Fitness di Luar Negeri

—Akhirnya, gua ngepost lagi setelah gua telat sekitar 3 hari dari waktu post yang gua sempet janjikan ke temen gua.

Anyway, walau judulnya Luar Negeri, sebetulnya negara yang gua maksud adalah Malaysia, Vietnam, dan Kamboja. Jadi, singkat cerita, gua beberapa minggu yang lalu melakukan perjalanan ke Malaysia, Vietnam, dan Kamboja. Berhubung badan gua biasanya bakal pegel-pegel kalau ga olahraga beberapa waktu, maka tempat fitnes di tempat-tempat yang bakal gua kunjungi jadi prioritas pencarian gua di sana. Dan berbekal dari info sana sini, maka gua pun mencoba mendatangi tempat-tempat yang berhasil gua temui. Berikut beberapa review beberapa tempat fitnes yang sempet gua kunjungi.

Peringatan: Walau gua menulis tentang tempat Fitness, gua jauh dari ahli tentang dunia perfitnessan. Badan gua pun masih one-pack dengan lemak di sana sini. Jadi jangan tanya-tanya tentang latihan-latihan ya, karena gua pun juga ndak ahli.😀

Fitness di Kuala Lumpur

Berhubung gua nginep di deket KL Sentral, maka pilihan terdekat gua pun jatuh pada Curvez Gym and Fitness Centre. Jangan percaya sama peta google map, karena letaknya beda. Letak sebenarnya itu ada di sini.

Curvez Gym And Fitness CentreCurvez Gym And Fitness Centre-SV

Tempatnya utamanya ada di lantai 3. Di lantai bawah sama emperannya isinya orang jualan makanan. Jadi klo misalnya laper begitu selesai bisa langsung makan di pinggir jalan bawah. Itupun kalau loe pede sama bau badan loe sih.

Btw, untuk single entry gua kemarin kena RM 15. Alatnya lumayan lengkap, kardio sama untuk angkat berat lumayan banyak. Yang kurang gua lihat justru alat-alat untuk ngelatih otot perut yang minim. Tempatnya kecil, jadi semua alat kayak dipepet gitu. Tapi ada enaknya sih, pindah alat jadi cepet tinggal geser bokong dikit udah ganti. Oh, terus ada juga deng alat buat latihan dada tapi letaknya persis ngadep kasir. Super canggung. Selain itu tempatnya bener-bener nyaman. Klo lagi bengong bisa sepedaan sambil lihat pemandangan kota di luar, di mana ketika loe nengok bawah bakal lihat orang-orang lagi makan, mobil-mobil lagi melaju, dan ketika loe ngengok ke atas bakal lihat kaca. Perfect.

Pas gua berkunjung malam hari, kebanyakan pengunjung dari ras India, dan gua tidak melihat cewek di sana kecuali mbak-mbak penjaga kasirnya. Dresscodenya kudu proper, pakai sepatu dan sejenisnya. Karena gua ditegur sama bapak penjaganya ketahuan pake sendal jepit. Haha.

Foto-foto ruangan lengkapnya bisa dilihat di sini:

https://www.google.com/maps/contrib/111605701196633206236/photos

Nama: Curvez Gym and Fitness Centre
Alamat: No. 252 - B, Jalan Tun Sambanthan, Brickfields, 50470 Kuala Lumpur

Fitness di Ho Chi Minh

Kebetulan tempat fitness yang gua datangi di sini cukup sesuatu fasilitasnya walau dengan budget minimal. Namanya S Fitness. Oh, sebelum gua ke sini, di tengah jalan menuju S Fitness, gua sempet nyasar ke tempat fitness yang gua temui deket pasar karena gua lihat iklannya dipasang di depan apartemen. Kepincut dan males capek jalan, maka gua pun masuk ke dalam. Apartemennya unyu bin mewah, dan tempat fitnessnya pun juga mewah. Gua sempet terkesiap dengan kolam renangnya. Para penghuninya pun dilihat dari pakaiannya tampak terlihat dari kalangan atas. Elegan luar biasa. Harusnya saat itu gua sadar bahwa itu adalah kombinasi yang tidak memungkinkan untuk dapet single entry versi budget. Begitu mbak-mbak resepsionisnya bilang 400ribu Dong untuk single entry, gua langsung mundur teratur kabur dari apartemen unyu itu.

Maka gua pun kembali ke rencana awal untuk menuju S Fitness. Setelah ngepot nyebrang sana sini menghindar serbuan motor-motor Vietnam, gua pun akhirnya nyampe di gang pinggir jalan raya. Masuk ke dalam ada rumah gede bagus 3 lantai keknya, yang disulap jadi tempat fitness, lengkap dengan mbak-mbak dan mas-mas penjaga fitnessnya. Penghuninya kalau diamati keknya rasio kru dan pengunjungnya adalah 35 banding 65 deh. Single entry di sini 100ribu Dong. Dengan harga segitu resepsionisnya juga sempet nawarin PT.

Tempatnya itu elegan. Alat-alatnya juga masih baru dan lengkap sekali. Pencahayaan ruangannya super cerah dan nyaman. Lantai 1 isinya alat-alat resistance, lantai 2 isinya angkat berat, dan lantai 3 isinya kardio. Pengunjungnya 50% cowok 50% cewek. Ada cafe di taman depannya. Jadi loe bisa minum-minum lucu sehabis olahraga klo kecapekan. Super cozy lah. Toiletnya pun juga bagus, ada lokernya, dan klo ndak salah ingat ada saunanya. Dan yang paling gua suka adalah, mereka nyediain hair-dryer di deket westafel, yang sangat membantu sekali buat ngeringin rambut sehabis latihan biar ga basah apek-apek gak jelas kalau naik motor pas pulangnya.

