BEI Ditutup (sampai Jum’at), ekonomi pasar bebas terbukti gagal?

Imbas terjadinya penurunan perekonomian di AS menyebabkan banyak negara-negara di dunia yang sangat bergantung dengan perekonomian AS mengalami penurunan di bursa secara tajam. Banyak para analis yang berkata bahwa sistem perdagangan gaya washington tadi terbukti gagal dalam menyokong perekonomian. Gua, yang rada gak paham dengan kejadian model ginian, secara naluriah tertarik dan ikut-ikutan panik gak jelas. Setidak-tidaknya gua pengin ngerti apa yang sebenarnya terjadi. Nah, inilah sedikit info dan analisis konyol yang bisa gua dapatkan untuk mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Sebelumnya, karena gua newbie masalah ginian, CMIIW loh! CMIIW loh ya!

Sekarang kita akan mulai, apa itu bursa efek? Hmmm… Apaan yah? Gua rada gak paham juga seh… :p Bursa efek atau bursa saham adalah sebuah pasar yang berhubungan dengan pembelian dan penjualan efek atau saham perusahaan serta obligasi pemerintah. (Sumber: Tante Wiki) Cuma yang jelas dulu gua pernah ikut seminar tentang bursa. Tentang kita ikut ambil bagian dalam pendanaan modal sebuah perusahaan, dengan cara membeli sahamnya, sehingga kita menjadi pemilik perusahaan secara parsial. Nah, ini keknya pasar yang menyentuh sektor riil. Jadi, klo misalnya terjadi kehilangan modal secara tiba-tiba suatu perusahaan, misalnya sahamnya banyak dilepas pemiliknya dengan posisi yang menyebalkan, otomatis perusahaan kemungkinan besar jadi kolaps. Contoh, Adam Air yang kehilangan sekitar 50% sahamnya kolaps seketika. Hhh… Serem. ==’

Selain itu, ada juga pasar uang a.k.a. valas. Ini jual beli uang. Nah, ada sedikit perbedaan pendapat tentang perdagangan semacam ini di dunia Islam. Banyak para ahli hukum Islam berpendapat setelah melakukan ijtihad dengan pakar ekonom dunia bahwa perdagangan mata uang itu bukan perdagangan barang yang sama dengan harga berbeda, sejenis riba. Karena tiap negara memiliki perbedaan mata uang, nilai tukar tertentu mutlak diperlukan untuk dijadikan standardisasi, walaupun time invariant dengan output awal random diikuti hasil yang random juga dan tidak bisa diturunkan secara normal sepanjang grafik fungsi. Nah loh? Jadi bisanya cuma diprediksi. Prediksi ini ada yang pake ilmu ada yang pake spekulasi ngawur semata, dan yang terakhir ini, keknya hampir semua pakar hukum Islam sependapat dilarang.

Gimana klo statistik? Wah, ini yang keren. Pialang yang ngajarin gua ngasih tahu beberapa kurva-kurva hasil pengamatan selama ini. Jadi, klo sudah melihat pergerakan sudah mendekati bentuk tertentu yang mungkin pasti jatuh harganya, pemain harus segera bertindak. Tapi statistik juga memiliki rentang kesalahan tersendiri, jadi masih ada risk untuk untung… (Yaelah… Gua ngemengnya nggak banget… :p) Tapi ternyata ada juga yang berpendapat uang tidak bisa dijadikan komoditi. Karena itu pasar uang dianggap you-know-lah. Solusinya? Pake emas atau perak. Itu lebih aman. Dan gua emang akui dari dulu, klo pake emas atau perak, utilitas uang benar-benar ada. Uang kertas itu yang cuma kertas, jadi tidak mencerminkan seberapa kayanya kamu. Menurutmu darimana negara mengompensasi banyaknya uang yang beredar di seluruh negeri? Di Inggris, mereka sudah punya kompensasi berupa emas. Jadi, harga uangnya cenderung gak fluktuatif. Indonesia? Itulah…

Bayangkan klo sebuah negara mencetak uang berlebih. Bakal terjadi inflasi. Kek di zimbabwe. Ini gua ada fotonya. Trenyuh banget. Uang sebanyak itu hanya setara dengan uang yang kita beri ke pengemis di tengah jalan… Harga permen? Puluhan Milyar… Sampai di sini kita akan sadar betapa pentingnya angka nol yang tertera di uang kita… ==’

Kembali ke masalah pasar uang, bursa efek. Jadi, sistemnya gimana? Begini, jadi kita coba liat dulu dari kenapa harganya bisa fluktuatif naek turun. Apa yang menyebabkan naek turun? Sederhana, sentimen, isu, rumor, sensitifitas, kepercayaan pelaku pasar, dll. Apa yang akan kamu lakukan seandainya kamu sudah memiliki saham perusahaan X corp. yang tiba-tiba dikabarkan terjadi kebocoran nuklir di instalasi utamanya? (contoh yang lebai…) Klo gua jadi kamu (yang diandaikan sudah punya saham X corp.), gua bakal buka internet, cari beritanya, dan klo dah ketemu klarifikasi. Klo beneran iya, gua bakal pikir-pikir, apakah itu vital bagi perusahaan X tadi? Bakal bikin citra X jatuh nggak? Bakal bikin produk X gak laku gak? Sejenis itu… Dan klo sudah gitu, dan klo gua dah panik, pasti gua bakal jual ke orang yang masih berharap sama si X. Caranya ya gua tawarin tuh saham sama orang yang mau. Tentu jualannya gak fix seperti di supermarket, tapi kek di pasar beneran. Tawar-menawar. Dan dari kejadian tawar menawar inilah, terjadi fluktuasi.

