Apakah gua menyebalkan?

Terkadang gua pernah berpikiran kek beginian. Mungkin bagi beberapa orang gua ramah terhadap mereka, tapi buat beberapa orang yang lain gua terasa menyebalkan bagi mereka. Kok? Soalnya suatu hari, pas lagi ngumpul rame-rame di rumah kost temen, gua tiba-tiba lagi nggak mood ngomong, penginnya cuman denger musik. Klo pun mood ngomong, in english aja, biar nggak direct gitu sensasi aura yang dibicarakan. Hohoho… Dan karena gua tipe-tipe jaim, gua menanggapi dingin obrolan temen gua yang ngajak ngomong ke gua, seperti hanya sepatah dua patah kata bahasa Indonesia atau kalimat panjang dan cepat in english. Dan entah karena dianya nggak tahan, akhirnya dia bilang (klo gak salah kata-katanya), ‘Agi… Kamu itu menyebalkan.’

Sorry guys, I don’t mean like that.

Iya juga sih… Kadang gua jadi nggak mood ngomong klo bertemu dengan beberapa jenis orang tertentu. Klo udah gini kejadiannya, senyum aja gua males. Tahu kenapa? Klo senyum bakal menghabiskan ATP. Hwawawa… Kadang juga gua mood ngomong sama beberapa jenis orang tertentu. Dan klo sama kek ginian, dengan ringannya gua bakal menghabiskan ATP untuk senyum atopun ketawa. :3

Diskriminatif? Iya-ya… 😀

Kenapa kelakuan seperti ini muncul? Gua pernah baca, manusia akan secara naluriah mencari teman dengan sensing yang ada di hidung… Maksudnya jika ada hormon atau apa gitu gua nggak tahu, yang membuat dia nyaman berinteraksi dengan dia, dia bakal memilih orang tersebut sebagai teman. Dan sayangnya gua bukan tipe seperti itu… ==’ Karena setiap orang prinsipnya adalah sama bagi gua. Jadi, semuanya gua anggap berpotensi sebagai teman. Cuman, akrab atau enggaknya, itu cuman masalah perioda saja. Karena bisa jadi gua akrab sekarang, tapi tiba-tiba nggak mood akrab di perioda berikutnya, dan sayangnya, ketika gua pengin kembali akrab lagi, gua berpikir rasanya gua nggak cocok lagi.

Udah 3 grup yang kek begini…

Pas TPB pernah ngerasain 2 grup yang gua ngerasa asik nimbrung bareng mereka. Terus pas tingkat 2, entah karena gua bosen atau jarang ketemu, gua nggak ngerasa asik lagi nimbrung bareng mereka. Terus tingkat 2 gua bertemu dengan sebuah grup yang… alamakjang… entahlah gua harus bilang apa. Tapi gua seneng bareng mereka. Lebih merakyat soalnya. Hahaha… Dan sekarang gua ngerasa gak nyaman lagi bareng mereka, karena merekanya sendiri juga mulai terpecah belah karena beda subjur… Dan sekarang ketika gua ngerasa nggak bareng sama 3 grup ini lagi, gua ngerasa ada yang ilang. Dan sekarang gua lagi bareng sama sebuah grup baru, yang gua sendiri nggak terlalu berharap banyak apakah gua bisa akrab dengan mereka dalam waktu lama atau nggak.

Gua berpikir, itukah definisi teman? Berteman hanya sekedar mood? Yah, gua akui gua emang keterlaluan. Dan mamaku pernah bilang begitu karena gua acuh sama TEMEN BAIK gua sendiri pas SD yang sekarang bahkan TETANGGAAN… Mamaku pernah bilang, ‘Nang, kamu inget nggak dulu kamu itu selalu nggandoli sama si xxx pas SD dulu… Masak sekarang ketemu di jalan aja kek gitu…’ Maksudnya, nggak nyapa dan mengajak masuk rumah dulu buat main kompi dulu kek atau maenan apa kek. Gua jawab, ‘Yaelah ma… Masak kek gitu… Ya kan aku sudah besar, udah punya kesibukan yang beda.’

Nggak logis sih jawabanku. Tapi ya gitu. Gua keknya emang punya masalah di long term friendship. Dan masalahnya adalah gua sendiri, yang mungkin terlalu menganggap enteng perasaan orang lain… Dan gua minta maaf kepada semua teman yang merasa gua jutekin… Jujur, gua nggak bermaksud seperti itu…

Apakah gua bahagia dengan kehidupanku sekarang?

Private answer. Dan jawabannya gua sangat-sangat bahagia. Best sangat2 lah. Hampir tiap hari gua dalam keadaan good mood, kecuali untuk masalah ngomong dan tersenyum. Dan gua akan sangat bahagia lagi klo udah balik ke rumah. Semua habit gua bakal balik semua. Hwawawa… Maklum, secara klo di Bandung gua harus hidup di flat yang… ah… dan juga hidup serba teratur dengan uang yang terjatah. Dan hidup sederhana selama 2 tahun di Bandung benar-benar membuat gua mengerti bagaimana rasanya hidup susah itu.