Apa ya, kayaknya ndak ada yang gua komplain dari tempat ini. Karena ini pada dasarnya rumah, loe latihan pun berasa sangat di rumah sekali. Anginnya juga sepoi-sepoi, ndak panas lah tempatnya. Orang-orangnya pun standar ramah-ramah. Oh, ada deng kekurangannya, yaitu pas gua mau naruh barang di loker, kuncinya kayaknya kudu bawa kunci gembok sendiri deh. =_=’

Intinya, ini tempat recommended banget lah kalau loe lagi di Ho Chi Minh.

Foto-foto ruangan lengkapnya bisa dilihat di sini:

https://www.google.com/maps/contrib/114758469817567938003/photos

Nama: S Fitness
Alamat: 31/4 Hoàng Việt, Phường 4, Tân Bình, Hồ Chí Minh

Fitness di Hue

Hue, kota kecil di tengah-tengah Vietnam ini termasuk kota yang agak susah nyari tempat fitnessnya. Gua sempet ngikuti diskusi orang-orang di tripadvisor tentang tempat fitness yang layak di Hue, dan gua cuman mendapati 2-3 tempat, yang itupun di dalam hotel yang jaraknya lumayan jauh sama hotel gua. Di google sempet nemu dan gua coba datangi alamatnya. Pas gua ke sana tempatnya kayaknya sudah berubah jadi restoran. Agak putus asa, gua pun akhirnya mendapatkan informasi tempat fitness dari arah yang tidak gua sangka-sangka.

Maka meluncurlah gua ke alamat yang gua dapat, dan gua pun menemukannya, namanya CLB Olympic GYM & Fitness. Di facebook-webnya sih ngakunya buka jam 5 pagi. Dan ternyata oh ternyata, beneran dong, ini tempat udah buka pagi-pagi, karena gua lewat pagi-pagi udah pada rame aja orang-orang yang ngegym.

Tempatnya luar biasa bagus, bersih, artistik, modern, pencahayaan terang, dua lantai, dan alat-alatnya masih kinclong-kinclong. Ndak nyangka di kota kecil begini ada tempat fitness keren begini. Walau jauh dari kesan kalem, tempatnya super enak buat dikunjungi. Suasananya sangat kekeluargaan sekali. Resepsionisnya juga super ramah. Pas masuk dikasih handuk kecil gitu sih. Dan gua sempet khawatir lagi lokernya jangan-jangan suruh bawa gembok sendiri. Ternyata tidak sodara-sodara, mereka ngasih kunci. Dan tepat di belakang loker, ada ruangan buat sauna. Keren ih, hampir tiap tempat fitness yang gua sambangi di Vietnam ada tempat saunanya. Sayang, gua ga kuat panas-panasan di ruangan lembab. Terus, di sebelah sauna ada toilet. Dan yang lagi-lagi bikin gua seneng adalah gua menemukan hair-dryer ngegantung di depan kaca westafel. Hore! Mana pas gua datang malem itu gua baru beres muter-muter istana dan kehujanan, praktis rambut gua basah lengket bau ga jelas. Hair-dryer pun tanpa gua sia-siakan langsung gua pakai.

Adapun alat-alatnya sepenglihatan gua komplit. Mulai dari kardio, angkat berat, resistance, perut, semua ada. Pengunjungnya pun tampak terpelajar dari kalangan menengah atas. Demografi pengunjungnya pun juga sama seperti di S Fitness, 50% cowok 50% cewek. Murmer pisan dengan fitur maksimal lah pokoknya. Mereka pasang single entry-nya di harga 60ribu Dong.

DSC00927

Jujur gua masih pingin mereview tempat ini karena termasuk suka sama tempat ini. Tapi gua putuskan sudahi sampai di sini.

Situsnya bisa ditemui di sini:

https://www.facebook.com/olympichue/

Nama: CLB Olympic GYM & Fitness
Alamat: 31 Nguyễn Thái Học, Huế

Fitness di Hoi An

Jadi Hoi An ini semacam kota tua lucu kecil di tengah-tengah Vietnam deket-deket Hue gitu. Di sini gua juga kesusahan nemu tempat fitnessnya, karena peta di Google dan tempat aslinya beda agak jauh. Tapi lokasi aslinya di peta sebenernya ada di sini.

HoiAnFitnessMap

Gua sempet kebingungan nyarinya karena google ngarah ke lokasi yang beda di peta.

Btw, tempat ini sederhana sekali. Khas seperti tempat fitness rumahan di Indonesia. Alat-alatnya lumayan lengkap walau gua kayaknya ndak terlalu lihat alat kardio di sana. Kebanyakan yang gua lihat buat angkat berat sama resistance. Dengan single entry 50ribu Dong, tempatnya agak kurang sepadan sama kualitasnya. Karena tempat sebelumnya yang 60ribu Dong aja udah dapet fasilitas banyak. Selain itu di resistance belakang, ada toilet yang, kebetulan pas gua pake latihan di sana, sepoi-sepoi semerbak aroma amonia menyapa dengan cukup gencarnya. Selain itu ada alat yang kudu diset dulu puteran besinya buat nentuin bebannya karena ndak pas lobangnya. Duh.

DSC01003

Tapi overall, tempatnya oke kok buat yang mau latihan sehari-sehari. Demografi pengunjungnya gua lihat-lihat 90% cowok 10% cewek. Dan banyak anak seukuran SMA yang latihan di sini. Bagi yang sedang berkunjung ke Hoi An, silahkan mencoba tempat fitness satu ini.

Nama: -lupa gua-
Alamat: 11 Trần Cao Vân, Sơn Phong, tp. Hội An

Fitness di Siem Reap

Seluruh kesan Kamboja yang gua temui di jalan berjungkir terbalik begitu gua memasuki tempat ini. Karena ini tempat fitnes paling sangat tertestosteron yang pernah gua temui.