Klo uang? Ini rada beda. Ada suatu cara jual beli yang namanya carry trade, dan secara global ini menjadi trend sekarang. Caranya pake selisih, ambil keuntungan dari aset2 yang berprospek bagus dengan pinjam dari aset2 yang lebih rendah. Nah, rupiah salah satunya. Dan karena pasar valas itu seluruh dunia, siapapun di seluruh dunia bisa ikutan. Jadi, kebayang kan klo yang namanya uang itu seliweran gak jelas ke mana-mana secara virtual. Dengan kata lain, mereka yang memanfaatkan rupiah buat carry trade, bisa dibilang membuat rupiah pergi sementara dari dalam negeri. Nah, begitu harga rupiah turun, tentu bakal rugi merekanya. ==’ Sampai di sini mereka bakal panik juga. Dan gua jadi paham pemerintah yang gak mau kehilangan investornya. Jadi, dengan melakukan intervensi, diharapkan nanti keuangan bakal stabil. Tapi itu sementara. Toh setelah itu bakal kembali ke nature.

Ambil pengalaman, pemerintah Jepang dulu melakukan intervensi berkali-kali. Tapi akhirnya mereka melepas juga biar nature. Dan sekedar diketahui, Jepang sampai sekarang terus-menerus turun nilai uangnya. Dan Indonesia? Fluktuasi dong. Valas terhadap dolar AS ditutup 9.585 dan sempat menyentuh 9.700. Benar-benar seminggu yang fluktuatif. Dan salah satu pengamat valas berkomentar itu wajar. Suara agar pemerintah lebih baik tidak melakukan peningkatan SBI datang juga dari kalangan perkumpulan pengusaha Indonesia. Karena pemerintah pada dasarnya mensubsidi orang-orang di luar sono yang pegang rupiah. Dia bahkan bilang, walau rupiah nembus 10.000, itu gak masalah, karena ekspor bakal untung besar. Amannya di bawah 10.000 dikit lah katanya. Karena sampai akhir tahun ini manufacturing bahkan dinilai masih menguntungkan. Impor? Mereka yang rugi. Biarin aja, nggak usah mereka disubsidi. Ngapain? Toh negara maju kebanyakan overproduksi. Tapi, klo dipikir-pikir ya nggak bisa gitu juga sih. Karena masih banyak sekali sektor-sektor yang sangat terpukul klo bener-bener nembus 10.000. Bayangkan, kamu beli komputer dengan harga yang tiba-tiba melonjak… Dan, solusinya gua sarankan mending beli axioo yang produksi anak negeri. Cintailah produk dalam negeri~!

Klo terus-terusan nembus 10.000 ke atas, atau bahkan 20.000? Hwawawa… Itu kebablasan. Karena bakal bermasalah di manufacturing. Mimpi buruk untuk sektor riil. Btw-btw, gimana sama pemain valas? Uniknya, mereka gak bakal terlalu terpengaruh. Karena valas kan cuma buy and sell. Jadi, cuma pinter-pinter naruh posisi aja. Berkebalikan memang.

Apa yang terjadi jika suatu perusahaan sengaja memberikan isu positif tentang dirinya agar tak kehilangan pendukung walau dia rugi? Maksudnya gini, misalnya ada perusahaan Y, di laporannya dia bilang dia untung. Terus dibukukan secara formal. Udah gitu pelaku pasar dengan suka rela menyetorkan modalnya ke dia dengan harapan bisa ikut ambil bagian menikmati keuntungan perusahaan tadi. Ok, tentu bakal menguat sahamnya. Dan klo ada isu-isu keknya bakal memberikan citra positif untuk nilai uangnya. Jadinya, eng-ing-eng! Secara virtual, kita akan melihat mata uang menguat, harga saham naek, dan semua terlihat senang. Tapi, apa yang terjadi ketika perusahaan Y tadi bohong klo sebenarnya dia rugi terus-terusan? Dan apa yang terjadi klo pemilik saham menuntut hak mereka? Apa mereka dapet cek kosong? Keknya begitu. Kalau pun bukan, perusahaan bisa aja utang ke bank buat nalangin mereka, dan klo bank mau ngasih kredit it’s OK. Tapi, ATP (Availability to Pay)-nya ada gak? Klo gak ada? Kaco lah… Dan itulah yang terjadi di AS. Hhh… Menegangkan… ==’ Dan bank-bank sekarang masih pikir-pikir apakah mereka mau memberikan kredit ato nggak. Dan tentu saja, mereka harus memotong suku bunga untuk tindakan lebih lanjut. Dan bank sentral pun memberikan pedoman kepada bank-bank dunia untuk memotong suku bunga sampai 0,5%. (Klo gak salah) Inggris dari 5% jadi 4,5%, Amerika dari 2% jadi 1,5%, Eropa 4,25% jadi 3,75%. China nggak ngikutin 0,5%, dia memilih memotong 0.27% saja. Sedangkan Jepang mendukung pemotongan suku bunga itu, tapi nggak bakal ngikutin. Nah loh? Dunia memang aneh… Dan ekonomi berubah dengan sangat cepat. Dikabarkan perekonomian dunia yang biasanya naek 5% per tahun klo gak salah, bakal naek 3% per tahun jadinya.

