarium dan seekor ikan, maka hal apa yang lebih besar daripada ikan di dalam akuarium itu sendiri? Ruang-ruang yang dilewati ikan selama dia di akurium tadi. Sama halnya seperti bintang-bintang. Jika semua bintang-bintang dari galaksi-galaksi tadi ini digabung, kira-kira apa yang lebih besar dari mereka? Jawabannya, ruang yang dilewati oleh bintang-bintang tadi semenjak kejadian bintang-bintang tadi muncul sampai bintang-bintang tadi mati. Maka nggak heran, Allah berkomentar di Ayat selanjutnya, bahwa sesungguhnya ini adalah sumpah-Nya yang [`Adziim :: عَظِيمٌ], sumpah-Nya yang sangat besar, sumpah-Nya yang sangat agung, jika engkau mengetahui. Dan salah satu atribut nama Allah adalah al-`Adziim, Yang Maha Agung.

Btw, kenapa Allah pakai embel-embel “jika kamu mengetahui”? Di zaman nabi, pemahaman geosentris adalah salah satu pemahaman manusia paling populer tentang alam semesta. Banyak manusia beranggapan mereka makhluk spesial di tengah-tengah jagad raya dengan bumi sebagai pusatnya dan bintang-bintang kecil kelip-kelip mengelilinginya. Di zaman ini ada juga sih yang masih percaya begituan. Dan di zaman itu begitu banyak bangsa yang menganggap mereka bangsa pilihan Allah, dan hanya kepada mereka Allah melimpahkan Rahmat-Nya. Allah berkali-kali mengingatkan gak usah ge-er, dia menurunkan Rahmat-Nya kepada siapapun yang Ia kehendaki. Jin sekalipun, yang jauh lebih maju dibanding manusia, yang sudah cukup banyak menjelajah langit, ada segolongan mereka yang dengan rendah hati mau mendengarkan Firman Allah. Atau ndak usah jauh-jauh tentang bani Israil, suku Quraysh aja dengan kearoganannya bahkan disentil sama Allah tentang rendahnya derajat mereka dalam kedudukannya di bangsa-bangsa lain dunia. Bahkan Allah ndak sudi menurunkan pasukan dari langit untuk menghancurkan sebuah kaum yang mendustakan tiga nabi yang dikirim kepada mereka. Cukup dengan satu teriakan, kisah mereka berhenti dari sejarah peradaban bumi. Dan Allah berulang kali mengomentari betapa rendahnya Dunia dan betapa besarnya benda-benda langit yang Ia ciptakan.

Sekarang pertanyaannya, untuk apa sumpah ini?

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ

Sesungguhnya ini al-Qur’an yang sangat mulia [Q56:77]

Allah menganalogikan Firman-Nya dengan peredaran bintang-bintang di langit. Sampai di sini, gua sebenernya sudah curiga setengah mati, bahwa al-Qur’an secara keseluruhan, tersusun seperti gerakan bintang-bintang di langit. Memangnya bintang-bintang di langit gerakannya gimana? Muter-muter, berevolusi mengelilingi sesuatu, biasanya black hole atau lubang hitam di pusat-pusat galaksi.

The Big Epic

Memang, Ayat-Ayat al-Qur’an banyak sekali membentuk pattern yang kalau dalam bahasa literatur dikenal sebagai, ring composition [a]. Kok disebut ring composition? Karena mereka muter-muter membentuk simetri seperti lingkaran topiknya. Tadi sebutlah [al-Baqarah :: البقرة][al-Baqarah :: البقرة] pun sebenarnya gak random sama sekali kalau yang mbaca jeli, karena alam bawah sadar kita secara langsung mengenali pola [al-Baqarah :: البقرة]. Karena Surat ini super epic. Makanya gak heran, banyak orang hapal Surat super panjang ini tanpa sadar. Secara sederhana [al-Baqarah :: البقرة] bisa dibagi seperti ini.

[al-Baqarah :: البقرة]

  • Iman dan Kekafiran
    • Penciptaan dan Ilmu
      • Hukum diberikan kepada bani Israil
        • Ujian bagi nabi Ibrahim
          • Perubahan arah Kiblat
        • Ujian bagi umat Islam
      • Hukum diberikan kepada umat Islam
    • Penciptaan dan Ilmu
  • Iman dan Kekafiran

Ajaib kan?

Topik tengah-tengahnya aja udah ngomongi kiblat, tentang arah pusat Shalat. Lebih spesifiknya lagi, di tengah-tengah pusat topik [al-Baqarah :: البقرة], Allah menyebut umat ini sebagai umat pertengahan [Ummatan Wasathan :: أُمَّةً وَسَطًا]. Ada kata tengah di sana. Untuk pembahasan lebih jauh tentang [al-Baqarah :: البقرة], silahkan merujuk pada karya Raymond K Farrin, Surat al-Baqarah: A Structural Analysis [b].

Surat ini sama sekali gak turun runut langsung satu plek dalam satu hari, tapi dalam rentang yang lama dan dalam kondisi loncat-loncat menjawab pertanyaan dan masalah umat saat itu. Semua pertanyaan dan masalah umat tadi ada campur tangan dan diatur oleh Kuasa Yang Maha Agung tampaknya.

Sampai di sini, gua sebetulnya agak gak rela disebut ring composition, mulai sekarang, meminjam kata-kata al-Qur’an gua nyebutnya, orbital composition. Tapi keindahan [al-Baqarah :: البقرة] belum selesai lho, di dalam tiap-tiap topik tadi juga membentuk orbital composition sendiri. Dan di dalam orbital composition mini tadi ini, di dalamnya juga ada orbital composition mini lagi. Total secara keseluruhan sampai 3 level, orbit dalam orbit. Ayat Kursiy, contohnya, Ayat ke-255 dari [al-Baqarah :: البقرة] ini, kalau yang mbaca ndak jeli menghayati apa-apa yang dibacarakan di dalamnya, dia bakal melewatkan bahwa Ayat Kursiy juga terdiri dari 9 topik yang juga membentuk orbital composition.

Meminjam pemahaman manusia akan galaksi, sebetulnya galaksi kita juga terbagi atas 3 level jenis orbital. Jenis orbital pertama, bintang-bintang mengelilingi black hole. Orbital kedua, planet-planet mengelilingi bintang-bintang. Orbital ketiga, satelit-satelit mengelilingi planet-planet. Dan [al-Baqarah :: البقرة], adalah ‘galaksi’ terbesar dalam al-Qur’an. Oh ya, gua teringat tentang kasus [Kawaakib :: الْكَوَاكِبُ] yang gua bawa di blog sebelumnya, di sana pada [Q76:19] gua ngebahas tentang kesudahan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan, mereka ini diibaratkan seperti bintang-bintang di langit, yang dikelilingi oleh para pemuda kekal yang diibaratkan sebagai planet-planet yang mengelilinginya. Topik utamanya masih sama, orang-orang yang berbuat kebajikan ini bagaikan bintang. Dan pas haji, kita disuruh jadi bintang-bintang juga, muter-muter alias tawaf ngelilingi Ka’bah. Kayak, kita jadi galaksi kecil-kecilan muteri lubang hitam. Lubang hitamnya hajar aswad. Dan artinya hajar aswad adalah batu hitam.

Saad, Multi-Epic

Hyuk kita lanjut ke Surat [Saad :: ص].

Surat ini juga mirip-mirip sama [al-Baqarah :: البقرة] ke-epic-annya, di mana di dalamnya bisa dibagi jadi 9 bagian besar juga. Klo di [al-Baqarah :: البقرة] pusatnya berisikan satu topik, Surat [Saad :: ص] ini justru pusatnya terdiri dari 2 topik yang berpasangan. Dan ini mengingatkan akan argumen gua sebelumnya, bahwa makna [Saad :: ص] dari Surat [Saad :: ص], merujuk pada konsep pasangan-pasangan kebaikan dan keburukan. Konsep pasang-pasangan ini jadi isu sentral di sepanjang Surat [Saad :: ص]. Bahkan, kata-kata yang mengandung abjad [Saad :: ص] pada berpasang-pasangan.

P07-Orbital Composition

Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat orbital composition yang dipunyai Surat [Saad :: ص].

[Saad :: ص]

  • A 1-16 Peringatan tentang Kaum-kaum yang Mendustakan
    • I 17-29 Perkataan nabi Dawud dan Dijadikannya sebagai Khalifah
      • U 30-40 Ampunan dan Kekuasaan untuk nabi Sulaiman
        • E 41-48 Orang-orang Terbaik di Dunia
          • O 49-59 Surga dan Neraka
        • ē 60-64 Orang-orang Terburuk di Akhirat
      • ū 65-66 Ampunan dan Kekuasaan Allah
    • ī 67-76 Dijadikannya Manusia sebagai Khalifah dan Perkataan Iblis
  • ā 77-88 Peringatan tentang Iblis

Menarik ya.

Dan tiap-tiap topik ini masih ada orbital composition kecil-kecilnya, yang saling bergandengan sama orbital composition kecil-kecil di topik yang berpasangan. Hyuk kita amati strukturnya di grup A dan ā.

Grup A dan ā

  • A.M 1.a Saad (Huruf Misteri)
    • A.N 1.b-3 Al-Qur’an sebagai Peringatan
      • A.O 4-8 Orang Kafir menuduh Nabi sebagai Pendusta
        • A.P 9-10 Perbendaharaan Kerajaan Allah
          • … (lanjut)
        • ā.p 86.a Nabi tidak Meminta Imbalan dari Manusia
      • ā.o 86.b Nabi tidak Mengada-ada
    • ā.n 87 Peringatan seluruh Alam
  • ā.m 88 Diungkapkannya Beritanya sebentar lagi
  • A.Q 11-13 Daftar Umat-umat yang Dibinasakan
    • A.R 14 Umat-umat yang Mendustakan
      • A.S 15-16 Mereka Meminta Adzab Disegerakan sebelum Hari Kiamat
      • ā.s 77-81 Iblis Meminta Adzab Ditangguhkan sampai Hari Kiamat
    • ā.r 82-83 Janji Iblis Menyesatkan Umat Manusia
  • ā.q 84-85 Neraka Diisi Iblis dan Semua yang Mengikutinya

Adapun grup I dan ī, topiknya terstruktur sebagai berikut.