Bayangkan ketika kamu harus menyiapkan makanan untuk diri sendiri. Bayangkan ketika kamu harus ngecuci pakaian kamu sendiri. Bayangkan ketika kamu tidak bisa hidup sebebas kamu di rumah. Hidup dalam satu kamar sempit di lingkungan yang _jujur_ kotor dan tidak sehat. Udara pengap. Kasur di bawah. Nggak ada tivi. Nggak ada temen maen, entah badminton kek jogging kek atau semacamnya. Belum lagi kehidupan kampus yang… hhh… akademik + non-akademik = Hope this will be ma good experience in ma future.

Intinya, hidup sendiri itu susah. Kata temen baek gua, harus ada yang ngurus. Hahaha… Itu mah udah nyerempet ke arah kawin. :3 Emang juga sih, keknya gua sudah harus mulai berpikir ke arah situ. Dan sekarang lagi hunting. Sayangnya, belum ada yang cocok. Mungkin guanya yang perfeksionis. Soalnya, untuk ngungkapkan tiga kata keramat ke orang yang nggak gua suka, dalam artian cuman sekedar nyoba gimana rasanya bareng orang laen, itu bukan hal sulit alias nggak ada beban. Dan sayangnya lagi, gua paling nggak bisa ngomong gituan ke orang yang gua suka… ==’ Alamiah sih. Secara gua pernah diambangin juga tiga kata keramatnya. Hahaha… bete. Kata papa, mamaku sudah kebelet pengen nggendong cucu… Menurut gua, terlalu cepat… ==’

Kembali ke kehidupan. Pas gua ke Pasar Baru, gua ngeliat orang-orang yang hidup di pinggir jalan. Mereka jualan… Dan gua melihat keadaan sekitarnya yang dilalui banyak orang. Panas-panas gini… Dan trotoarnya kotor… Gua bertanya, oh Tuhan…, kenapa? Kenapa begini…? Wajah mereka itu wajah yang nggak punya apa-apa. Tapi mereka hidup! Mereka masih hidup dalam kehidupan yang seperti itu. Di blog temen gua, dia bilang kenapa para beggar masih aja strugle di jalan kek gitu, kenapa nggak commit to suicide aja? Katanya, karena mereka punya impian. Dan impian itu membuat kamu masih bisa bertahan hidup.

Jadi apa relasi dari teman – hidup – impian?

Itulah. Gua merasa hidup itu bukan sesuatu yang sekadar main-main. Hidup itu hal yang serius. Jadi, gua nggak mau main-main. Dan mungkin ini yang membuat gua males ngomong nggak perlu ke orang lain, kecuali sama temen deket gua. Dan akibat kelakuan gua mungkin ada temen yang merasa tersinggung. Padahal gua merasa semua teman… Sorry… Dan impian, ini yang membuat gua selalu dalam kondisi good mood. Gua merasa, setiap hari jalan menuju impian gua semakin dekat dan semakin dekat.

Pernah gagal meraih yang dicapai? Pas SMA jarang, dan sayangnya pas kuliah jadi lumayan. Hwawawa… Tapi gua pengin tetep ngotot. Karena gua tahu, klo anak kecil jatuh karena belajar jalan, dia bakal berdiri lagi, karena dia ngotot, dan dia tahu dia bakal bisa jalan. Makanya dia ngotot. That’s bushidou (samurai passion, red.). Dan gua pengin terus ngotot walau gua jatuh berkali-kali. Karena gua yakin, entah pada usaha yang keberapa, pasti, Tuhan akan memberikan jalannya ke gua. Ima made shinjiru kara. 🙂

Advertisements

Meiji contitution + 1947 contitution (From ma friend blog)

Gua nemu artikel dari blog temen baek gua. http://www.suicune.co.nr Isinya bagus loh. Silahkan dibaca untuk tambah pengetahuan. :3

MEIJI CONSTITUTION / THE CONSTITUTION OF THE EMPIRE OF JAPAN

Tanggal 11 Februari 1889 (21 tahun setelah restorasi Meiji), Constitution of the Empire of Japan diumumkan secara resmi bersama dengan:

– the Imperial Household Law
– the Diet Law
– the House of Representatives Members Election Law
– the House of Peers Edict

MEIJI constitution terdiri dari: 7 CHAPTERS dan 76 ARTICLES
di mana article 73 menerangkan tentang perubahan konstitusi (yg membawawanya menjadi constitution of Japan di tahun 1947).

SEKILAS SEJARAH PEMBENTUKKANNYA…
~ Pembentukan Meiji Constitution mengambil model dari Prussian Constitution of the Second Reich, yang ditemukan pada Januari 1871.
~ Pada saat itu Ito Hirobumi mengunjungi Berlin dan Vienna untuk
mempelajari konstitusi pemerintahan.
~ Sekembalinya dari kunjungannya di bulan Agustus 1883, Ito membuka
jalan untuk mengenalkan konstitusi pemerintahan yang telah
dipelajarinya melalui PEERAGE ACT (JULY 1884), yang mana merevisi
sistem ‘peerage’ dengan style Eropa, merevisi institusi dari sistem
kabinet (Desember 1885), kodifikasi pemerintah lokal melalui
Municiple Code and the Town and Village Code (April 1888), dan
pembentukan the Privy Council (April 1888).

