Bab Pendahuluan Akustik Terapan ==’

Kemaren gua iseng-iseng pas lagi baca-baca tentang konsep dasar akustik terapan, gua menemukan hal yang menarik di bagian pendahuluannya (karena bab-bab selanjutnya gua rada ga mudeng dengan rumus-rumus sama algoritmanya yang ga gua kenal sebelumnya… ==’). Jadi, ceritanya berawal dari ketertarikan gua sama voice recognition atau semacamnya. Model-model semacam gimana ngolah suara biar bisa diterjemahkan ke bahasa teks atau sejenisnya. Dan di bab pendahuluannya dikasih tahu perbandingan struktur suara bahasa-bahasa di dunia beserta kerumitannya, mulai dari fonologi, fonetik, leksikal, sintaks, akustik, dll, dsb, dst.

sinyal

thanks to phoenixnv: sinyal

Ternyata, ciri khas suatu bahasa dan teknik pengucapannya sangat berpengaruh dalam memberikan interpretasi tersendiri. Gua pikir, pengucapan bahasa Indonesia termasuk salah satu bahasa yang gampang untuk diterjemahkan ke bahasa teks (dan sepertinya begitu), tapi keknya dia termasuk bahasa-bahasa yang analisa pengucapannya suaranya termasuk kategori tanpa aksen. Dan ternyata akan menimbulkan permasalahan di bagian memutus kata per kata. Jadi ya ujung-ujungnya, keunggulan tanpa aksen ini keknya memberikan kesulitan tersendiri dalam memotong kata.

OK, gua ga terlalu tertarik sama bagian ini. Tapi yang bikin gua cukup agak tercengang (dan ada beberapa yang bikin ngakak) adalah kenyataan-kenyataan berikut.

1. Bentuk sinyal…

Ada beberapa kata yang klo kita pikir kita sudah mengucapkannya dengan komponen vokalnya, ternyata sinyalnya tidak menunjukkan kita sudah mengucapkannya. Contoh: klo bilang [inggris] chick (ayam), maka kita akan melafalkannya dengan chik. Sinyalnya begini ternyata…

gbr1

Artinya, huruf i-nya ternyata tanpa sadar tidak terucapkan, hanya sekedar celetukan ‘ch’ yang muncul, karena kita biasanya terlalu menekankan pada konsonan ‘h’ agar ‘ch’ terbedakan bunyinya dengan sekadar ‘c’ biasa.

Selanjutnya es. Begini sinyalnya…

gbr2

Ho~… ternyata bisa terbedakan dengan jelas antara e dan s.

Selanjutnya klo bilang [jepang] uchikesu (menegasikan), sinyalnya ternyata ga jauh-jauh amat dengan kedua sinyal tadi.

gbr3

Jadi kesimpulan pertamanya, huruf konsonan itu ternyata sinyalnya cukup dapat dibedakan dengan jelas dengan sinyal huruf vokal, karena untuk membentuk suatu bebunyian dengan komponen konsonan, kita juga perlu mempersiapkan jeda agar terdengar jelas kita mengucapkan konsonan apa. Soalnya gua pikir dulu klo sudah membentuk suatu suku kata, maka sinyalnya ya bakal membentuk karakteristik tersendiri.

2. Ada yang lebih ribet ternyata…

Bahasa-bahasa model inggris ama prancis yang gua pikir analisa suaranya bakal ribet keknya kalah ribet sama bahasa cheko deh.

Seperti yang sangat diketahui, tulisan dan bunyi-nya, mereka memiliki hubungan yang tidak linear. Seakan-akan encoding. Atau seakan kata-kata tadi suatu alamat, yang akan menunjukkan lokasi kamar yang mana yang menunjukkan cara baca tulisan tadi. Juga, huruf konsonan yang bertingkat-tingkat ama huruf vokal yang dipersambungkan cukup sering didengar. Bedanya, klo inggris termasuk tipe stress accent, klo prancis tipe tanpa aksen kek indon.

Contoh, one twelfths. Kita tidak akan membaca ‘one’ sebagai ‘one’ atau ‘on’, tapi ‘wan’. One termasuk kata yang pengucapannya spesial, sehingga klo kita melihat tulisan ‘one’ kita akan langsung menuju alamat memori di otak yang ngelink ke suatu alamat tertentu yang berisi suara ‘wan’. Masalahnya, yang kek beginian ga cuma one doang, tapi banyak dan susah dibedakan kecuali menghafal. Jadi, kita akan punya banyak alamat address mengenai kosakata bahasa ini.