Selama gua memasuki perbatasan Kamboja di hujung pedesaan sampai ke ibukotanya si Phnom Penh, gua melihat sekumpulan manusia dengan mayoritas ber-BMI rendah. Gua berpikir bahkan Vietnam atau Indonesia ndak segitu-segitunya amat. Gua sampai sempet kasihan secara ndak sadar. Karena di Phnom Penh gua sempet skip 1 hari karena udah kemaleman nyampe sananya, maka begitu nyampe Siem Reap gua pun segera nyari tempat fitness terdekat. Dan gua pun menemukan Angkor Muscle Gym. Dan eng-ing-eng pas gua dateng, ini adalah tempat fitness terbinaraga yang pernah gua temui. Karena penghuninya mayoritas badannya cem udah pada jadi semua ala-ala binaraga. Dan itu rame pisan. Semacam segala kumpulan orang-orang dengan pola makan terpenuhi dengan baik seKamboja pada kumpul di situ.

Gua keder-sekedernya masuk sini. Soale biasanya tempat fitness yang gua pernah join, biasanya sekitar 50-75% penghuninya badannya masih pada devolepment in progress, jadi gua berasa ndak minder karena banyak temennya. Lah ini, duh, bahkan gua ngelihat anak cem TK diajarin fitness sama ortunya. Dan mereka mayoritas pada shirtless semua, cem 1 banding 25 yang pake kaos, kecuali yang cewek. Dan gua pake kaos.

Jadi itu cem kayak gudang pabrik yang disulap jadi tempat fitness, lengkap dengan AC alami, dengan angin sepoi-sepoi panas-panas ndak jelas. Isi alatnya, kayaknya, gua ndak lihat kardio sama sekali deh. Isinya buat angkat berat sama resistance semua. Walaupun jadul-jadul alatnya, ini adalah tempat fitness dengan alat terlengkap yang pernah gua temui. Dan harganya pun relatif murah, untuk single entry cuman $1 kalau loe orang asing dan 2000 riel untuk orang lokal. Skema bangunannya, halaman depan buat parkir motor, ini suer rame pisan ndak jelas. Terus masuk ada kasir. Adapun bagian pertama isinya angkat beban, dan ini rame ndak jelas. Isinya orang-orang telanjang dada sambil narsis-narsis depan kaca. Dilanjut seksi kedua temanya resistance. Isinya agak longgaran walau tetep aja rame. Dan terakhir di ujung gudang ada buat aerobic yang diisi mayoritas cewek-cewek.

Berhubung alat-alatnya besi-besi yang udah karatan, megang sebentar aja tangan jadi bau entah kena campuran keringat plus ferrum. Tapi jangan khawatir, ada westafel deket toilet, dengan sabun tentunya. Bukan sabun pencet sih, tapi sabun batangan yang udah dipakai banyak orang. Hem. =_= Btw, agak bingung gua nyarinya, karena berdasar peta harusnya setelah lewat jembatan masih ke utara dikit. Gua pun kebablasan, karena tempatnya persis di depan jembatan, mana malam-malam lagi.

Silahkan mencoba bagi yang sedang di Siem Reap. Worthed pisan lah. Oh iya, kalau bawa temen cewek alim, suruh aja doi persiapkan mental terekspos dengan hawa-hawa kejantanan super maksimal di tempat ini. Maklum, tempat ini ternyata berhubungan sama Angkor Bodybuilding Association alias asosiasi binaraganya mereka. :D

Situsnya bisa ditemui di sini:

https://www.facebook.com/Angkor-Muscle-Gym-1420178121529234/

Foto-foto ruangan lengkapnya bisa dilihat di sini:

https://www.google.com/maps/contrib/112627896480431114479/photos

Nama: Angkor Muscle Gym
Alamat: House #0471, Watdamnak Village, Salakomreuk Commune, Siem Reap

 

Reality Board

Sama Bunyi Beda Makna

Sewaktu masih menempuh studi, sudah beberapa kali gua menemui dan berinteraksi dengan warga negeri serumpun, Malaysia. Termulalah ketika S1, pertemuan perdana gua dengan orang-orang ini saat gua jadi pengajar pengenalan IT mahasiswa baru internasional di ITB. Gua bingung, saat itu gua bingung. Karena bahasa Inggris gua belum canggih-canggih amat, dan audiencenya pun juga mayoritas bukanlah orang Melayu. Praktis interaksi berbahasa Melayu gua dengan mereka minim.

Kemudian berlanjutlah S2, tetangga apartemen seberang jalan, atau lebih tepatnya, temen sejurusan adalah orang Melayu. Dan mereka berbahasa Melayu. Dan berbahasa Inggris. Maka gua pun berbicara dalam bahasa Indonesia. Dan mereka pun berbicara dalam bahasa Melayu. Dan gua pun berpikir, walaupun kita sama-sama menggunakan bahasa nenek moyang yang sama, kosa kata yang sama, tapi penggunaannya bener-bener berbeda. Gua pening mencerna ‘penyalahgunaan’ kata berlebih dalam intensitas tinggi dan cepat, yang sesekali dibumbui surprise asem manis kecut dengan taburan wijen kosa kata bahasa Inggris yang menyeruak tanpa ancang-ancang. Tentu saja, kata ‘penyalahgunaan’ di sini dalam sudut pandang bahasa Indonesia. Dan gua pun yakin, mereka memandang pemakaian kata-kata gua aneh di telinga mereka.

Menyerah, maka gua pun menggunakan bahasa Inggris demi kenyamanan penyampaian ide yang lebih terstruktur. Kacrut sih gua, karena ada temen Indonesia gua yang keukeuh mengadaptasi penggunaan kedua bahasa tadi dalam kehidupan sehari-hari mereka, karena mereka tinggal seapartemen. Hasilnya mencengangkan, mereka jadi soulmate. Dan saling mengerti satu sama lain. Lengkap dengan bumbu surprise yang sudah saling mereka icip satu sama lain. Menghasilkan bahasa baru yang telah tersinkronisasi. Gua? Teuteup, sering ndak nangkep omongan mereka. LOL.

Btw, gua saat ini sedang mengunjungi negeri Jiran ini. Dan sepanjang jalan, gua nggak henti-hentinya nahan ketawa baca plang-plang penunjuk jalan.