Grup I dan ī

  • I.M 17-19 Nabi Dawud, Gunung, Burung, semuanya Taat/Kembali kepada Allah
    • I.N 20 Diberikannya Hikmah dan Kebijaksanaan dalam Berbicara
      • I.O 21 Memanjatnya Dua Golongan yang Berselisih
        • … (lanjut)
      • ī.o 75.b Merasa Lebih Tinggikah Statusnya (Iblis)?
    • ī.n 76.a Iblis Berbicara
  • ī.m 76.b Alasan Iblis tidak Taat Perintah Allah untuk Bersujud
  • I.P 22-23 Rendah Hatinya Golongan yang Meminta Diadili
    • I.Q 24-25 Bersujudnya Nabi Dawud dari Kesalahannya
      • I.R 26 Dijadikannya Nabi Dawud sebagai Khalifah di Bumi
      • ī.r 71 Dijadikannya Manusia dari Tanah
    • ī.q 72-73 Bersujudnya Malaikat atas Perintah Allah
  • ī.p 74-75.a Iblis Diinterogasi/Diadili apakah Menyobongkan Diri, atau

Begitu pula grup U dan ūE dan ē, dan O. Panjang bok klo ditulis semua di sini. Intinya, ini Surat epic pisan komposisinya. Gua jadi pengen bikin tulisan lengkap daftar orbital composition untuk Surat-Surat lain yang sempet gua temui struktur-struktur ajaibnya di dalam al-Qur’an.

Tapi mungkin yang paling menarik bagi gua adalah pusat dari Surat [Saad :: ص] itu sendiri, yaitu grup O. Mari kita amati grup menarik ini.

Grup O

  • O.M 49 Bagi Orang Bertakwa, Tempat Kembali Terbaik
    • O.MX 50 Surga `Adn dengan Pintu Terbuka
      • O.MXA 51 Buah-buahan dan Minuman banyak
      • O.MXB 52 Pasangan-pasangan yang Sebaya
    • O.MY 53-54 Inilah, Janji akan Rezeki yang Tidak Habis
  • O.N 55 Bagi Orang Durhaka, Tempat Kembali yang Buruk
    • O.NX 56 Jahannam, Seburuk-buruk Tempat Tinggal
      • O.NXA 57 Air yang sangat Panas dan Air yang sangat Dingin
      • O.NXB 58 Dan Jenis Adzab lain yang Berpasangan
    • O.NY 59 Inilah, Hinaan Pembukaan kepada Penghuni Neraka

Khusus pada grup O, pusat topik dari Surat [Saad :: ص], Ayat-Ayatnya tidak membentuk pasangan yang saling menutup di ujung-ujung topik yang dibahas. Namun, mereka membentuk pasangan dengan polanya sendiri, seakan topik-topik Surga dan Neraka yang sedang dibahas sama-sama setara runutannya tanpa perlu membentuk orbital composition.

Bagian O.MXA dan O.MXB ini benar-benar mengingatkan gua akan Surat [al-Waaqi`ah :: الواقعه]. Di mana manusia akan terbagi menjadi 3 golongan, 1) Golongan Kanan, 2) Golongan Kiri, dan 3) Golongan Elit Terdepan (Saabiquun :: السَّابِقُونَ). O.MXA adalah hadiah sambutan pembuka bagi Golongan Elit Terdepan (Saabiquun :: السَّابِقُونَ), dan O.MXB adalah hadiah sambutan pembuka bagi Golongan Kanan. O.MXA dan O.MXB membicarakan tentang dua golongan berbeda di Surga.

Adapun bagian O.NXA adalah salah satu menu adzab pembuka bagi Golongan Kiri. Dan adzabnya, berpasang-pasangan. Walaupun Surat ini indah baik rima maupun strukturnya, tapi sebagian apa yang dibacarakan sebenernya horror luar biasa. Nyesek gua bacanya pas bagian Neraka. T_T

Semoga kita semua dilindungkan Allah dari adzab Neraka.

Sadaqallahul Adzim. Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Sekian.

Wallahualam.

Wassalamu’alaikum wr wb.

Disclaimer

Di Disclaimer ini, gua ingin berdoa semoga Allah mengampuni dosa gua kalau gua melakukan kesalahan besar dalam analisis ini. Semoga Allah memberikan petunjuk selalu kepada kita semua.

Referensi

[a] Ring Composition :: https://en.oxforddictionaries.com/definition/ring composition
[b] Surat al-Baqara: A Structural Analysis, Raymond K. Farrin :: https://www.academia.edu/8642515/Surat_al-Baqarah_A_Structural_Analysis

Advertisements

Kajian al-Qur’an :: Saad :: Analisis Struktural (1)

Surat [Saad :: ص] adalah salah satu Surat berhuruf Muqatta`at dalam al-Qur’an. Surat ini termasuk banyak rimanya di dalamnya. Rimanya kebanyakan muncul pada penggunaan huruf di akhir Ayat. Kalau mbaca terjemahan sekilas, nuansa rimanya gak bakal kerasa sama sekali. Rima huruf ini membentuk blok-blok tersendiri, yang kalau dibaca sekilas tampak random.

Btw, yakin random nih?

Saad, sebuah Superposisi

Alam kita, penuh akan hal-hal yang tak kasat mata dan tak terjangkau oleh indera manusia. Contoh gampangnya, gelombang dan frekuensi. Kita bisa saja menerima sebuah paket gelombang dalam telinga kita, tapi kita ndak sadar ada pesan-pesan tersembunyi yang ikut-ikutan nyempil di dalam gelombang tadi. Pesan-pesan tak kasat ini biasanya ikutan melebur karena terjadi superposisi gelombang. Siaran radio salah satunya, kita ndak akan bisa mendengar, boro-boro mengapresiasi, suatu siaran radio jika kita ndak punya filter untuk mendengarkan sinyal di frekuensi tertentu. Mereka ada di sana, tepat di bawah hidung kita sendiri, namun kita tidak bisa mendengar mereka.

Dan Surat [Saad :: ص], penuh akan frekuensi-frekuensi tersembunyi, yang menjadikannya Surat ini unik dengan keindahannya sendiri. Btw, tadi sempet disebutkan Surat [Saad :: ص] itu banyak rimanya. Untuk lebih jelasnya, berikut rima yang gua dapet dari Surat [Saad :: ص].

P07-Saad-Rima01

Ini semua ini adalah daftar abjad yang mengakhiri tiap Ayat dalam Surat [Saad :: ص].

P07-Saad-Rima02

Keseluruhan rimanya adalah, [R, Q, S, B, D, Q, T, J, R, M, N, L]. Ngelihat rimanya aja sebenernya udah indah, apalagi ngedengerinnya bacaannya. Dan menariknya, semuanya kalau dikumpulkan berdasarkan rimanya, Ayat-Ayatnya bercerita tentang topik yang sejenis sesuai dengan kelompoknya rimanya masing-masing. Ada yang ngebentuk orbital composition secara topik, ada yang ngebentuk cermin satu sama lain, ada juga yang murni berbicara tentang sesuatu di luar alam kita, contohnya kejadian-kejadian di Neraka dan di Surga.

Selain itu, dalam pembahasan kali ini gua juga bakal berargumen, bahwa makna [Saad :: ص] dari Surat [Saad :: ص] ini merujuk pada konsep pasangan-pasangan kebaikan dan keburukan. Lebih tepatnya, grup orang-orang terbaik dan grup orang-orang penghuni Neraka. Karena kita bisa melihat banyak sekali ‘dualisme’ dalam Surat ini di tiap-tiap grup-grup Ayat yang terkesan random tersebar.

Grup R, 3 Pasangan Besar

Mari kita kumpulkan semua Ayat yang berakhiran abjad [Ra :: ر].

P07-Saad-GrupR

Tanda [*] menunjukkan tafsir langsung Ayat dalam bahasa Indonesia. Sisanya merupakan rangkuman dari tafsir Ayat. Dari daftar di atas, sengaja gua tambahkan sebuah Ayat yang memiliki rima abjad [Jim :: ج]. Karena Ayat berima ini nongol sendiri sebagai pembuka sederetan Ayat berima [Ra :: ر]. Dan Ayat berima [Jim :: ج] ini menjadi pembuka kisah tentang percakapan para penduduk Jahannam.

Gambar di atas sebenernya cukup menjelaskan tentang dirinya sendiri. Tapi gua tadi sempat bikin klaim bahwa makna [Saad :: ص] dari Surat [Saad :: ص] ini merujuk pada konsep pasangan-pasangan kebaikan dan keburukan. Alurnya sederhana, grup R ini bisa dibagi menjadi 3 bagian pasangan sebagai berikut.

  • Bagian X dari [Saad :: ص] [Q38:1a]
  • Bagian X’ dari X’A [Q38:28], X’B [Q38:45-48], dan X’C [Q38:59-64]
  • Bagian Y dari [Demi al-Qur’an yang mengandung peringatan] [Q38:1b]
  • Bagian Y’ dari [Katakanlah sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan …] [Q38:65]
  • Bagian Z dari [Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia …] [Q38:27]
  • Bagian Z’ dari [Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya …] [Q38:66]

Di sini mereka baru kelihatan kalau tiap bagiannya berpasangan.

Menariknya, [Saad :: ص] berpasangan dengan bagian [X’] yang merupakan sederetan bagian yang lebih besar, yang mana pesan yang terkandung di dalam [X’] sebenarnya seragam, bahwa Allah tidak akan memperlakukan orang baik sama dengan orang jahat.