SEKILAS MENGENAI ISINYA…
~ MEIJI constitution dibentuk dengan dasar pemikiran monarki konstitusi dengan lingkup kekuasan yang besar pada Kaisar.
~ Sangat terlihat jelas bahwa sistem Kekaisaran merupakan inti dari
Konstitusi Meiji ini.
Seperti kekuasan Kaisar yang terlihat jelas di dalam konstitusi ini:
* Kaisar diberi kekuasaan tertinggi (supreme power) terhadap segala
urusan negara (article 4).
* Kaisar mempunyai otoritas tertinggi terhadap segala aparat administrasi negara dan mengenai gari dan perjanjian dan
pembubaran sipil serta pegawai militer.
* Kaisar sebagai Komandan tertinggi dari army forces.
* Kaisar juga sebagai pemegang otoritas tertinggi mengenai urusan
kekaisaran, urusan agama, dan pelimpahan kekuasaan (bestowal of
honors).
~ Di dalam konstitusi ini dijelaskan bahwa Kaisar itu bersifat “sakral
dan tidak dapat diganggu-gugat” / “sacred and disvioable”. Tetapi
pada kenyataannya tidaklah selalu seperti itu. Karena pada akhirnya
ada militer dan ultranasionalis (yang mengabdikan diri pada Kaisar
dengan amat sangat) yang mempunyai kontrol atas Jepang. Sifat
tersebut hanyalah pernyataan dari prinsip dasar dari setiap negara
yang menyebut dirinya monarki. Pada prinsipnya, “the ruler does not
act alone”.
~ Konstitusi Meiji ini juga menjelaskan bahwa:
# memberikan menteri negara tanggung jawab sebagai penasihat dalam
pemerintahan eksekutif, peraturan Kekaisaran, dan imperial
rescripts.
# menegaskan bahwa Kaisar menjalankan kekuasaan legislatif dengan
persetujuan dari Imperial Diet (article 5).
# segala hukum memerlukan persetujuan dari Imperial Diet (article
37).
# menjamin kebebasan pengadilan, terutama, mepercayakan kekuasaan
pengadilan intrinsik Kaisar to the courts of law.
# kaisar mempunyai army and navy general staffs untuk membimbingnya
dalam permasalahan pemberian perintah sebagai seorang komandan.

KERUNTUHAN DARI MEIJI CONSTITUTIONS…
1. Kurangnya kebijakan yang menerangkan kewajiban dan kekuasaan yang
dimiliki oleh kabinet dan perdana menteri.
Satu-satunya kebijakan yang mengatur menyangkut permasalahan
kabinet adalah RULES OF THE CABINET SYSTEM 1889 (Imperial Edict
135). Tetapi, pada kenyataannya PM tidak mempunyai kekuasaan yang
konkret untuk meyakinkan kebulatan suara Kabinet yang diperlukan
di bawah RULES OF THE CABINET SYSTEM. Jepang yang mempunyai PM dan
kabinet dan harus bertanggung jawab secara langsung ke Imperial Diet
dirasa tidak mempunyai banyak wewenang dan kewajiban, sehingga
seperti tidak mendapatkan arahan yang jelas dalam menjalankan
perannya.
2. Kebebasan dari pemberi perintah tertinggi, seperti yang ditetapkan
dalam article 11).
3. Ketidakmampuan dari IMperial Diet, yang mana fungsinya terbatas
dalam penyetujuan legislasi / undang-undang.
$ Sistem bikameral (dua pintu) mengurangi otonomi untuk meloloskan
hukum / peraturan mengenai komposisi, organisasi, dan operasi.
$ Imperial Diet tidak punya kuasa dalam deklarasi perang, konklusi
perjanjian / traktat, dan kekuasaan dalam penetapan anggaran
sangat terbatas.
$ Meiji konsitusi menetapkan bahwa segala hukum / peraturan harus
lolos dari persetujuan Imperial Diet, dan semua hukum yang masuk
dalam proses tersebut harus menerima sanksi dari Kaisar dan lalu
baru dimumkan.
$ Tetapi, konstitusi ini juga mendorong Kaisar untuk beberap isu
tidak dengan persetujuan Imperial Diet.

CONSTITUTION OF JAPAN

CONSTITUTION of Japan menggantikan MEIJI CONSTITUTION.
PENGGANTIAN ini dilakukan berdasarkan prosedur amandemen seperti yang
tertara dalam pasal 73 Meiji Konstitusi.

CONSTITUTION of Japan disahkan pada tanggal 3 MEI 1947, terdiri dari
preambule, 11 chapters, dan 103 articles.

Dengan bergantinya konstitusi di Jepang ini telah membawa negara Jepang
setelah PD II sebagai negara baru yang cinta damai, menjunjung
kebebasan dan demokratis.