Dan inilah istilah favorit gua yang baru dari kata-kata yang gua temui:

Papan Kenyataan

Gua tercekat lama sekali, begitu mengetahui artinya adalah “Papan Informasi”. Kenyataan dalam kaidah bahasa Indonesia merujuk pada konsep tentang realita. Tapi otak gua langsung terbangun begitu gua menemukan benang merah Kenyataan dan Informasi. Dibangun dari kata dasar Nyata, yang akan menyempit artinya jika diberi impuhan me-an. Karena akan menjadikannya “Menyatakan”, yang bisa diartikan juga, secara sengaja memberi tahu sesuatu, atau juga membuat sesuatu menjadi nyata. Mungkin kata-kata tadi akan terasa lebih natural di telinga pemakai bahasa Indonesia jika Papan Kenyataan tadi digubahgunakan menjadi Papan Pernyataan.

Cucokmologi

Ah!

— Peringatan, bagi mereka yang ndak tahan dengan tulisan-tulisan yang mengandung pernyataan SARA, ada baiknya berhenti dan tidak melanjutkan membaca.

Satu lagi. Gua menemukan kosa kata baru: Chindian. Yang jika digoogle, maka akan menampilkan deretan jenis manusia tersendiri, yang merupakan hasil perpaduan antara ras China dan ras India. Hasilnya, bagi gua, bagi mata gua yang semoga ndak salah menganalisa, adalah tampak sangat seperti orang Jawa, walau sebagian. Gua pun berpikir, apakah orang Jawa adalah hasil perpaduan antara China dan India? Gua kudu baca-baca lagi abis ini. Secara cucokmologi geografi ala-ala gua, tampak sangat memungkinkan sekali soalnya. Tapi gua mendapat kesan yang sama sewaktu berkunjung ke Thailand, dimana gua melihat bangsa ini seperti berada pada spektrum antara keindia-indiaan dan kechina-chinaan, dibumbui melayu. Maka berjalanlah cucokmologi ala-ala gua, yang mana gua pun simpulkan bahwa, bisa jadi orang-orang Thailand yang gua temui waktu itu sebagian besar rasio China:Indianya antara 50:50 sampai 90:10. Sedangkan orang Jawanya yang gua temui sebagian besar berasio China:Indianya antara 10:90 sampai 50:50.

Gua berasa jadi rasis nulis beginian. Hahaha. Gua sudahi. Nanti gua tulis lagi kelanjutan tentang hal-hal lain yang gua temui sepanjang perjalanan.

Akhirnya, Gua Nyerah

Hampir 4 bulan gua sudah menetap di Surabaya. Segala benak gua dan harapan gua yang gua bawa sewaktu balik lagi ke Indonesia sekarang mulai jelas arah keputusannya. #tsah

Percobaan gua gagal. Percobaan kehidupan gua gagal di sini. Mengingat gua sudah menghabiskan 1/3 tahun waktu gua di sini dan gua tidak melihat perubahan yang signifikan, maka dengan ini, gua pun memutuskan untuk pindahan.

Salah satu alasan gua memilih Surabaya adalah karena ini adalah salah satu kota yang gua relatif sangat tidak familiar sama sekali, biaya hidup yang relatif murah, akses penerbangan antar kota lumayan terjangkau, dan yang paling penting, sangat sedikit orang-orang yang gua kenal di sini.

Lho, kok yang paling sedikit? Ini pertanyaan yang paling sering gua denger dari temen-temen gua. Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah gua pingin menantang kemampuan bersosialisasi gua di tempat yang asing sama sekali. Gua pingin menghindari orang-orang yang pernah gua kenal. Sederhananya, gua pingin cari temen baru. Temen yang sama sekali baru, punya hobi yang sama, dan 11 12 sama gua.

Bulan lalu, ada temen lama gua dari Vietnam berkunjung ke Indonesia. Gua pun jadi guide buat dia sekitar 1 mingguan. Gua temenin ke Jogja sampai Bali. Gua jadi tahu banyak tentang temen gua ini. Dan entah kenapa setelah pertemuan gua dengan temen lama gua ini, ada saat di mana gua tercenung lama sekali. Suasana hati gua ga karuan sama sekali. “What the fuck I am doing at Surabaya?”

Hingga akhirnya, gua pun mengeluarkan uneg-uneg gua ke dia. Kurang lebih begini percakapannya.

Gua: I read an article somewhere. When we get older, the number of close friends we have are decreasing. I don’t believe it. I would like to challenge that article. So I went to unfamiliar town, lived there, and tried making some new friends. But every new people I met there are just, well, not at the same chemistry with me. Mostly I got awkward introductions. I failed miserably.

Doi: So the article is true. LOL

Haha.

Absurd sekali. 4 bulan gua habiskan hidup gua hanya karena sebuah artikel.

Dan acara jalan-jalan kemaren membuka mata gua. Gua bahagia ketika lihat temen gua bahagia. Dan gua melakukan kesalahan besar dengan mencoba menghindari segala temen-temen lama gua. Padahal temen-temen lama gua juga adalah mereka-mereka yang harus gua syukuri keberadaannya. Merekalah orang-orang yang menemani kehidupan gua selama ini, bukan lantas gua nomor duakan hanya demi egoisme mencari temen baru di kota ini.

Tapi sejujurnya, gua pun juga bingung menghubungi mereka lagi.😀

Btw, berikut adalah hal-hal yang membuat gua memutuskan hengkang dari Surabaya selain masalah transportasi.

Cafe

Gua suka ngafe. Suka sekali. Dulu waktu S1 bikin TA pun di cafe. Suer, otak gua kayak tersteroid tiba-tiba buat mikir jernih. Pas kerja di Jakarta pun begitu, keknya, hampir tiap hari saban balik kantor gua nongkrong di cafe deket kantor. Kehidupan perkorewaan pun begitu, setiap gua ada waktu gua selalu pergi ke cafe, entah ngerjain paper, cari inspirasi, ngobrol ga jelas, atau ngitung uang pun gua jabani ke cafe.