Ngomong-ngomong tentang pasangan, tepat antara [X’B] dan [X’C], ada Ayat [Q38:58] berima [Jim :: ج] yang memuat kata [Azwaaj :: أَزْوَاجٌ] yang bermakna berpasangan. Tapi [X’B] dan [X’C] kan merupakan pasangan yang berkebalikan antara orang-orang baik dan orang-orang yang merugi? Ho’oh. Bedanya, kali ini, pasangan yang dibahas adalah pasangan dalam Neraka. Ayat tadi sebetulnya mengomentari Ayat sebelumnya tentang siksa Neraka yang berpasangan dan berkebalikan satu sama lain, yaitu air yang sangat panas, dan air yang sangat dingin. Neraka itu ndak cuman tempat yang sangat panas rupanya, tapi juga tempat yang sangat dingin, biasa dikenal dengan nama [Zahmariir :: زَمْهَرِير].

Adapun [Y] dan [Y’] yang bertemakan Peringatan [Dzikr :: الذِّكْرِ], bisa jadi di pikiran orang, yang ada adalah peringatan karena hal-hal yang buruk. Namun sebaliknya, kata [ذ ك ر] justru muncul di blok yang berisi orang-orang terbaik, [Q38:45], [Q38:48-49]. Another little twist.

Sudah mulai kerasa kan nuansa twist di dalam Surat [Saad :: ص] ini? Hyuk lanjut.

Sekarang mari kita balik ke obrolan para penghuni Neraka di Neraka.

وَقَالُوا مَا لَنَا لَا نَرَىٰ رِجَالًا كُنَّا نَعُدُّهُم مِّنَ الْأَشْرَارِ. أَتَّخَذْنَاهُمْ سِخْرِيًّا أَمْ زَاغَتْ عَنْهُمُ الْأَبْصَارُ

Dan berkata mengapa kami tidak melihat orang-orang yang dahulu kami anggap sebagai orang-orang yang [Asyraar :: الْأَشْرَارِ]
Apakah karena kami menjadikan mereka olok-olokan atau karena dialihkan dari mereka penglihatan kami? [Q38:62-63]

Ini adalah salah satu bagian yang nyesek sebetulnya. Kata [Asyraar :: الْأَشْرَارِ] memiliki range arti paling hina, paling buruk, atau juga paling paling jahat. Di lain Ayat, bentukan lain kata ini [Syarar :: شرر], bermakna bunga api. Sehingga, orang-orang yang [Asyraar :: الْأَشْرَارِ] bisa merujuk juga tentang orang yang saking jeleknya di kalangan manusia, mereka jadi begitu kentara dan jadi buah bibir. Ironis jadinya, ketika sekumpulan penghuni Neraka ini kaget tidak mendapati di Neraka orang-orang yang hina di mata mereka sewaktu hidup di dunia. Eh bentar, berarti mereka sewaktu hidup di dunia bukan dari golongan yang dianggap hina dong?

Salah satu tafsir yang gua baca bahkan ngasih komentar bahwa kelak Abu Jahal di Neraka kebingungan, karena dia nggak nemu Bilal, budak berkulit hitam yang hina di mata dia, dan juga ndak nemu Ikrimah, anaknya sendiri yang bareng-bareng memerangi Rasulullah. Harusnya Ikrimah bareng-bareng dong sama Abu Jahal disiksa di Neraka karena menentang Allah. Sayangnya, Bilalnya sudah masuk Surga. Dan Ikrimah, sepeninggal dia, tobat, berhenti memusuhi Rasulullah, dan menjadi salah satu sahabat Rasulullah. Another twist, orang yang dianggap buruk, belum tentu di akhir hayatnya buruk.

Bandingkan sama grup orang-orang terbaik, Ibrahim, Ishaaq, Ya`qub, Ismail, Ilyasa`, dan Dhal-Kifl. Taruhlah nabi Ya`qub, ini salah satu nabi yang sedih bener ceritanya menahan kesedihan Yusuf yang ilang ndak jelas rimbanya. Sampai-sampai sempet jadi buta saking sedihnya. Orang mungkin ngelihat kondisinya menyedihkan sekali, tapi Allah menyanjung dia sebagai salah satu orang-orang terbaik.

Grup Q, Kontras dalam satu Ayat

Sekarang, mari kita kumpulkan semua Ayat yang berakhiran abjad [Qaf :: ق].

P07-Saad-GrupQ

Semua item merupakan tafsir langsung Ayat dalam bahasa Indonesia.

Indah ya? Hasilnya gak random sama sekali. Grup ini, seperti grup R, juga terbagi atas 3 macam bagian yang sejenis. Bedanya, kalau grup R isinya pasangan dari tiap-tiap 2 grup Ayat-Ayat, grup Q di setiap Ayatnya sudah ada pasangannya sendiri-sendiri.

Grup pertama adalah, [kontras dan ekstrim]. Ini adalah kelompok Ayat yang pada dasarnya sudah bertentangan kodratnya satu sama lain. Bertentangan kodratnya? Kita mulai dari Ayat nomor 2. Kata [ع ز ز], di dalam al-Qur’an, begitu banyak sekali dipakai untuk memuji Allah. Kata ini, bisa diterjemahkan sebagai Kesombongan, Kemuliaan, Kekuatan, Kehormatan. Sehingga, untuk pernyataan yang menyatakan bahwa ada segolongan manusia yang berada pada kesombongan itu sendiri sebenarnya sudah bertentangan dengan kodrat. Kesombongan hanyalah milik Tuhan. Lha ini, ada manusia yang mau memakai Jubah-Nya. Kalimat selanjutnya mengomentari tentang natur orang-orang tersebut yang memang saling bertentangan. Adapun tentang adanya dua entitas panas dan dingin dalam Neraka sendiri di Ayat ke-57 seharusnya sudah cukup membuat kita berkata Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

Sekarang gua coba lompat ke grup bertemakan [waktu]. This is another weird shit from past generations. Ayat ke-15 ini mengomentari apa yang diminta orang-orang yang membangkang para Nabi, mereka minta adzab disegerakan. Ayat ini mengolok-ngolok mereka. Mereka menunggu sesuatu yang tidak perlu ditunggu. Soalnya klo pas datang, bakal kapok-kapokan mereka menyesali apa yang mereka minta disegerakan itu. Adapun Ayat ke-18, cukup jelas lah ya kontrasnya di mana. Kecuali mungkin bagian gunungnya. Karena al-Qur’an berkata gunung punya kesadaran. Another twist. Mereka juga ikutan bertasbih memuji Allah. Btw, gak cuman gunung deng, petir juga. Dan yang lain-lain.

Terakhir, bagian [unexpected twist] ini, sebetulnya juga gak kalah menariknya. Gua pribadi nyebutnya twist di dalam twist. Karena akan ada banyak kontroversi seputar tafsir Ayat ke-33. Buat pemanasan sebelum Ayat ke-33, al-Qur’an memberikan twist permulaan yang dialami orang-orang yang didakwahi di Ayat ke-7. Bagi mereka, agama yang dibawa Rasulullah ini, sudah penuh twist isinya dibanding agama terakhir yang mereka ketahui. O-oh, jangan ge-er dulu, karena Ayat ke-33 justru mengandung pembelajaran twist yang jauh lebih penting untuk dipelajari jika mereka mengetahui. Gua nyebutnya sebuah twist super indah.

Perdebatan penafsiran Ayat ke-33 ini sebenernya udah terjadi sejak zaman para sahabat. Kalau gua lagi semangat, gua jadi pengen bikin pembahasan tentang Ayat ini dan bejibun kontroversi di belakangnya. Dan gua sudah memilih kubu mana gua memahami tafsir Ayat ini. Jadi, nabi Sulaiman pada suatu waktu, dia sempat terlalaikan dari mengingat Allah gara-gara keasyikan nonton kuda-kudanya yang luar biasa indah dan cepat sampai waktu Ashar abis. Dia menyesal. Dan Allah menyifati nabi Sulaiman sebagai salah satu hambanya yang terbaik dan gemar bertobat.

Kesel, terus, dia pun memerintahkan kuda-kudanya tadi untuk dibawa ke hadapan dia.

EH? Bentar, buat apa kudanya dibawa ke hadapan dia?

Ya itu, tadi kan kuda-kudanya bikin dia lupa waktu. Terus, kuda-kudanya mau diapain dong. Masak kudanya mau diapa-apain gara-gara kesalahan dirinya sendiri? Al-Qur’an, menceritakan twist di luar dugaan. Sulaiman, malah mengusap-usap kudanya kayak orang wudlu.

Weird! Tapi, gua memutuskan untuk [sami`naa wa atha`naa :: سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا], kami mendengar dan kami taat.

Ini salah satu teknik tobat yang gak terbayangkan sama sekali bagi gua sewaktu baca ini. Tapi juga luar biasa indah. Ini salah satu Ayat yang menunjukkan welas asih nabi Sulaiman yang gak terbayangkan. Seakan dia menghela nafas dan meminta maaf kepada Allah sekaligus mensyukuri apa yang telah diberikan Dia kepadanya dengan menyayangi pemberian-Nya lebih dalam. Bagaikan seorang ayah yang ketahuan mencuri uang untuk menyekolahkan anaknya. Terus sewaktu dia sadar akan kesalahan dia, dia menyesal, kemudian dia mendatangi anaknya sambil memeluknya.

Ayat ini sudah cukup sebagai twist dari serangkaian cerita nabi Sulaiman itu sendiri. Al-Qur’an selanjutnya tidak menceritakan apakah kudanya dijual atau tetep dipelihara, karena bukan itu yang pingin ditonjolkan, bukan itu yang perlu dijadikan pelajaran. Tapi bagaimana momen suasana hati nabi Sulaiman itu sendiri dan bagaimana cara dia bertobat yang begitu indah yang perlu dijadikan pelajaran. Sayangnya, keindahan cerita ini, tertutupi sama salah satu tafsir lain yang, semoga gua gak salah berstatement, di akal gua gak masuk sama sekali. Ntar gua pingin bikin tulisan detailnya kalau lagi inget dan semangat.