Konstitusi Jepang ini berdasar pada 4 prinsip:
1. POPULAR SOVEREIGNITY DAN THE SYMBOLIC ROLE OF THE EMPEROR
Prinsip ini tersirat dalam pembukaan Konstitusi Jepang (KJ), dan
artikel 1 dari KJ. Posisi Kaisar yang dulunya dalam article 4 Meiji
Konstitusi sebagai kepala dari kerajaan dan kedaulatan tertinggi (supreme sovereign) berubah dalam KJ yang menyatakan bahwa Kaisar
hanya terlibat dalam hal-hal kenegaraan tertentu saja yang diatur
dalam KJ dan tidak mempunyai POWER / KEKUASAAN yang berhubungan
dengan pemerintahan. Dan segala perbuatan dan kelakuan (acts) yang berhubungan dengan kenegaraan (state) yang dilakukan Kaisar mendapatkan nasihat dan persetujuan dari Kabinet, dan kabinet bertanggung jawab atas itu semua (article le3). Artikel 6 dan 7 menjelaskan tentang tugas-tugas Kaisar, dimana Kaisar berperan di sisi rakyatnya.
2. PACIFISM / CINTA DAMAI
Prinsip ini ada di awal dari pembukaan / preambule dari KJ, dan
juga terlihat dalam artikel 9 yang menjelaskan mengenai perdamaian internasional dan menyatakan bahwa Jepang menganggap perang sebagai hak dari setiap negara tetapi juga sebagai ancaman atau penggunaan kekuatan / forces sebagai alat untuk menenangkan perselisihan internasional.
3. RESPECT FOR FUNDAMENTAL HUMAN RIGHTS
Prinsip ini dapat ditemukan dalam artikel 11 dimana setiap orang
tidak dapat dihalangi-halangi untuk menikmati hak fundamentalnya
mereka. Hak fundamental mereka tidak dapat diganggu-gugat selama
tidak mengganggu kesejahteraan publik / public welfare (article 12 and 13), di mana artikel ini merepresentasikan perubahan yang sangat
radikal sekali dengan Meiji COnstitution yang mana dengan sangat
ekstrim membatasi hak warganya secara general/umum. Hak spesifik
tercantum dalam Chapter III mengenai RIGHTS AND DUTIES OF THE
PEOPLE. Beberapa artikel yang menyangkut HAM: artikel 13 (respect of
individuals), 14 (equality under the law), 15-17 (rights to choose &
dismiss public officials, to pettion without sufferieng
discrimination, to seek redress from the government), 19 (freedoms
of thought and conscience), 20 (religion), 21 (speech), 25 (rights
to organize and to bargain collectively), 26 (education), 27-28
(various worker’s rights).

KONSTITUSI JEPANG menyediakan sistem parlementer dimana kekuasaan eksekutif, legislatif, dan yudikatif terpisah, mereka melakukan ‘check and balance’ ke satu sama lain.

EXECUTIVE: menggunakan model parlemen British. Terdiri dari PM dan kabinetnya. PM bertanggung jawab langsung kepada Nasional Diet atas segala tugas-tugas pemerintahannya.
LEGISLATIVE: bernama NATIONAL DIET, terdiri dari
– HOUSE OF REPRESENTATIVE (MAJELIS RENDAH)
– HOUSE OF COUNCILLORS (MAJELIS TINGGI)
Kedua House ini merupakan “Sole Law-Making of the State” dan
“Highest organ of the state power” (article 41).
Legislatif menentukan PM dan PM membentuk kabinetnya sendiri.
PM bertanggung jawab langsung kepada National Diet.
JUDICIARY: terdiri dari summary, district, family, and haigh courts and
Suppreme Court. Karena kekuasaan tertinggi dari JUDICIARY ini adalah
negara, maka Suppreme Court / pengadilan tertinggi mempunyai hak
untuk JUDICIAL REVIEW.

IMPERIAL DIET

Pembentukan Imperial Diet secara resmi tanggal 29 November 1890, dimana dengan pembentukan ini menunjukkan pada dunia bahwa Jepang sebagai Negara pertama di Asia yang mempunyai parlemen.

IMPERIAL DIET terdiri dari:
– House of Reprentatives
– House of Peers

NATIONAL DIET

NATIONAL DIET merupakan perubahan nama dari IMPERIAL DIET.
National DIET ataupun Imperial Diet merupakan organ legislatif Jepang.

Imperial Diet dibubarkan pada tanggal 31 MARET 1947.
DI bawah Konstitusi yang baru (CONSTITUTION OF JAPAN) yang diumumkan
November 1946, National Diet was to comprise:

– THE HOUSE OF REPRESENTATIVE (MAJELIS RENDAH)
Dengan jumlah kursi 512. Dan masa bakti 4 TAHUN dan dapat
dibubarkan sewaktu-waktu oleh kabinet (artikel 45). Konsekuensinya,
Majelis ini hrus menerma mandat baru kira-kira setiap dua tahun
sekali. Ini adalah salah satu alasan mengapa KJ mengakui hak yang
lebih tinggi dari Majelis Rendah dibanding dengan Majelis Tinggi di
dalam 4 area:

1. appointment of / designate a new prime minister (article 67)
2. enactment of law (article 59)
3. decision on the budget (article 60 & 86)
4. approval of treaties (article 61 & 73)

Majelis Rendah mempunyai 18 Standing Commitees.

– THE HOUSE OF COUNCILLORS (MAJELIS TINGGI)
Dengan jumlah kursi 252. Dan masa bakti 6 TAHUN dengan pemilu
reguler untuk pemilihan anggota setiap 3 tahun sekali (article 46)
di bawah sistem pemilihan yang terpisah. Tidak akan merasa takut
untuk dibubarkan. Majelis ini bebas untuk mempertimbangkan masalah
pemerintahan untuk waktu yang lama.
Majelis ini mempunyai 16 Standing Commitees.