Dan gua mulai menyadari, ada 1 kekurangan besar yang cem hilang tiba-tiba begitu gua pindahan ke sini, yaitu bahwa tempat perangsang otak yang selalu mensupport kehidupan pergejean gua ndak ada yang cocok di sini sama selera gua. Gua perhatikan, kebanyakan warung kopi terdekat gua itu: keramean; ndak ada asenya; menunya biasa aja; bentuknya yang kurang menginspirasi; dan yang paling penting, kursinya keras semua. Buset dah, baru sadar manja sekali gua ini.

Desperate, gua pun mencoba pergi ke mall (yang notabene jauh pisan dari tempat tinggal gua), berharap menemukan starbaks, ekselso, atau binlif apalah, yang penting unyu, nyaman, dan ada sofanya. Dan uniknya, gua pun ndak suka juga. Kecuali ekselso, gua melihat cafe-cafe tadi kursinya keras-keras, keramean, dan gua melihat ga worth it antara harga dan tempatnya. Lho, tapi ekselso kan ada empuk-empuknya. Mmm, iya sih, gua pernah ditowel awang-awang sama mas-mas penjaga ekselso. Gua berhenti sebentar. Gua perhatikan isinya dari kaca luar. Audience-nya, saat itu, tipikal para pekerja kantoran, rata-rata dress formal, rame, dan mereka-mereka semua bergerombol cerita-cerita. Gua perhatikan baju gua, kaosan, sandalan, dan ndak ada temen. Gua gamang. Kehidupan individualis masih gua bawa-bawa juga ke sini. Entah, gua sedih tiba-tiba.

Teman/Orang (baru)

Ada 7 orang. Mereka ini gua temui di salah 2 komunitas yang gua ikuti di sini. Keenam orang ini, suer, sama persis dengan 7 kenalan lama gua. Oh Tuhan! Dalam hati gua selalu histeris ngelihat mereka ini. Dari sekian banyak manusia berhamburan di Surabaya yang gua arungi ini, hampir gua nggak pernah menemui orang-orang yang mirip dengan temen-temen gua. Tapi kenapa, justru di komunitas-komunitas yang super spesifik ini, gua justru menemui manusia-manusia berwajah mirip yang pernah gua temui sebelumnya dengan intens?

Gua jabarkan. Si A ini wajah tumplek bleg persis sama temen deket gua di Korea. Dulu gua selalu nahan ketawa ngobrol sama dia. Kemudian, muncullah si B, doi mirip bener sama temen akrab lama gua si B’, dari wajah sampai postur. Gua bener-bener tercenung ngelihat nih anak. Btw gua ketemu si B ini di komunitas besar yang gua termasuk jarang ngomong di dalamnya dan ndak kenal semuanya. Dan karena gua akrab sama B’, gua selalu gatel pingin kenalan dan ngajak ngobrol sama si B’ gadungan ini. Gua urungkan, karena si B ini selalu nempel sama si C, yang mana si C ini mirip sama kenalan lama gua si C’, yang, puji Tuhan, mereka cem kembar. @_@ Bayangkan, 2 orang asing berteman akrabnya dan mereka mirip kenalan lama loe semua, dan loe ada di dekat mereka. Bedanya, loe diasingkan sama 2 orang ini. Absurd. Kemudian, ada si D, yang mirip temen lama gua si D’. Wajah boleh mirip, tapi badan beda sama sekali. Kemudian ada juga si E (yang mirip si E’ temen Korea gua) yang bikin gua ga kalah tercenungnya sama si B, karena literally model rambutnya, wajah, dan cara mereka berekspresi sama persis. Padahal, sepengamatan gua, jarang sekali kemiripannya orang etnis China Indonesia yang secara fisik gua temui sama orang Korea. Iya, gua cem bisa bedain orang China, Jepang dan Korea sewaktu di Korea. Bedanya si E ini cem masih muda. Dan karena si E’ ini bikin gua sebel sewaktu di Korea, si E ini pun secara naluri gua hindari. Begitu juga si F dan G. Duh, 7 orang. Banyak ya.

Ada lumayan banyak komunitas yang gua gabungi selama gua di sini, mulai dari yang bener sampai yang ndak bener. Dan salah satu tujuan gua adalah ya itu tadi, nyari temen baru. Dan mencari teman yang cocok itu ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak orang yang berkenalan, banyak juga orang yang berbicara dengan gua. Tapi yang satu chemistry sama gua hampir bisa gua bilang ndak ada. Kesalahan ada di gua sih. Berkali-kali gua dikelilingi orang-orang yang dengan semangat mencari kegiatan bersama-sama setelah aktifitas komunitas rame-rame, tapi guanya yang kadang ndak semangat ngikutin acara jalan-jalan mereka. Ada juga komunitas yang gua ga sreg sama ideologi mereka, cem isinya orang-orang kelebihan duit. Kebalikannya, ada juga yang isinya orang-orang yang selalu mengerjap-ngerjap mengeja uang. Hadeh.

Dan gua pun mulai mengingat-ngingat, bagaimanakah ceritanya gua bisa kenal dengan teman-teman lama gua. Dan gua pun langsung dapat jawaban instan: sekolah dan kerja. Di sekolah, gua bertemu dengan orang-orang yang gua temui dengan intens setiap harinya. Mereka pun menjadi teman gua. Di tempat kerja pun begitu, karena aktivitas yang selalu kita lakukan bersama-sama, ada ikatan emosi yang terbentuk sampai hari ini. Mereka pun menjadi teman gua. Sayangnya, dua hal ini sudah tidak gua miliki lagi.

Tidak ada yang sempurna di dunia ini.

Tapi gua nggak menyesal sama sekali, walau percobaan kehidupan gua gagal. Gua seneng sekali malah. Banyak sekali pelajaran yang gua dapati selama 4 bulan di sini, walau kerjaan gua kebanyakan tidur siang melulu. Haha. Dan berhubung ada proyek baru menunggu di depan, sekalian gua pakai momentum ini untuk merefleksi kehidupan sekali lagi dan mencoba kembali ke ritme kehidupan yang dulu atau ke ritme kehidupan yang sama sekali baru.