Ayat ini juga mengingatkan gua akan kisah Ikrimah, anaknya Abu Jahal. Doi dulu termasuk salah satu dari sembilan penjahat perang yang sempat diizinkan untuk dieksekusi di tempat sama Rasulullah. Ikrimah kabur. Kabur pas penaklukan Makkah. Sejujurnya, penaklukan Makkah pun juga diakhiri twist, Rasulullah boro-boro menghukum seluruh kota, dia malah memaafkan seluruh penduduk Makkah saat itu. Banyak yang bengong tercengang ngelihat tingkah Rasulullah, termasuk istrinya Ikrimah. Istrinya Ikrimah pun menghadap Rasulullah minta Ikrimah dijamin keamanannya. Di luar dugaan, Rasulullah menjamin Ikrimah. Buru-buru, istrinya Ikrimah njemput ngejar Ikrimah ngasih tahu berita gembira tadi. Singkat kata, mereka ketemu, Ikrimah pun juga tercenung mendengar berita tadi. Akhirnya dia menuju Rasulullah, dan kisah mengharukan pun terjadi, doi tobat. Dia pun jadi pembela Rasul sampai akhir hayat. Duh, Ikrimah. Alhamdulillah ya. Coba orang-orang jaman sekarang banyak yang meniru teladan Rasulullah, kayaknya bakal banyak drama bawang bombay di mana orang-orang jahat pada tobat minta maaf ke orang-orang yang pernah dijahati.

Sadaqallahul Adzim. Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Sekian.

Wallahualam.

Wassalamu’alaikum wr wb.

Disclaimer

Di Disclaimer ini, gua ingin berdoa semoga Allah mengampuni dosa gua kalau gua melakukan kesalahan besar dalam analisis ini. Semoga Allah memberikan petunjuk selalu kepada kita semua.

 

Kajian al-Qur’an :: Muqatta`at :: Alif Lam Mim

الم
Alif Lam Mim [Q2:1]

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
Kitab ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa [Q2:2]

Seperti kebanyakan mereka yang penasaran dengan [Alif-Lam-Mim :: الم], gua pun sedari dulu gatel pengen tahu arti katanya. [Alif-Lam-Mim :: الم], seperti kita tahu muncul di pembuka 6 Surat al-Qur’an, yang artinya, menjadi bahan diskusi sampai sekarang. Muqatta`at huruf-huruf ini disebutnya. Selain [Alif-Lam-Mim :: الم], ada

  • [Alif-Lam-Mim-Sad :: المص],
  • [Alif-Lam-Ra :: الر],
  • [Alif-Lam-Mim-Ra :: المر],
  • [Kaf-Ha-Ya-`Ain-Sad :: كهيعص],
  • [Ta-Ha :: طه] (salah satu Surat kesenengan gua),
  • [Ta-Sin-Mim :: طسم],
  • [Ta-Sin :: طس],
  • [Ya-Sin :: يس] (salah satu Surat favorit gua),
  • [Sad :: ص],
  • [Kha-Mim :: حم], +[`Ain-Sin-Qaf :: عسق],
  • [Qaf :: ق], dan terakhir
  • [Nun :: ن] (ini juga salah satu Surat yang gua demen, penuh twist di dalamnya).

Huruf Muqatta`at ini disebut-sebut salah satu misteri dari al-Qur’an yang kelak di hari kiamat rahasia aslinya dikasih tahu sama Allah.

Spoiler

Buat spoiler, dari beragam tafsir yang gua baca, dan dari beragam cucokmologi yang mereka tawarkan, gua terpukau dengan salah satu penawaran yang membuat adrenalin gua naek pengen ikutan nyebur ke gelombang dan tafsir Muqatta`at ini. Apakah itu?

Kalau seluruh Muqatta`at tadi dikumpulkan, terus dihilangkan huruf-huruf duplikatnya, maka bisa dibikin kalimat seperti ini.

نص حكيم قاطع له سر

yang artinya

Teks Bijaksana yang Jelas/Tajam yang di dalamnya ada Rahasianya

Beugh!

Hyuk nyebur, mencari apa-apa yang bisa digali dari Muqatta`at ini.

Header dan Payload

Sebelum gua mulai nyebur, gua pingin ndak berjalan dalam gelap dalam menggali Muqatta`at ini. Harus ada langkah awal yang masuk akal sebelum memulai analisis lebih jauh. Lagipula Allah berFirman, ilmu-Nya jika digali gak bakal habis walau ditulis dengan 8 lautan sekalipun. Dan gua sempet download al-Qur’an dari Tanzil Project di sini yang datanya gak sampai 1 MB. Masih 1 MB kan? Kalau, ada cara merubah 8 lautan tadi jadi media penyimpanan ber-qubit-qubit, maka, …, mari, kita gali lebih jauh lagi ilmu Allah.

Qubit?

Qubit adalah salah satu kandidat pengganti Bit untuk arsitektur komputer Quantum. Buat apa dia? Buat medium informasi. Kalau Bit, data yang bisa disimpan 0 sama 1. Kalau Qubit, bisa 0, 1, dan superposisi dari kedua nilai tadi. Memangnya informasi selalu dikirim dalam Bit? Ndak. Kebetulan aja, tingkat kecanggihan manusia mentoknya baru bisa ngirim data pakai 0 sama 1. Dan itu juga biasanya ada embel-embel data tambahannya, biar kalau ada loss atau error di jalan bisa dideteksi dengan mudah di sisi receiver, yang nantinya bisa minta ditransfer ulang, atau, direcovery dengan dirinya sendiri. Jaman dulu, data yang dimodulasi itu analog, tapi hasilnya gak canggih-canggih amat, jadi lari ke digital. Tapi, aslinya lagi nih, di alam, kita ya kalau nerima informasi ya mediumnya sifatnya analog, luwes, gak cuman 0 sama 1 doang. Tapi, yang ingin gua sampaikan sebetulnya bukan Qubit-nya.

Bentar, tadi apa yang kita bahas?

  1. Informasi, bisa dimodulasi dulu sebelum dikirim
  2. Di setiap informasi yang dikirim, biasanya ada embel-embel peneman informasi utama

Jadi inget jaman-jaman kuliah. Dalam transmisi data, hal seperti ini biasa kita kenal dengan sebutan Header sama Payload.

Mekanisme Turunnya al-Qur’an

Sebelum lanjut menggulirkan apa yang ingin gua gulirkan, mari kita refresh mekanisme al-Qur’an diturunkan. Dari beberapa riwayat dan tafsir yang gua baca, gua bisa simpulkan al-Qur’an turun dalam beberapa tahap

  1. Dari [Lauh Mahfuudz :: لَوْحٍ مَحْفُوظٍ] ke Langit Dunia (Samaa’a Dunyaa :: السَّمَاءَ الدُّنْيَا) dalam sekejap pada malam Qadr (lailatil Qadr :: لَيْلَةِ الْقَدْرِ)
  2. Dari Langit Dunia ke Nabi Muhammad (saw) oleh [ar-Ruuh al-Amiin :: الرُّوحُ الْأَمِينُ] secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari

Btw, ada juga pendapat yang berkomentar, lokasi tepatnya al-Qur’an turun di langit Dunia itu di Bait al-`Izzah. Referensi tentang Bait al-`Izzah susah didapat, beda sama [Bait il-Ma`muur :: الْبَيْتِ الْمَعْمُورِ] yang cukup banyak referensinya. Mereka berdua tempat yang berbeda, Bait al-`Izzah ini Bait di Langit Dunia, adapun [Bait il-Ma`muur :: الْبَيْتِ الْمَعْمُورِ] itu Bait di langit ketujuh, biasa dikenal sebagai kiblat buat penduduk langit ke-7. Btw, kata Dunia (Dunyaa :: دنیا) dan kata Bumi (Ard :: الأرض) itu merujuk pada dua hal yang berbeda lho di al-Qur’an. Gua jadi pengin bikin tulisan tentang ini.

Anyway, sampai di sini, kesan yang gua tangkap dari runutan ini berarti, turunnya al-Qur’an ini mirip sama transmisi data. Upload speed dari langit ketujuh ke langit pertama bisa dalam sekejap, tapi upload speed dari pucuk langit pertama ke Bumi makan waktu bertahun-tahun. Dalam hal ini, kayaknya bukan karena Jibrilnya lama deh turun dari Bait al-`Izzah ke Bumi, tapi paradigma interface-nya udah beda, dalam hal ini, otak manusia buat nyerna informasinya emang lemot.

Apa kesimpulan yang bisa gua dapat dari Header-Payload, dan, transmisi Langit ke-7 ke Langit Pertama ini?

Kesimpulannya, gua akan ambil approach di mana [Alif-Lam-Mim :: الم] adalah additional data dari al-Qur’an itu sendiri.

Linux, Python, dan al-Qur’an

Dilihat dari kacamata data transmisi, berikut adalah beberapa kemungkinan Muqatta`at.

  1. Header, sebagai blok identifikasi
  2. ACK atau Acknowledgment, sebagai sinyal persetujuan antar komunikasi
  3. Trailer, sebagai verifikasi integritas data

Dan gua tertarik untuk memandang [Alif-Lam-Mim :: الم] sebagai trailer, verifikasi integritas Surat kedua yaitu Surat [al-Baqarah :: البقرة], atau bisa jadi, verifikasi integritas Surat pertama.

Kenapa? Karena [Alif-Lam-Mim :: الم] muncul setelah [al-Faatihah :: الْفَاتِحَة] dan di awal [al-Baqarah :: البقرة]. Tapi trailer biasanya di akhir kan ya? Atau ini trailer-nya yang justru di awal? Tapi, bisa jadi kan [Alif-Lam-Mim :: الم] berlaku seperti ACK atau header pada umumnya?