# BOTH HOUSES are elected directly by the people. Different from IMPERIAL DIET in Meiji COnstitution which they were appointed from
certain privileged groups.
# The number of Diet seats today, sty by the PUBLIC OFFICE ELECTION
LAW.
# Konstitusi Jepang melarang setiap orang untuk menduduki 2 kursi di
parlemen / di dua majelis baik rendah maupun tinggi (article 48).
# Konstitusi menetapkan bila tidak ada kata kesepakatan antara House of
Representative dan House of Councillors, maka hak yang lebih tinggi
untuk menetapkan ada pada House of Representatives.

THE NATIONAL DIET merupakan:
– THE SOLE-LAW MAKING ORGAN OF THE STATE (article 41)
– THE HIGHEST ORGAN OF STATE POWER (article 41)

POWERS OF DIET OF JAPAN: (based on Constitution of Japan)

1. Decide the budget (article 36 & 60)
2. Approve treaties (article 61 & 73)
3. Designate prime minister (article 67)
4. Enactment of law (article 59)
5. Initiation of constitutional amandements (article 96)
6. Setting up of a court of impeachment to try judges
(article 64 & 78)
7. Adopt petitions & resolution, to approve cabinet deceision to
mobilize Self-Defence Forces & to approve the proclamation of a
state of emergency
8. Both houses of the DIET have the right to conduct inverstigations
into governments affairs (article 62)

Kejadian Setelah Sahur…

Pagi ini, Selasa 9 September 2008, aku bangun persiapan sahurnya rada terlambat. Jam 3:45-an, baru bangun dan dalam keadaan belum masak nasi. Aku pun mulai memasak nasi dengan buru-buru. Dan baru matang sekitar jam 4:12…

==’

Dengan lauk seadanya, aku makan dengan lahap nasi yang panas tadi. Dengan lidah kepanasan, aku terus makan dan makan. Sampai kulihat jam sudah menunjukkan pukul 4:20 lebih. Hwaaa~! Belum selesai makannya. Padahal harusnya sudah imsak. Akhirnya aku lanjutkan terus sampai adzan berkumandang.

Pas adzan berkumandang, aku belum selesai keadaannya saat itu sebetulnya. Tapi nggak apa-apa, yang penting sudah makan. Terus dengan terburu-buru aku minum air putih. Baru 2 atau 3 gelas, e-gg-hhhhh…. Ada yang aneh… -_-‘ Perutku tiba-tiba saja mual.

Tak lama kemudian, aku bersendawa, dan… akhhh… air sendawanya masuk ke hidung lewat tenggorokan… Aku tersentak kaget, dan keknya perutku juga kaget, entah karena akibat bersendawa atau apa. Yang jelas sesudah itu aku merasakan air liurku menjadi berasa asin. Dan kalau rasanya asin, itu tanda-tanda…

Tiiiiiiiiiiiiittttttttttttttttt……………………………… (sensor)

Terdengar suara yang tidak mengenakkan. Dan aku muntah. Sangat banyak. Dan itu tadi makananku~! Kyaaaa… Aku panik. Jadi gimana dong? Hwawawa… Secara inisiatif aku langsung minum air sebanyak-banyaknya mumpung adzan belum selesai. Karena manusia lebih bisa bertahan hidup dengan minum air daripada nggak makan berhari-hari.

Eng-ing-eng! Jadinya, aku nggak makan sahur ini. T_T

Nggak apa-apa deh. Berarti aku harus makai jurus hemat energi buat ngakalinnya. Moga rencana ‘eco-energy’ ini berhasil! Dan nanti pas buka puasa, keknya gua bakal makan 4 kali buat mengganti energi yang sempat hilang. ^

*setiap ramadlan, keknya gua selalu menemukan hari tanpa makan sahur*

Pekerjaan dan sebuah ingatan tentang SKETSA

Apa definisi pekerjaan bagi kamu? Secara sederhana bisa dikatakan pekerjaan adalah servis dari diri untuk suatu segolongan tertentu sehingga dengan servis itu kita bisa mendapatkan nafkah hidup. Tentu saja selain definisi ini masih terbuka kesempatan untuk definisi yang lain.

Hidup mungkin berat bagi sebagian orang. Tidak semua orang dilahirkan dalam kondisi berkecukupan. Sehingga bagi mereka yang sejak lahir sudah terbiasa untuk selalu berjuang keras memenuhi kondisi hidup mengakibatkan pikirannya terforsir untuk memikirkan mencari nafkah. Alih-alih bagaimana menemukan suatu penemuan yang sifatnya kebanyakan bersifat tersier. Sudah sepantasnya bersyukur bagi mereka yang sejak lahir dianugrahi Allah dengan kehidupan yang tidak perlu direpotkan pikiran untuk memenuhi kebutuhan primernya, sehingga pikirannya masih bisa digunakan untuk memikirkan hal-hal yang lain.