Akhir kata, selamat beraktifitas!

Ketiadaan Gosip

Dulu pas kerja kantoran, sesibuk apapun shitload kerjaan, selalu gua sempatkan program pendulang apdetan gosip terkini nangkring di taskbar bawah windows. Posisi gua duduk sebetulnya sangat nyaman untuk bermagabut ria setiap hari. Sayangnya oh sayangnya, sebelah kiri gua duduklah kepala deputi dan sebelah kanan gua duduklah si bos kepala bagian.

Ndak asik. T_T

Sedangkan ndak jauh dari tempat gua, duduklah bergerombol anak-anak tim yang kerjaannya, suer, gua bingung, dari pagi sampai sore ngobrol dan bercanda terus. Mereka ngegosip terus tiap hari. Dan mereka juga cekikikan terus tiap hari. Dan mereka juga umurnya ndak beda jauh sama gua, sangat berseberangan sama dua orang di sebelah gua. Jujur, gua selalu pingin nimbrung ikutan ngegosip sama anak-anak. Dan itu cuman bisa dilakukan pas makan siang di mana pada akhirnya gua pun bisa ‘bergerombol pada tempatnya’. Tapi ya itu, cuman sebentar doang pas makan siang. Karena begitu jam masuk kantor lagi, gua kembali ke tempat gua berkutat sama kerjaan, dan mereka kembali ke tempat mereka berkutat sama gosip mereka. Ah! Gua iri!

Akhirnya gua lampiaskan dahaga gosip gua dengan buka facebook atau yutub atau situs geje apalah, secara diam-diam. Pas si bos lagi mèléng, ctrl + tab pun dengan lincah gua tekan, dan gua pun berselancar membaca postingan-postingan ga penting penyulut emosi yang muncul dari temen-temen pesbuk gua. Dan gua pun ketagihan pesbuk. Oh dunia…

Tapi, pesbuk tidak seperti dulu lagi. Dulu pas gua baru kenalan dengan mereka, isinya paling banter sebatas selfie, postingan foto alay makan-makan, jalan-jalan, atau segala sesuatu yang menenangkan. Sekarang mah boro-boro, bisa lihat ada yang ngelike foto kucing lucu aja gua bersyukur banget. Heran deh, social media yang harusnya membuat kita semakin akrab malah jadi ajang tengkar.

Gua sudah tidak melihat kedamaian lagi di dalamnya.

Atau mungkin gua yang sudah terlalu tua ya? Lelah sudah gua dengan drama dan intrik ga jelas. Dan kepulangan gua ke Indonesia benar-benar membuat gua bersyukur setengah mati, hal-hal yang dulu gua sempat hilang dalam hidup gua akhirnya pelan-pelan gua dapatkan lagi.

Di tiap jalan-jalan sore yang gua lakukan di sekeliling perumahan, gua melihat manusia dan kehidupan sehari-hari mereka. Ada bapak-bapak, ada ibu-ibu, ada mas-mas, ada mbak-mbak yang berjuang dengan keras mencari rezeki mereka dengan tanpa menyerah di tiap harinya. Ada banyak manusia dengan motornya bersegera kembali ke rumah masing-masing setelah seharian lelah bekerja untuk menemui keluarganya. Ibu-ibu langganan makanan gua, mas-mas tukang bangunan depan tempat gua, bapak-bapak penjual sate, om-om gojek, mbak-mbak Alfamaret, mereka begitu menyenangkan untuk ditemui. Mereka bagaikan mutiara yang bertebaran di muka bumi berjuang untuk kehidupan mereka dan keluarga mereka. Dunia menjadi begitu indah dengan hadirnya pejuang-pejuang ini.

Persetan dengan fitnah dan kebencian yang menyebar di dunia maya.

Kehidupan nyata seperti mereka inilah sesuatu yang jauh lebih pantas untuk diapresiasi. Karena memang hidup adalah sesuatu yang pantas diapresiasi, bukan untuk dihina-hina dan disia-siakan.

Dan hati gua entah kenapa begitu damai dengan tidak membuka social media dengan beralih menikmati dunia nyata. Gua sadar, berbahaya memang jika gua tidak mengetahui informasi. Kembali ke penyedia informasi tulus bisa jadi pilihan baik.

Ada masih banyak rencana kehidupan yang belum gua sempat eksekusi. Dan puji Tuhan, keluhan-keluhan gua tentang Indonesia perlahan memudar dengan kesibukan nggak penting gua. Oh! Gua jadi suka baca novel. Dan di luar dugaan, membaca novel itu menenangkan ya. Gua menemukan efek luar biasa yang juga luar biasanya lagi bisa menekan kebiasaan buruk bawaan gua yang lain. Buku-buku sok-sokan sebenernya masih kadang baca sih, tapi entah kenapa agak hilang selera gua ngebaca begituan.

Intinya, hobi baru gua adalah, gua mencoba menghindar segala pertentangan, atau segala sesuatu yang ga gua suka. Menghindar entah kenapa lebih menyenangkan daripada gua harus berdebat. Ada banyak cara menunjukkan ketidaksetujuan, termasuk dengan tersenyum mendengar pendapat orang untuk kemudian baru keesokan harinya menunjukkan secuil pendapat yang berbeda kepada orang lain dengan cara yang bahkan si pendengar tidak sadar bahwa itu adalah pendapat yang berbeda.

Akhir kata, masih ada banyak hal yang harus gua tata ulang, tapi secara pelan tapi pasti gua mulai mendapatkan serpihan-serpihan kehidupan gua yang hilang. Semoga esok kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik daripada hari ini.

(;

Iklan

Ane penikmat video iklan, dengan tema-tema tertentu.

Terutama iklan-iklan menyentuh hati ala-ala Thailand bisa bikin gua tercenung berhari-hari. Dan gua pun juga sangat mengapresiasi iklan hedon yang ‘bagus’ di mata gua.