Bisa jadi. Tapi di sini gua bakal coba satu-satu dulu. Dan biar gak berasumsi, mari kita membuat metodologi analisis eksak. Metode analisis yang gua bangun sederhana, bisa dibagi atas 4 langkah.

  1. Jangan ada asumsi. Analisis aja data yang ada. Tapi, asumsi dikit-dikit boleh deh
  2. Temukan pattern dari data yang ada
  3. Uji pattern yang ada untuk kasus yang lain
  4. Jika ada anomali, kembali ke langkah 1

Alat bantu analisis yang dipergunakan kali ini adalah Linux dan Python. Target awal kita sekarang adalah, mendapatkan data Surat [al-Baqarah :: البقرة] murni abjad. Dari file al-Qur’an yang sudah kita download, mari kita lihat struktur filenya dengan,

> less quranic-corpus-morphology-0.4.txt

proj0000-2018-06-04_17-08-59

File terbagi atas 4 kolom utama. Kolom kedua berisi per kata al-Qur’an. Nomor Surat, Ayat, dan Kata, diformat dengan format (Nomor Surat : Nomor Ayat : Nomor Kata). Surat [al-Faatihah :: الْفَاتِحَة] dimulai dari baris ke-58 sampai baris ke-105. Adapun Surat [al-Baqarah :: البقرة] dimulai dari baris ke-106 sampai baris ke-10348.

Kolom keduanya ini menarik. Teks bahasa arabnya cukup sederhana ter-encode, [Bismillah :: بسم الله] di-enconde dengan [bi somi {ll~ahi]. Huruf “a”, “i”, “u”, “o” masing-masing untuk harakat fathah, kasrah, dammmah, sukun. Karena harakat hanyalah tanda bantu membaca, kita tidak akan hitung sebagai abjad. Selain itu, abjad Alif (dan Hamzah), selain dengan huruf “A”, ia juga di-encode dengan banyak varian di teks ini dengan “{“, “}”, “>”, “<“, “\”, “@”. Kita akan menganggap semua varian ini sebagai Alif “A” adanya.

Sekarang, mari mulai ngoding.

Untuk mengambil teks dari baris ke-106 sampai ke-10348 kita bisa pakai perintah sed.

> sed -n 106,10348p quranic-corpus-morphology-0.4.txt > Q02

Sedangkan untuk mengambil kolom keduanya saja, kita bisa pakai perintah awk.

> awk -F"\t" '{print $2}' Q02 > Q02

Untuk one liner pakai pipeline jadinya,

> sed -n 106,10348p quranic-corpus-morphology-0.4.txt | awk -F"\t" '{print $2}' > Q02

proj0001-2018-06-04_18-13-16

Sekarang mari kita buat program Python sederhana buat menganalisis statistik teks Surat [al-Baqarah :: البقرة]. Input programnya standard lah ya, nama file. Untuk outputnya mari kita coba tampilkan statistik histogram teks inputnya.

Alurnya programnya, baca masukan input, kemudian hitung histogram, bersih-bersih hasil hitungan histogram untuk harakat, varian Alif dan Hamzah. Code-nya bisa dilihat sebagai berikut.

proj000x-2018-06-05_05-06-33

Sekarang hyuk di-run code-nya. Berhubung gua kasih nama pyOrderAnalyze.py, syntax nge-run-nya kira-kira jadi begini.

> python pyOrderAnalyze.py Q02

Dan ini outputnya.

proj0003

proj0004-2018-06-04_18-37-42

Seriusan, ini reaksi gua pertama kali liat hasilnya.

proj0005

Jadi,

intinya,

bentar… gua sebetulnya agak emosional nemu histogram beginian. T_T

Jadi, intinya, [Alif-Lam-Mim :: الم] ini sejenis checksum tampaknya. Jumlah abjad terbanyak dalam Surat [al-Baqarah :: البقرة] adalah [Alif :: ا] sebanyak 4.935 buah, [Lam :: ل] ada di urutan kedua sebanyak 3.198 buah, dan [Mim :: م] ada di peringkat ketiga sebanyak 2.192 buah.

Pattern yang gua temukan adalah bahwa, [Alif-Lam-Mim :: الم] untuk Surat [al-Baqarah :: البقرة] melambangkan jumlah abjad terbanyak di surat tersebut. Tapi tunggu dulu, [Alif-Lam-Mim :: الم] ini checksum untuk Surat [al-Faatihah :: الْفَاتِحَة] atau Surat [al-Baqarah :: البقرة]?

Maka, mari kita cek histogram Surat [al-Faatihah :: الْفَاتِحَة].

proj0006.png

Gak urut ya histogramnya. Mari kita modif dikit code-nya jadi begini.

proj0007-2018-06-04_22-20-22

Maka kita akan dapatkan histogram Surat [al-Faatihah :: الْفَاتِحَة] sebagai berikut.

proj0008

Peringkat 3 teratas dipegang abjad [Alif-Lam-Mim :: الم]. Eh, abjad Alif sama Lam sama deng.

Sekarang mari kita coba tes juga untuk Surat selanjutnya [Al `Imraan :: آل عمران] yang juga diawali [Alif-Lam-Mim :: الم].

proj0009

Peringkat 3 teratas juga, masih dipegang abjad [Alif-Lam-Mim :: الم].

Surat an-Nisaa, non-Muqatta`at

Mari kita coba sekarang tes Surat sesudah [Al `Imraan :: آل عمران], yaitu Surat ke-4 dalam al-Qur’an, Surat [an-Nisaa :: النساء] yang tidak diawali [Alif-Lam-Mim :: الم]. Gua punya firasat, Surat ini tidak akan memegang [Alif-Lam-Mim :: الم] sebagai peringkat teratasnya.

proj00011

Dan hasilnya, peringkat teratas Surat [an-Nisaa :: النساء] memang tidak dipegang oleh [Alif-Lam-Mim :: الم], tapi [a-l-n-w-m] alias Alif, Lam, Nun, Waw, barulah Mim.

Btw, ada yang sadarkah dengan urutan histogram Surat [an-Nisaa :: النساء] kali ini? Walau dia tidak termasuk Surat yang ada Muqatta`at-nya, tapi ada pattern menarik yang mungkin bisa gua pakai hipotesis untuk membangun teknik verifikasi lanjutan.

[alnwm] ini kalau kita arrange jadi [al-nw-m], kita bisa dapat kesan bahwa rank histogramnya masih ada di zona [Alif-Lam-Mim :: الم], tapi dengan modifikasi [al-*-m]. [al :: ال], dalam bahasa Arab, jika dikiaskan kepada bahasa Inggris, akan setara artinya dengan [the]. Gua tergoda melihat [al-*-m] ini memiliki pattern [the-*-m]. Tapi gua lebih tergoda lagi melihatnya punya pattern dasar [A*C], di mana * melambangkan sebuah abjad yang seharusnya make sense. Emangnya abjad [nw] make sense, gitu?

[A*C] Pattern

Hyuk, kita lihat [al-nw-m]. Gua udah gatel sedari tadi melihat abjad yang ada di tengah-tengah [al] dan [m] ini, [nw]. Hampir semua kata dalam bahasa Arab punya kata dasar yang terdiri dari 3 abjad. Dan [nw] ini, kalau mau dibikin tebak-tebakan kira-kira membentuk kata apa, kayaknya, bakal abu-abu banget deh. Soalnya kombinasinya bisa [nw*], [n*w], atau [*nw].

Eh, tapi bentar. Tadi kita lagi bahas Surat apa? Surat [an-Nisaa :: النساء]. Dan kata [an-Nisaa :: النساء] dibentuk dari kata dasar [ن س و] alias [nsw].

Btw, tadi kita lagi bahas [A*C] pattern, dan sempat bingung tentang kombinasi [nw]. Tapi, kalau kombinasinya [n*w], seperti [A*C] pattern, ini malah sangat kebaca sekali kalau [n*w] itu merujuk ke kata [nsw], alias [an-Nisaa :: النساء].

Seakan histogram tadi berkata [al-n*w] = [al-nsw][an-Nisaa :: النساء] = Wanita. Alias histogramnya menceritakan tentang dirinya sendiri, yaitu nama Surat itu sendiri.

Menarik ya.

Sadaqallahul Adzim. Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Sekian.

Wallahualam.

Wassalamu’alaikum wr wb.

Disclaimer

Program yang gua tulis, berhipotesis, segala varian Alif dan Hamzah, adalah Alif.

Gua menambah Hamzah untuk ikut dihitung sebagai Alif, karena pada dasarnya bunyinya mereka sama semua, yaitu A. Hamzah, pada abjad Arab, walau dibaca A juga, biasanya dianggap bukan abjad utuh. Perhitungan Hamzah sebagai Alif dilakukan semata untuk mempermudah histogram abjad biar konsisten dan ndak muncul Alif ganda.

Di Disclaimer ini, gua ingin berdoa semoga Allah mengampuni dosa gua kalau gua melakukan kesalahan besar dalam analisis ini. Gua gak ada maksud sama sekali merubah kata-kata dari tempatnya.

Semoga Allah memberikan petunjuk selalu kepada kita semua.

Amiiin.

al-Qur’an Corpus

[*] http://corpus.quran.com/download/

Kajian al-Qur’an :: Diksi :: Beda Kawaakib dan Nujuum

Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Karena ini lagi di bulan al-Qur’an, gua ingin bikin blog analisis sederhana tentang al-Qur’an.

Dalam al-Qur’an, Allah banyak bersumpah dengan menyebut-nyebut benda langit. Pemilihan kata untuk benda-benda langit tadi begitu serius bedanya. Walau beberapa terjemahan, gak serius membedakannya. Taruhlah kata [Kawaakib :: الْكَوَاكِبُ] dan [Nujuum :: النُّجُومَ]. Banyak terjemahan yang nerjemahin kedua kata ini dengan kata yang sama ‘bintang-bintang‘. Padahal mereka berdua berbeda, hurufnya aja udah beda, apalagi kata-kata yang mengikuti mereka.