Seiring dengan tumbuhnya manusia menuju kedewasaannya, seharusnya mereka sadar, bahwa dari golongan apapun mereka berasal, berada, menengah, ataupun bawah, memiliki kans yang sama untuk saling berganti posisi. Memiliki kans yang sama untuk jatuh miskin. Memiliki kans yang sama untuk hidup berkecukupan. Tidak peduli seberapa kayanya orang tuanya, jika dia tidak bisa mengatur hidupnya sendiri, itu sama saja dengan menjatuhkan dirinya ke lubang kemiskinan. Karena yang akan menentukan apakah kita akan kaya atau miskin adalah diri kita sendiri, bukan orang tua kita.

Bagaimana dengan warisan? Klo gak salah, jika dilihat dari kacamata manajemen industri, warisan yang bersifat uang, jika dibiarkan selama waktu berjalan, maka nilai tambahnya akan berkurang, kecuali tanah, rumah, nilai tambahnya justru bertambah. Jadi, kalau tidak bisa mengelola warisan, sama saja bohong.

Maka dari itu, pekerjaan adalah salah satu hal yang menjadi fokus utama dalam masalah seperti ini. Pekerjaan yang bisa mendatangkan keuntungan dalam waktu cepat kerap kali dicari. Karena hidup memang tidak bisa ditawar, bersifat real time dan berjalan sangat cepat. Apapun pekerjaannya bagi orang yang perutnya lapar, tentu akan disabet. Aku pernah denger, jika perut lapar, kelakuan akan susah diatur, sebaliknya kalau perut kenyang, kelakuan lebih mudah diatur. Maka jangan bandingkan Indonesia dengan negara maju.

Salah seorang teman yang sudah merasakan dunia kerja pernah bercerita, menjadi lulusan perguruan tinggi tidak menjamin mendapatkan kemudahan kerja. Dia berpendapat masyarakat Indonesia bersifat oportunis, jadi klo ada kesempatan pekerjaan yang walaupun bukan bidangnya akan disabet. Maka jangan heran kalau ada lulusan teknik duduk di bagian finansial.

Sampai di sini aku bertanya, apakah memang tidak ada lowongan pekerjaan yang sesuai dengan keinginan kita. Maksudnya, klo di kampusku masalah lowongan pekerjaan yang sesuai jurusan memang banyak sekali terpampang dan membanjir di papan pengumuman. Tapi apakah di universitas lain seperti itu atau memang begitu keadaannya. Bahkan pernah aku berpikir, apakah sarjana teknik elektro masih dibutuhkan di negeri yang tidak terlalu menghargai teknologi ini? Bukankah pekerjaan akan menjadi lebih profesional jika kita mencintai pekerjaan kita?

Ya~h… Susah memang jika berbicara masalah seperti ini. Negara ini bukan tempat yang cocok untuk pengembangan teknologi, tapi lebih cocok sebagai tempat pemasaran teknologi. Tapi kemudian aku sadar, kenapa aku ingin belajar teknik? Karena sejak awal aku memang pengin jualan. Jualan kemampuan teknikku, yang tidak bisa dibajak dengan mudah oleh orang lain.

OK, itu pemikiran idealisku. Kenyataannya? Sekarang aku mencoba mencari pengalaman pekerjaan yang benar-benar jauh dari mendesain rangkaian listrik… Hwawawa… Dan aku enjoy sekali! Karena memang sejak kecil (baca: dulu) itulah hobiku. Aku suka mendesain, dan aku suka programming. Dan ketika di DAP aku ikut ambil bagian di kominfo, rasanya segala hobi ini tertumpah ruah di sini. Ini hobiku! Ini jalanku! Begitu kalau aku pikir-pikir dalam hati. Pekerjaan terasa menyenangkan sekali. Bahkan terasa bukan pekerjaan, karena terjadi secara mengasyikkan dan seru. Rasanya aku sedang berpiknik dan berpiknik setiap hari. Aku senang sekali dengan pengalaman pekerjaan ini. Dan dengan bekerja, kau akan merasa setidaknya kau menjadi orang yang berguna bagi orang terdekatmu atau orang lain yang tidak kau kenal sama sekali. Di situ aku mendapatkan sensasi tersendiri dan tak terlupakan ketika pertama kalinya aku melihat hasil pekerjaan yang aku ikut ambil bagian dipergunakan oleh orang banyak… Dan aku sangat bersyukur pada Allah karena memberiku kesempatan hidup seperti ini.

Sekarang aku ingin mencoba berkata jujur dengan pekerjaanku sebelumnya. Dulu di SMA, aku pernah menangani majalah sekolah yang bernama SKETSA. Di tengah pelajaran yang semakin menggila setiap harinya, kami diwajibkan deadline 6 bulan sekali. 6 bulan sekali. Sekali lagi aku tekankan, 6 bulan sekali! Hahaha… Lama pisan! Di awal aku gabung dengan SKETSA aku bekerja dari bawah, menjadi pencari berita. Yaaahhh, istilah lainnya pekerjaan kasar. Tapi saat itu aku berpikir, pencari berita itu adalah lini terdepan dan yang paling berjasa bagi suatu majalah. Hehehe… Pemikiran yang bagiku sekarang terlihat sedikit berlebihan. Saat itu aku merasa pekerjaanku tidak terlalu menarik, karena hanya sekedar setor berita dan selesai. Tidak ada yang lain. Juga, karena dikejar deadline, aku harus mencari berita yang kira-kira bertahan sampai 6 bulan dan bagus, karena deadline kami yang 6 bulan menuntut agar kami membuat majalah yang mengkompensasi hal tersebut.