Berkali-kali pingin gua bagi rasa wah ketakjuban gua akan iklan-iklan tipe-tipe hedonistik ini ke beranda Facebook gua. Tapi kok setelah gua pikir-pikir agak kurang pada tempat dan audience yang pas.

Di sini gua mau coba share 4 iklan yang paling membekas dalam kecengangan gua.

Jam

Gua suka jam. Suka sekali. Tapi bukan untuk gua pakai. Karena pergelangan tangan gua kecil dan ndak cocok dipakaein sama jam. Jadinya gua suka mengapresiasi jam dengan cara memandangnya saja. Tapi teteup, gua suka jam. Dan iklan Bvlgari berikut bener-bener bikin gua nggak berkedip memandangnya.

Komentar gua cuman satu: Seksi!

Keindahan

Gua suka sesuatu yang memanjakan mata, dalam bahasa sederhananya, keindahan. Dan iklan dari Cartier ini, bagi gua, begitu indah untuk dideskripsikan. Musiknya, gambarnya, nuansanya, semuanya pas.

Komentar gua pun sederhana: Uwoggghhh!

Mobil

Gua suka beberapa jenis mobil, terutama yang tipe sporty. Lebih tepatnya lagi, yang bentuknya lucu-lucu ndak jelas. Walau gua ndak ada rencana beli BMW sama sekali, tapi iklan BMW yang ini bener-bener gua apresiasi. Elegan luar biasa.

Romansa

Gua penggemar hal-hal yang berbau romantis sebenernya. Dan iklan Cartier (lagi) ini bener-bener bikin gua terhanyut suasana dalam waktu yang cukup lama.

Indah. Ini salah satu hal terindah yang pernah gua lihat.

Sekian.

 

Di Mana Pejalan Kaki?

1 bulan sudah hampir kira-kira gua mengamati perkehidupan perIndonesiaan kembali. Dan ada hal yang cukup mengganggu gua satu. Di manakah para pejalan kaki?

Seriusan!

Gua kebetulan tinggal di perumahan. Dari rumah ke depan jalan raya tempat sumber makanan ndak sampai 500 meter. 300 meter untuk jarak terdekat dan 450 meter untuk jarak yang agak jauhan lebih tepatnya. Udah gua ukur di google map. Dan tiap gua jalan dari rumah ke tempat makan, gua jarang sekali melihat orang yang berjalan kaki keluar, entah beli makan kek, jalan-jalan kek, atau apalah. Sesampainya gua di tempat toko-toko makanan pun gua melihat berjejeran sepeda motor dan mobil di depan toko-toko makanan tadi. Hm! Maka mari berpikir positif, mungkin rumah mereka jauh-jauh.

Mungkin juga, karena gua di perumahan, sehingga gua jarang lihat orang jalan… Tapi ya, kayaknya logika gua ada yang salah. Mungkin di tempat lain orang-orang yang pada jalan kaki lebih mudah ditemui.

Maka gua pun mencoba untuk jalan ke tempat-tempat yang agak jauhan, ke mall, ke balai kota, ke cafe-cafe tak terdekat, ke banyak tempat. Dan gua mulai ngeh, bahwa orang-orang sini pada males jalan kaki. Oh, tentu saja ada pengecualiannya, yaitu di dalam mall. Selebihnya, jalanan sepi pejalan kaki. Kalau ada yang jalan, termasuk gua, malah terlihat aneh. Orang-orang yang lagi duduk di pinggir jalan, menatap orang yang berjalan kaki di pinggir jalan. Absurd. Ya Tuhan, di tengah isu menipisnya dan naiknya harga bahan bakar dunia, ternyata orang-orang malah semakin giat mempergunakan hal-hal ini.

Hampir semuanya dengan giatnya menggunakan kendaraan pribadi mereka ke mana pun mereka pergi. Kalau dirangkum, kira-kira beginilah urutan kegiatan transaksi kehidupan sehari-hari.

  1. Keluar pintu rumah jalan kaki ngeluarin motor (atau mobil).
  2. Mendudukkan bokong di jok.
  3. Gerakin telapak-jari tangan dan kaki.
  4. Nikmati semilir angin (atau AC) hingga tujuan.
  5. Turunin bokong.
  6. Kemudian bertransaksi.

Bahkan untuk jarak yang ndak lebih dari 500 meter tadi, gua menemui orang yang naik mobil untuk menempuhnya. Hah!

Apakah gua tinggal di kota yang tidak ramah untuk pejalan kaki? Bisa jadi. Trotoar agak susah dinikmati terkadang. Selain jalanan panas, ramai, bergeronjal, banyak kendaraan, pohon perdu untuk pejalan kaki pun jarang. Padahal taman ada banyak bertebaran berserakan di berbagai tempat, tapi bukan untuk para pejalan kaki sih.

Menikmati kota dengan berjalan kaki itu padahal menyenangkan lho.

Nggak nyangka juga, gua akhirnya mulai membanding-bandingkan kehidupan yang dulu gua ingin sekali keluar darinya dengan kehidupan sekarang yang gua mulai berkeluh kesah dengannya. Mungkin di tulisan ini gua mau mencoba menyanjung negara yang dulu gua hobi suka nyinyiri selama di sana.

Tanpa sadar, gua dulu hidup dengan manusia-manusia yang mayoritas suka jalan kaki ke mana-mana. Di jalan gua bertemu sebagian besar dengan manusia, bukan kendaraan pribadi. Di jalan gua berjalan-jalan bersama masyarakat yang juga semua bertebaran berjalan-jalan dan berbincang-bincang. Di jalan gua pun bisa dengan santainya berjalan kaki melihat pemandangan, bangunan, ataupun toko-toko sekitar sambil menikmati udara luar. Di jalan gua pun duduk, berdiri, menunggu bersama manusia-manusia sekitar akan datangnya angkot, bus ataupun kereta.

Boro-boro mau naik, jadwal dan trayek peta angkot pun susah sekali gua temui di sini.