Jadi, apa beda [Kawaakib :: الْكَوَاكِبُ] dan [Nujuum :: النُّجُومَ]?

Mari kita bertanya kepada al-Qur’an, karena al-Qur’an menjelaskan tentang dirinya sendiri.

Kata [Kawaakib :: الْكَوَاكِبُ] memiliki kata dasar [ك و ك ب], dan bentukan kata ini muncul 5 kali dalam al-Qur’an. Kisah paling fenomenal tentang [ك و ك ب] ini mungkin bisa ditemui dari kisah nabi Yusuf dan nabi Ibrahim. Mari kita lihat kisah nabi Yusuf terlebih dahulu ketika dia bermimpi melihat 11 [كَوْكَبًا] bersujud padanya.

…إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا…
… sesungguhnya aku telah melihat sebelas كَوْكَبًا… [Q12:4]

Lebih lengkapnya, ada Matahari dan Bulan juga ikutan bersujud kepadanya. Jadi, 11 [كَوْكَبًا], Matahari, dan Bulan. Sampai di sini harusnya pembaca mulai merasakan gaya bahasa atas benda-benda langit yang dimaksud, bahwa ini, tampaknya merujuk ke tata surya.

Kalau [كَوْكَبًا] artinya bintang, sedang ukuran bintang seperti yang kita tahu gede-gede dan banyak yang lebih besar daripada Matahari, maka Bulan akan tampak kasihan sekali dalam mimpinya nabi Yusuf, karena dia kecilnya kebangetan di antara temen-temennya yang lain gede-gede. Dan Bulan tidak mengeluarkan cahaya dari dirinya sendiri, bakal sangat kontras sama bintang-bintang dan Matahari yang mengeluarkan cahaya sendiri. Sebaliknya, kalau [كَوْكَبًا] artinya planet, dan merujuk sebuah tata surya, maka mimpi nabi Yusuf menjadi mimpi yang sangat masuk akal. Btw, tata surya kita cuman ada 8/9 planet doang, ini kok 11? Tapi, yakin cuman ada 8/9 planet? Yakin yang dimaksud tata suryanya itu tata surya kita? Terakhir gua tahu, ada orang yang berburu planet ke-9 yang lokasinya di luar cooper belt. Jadi, apakah [كَوْكَبًا] merujuk pada planet?

Mari lanjut, ke ayat selanjutnya untuk menuntaskan kecurigaan kita bahwa [الْكَوَاكِبُ] adalah “planet-planet” adanya. Setelah nabi Ibrahim berargumen sama bapaknya tentang berhala-berhala yang dia sembah, adegan berpindah ke scene yang menarik.

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ
Ketika malam telah menyelimuti dia, dia melihat sebuah [كَوْكَبًا], dia berkata inilah Tuhanku, ketika itu terbenam, dia berkata aku tidak suka yang terbenam [Q6:76]

Kemudian adegan dilanjutkan ketika dia melihat Bulan dia berkata inilah Tuhanku. Bulannya tenggelam, terus dia berkata sungguh jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat. Adegan pun berlanjut ketika dia melihat Matahari terbit, dia berkata inilah Tuhanku ini lebih besar. Tapi Mataharinya tenggelam, dia berkata wahai kaumku sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Sampai di sini kita dapat 2 macam informasi tentang

  1. Berhala-berhala kaumnya nabi Ibrahim, dan
  2. Kegiatan nabi Ibrahim mengomentari
    a.) sebuah [كَوْكَبًا] -> b.) Bulan -> c.) Matahari

Bagian berhala-berhalanya bisa dipahami bahwa mereka punya banyak jenis berhala. Tapi ada adegan nabi Ibrahim bermonolog tentang [كَوْكَبًا], Bulan, dan Matahari, sebagai objek potensial sebagai sesuatu yang disembah, kayaknya kontras sekali berhala versus benda-benda langit. Selain itu, [كَوْكَبًا] ini yang mana yang dimaksud ya? Banyak sesuatu yang bersinar di langit, ada Sirius, ada Jupiter. Tapi, dilihat dari urutan dia berkomentar tentang benda-benda langit ini, hampir bisa dipastikan dia merujuk kepada 3 benda langit paling bersinar di langit, Venus, Bulan, dan Matahari. Venus? Iya, dan Venus, walaupun terlihat bercahaya, dia bukan bintang.

Oh btw, dari ekskavasi yang ditemukan di kota di mana asal nabi Ibrahim tinggal, tanpa perlu terkejut lagi, ditemukan banyak berhala di sana, ada yang ukurannya gede, ada juga yang ukurannya kecil-kecil kayak mainan robot-robotan. Menariknya, ada 3 berhala paling gede di antara berhala-berhala lainnya yang ukurannya ndak seberapa. Apa ketiga berhala itu? Tidak lain adalah berhala yang muncul di Kudurru berikut.

Buat gambaran, strata berhala-berhala mereka di zaman Melishipak II bisa dilihat sebagai berikut.

KudurruMelishipakII

Kudurru zaman Melishipak II. Thanks to: pinterest

Gak terlalu jelas ya? Hyuk, kita perbesar di Kudurru zaman Melishipak I.

Louvre Museum, Paris. Department of Near Eastern Antiquities. Kudurru (stele) of King Melishipak I (1186–1172 BC): the king presents his daughter to the goddess Nannaya. The crescent moon represents the god Sin, the sun the Shamash and the star the godd

Kudurru zaman Melishipak I. Thanks to: Babak Tafreshi

Ada gambar si raja terlihat lagi bawa anaknya ke depan sesuatu. Tiga objek di atasnya dari kiri ke kanan melambangkan apa yang mereka sembah, Ishtar (Venus), Sin (Bulan), dan Shamash (Matahari). Ini adalah objek-objek langit yang dikomentari nabi Ibrahim. Dan ini adalah berhala-berhala terbesar kaumnya. Sebuah [كَوْكَبًا] yang dikomentari nabi Ibrahim merujuk pada sebuah planet, yang dijadikan objek sembahan sama kaumnya, yaitu Venus. Di sini, al-Qur’an sangat teliti sekali dengan tidak menggunakan kata [النَّجْمِ] yang berarti bintang ketika merujuk apa yang dilihat nabi Ibrahim, tapi al-Qur’an menggunakan kata [كَوْكَبًا] ketika merujuk Venus.

Apakah mereka membeda-bedakan antara komet, planet, dan bintang? Ndak. Orang jamannya nabi Ibrahim lihat yang bercahaya di langit ya dikomentari ‘bintang‘ doang. Al-Qur’an mengomentari apa yang mereka komentari dengan diksi yang berbeda.

Sampai di sini, [الْكَوَاكِبُ] adalah “planet-planet”. Tapi satu lagi, kayaknya perlu satu lagi ayat yang menegaskan bahwa [الْكَوَاكِبُ] berperilaku seperti “planet-planet” adanya, bukan seperti “bintang-bintang“. Maka, mari kita melihat Ayat singkat berikut.

وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ
Dan apabila [Kawaakib :: الْكَوَاكِبُ] berserakan [Q82:2]

Kata [انْتَثَرَتْ] berasal dari kata dasar [ن ث ر], bisa diartikan berarti berserakan, berterbangan, bertaburan. Dipergunakan untuk benda-benda yang keras seperti bebatuan, mutiara, atau debu. Adapun bintang, yang pada dasarnya gas, ndak pas kalau digandengkan sama kata[انْتَثَرَتْ]. Tapi sejujurnya, artinya kok masih luas begini ya? Sekali lagi, mari kita bertanya kepada al-Qur’an bagaimana dia menggunakan kata [ن ث ر] ini, karena al-Qur’an menjelaskan tentang dirinya sendiri. Kata ini hanya dipergunakan 3 kali dalam al-Qur’an. Apa saja itu?

  1. Untuk [الْكَوَاكِبُ] – [Q82:2]
  2. Untuk kesudahan amal-amal orang-orang yang celaka – [Q25:23]
  3. Untuk kesudahan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan – [Q76:19]

Uhm, perpaduan planet-planet, orang-orang celaka, dan orang-orang yang berbuat kebajikan dari Ayat-ayat yang berjauhan posisinya. Perpaduan simetri yang begitu elegan.

Untuk nomor 2, amal-amal orang-orang yang tidak mengharap pertemuan dengan Tuhan-Nya, di [Q25:23] digambarkan amal-amal mereka akan dibuat bagai debu yang berterbangan. Nuansa yang paling kentara dari ayat ini adalah, debu yang berterbangan.

Untuk nomor 3, pada [Q76:19], disebutkan orang-orang yang berbuat kebajikan, mereka dikelilingi para pemuda yang kekal. Dan para pemuda yang kekal ini, jika dilihat, mereka bagaikan mutiara yang bertaburan.

OK, jadi apa tadi yang dikelilingi? Orang-orang yang berbuat kebajikan. Mereka dikelilingi siapa? Para pemuda yang kekal. Para pemuda ini dimisalkan seperti apa? Mutiara yang bertaburan.

Sekarang hyuk kita melihat hubungan antar bintang dan planet. Bedanya, mari kita kiaskan orang-orang yang berbuat kebajikan tadi sama bintang-bintang, dan para pemuda kekal ini sama planet-planet. Jadi, bintang-bintang di langit itu pada dasarnya mereka dikelilingi oleh sesuatu. Mereka dikelilingi sama apa? Sama para planet. Planet-planet ini bisa dimisalkan seperti apa? Bola-bola yang bertaburan. Bandingkan sama kesudahan orang-orang yang celaka, mereka bagaikan dikelilingi amal-amal yang berterbangan menjadi debu.

Kesimpulannya, [Kawaakib :: الْكَوَاكِبُ] adalah “planet-planet”.