Bagaimana perasaanku saat itu? Aku tidak bisa bohong, aku tertekan, walau saat itu aku mencoba menganggapnya sebagai sesuatu yang menyenangkan. Sekarang kalau aku pikir-pikir aku tidak terlalu bahagia ketika mencari berita. Yang ada rasa takut dan tidak enjoy. Rasa puas hanya didapat ketika kau melihat hasil karyamu dipublish. Itu saja, tidak lebih. Bagaimana dengan pengurus inti? Mereka juga pencari berita, tapi juga bertugas mencari dana. Selama masa kerja efektif kami, gejolak yang melanda petinggi sungguh sangat dinamis. Mulai dari kak **** (lupa namanya, dan mungkin bukan terdiri dari 4 karakter namanya) yang nangis-nangis karena dana kami ditahan kepala sekolah, sampai perjuangan mereka mengurusi kami-kami yang ah… makhluknya sangat bervariasi. Maklum, dana untuk majalah kami dari siswa yang ditampung di sekolah, dipakai untuk subsidi silang… Syaphekh deh… ==’

Memang, saat itu aku hobi menulis, tapi bukan menulis yang dipaksakan. Aku suka menulis cerpen dengan gayaku sendiri, membaca dan menulis puisi, dan sebagainya. Tapi aku tidak suka kalau menulis dan itu ada aturannya. Rasanya… menyebalkan. Dan itu membuatku tidak bahagia, walau pada akhirnya aku mendapatkankan reputasi yang tinggi dari pekerjaanku, aku tidak terlalu bahagia. Tapi saat itu, mungkin aku enjoy-enjoy saja. Hingga akhirnya aku dinominasikan sebagai pimpinan redaksi a.k.a. ketuanya.

Saat menjadi pimpinan redaksi, aku ditantang harus membuat majalah ini berjalan lebih cepat, dan membuat sistem yang akan bekerja secara otomatis, sehingga tanpa aku pun majalah ini tetap jalan. Hwuiiiihhh… Sensasinya euy, tak terlupakan… Di sini juga aku untuk beberapa kalinya belajar bagaimana menolak permintaan, menegur orang, tanpa harus merusak persahabatan yang sudah dibina jauh-jauh hari sebelumnya. Dan dengan bantuan yang sangat besar dari teman-temanku, akhirnya misi utama kami untuk menancapkan branding, sukses! Semua kru terasa bangga menjadi anggota SKETSA. Karena itu pekerjaan elegan yang kami dapatkan.

Aku juga masih ingat ketika teman terdekatku berkata, “Kalau ada yang masalah bilang aja, jangan ditanggung sendiri, karena kamu punya teman.” Kata-kata “jangan ditanggung sendiri”, memberiku pelajaran mendalam tentang arti kerja sama, walau ada edisi ketika aku harus mengkover sekitar 30% sampai 40% karena ketidakefektifan cara kerjaku. Di situ aku juga belajar arti kerja secara efektif. Kita punya teman. Dan mencoba percaya kepada teman adalah salah satu hal terbaik yang bisa kita lakukan. Dan aku sangat bahagia ketika pekerjaan kami, bukan aku, diapresiasi oleh teman-teman. Begitu banyak anak yang memberikan komentar tentang majalah kami, dan semuanya membangun! Artinya, teman-teman peduli dengan hasil kerja kami. Begitu juga ketika ada pengurus SKETSA yang dari tahun jebot (baca: jadul) datang ke tempat kami hanya untuk memberikan selamat karena sudah membuat SKETSA terbaik yang pernah ada.

Bagaimana perasaanku saat itu? Mungkin itulah saat-saat terindahku di SMA di saat yang lain larut dengan kehidupan pop khas anak muda dan serba instan… Dan ini adalah salah satu pengalaman berharga yang tidak akan pernah aku lupakan. Walau selepas aku SMA pada akhirnya SKETSA terpaksa bubar karena daerah kami menerapkan kebijakan yang membuat SKETSA tidak bisa mendapatkan dana lagi… Aku sedih sekali mendengarnya.

Sejak kejadian itu, aku tidak mau lagi berhubungan dengan hal-hal pimpin-memimpin. Aku sadar bukan pemimpin yang baik. Masih harus banyak belajar. Selain itu menjadi pemimpin adalah suatu amanah yang kelak kita akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah. Sesungguhnya bumi dan langit yang besar seperti itu, ketika akan diberi amanah oleh Allah saja mereka menolak karena takut jika mereka tidak bisa menunaikannya… Dan makhluk yang dengan mudahnya menerima (bahkan menuntut meminta) amanah, ternyata adalah manusia… Aku teringat lagi, ketika mereka maju mencalonkan diri…

Sampai sini aku sadar, apa yang paling aku suka dari pekerjaanku. Pertama, aku suka dengan pekerjaan yang menyangkut dengan hobiku, kegemaranku sedari kecil. Kedua, aku suka dengan pekerjaan satu tim, karena aku tidak suka terlihat menonjol. Ketiga, aku suka dinamika. Walau awalnya aku tidak terlalu suka ditunjuk menjadi ketua, tapi pada akhirnya aku enjoy dengan kondisi tersebut karena ternyata aku mendapat banyak pelajaran baru. Aku suka pelajaran baru. Maka dari itu aku suka dinamika. Keempat, pekerjaanku bisa bermanfaat bagi orang lain. Kelima, pekerjaan yang memberikan aku suasana hangat seperti sedang bersama keluarga.