Gua pun berpikir, untuk memecahkan permasalahan ini. Dan gua pun akhirnya menemukan solusinya: If you cannot beat them, then join them. Maka, gua pun berniat untuk beli kendaraan pribadi juga.

Hah!

Pijet

Gua penggemar pijet. Pisan.

Setiap gua jalan ke negara lain hal yang pertama gua buru adalah pijet atawa massagenya. Begitu pun kalau dalam perjalanan dalam negeri, entah pas lagi nyebrang kapal, nunggu keberangkatan, bengong di kota lain; yang mana kalau gua lagi kosong gua pasti sempatkan nyari sesuatu yang mau mijetin gua, baik manusia ataupun kursi yang bisa bergetar. Bahkan kalau lagi duduk bareng sama temen pun kadang gua godain, “pijetin gua dong gan”. Dan beruntunglah gua punya banyak temen-temen yang selalu sukses digoda, mereka pun mau mijetin gua.

Dan posisi favorit gua ketika pijet adalah ketika sandaran. Apalagi kalau kursinya gede, empuk, dan lucu. Itu rasanya super ultimate pisan itu kenikmatannya. Gua seakan bisa mengerti arti kata-kata ini.

على سرر موضونة متكئين عليها متقابلين
Mereka berada di atas dipan yang bertahta emas dan permata. Seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan.

Ini sangat gua hayati sekali kemungkinan khayalan yang paling bisa gua khayalkan. Kenikmatan surgawi bagian ini adalah salah satu gambaran yang paling bisa gua mengerti dan paling bisa gua recreate dan rasakan sedikit percikan-percikannya. #tsah

Pijet paling ideal gua adalah, di mana gua pingin rebahan di kursi gede mirip kasur super duper elegan bercorak gelap dan empuk dan penuh bulu-bulu lucu, ditemani temaram lampu dan aromaterapi ndak jelas yang enak baunya, sambil diiringi musik ndak jelas juga tapi menenangkan, di ruangan yang super menenangkan, ditemani pemijet paling handal, yang juga handal ngobrol ndak jelas yang menyenangkan, bonusnya apalagi kalau pelanggan kanan kiri bilik ikutan nimbrung ngerumpi.

Masih banyak lagi sih sebetulnya ide-ide acara pijet-memijet ini yang ada baiknya ndak gua tuliskan di blog ini. Tapi yang jelas intinya, dari alam bawah sadar gua, gua mendambakan kehidupan super rileks dengan kegiatan liburan setiap harinya sambil bertelekan di atas kasur atau apapun yang menyenangkan sambil menikmati pemandangan yang menyengangkan-menyenangkan dengan ditemani sentuhan-sentuhan menyenangkan di sekujur badan ketika pijet.

Sayangnya, kehidupan ndak bisa seperti itu. +_+

Manusia itu bekerja mencari nafkah, dan itulah yang membuat manusia sebagai manusia. Ada lelah di setiap pencarian kebaikan dalam kehidupan. Dan para pemijat tadi sangat gua apresiasi keberadaannya. Mereka adalah orang-orang yang bisa gua hadapi dengan rasa bahagia. Dahulu, gua menghormati 2 macam profesi di dunia ini. Sekarang ada 3, yaitu Guru, Dokter, dan kemudian Tukang Pijet.

Coba deh bayangkan. Mereka rela berkorban memberikan penat mereka untuk membawa kebahagiaan kepada mereka yang dipijat. Entah kenapa kesannya seperti berbahagia di atas penderitaan orang lain, ya? Tapi gua melihat keindahan tersendiri di balik filosofi pijet memijet ini. Juga, terkadang gua akan belajar banyak dengan mendengar cerita-cerita kehidupan dari para pemijat ini kalau dipancing dengan obrolan ringan per sesinya. Mulai dari perasaan mereka sebagai pemijat, kehidupan keluarganya, kesehariannya, suka dukanya, macem-macem lah. Jarang-jarang juga gua ngobrol sama orang asing. Mungkin ini juga salah satu faktor yang menyebabkan gua suka dipijet, karena gua pada dasarnya suka mendengarkan orang lain bercerita.

Beragam pemijat maka beragam pula tekniknya. Ada yang nyaman ada juga yang ndak nyaman sama sekali. Tapi tetep aja sih, sejelek-jeleknya pijetan mereka, sebetulnya masih enak juga kok rasanya klo dipikir-pikir.

Ada yang memijet pakai perasaan. Sambil nanya-nanya udah pas belum tekanannya, sakit apa ndak, ada daerah yang pingin dipijet atau ndak. Ada juga yang pemijet yang suka diapresiasi pijatannya. Mereka suka memperhatikan reaksi pelanggannya. Sering gua ngegap mereka yang senyum-senyum sendiri ngelihat ekspresi wajah keenakan gua pas lagi dipijet. Ada juga calon terpijat yang merem melek ngelihat orang lain yang sedang keenakan dipijet sama pemijetnya. Kebetulan gua suka pijet kepala ringan. Gua suka terpana ngelihat orang yang kepalanya lagi diuwel-uwel pas dipijet.

Bagian tubuh buat mijet pun macem-macem. Ada yang pakai telunjuk, ada yang pakai telapak tangan, ada yang pakai sikut, ada yang pakai punggung. Dan acara pijet-pijetan yang lumayan paling eksotik yang pernah gua rasakan adalah pijet ala Thai. Buset dah, itu pemijetnya menggunakan 100% seluruh badannya deh buat mijet gua. Semua bagian badan gua kena semua. Mulai dari ditindih, ditarik, diputer, ditendang, sampai pemijetnya menggeliat di atas badan pun kejadian. Super ndak nyaman pisan. Gua selalu ngakak kalau dipijet ala-ala begini selama sesinya. Apalagi kalau yang mijet ndak bisa bahasa Inggris, bahasa tubuh secara harfiah pun bener-bener dipergunakan. Tapi enak juga kok sebetulnya. Hahaha.

Akhir kata, selamat berburu pijet bagi mereka para pecinta pijet!