Bagaimana dengan kata [Nujuum :: النُّجُومَ]? Kata ini memiliki kata dasar [ن ج م] dan muncul sebanyak 13 kali di dalam al-Qur’an. Artinya “bintang-bintang”. Udah.

Di sini gua ndak mempermasalahkan arti [Nujuum :: النُّجُومَ]. Gua mempermasalahkan kata [Kawaakib :: الْكَوَاكِبُ] yang diterjemahkan sebagai “bintang-bintang”, yang padahal artinya “planet-planet”. Adapun kata [Nujuum :: النُّجُومَ] dalam al-Qur’an sudah cukup sering dibarengi dengan kata-kata sifat yang artinya bercahaya, besar sekali, membara. Bintang, memang begitu adanya, bercahaya, besar sekali, dan membara.

Sekian.

Wallahualam.

Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Pengalaman pakai Pertamax Turbo

Pertamax-Turbo-7

Pertamax Turbo. thanks to: autos

Dalam beberapa minggu belakangan ini gua kebetulan lumayan berkendara jauh dengan rute Banyuwangi – Surabaya – Malang – Kediri dengan intensitas lumayan banyak. Dan kebetulan juga, beberapa waktu sebelumnya, mobil gua sempet gua rasa tiba-tiba ndak bisa dibuat ngebut dan boros BBM-nya semenjak gua servis di sebuah tempat yang bukan dealer resmi, di mana katup penutup filternya jadi rusak. Alhamdulillah, masalah udah beres setelah gua bawa beberapa kali ke dealer resmi. Gua inget selalu diwanti-wanti pakai Pertamax. Walaupun jujur, gua selalu tergoda setiap melihat harga Pertalite di pom-pom.

Nah, semenjak kasus BBM boros tadi kejadian, gua hobi ngecatet performa efisiensi penggunaan BBM-nya. Standard pengecekan yang gua lakukan sebetulnya ndak akurat-akurat amat, tapi cukup ngasih gua gambaran keseluruhan efisiensinya. Gua catet kilometer dan bar start penanda kapasitas BBM sebelum BBM baru diisi di waktu T, jenis BBM, total biaya, dan terakhir, gua catet kilometer yang terpakai begitu bar penanda kapasitas BBM kembali ke kondisi tepat sebelum BBM baru diisi di waktu T. Dari situ gua bisa hitung berapa kilometer yang bisa ditempuh per liter BBM-nya. Gua pun juga ngebandingin konsumsi liter BBM dari komputer internal di mobil gua juga. Hasilnya gak beda jauh.

Dengan pengecekan berkala ini gua jadi tahu bahwa ada gerai-gerai yang ‘tampak’ curang kalau ngisi BBM, dan memperkenalkan gua pada gerai BBM yang sampai sekarang jadi langganan tercinta gua. Dan juga mobil gua efisiensi penggunaan BBM-nya menurun sekitar 20%-an kalau ngelewati jalanan nanjak (ya iya lah @_@).

Kemudian hingga pada suatu hari, ketika gua dalam perjalanan balik Kediri ke Surabaya, gua memutuskan untuk belok ke SPBU random terdekat dari posisi gua di jalan. Alangkah terkejutnya gua (halah), begitu mereka jawab bahwa mereka ndak punya Pertamax. Mereka bilang punyanya Pertamax Turbo. Gua yang berasal dari kota terpencil di ujung yang belum pernah mendengar kata Turbo di belakang Pertamax ini agak terkesiap mendengarnya. “Emang yang Pertamax Turbo berapaan mbak?” “Sembilan ribu 200,” jawab petugasnya.

Ehm!? Gua rada tersentak denger harganya. Soalnya gua udah cukup trauma melihat kenaikan Pertamax 2 kali dalam rentang waktu 3 bulan, yang mana masing-masing naeknya gak lebih dari 4%-an. 4%-an aja udah shock, lah ini kok harganya 12.88% lebih mahal? Kemudian gua melihat Pertalite RON 90. Harganya 9%-an lebih murah. Maka belilah gua Pertalite untuk pertama kalinya. Murmer, dan liternya dapat banyak. Gua pun bahagia.

Namun kebahagiaan itu segera sirna begitu beberapa kilometer berikutnya gua mulai merasakan kejanggalan. Mobil gua gak bisa ngebut. Tarikannya seret. Jalanan pun macet. Stres gua. Gua pernah baca komputer internal Juke ini bisa tahu jenis BBM yang masuk dan suka iseng ngubah-ubah settingan mesinnya tergantung minumannya. Khawatir kenapa-kenapa, gua pun segera isi Pertamax lagi begitu waktu isi ulang tiba. Sampai di sini gua gak tertarik blas nyatet performansinya pas keisi Pertalite. Padahal RON-nya beda 2 doang.

Kemudian gua pun merenung. Haruskah aku mencoba RON 98 si Pertamax Turbo. Tapi mahal edan. Tapi bentar, beda 2 RON aja udah kayak gitu termehek-meheknya, apalagi klo beda 6 RON, gua penasaran kayak apa jadinya. Gua pun nyoba cari referensi tentang Pertamax Turbo. Maka, bertemulah gua dengan tabel populer yang dicite berkali-kali para pereview Pertamax Turbo.

compression-ratio-57b2b1d7ce9273d50c02f276

Compression Ratio vs RON. thanks to: hondagrom

Nilai oktan BBM sebuah mobil yang dibutuhkan tergantung rasio kompresi mesinnya rupanya. Kalau di bawah rentang yang dibutuhkan, maka bahaya pada mesin, jika di atas rentang, maka terjadi pemborosan. Buku manual gua ketinggalan di rumah, cuman yang jelas setahu gua rentang rasio kompresi mobil gua keknya ada di 9.5:1 sampai 10.5:1. Maka kalau dibuat regresi linear dari tabel di atas, gua dapet kisaran masing-masing rentang RON-nya seperti ini.

Compression Ratio - Minimum - Maximum
9.5:1 - 91.15 - 97.7
10.5:1 - 94.45 - 101.5

Karena gua diwanti-wantinya suruh pakai Pertamax, maka gua bisa simpulkan rasio kompresi mesin mobil gua ada di 9.5:1. Selama ini gua pakai BBM yang menghasilkan performasi terendah rupanya. Pantesan, review mobil yang bilang harusnya efisiensi maksimal ada di 14 km/liter untuk mode Eco dan 20 km/liter untuk mode Normal, gak pernah kecapai di sepanjang pencatatan performa gua. Kisarannya palingan ada di 11 km/liter, itu pun udah gonta ganti mode antara Eco dan Normal. Tapi Pertamax Turbo RON-nya 98, boros 0.3. @_@

Akhirnya, gua pun memberanikan diri beli Pertamax Turbo untuk perjalanan Surabaya – Banyuwangi.

BUSET! Langsung kerasa bedanya begitu ditarik. Mulus. Halus. Cem tak bersuara. Desahan mesinnya juga indah. Berasa berlevitasi gua. Bahkan klo gua lihat level torsinya cem ngasih bonus kecepatan yang bukan pada seharusnya. Gak kayak pas pakai Pertamax, yang level torsinya ya ngasih kecepatan sesuai kecepatan yang seharusnya, jarang dibonusi gitu. Apalagi pertalite, ngoyo banget. Itu padahal gua yakin campuran tanki gua masih ada unsur Pertalite-nya. Gak mau ketipu, gua pun melakukan pencatatan performa seperti biasanya.

Dan ini hasilnya.

Dengan jarak tempuh yang sama untuk Banyuwangi – Surabaya, dengan mode campuran antara Eco dan Normal, maka

  1. Pertamax: Efisiensi tempuh 12.3 km/liter. Efisiensi biaya 1.51 m/rupiah, dan
  2. Pertamax Turbo: Efisiensi tempuh 15.3 km/liter. Efisiensi biaya 1.66 m/rupiah.

Luar biasa irit dan menguntungkan Pertamax Turbo ternyata. Sampai rumah, gua buka buku panduan. Di sana tertulis RON minimum tanpa timbal haruslah 95. Klo kepepet, suruh yang 91 dengan catatan penurunan performa. Rentang RON berminimum 95 dicakup sama yang rasio kompresinya 10.5:1. Berarti harusnya masih bisa lebih efisien lagi kalau ada BBM dengan RON 101.

Tapi begitu nyampe Banyuwangi, gua masih belum nemu yang jual Pertamax Turbo.

Sekian review Pertamax Turbo. Selamat mencoba bagi yang ingin mencoba.

6 Bulan Akhir Tahun – Refleksi

Dalam hitungan hari, tahun 12.016 HE sudah hampir berakhir. Tahun yang membawa tekanan psikis lumayan tinggi kalau diamati. Dari tahun ini pun, hampir segala zona nyaman gua coba kikis habis-habisan. Tapi zona nyaman gua pun ternyata masih banyak yang harus dikikis lagi.

Pelajaran demi pelajaran datang bertubi-tubi dengan cara yang tidak pernah gua bayangkan sama sekali. Rasanya seperti ditonjok habis-habisan dari segala arah. Oya, tonjokan di sini bisa dibaca juga sebagai cobaan dan pelajaran sih sebetulnya. Kadang waktu gua berpikir, “Sudah selesaikah tonjokkan kali ini?”, tiba-tiba saja alam semesta tertawa meremehkan dan memberikan tambahan siraman tonjokan yang baru. Dan bekas tonjokannya masih menyimpan lebam dan memar sampai sekarang, yang uniknya, gua suka dengan lebam-lebam itu.

Kalau udah di ujung tanduk, gua kadang cuman bisa berucap, gua gak tahu apa-apa tentang dunia ini, kecuali barang sedikit.

Gua ambil contoh 2 hal, usaha dan fitness. Dalam waktu 6 bulan belakangan ini, gua mendapatkan hal-hal yang gak pernah gua lihat sebelumnya. Dan mereka datang bertubi-tubi. Jika dituliskan dalam monolog, kira-kira monolog gua dengan tema usaha bakal seperti ini.