Sampai sini kita tahu, pasar bebas dengan pasar saham dan valasnya memiliki beberapa titik lemah fatal di segi visualisasi. Bagi para engineer seperti kami, visualisasi itu penting. Klo gak sesuai dengan kenyataan namanya gak akurat, walaupun seberapa presisinya dia. Dan sistem perekonomian seperti ini sifatnya kek gini, di atas layar (bukan kertas loh :p) nilai exchange uang bisa jadi menguat, padahal sektor riilnya kelabakan gimana cara nyari untungnya. Seperti itulah… Tidak selalu sejalan.

Walau hampir semua mata uang di Asia melemah, ternyata ada dua negara yang tidak melemah mata uangnya, atau setidaknya masih belum melemah, yaitu Yuan (Cina) ama Won (Korsel). Dari sini, muncul wacana, kiblat perekonomian akan berbalik dari AS ke Cina. Karena pertumbuhan ekonomi Cina yang semakin cepat membuat raksasa satu ini menjadi rujukan tambang emas baru bagi investor lainnya. Apakah sekarang saatnya berharap ke Cina? Yah, semoga saja Cina benar-benar menjadi macan Asia yang baru. Dengan catatan, sektor pertanian dan sektor-sektor kesejahteraan sosial masyarakat pedesaan diperhatikan juga. Jangan sampai Cina mengejar atribut kemajuan hanya dari sektor industri saja, karena itu akan berdampak fatal untuk perekonomian internal Cina sendiri. Karena penyokong perekonomian tetap, masyarakat pedesaan ikut berperan. Bayangkan apa jadinya Cina kalau dia melupakan sektor pertanian dengan tidak memperhatikan nasib petani? Bisa jadi bakal kayak Indonesia yang impor beras. ==’ Semoga hal itu tidak terjadi. Terakhir, semoga Cina sukses melenyapkan segala koruptor di negerinya. Dan semoga Indonesia juga begitu. Kata temanku yang mencoba berpengamatan ekonom (Huahauhau…), Indonesia bakal maju di tahun 2030 klo gak salah, mengingat dampak ekonomi dan teknologi global kek begini. Ayo teman-teman, mari kita belajar yang rajin~! Bikin yang lebih keren daripada iPod touch~! Hwawawa…

Kembali ke pasar. Jadi, kita bisa simpulkan, mereka hidup dalam keadaan gak tenang (?) terus-terusan, berpikir bakal untung apa nggak. Karena fluktuatif seperti harga yang fluktuatif juga. Hidup yang diisi kepanikan terus-terusan keknya gak seru deh. Tapi ya gitu, kita hidup dengan jalan kita masing-masing. Toh, keknya ada juga yang enjoy gabung dengan sistem gituan. Tapi yang jelas, sekarang semua pelaku sedang panik. Dan keknya bakal lebih seru lagi kalau gua ikut-ikutan panik juga. Paa~~nnniii~kk~~…! Capek deh… ==’ Para praktisi ekonom berpendapat, lebih baik jangan panik. Karena yang dibutuhkan kita cuma klarifikasi yang jujur dari pemerintah. Yup! Jadi, jangan panik sodara-sodara~!

Sekali lagi, CMIIW loh! CMIIW loh ya!

(sumber dominan: Apa Kabar Indonesia) << You make news great!
(sumber non-dominan: Seminar Bursa Efek, Dosen gua, Papi, Temen-temen, etc)

Advertisements

4 thoughts on “BEI Ditutup (sampai Jum’at), ekonomi pasar bebas terbukti gagal?

  1. Salam pembebasan,
    Di tingkat global setelah kisah krisis air, krisis iklim, krisis minyak, krisis pangan, kini krisis finansial naik panggung, Paradoksnya jalan krisis itu terus ditempuh. Masih saja mekanisme pasar dan korporasi dianggap solusi yang menjanjikan. Ironi abad ini, rasionalitas yang irasional. Rasionalitas yang paling tidak masuk akal.

    It’s the capitalism, stupid! (adaptasi dari frase politik yang populer digunakan Clinton ketika berkampanye melawan George Bush Senior, it’s the economic, stupid!)

    Silah kunjung
    http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2008/10/krisis-keuangan-global-karl-marx-di.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s