Suatu hari Kick Andy berkata, dia suka dengan pekerjaannya. Karena tiap hari dia bertemu sesuatu yang menyenangkan. Karena itu dunianya. Dan dia bisa bekerja dengan tulus. Dan aku percaya, kalau kita bekerja sesuatu yang kita suka, kita bisa bekerja dengan tulus.

Jadi, pilihlah pekerjaan yang memang kamu suka. Maka kamu akan mencintai pekerjaanmu.

SFInt =: Trauma ?

Tadi gua baru aja ngajar PTI di kelas SFInt. SF Internasional. Dan, ngemengnya pake bahasa Inggris. T_T Kebanyakan anak Malaysia yang ikut. Hufff~ Blepotan gan… ==’ Nggak deg-degan, tapi super duper blepotan ngomongnya. Itu mo grammarnya dah betul kek atau nggak, nggak peduli, yang penting ngomong. Hwawawa… 😀 Kaco…

Jadi, dimulai dengan masuknya gua ke kelas, dan berkata ‘OK, guys. We’ll split this class to 2 type. Here and there.’ Soalnya perjanjian sama asisten yang lain, kita bagi dua aja yang kelas Internasional biar adil dan nggak terlalu kerepotan. Kebetulan gua di ruang RPS, dan hamka di ruang akses. Setelah ngemeng gitu gua pergi ke ruang akses menemui hamka, dan ternyata hamka cs menolak kedatangan mereka karena alasan bahasa. (Bum!)

Nggak tahu harus ngomong apa. -_-‘ Kemudian gua pergi ke ruang di mana mereka berada, dan setelah masuk, ternyata mereka benar2 terlihat splitted jadi 2! Setengahnya ilang ke mana??? Gua tanya ama salah satu anak, yang sebelah sana ke mana, kok ilang? Dia jawab nggak kok, cuma 2 orang aja yang ilang. Yang lainnya masih di sini kok. Ho~… Syukurlah… Itu artinya mereka nggak paham instruksi gua. Dan terselamatkan… ==’

Setelah itu pun course pun dimulai… Dan gua pake bahasa Inggris yang kacau balau. Sampai gua berkali-kali diketawain sama beberapa anak di sana kayaknya.

“OK, we’ll study about ITB IT Infra…

blah-blah-blah

blah-blah-blah

blah… !#$%$!%& blah-blah…

… … …

end///”

Yah selesai jugah… Dan membawa bekas trauma yang tidak mendalam di pikiran. Sebab, ketika aku bilang ‘properly’, ada satu anak yang rada nggak mudeng keknya omongan gua, dia tanya, “what you said?” kurang lebih gitu, terus gua ngomong ulang ‘properly…’, “what?”, ‘properly!’, “w-wha?”, ‘PROPERLY!’. Terus dia sama temen-temenya yang segeng ketawa ndenger gua ngomong gitu. Nggak tahu pronounce gua yang salah atau gua yang logatnya lagi pelat nggak tahu. Yang jelas, gua rada shock. Tapi tetep, muka harus tersenyum~ Hof… Sedihnya senyum yang dipaksakan… T_T

By the way, itu pengalaman asyik yang pernah gua dapatkan. Konyol-konyol juga sih. Hihihi…

My Team… T_T

Karena ada beberapa kebijakan tentang komlebs terbaru, maka dengan sangat terpaksa, DAP dengan akses publiknya ditutup untuk sementara waktu. ==@ Sedih sekali. 8 bulan yang… ah…

Sedihnya bukan karena tanpa alasan. Soalnya setelah rapat sama managemen, katanya karena adanya PTI menyebabkan resource ComLabs terpakai habis-habisan dalam 1 bulan pertama ini. Praktis, akses publik tidak jalan. Tapi, klo gak salah ITB masih akan memberikan kompensasi komputer baru, 50 buah atau 60 buah klo gak salah. Ya…, ini sih masih mungkin. Tapi kemungkinan tidaknya juga ada… ==’

Kesimpulannya. Akses publik bisa buka lagi dengan 30 komputer atau lebih klo gak salah setelah romadlon. Tapi, kemungkinan buka secara cacat juga ada, mengingat PTI itu menghabiskan 2 semester. Menyebalkan. Karena waktu efektifnya jadi cuma senin sama sabtu. Ugh…

Kata redi, kita bakal jadi kupu-kupu (a.k.a. kuliah pulang-kuliah pulang) klo gini caranya. Ntah vavalah. Untuk melampiaskan kemungkinan kerja tim kami terakhir kalinya, kami pun makan-makan di goukana ciwalk. Sedih…

Yah, inilah foto kami.

Hmmm… Klo diliat-liat sih tetap. Yang paling ganteng sih gua. Hwawawa…