Ngerasa pemasukan mencukupi? Oh tunggu dulu, ada tagihan yang harus loe bayar. Ada orang lain yang lebih berhak atas pendapatanmu. Ada juga pengeluaran mendadak kejutan yang gak pernah loe bayangkan. Dan oh ya, surprise! Keran-keran rezeki yang itu Dia lagi mau tutup. Frustasi? Jangan dong, Dia buka keran-keran rezeki yang lain. Dia juga kasih pemasukan kejutan di sana dan di sini. Ada juga orang lain yang ngebantu loe. Tagihan-tagihan pun bisa loe hapus pelan-pelan. Sudah dapet ilmu baru? Udah ngerasa pemasukan mencukupi?

Dan siklus pun berulang. Dengan bumbu yang berbeda.

Usaha itu susah. 😐

Lalu ada pula fitnes. Entah gua kesambet apa yang jelas gua jadi keranjingan ngefitnes. Empat bulan awal dari Januari akhir tahun 2016 gua coba datangi tempat gym rutin hampir SABAN HARI. Duh, bahkan mbak-mbak instrukturnya pun udah ngewanti-wanti tubuh perlu istirahat biar bisa berkembang. Dan itu pun gua sembarang pakai alatnya tanpa schedule, tanpa rencana mau target gimana kek apa kek, dan tanpa ilmu yang mencukupi. Intinya coba-coba sih. Alhasil, gak berkembang sesuai keinginan. Perut masih buncit. Payudara ndak montok-montok. Lengan pun gak benjol-benjol. DNA badan gua gak ada bakat kali ya biar jadi montok. >:D

Hingga akhirnya 6 bulan lalu, tiba-tiba ada mas-mas instruktur nowel gua dari belakang. Dia ngoreksi latihan gua. Udah gemes kayaknya dia ngelihat salah kaprahnya gerakan gua. Gua pun merubah cara pandang gua ngefitnes. Gua pun coba bikin target ngecilin buncitnya perut gua. Latihan demi latihan yang fokus ngecilin perut pun gua jabani. Dan itu SUSAH-. SUSAH EDAN sumpah. Latihan 6 bulan sebelumnya gak ada apa-apanya. Jungkir balik di atas matras, besi, atau entah apalah itu sampai mual muntah-muntah gua tetep terusin. Awal-awal, kaki kram, kepala pusing, tangan terkilir, paha sakit, jalan pun susah. Dan semakin lama gua pun mengenal tipe-tipe latihan sirkuit yang variasinya buset dah, banyak pisan, yang kadang kudu dicatet di hape, terus tiap gerakannya diitung jeda detik antara latihan dan istirahatnya. Dan setelah 4 bulan, eng-ing-eng, gua pertama kali melihat hasil signifikan dalam berfitnes ria: kebuncitan perut gua berkurang 2-3 cm. Duh Gusti, sedikit pisan! Itu baru perut doang. Dan latihannya udah stres maksimal begitu. Dan itu belum ada tanda-tanda muncul roti kasur-nya sama sekali. Gua pun curhat ke temen-temen latihan. Kata mereka sih keep going aja. Besok-besoknya gua makan barbar. Perut pun maju lagi beberapa senti. Wassalam deh.

Dan dalam pertama kalinya dalam hidup gua, gua baca paper dengan tema olahraga. Like, mencari cara paling efisien, efektif, dan hemat waktu buat latihan. Ada juga paper begituan ternyata, dan itu detil banget mereka-mereka nelitinya. Sampai-sampai berapa derajat optimum posisi tubuh harus duduk ketika melakukan latihan tertentu pun diteliti. Belum latihan payudara, eh…, dada deng, sama lengan, kaki, dan temen-temennya yang belum gua jabani secara maksimal.

Intinya, fitnes itu susah. 😐

Penghina Agama

Sebetulnya gua males nulis beginian. Tapi gua ingin nulis juga.

Kebetulan, kasus si bapak lagi booming. Walau gua secara pribadi ndak ngedukung si bapak (ya iya lah, gua bukan orang Jakarta), tapi gua adalah salah satu orang yang tidak tersinggung sama sekali dengan ucapan si bapak. Dan kebetulan juga gua ingin berbagi pengalaman tentang realitas dunia di luar Indonesia.

Gua lumayan lama tinggal di luar.

Dan gua lumayan lama bergaul dengan banyak orang dengan berbagai latar belakang. Gua menemui beragam manusia, baik yang toleran maupun tidak toleran. Dan gua juga sudah berkali-kali berhadapan dengan manusia-manusia yang menghina agama gua sendiri di depan mata gua sendiri, langsung maupun tidak langsung. Mereka-mereka ini orang-orang yang benci luar biasa sama agama gua, entah dengan berita-berita tentang perang, terorisme, atau hal-hal goblok yang dilakukan umat gua sendiri di belahan dunia lain. Seringkali gua menangkis argumen-argumen mereka, baik dari sisi politik ataupun agama penganut yang menyerang gua tadi (kalau orangnya beragama). Dan kebetulan juga, gua tinggal di negara dengan tingkat keantian terhadap agama gua sendiri yang sangat tinggi.

Reaksi gua udah tahap seperti ini setiap kali gua tahu agama gua dihina kala itu.

Entah, gua lebih suka menyelam di kalangan orang-orang yang benci agama gua setengah mati ini dan berusaha menetralkan kebencian di kalangan mereka, daripada gua menyelam di kalangan gua sendiri dan hidup dalam kehidupan alim-alim lugu yang saling menguatkan iman dan membangun kubah pelindung terpaan angin-angin cobaan. Saat itu di pikiran gua, mengajak manusia atau, menginformasikan manusia ke kebenaran yang gua yakini lebih menarik daripada membiarkan mereka terlena.

Hinaan-hinaan masif ini jelas gak bakalan bisa diajukan atau dituntut ke ranah hukum. Karena framework hukum kenegaraannya jelas beda. Dan, jujur, wasting time.

Oh, gua jadi teringat kata-kata ini.

Jika diam saat agamamu dihina, gantilah bajumu dengan kain kafan.

Komentar gua? Bullshit.

Sangat anti-al-Qur’an sekali kata-kata ini.

Yang hobi mengulang kata-kata ini juga banyak dari orang-orang yang mengaku dirinya Muslim. Sering gua bertanya, situ Muslim, tapi kok bisanya mengekor hawa nafsu orang-orang lain. Bukankah Rasulullah sendiri sudah mengasih contoh gamblang terang benderang segampang mencari arti suatu kata lewat google translate?

Kalau ngaku Muslim, kenapa ga mengikuti instruksi ayat-ayat Tuhan langsung? Kalau ngaku Muslim, kenapa ga mengikuti contoh Nabi ketika dia dan agamanya dihina banyak orang?

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang dzalim itu sesudah teringat (akan larangan itu). [QS 6:68]

Lihat? Bos Besar sendiri yang ngasih panduan, yang entah, apakah para pengikut Nabi itu bakal mengimaninya atau mengkafiri ayat ini.

Flownya simple.

Loe tahu ada orang mengolok-olok agama -> maka -> Tinggalin mereka, sampai mereka ganti topik.

Perlukah memutus persahabatan atau hubungan dengan mereka?

Cukup tinggalin mereka sampai ganti topik. Titik.

Ga ada gugat-gugatan dan semacamnya. Ngobrol lagi aja sama orang-orang ini begitu ganti topik. Kalau lupa ga ninggalin mereka pas acara ngolok-ngolok tadi gimana? Ya udah, ga usah duduk-duduk lagi sama mereka. Komen-komenan di Facebook lagi ndak apa-apa juga sih.

Kalau mau mengcounter gimana dong?

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) ke jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dialah Yang Mahatahu tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. [QS 16:125]

Teknik mengcounternya btw sudah dikasih guideline juga sih. Musa aja pas menghadapi si Fir’aun, yang separah itu aja ngehina-hina Tuhan, disuruh ngomong dengan lemah lembut.

Atau kisah wanita yang hobi ngeludahi Nabi setiap saat juga, tapi Nabi cuma lempeng-lempeng aja, mungkin bisa dijadikan panutan. Atau kisah lelaki Yahudi buta yang hobi ngehina-hina Nabi sebagai pembohong dan Nabi palsu, tapi Nabi malah ngasih makanan ini orang tiap waktu, mungkin bisa dijadikan panutan juga. Atau kisah Nabi yang ditawari malaikat untuk membalikkan penduduk kota Tha’if, tapi Nabi melarang dan malah berharap keturunan penduduk kota itu jadi manusia beriman, mungkin bisa sekali dijadikan panutan juga. Nabi sama Abu Jahal sama Abu Lahab aja masih berlaku lemah lembut dan hobi ngenasehati mereka walau kaumnya sering ngolok-ngolok Nabi sebagai penyihir kek, dukun kek, tukang tipu-tipu kek.

Intinya satu. Nabi selalu lempeng-lempeng aja kalau dihina secara verbal ataupun non-verbal. Satu-satunya kasus Nabi bereaksi yaitu pas Nabi diajak perang. Iya, diajak perang. Selama Nabi nggak diajak perang sama musuh, Nabi reaksinya selalu standar, yaitu, LEMPENG.

Acara komentar-mengomentari ayat-ayat atau kitab suci agama lain dari orang-orang yang bukan pemeluknya itu udah kejadian dari sejak jaman jebot. Lah, Nabi sendiri juga ngomentari agama lain. Kalau ga ada acara komentar-komentaran, mana ada cerita orang bakal pindah agama satu ke agama lainnya. Cuman Tuhan ngasih guideline.

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. [QS 6:108]

Udah gitu aja. Intinya, mari gak baperan. Beneran, hidup bakalan lebih indah jika engkau sudah mampu bereaksi seperti ini di setiap celaan yang ada.

Sekian.