Selanjutnya konsonan bertumpuk, twelfths. Menurutmu gimana cara mbaca lfths dalam waktu bersamaan? Biasanya kita akan merilekskan diri dan mengeluarkan suara dominan yang mewakili lfths. Begitulah, jadilah sinyal suara yang tidak sesuai tulisan aslinya. Jadi, untuk mengembalikan sinyal suara ini ke bentuk aslinya bakal butuh database tersendiri suara => tulisan. Belum lagi masalah kemiripan, jadi bakal ada banyak kemungkinan pemilihan teks yang tepat.

Susah ya keknya nganalisanya. 😀 Tapi ternyata gua berpikir salah. Ada yang lebih aneh lagi. [Rusia] zdravstvujtje (met pagi). OK deh, banyak huruf v-nya, susah keknya deh ngucapinnya… ==’ Tapi ternyata gua salah lagi. Ada yang agak lebih parah sodara-sodara.

[Cheko] zmrzlina (es krim).

Ini gimana cara ngomong zmrzl dalam waktu yang bersamaan ya (apalagi munculnya di depan, bukan di belakang kek lfths)?

Dan ternyata, sekali lagi gua salah berpikir klo itu susah diucapkan dan dianalisa sodara-sodara.

[Cheko] strč prst skrz krk (masukkan jari ke tenggorokan)



Kok ga ada huruf vokalnya sama sekali ya… ==’

3. Keterbingungan…

Klo di bahasa Jawa, ada tebak-tebakan pas masih kecil, coba ngomong ‘Laler ndek rel’ dengan cepet dan berulang-ulang. ==’ Biasanya bakal ada yang salah ngomong pada bagian rel. Ada juga yang semacam itu di bahasa Indonesia.

Sekarang mulai dari yang populer di bahasa cina. Di bahasa ini ada 4 macam nada untuk tiap-tiap vokal biasanya. Jadi, klo ada 5 huruf vokal, berarti ada 20 cara baca huruf vokal. Lebih tepatnya, ada 416 silabel dalam bahasa cina (416 cara baca suku kata yang sama klo dalam konteks huruf latin), dan 4 macam nada, total ada 1345 silabel. Note: silabel itu bukan huruf hanzi-nya loh. Huruf hanzi cina yang standar dan penting dikuasai untuk kehidupan sehari-hari ada 4000an huruf.

Contoh; 媽[mā] (ibu), 麻[má] (rami), 馬[mă] (kuda), 罵[mà] (mbentak/neriakin). Jadi, akan terbentuk kalimat lucu seperti, 媽罵馬 (ibu neriakin kuda).

Kurang seru~… Ada yang lebih seru lagi. 柘氏嗜食石獅 [shí shì shì shí shí shī] (tuan shi suka makan singa batu)

Ho~… : o

Gua baru sadar, di bahasa jepang ada juga ginian. Lucu juga ternyata klo diucapkan. Karena ga pake nada, sedangkan kata-kata majemuk dengan tulisan kanji beda dengan bunyi yang sama jumlahnya sangat banyak, dipakailah pitch accent ama morae. Kebingungan membaca biasanya muncul ketika diucapkan, bukan ketika membacanya, soalnya biasanya klo mbaca kanji jarang banget meinginterpretasikan dengan melafalkannya di otak (untuk nghemat memory dan biasanya cukup membaca artinya) soalnya satu kanji biasanya punya cara baca lebih dari satu dengan aturan-aturannya (bahkan ada yang sampe punya 30 cara baca, kek 生).

Contoh: 甥を青い家へ追う [oioaoiieeou] (ngejer ponakan (laki2) ke rumah biru)

Juga, 正しい、いい言い方 [tadashii,iiiikata] (bener, kamu ngemeng dengan cara yang bener). Juga, 経営へ影響 [keeeeeeekyoo] (pengaruh ke menejemen). Juga, おう、王を追う [oo,ooooo] (oh~, dia ngejer raja).

Hmmm… Oh, gitu ya gan… : o

==’

4. Bahasa Hawaii

Ini bikin gua agak terkejut juga. Baru tahu gua klo ternyata di bahasa ini cuma punya 8 konsonan~ Oh, delapan konsonan… ==’ Yaitu, p, k, h, l, m, n, w, `. Jadinya, akan terjadi transliterasi bahasa asing ke bahasa lokal. p, b, f => p. v, w => w. s, h, sh => h. l, r => l. n, ng => ng. t, d, th, s, z, zh, ts, dz, k, g => k.

Praktis, [inggris] brush diterlokalisasikan jadi ‘palaki’. San Fransisco jadi ‘kapalakiko’.

Hmmm… Kek anak cadel aja… ==’

classroom

thanks to allnoisecontrol: classroom

OK, sekian dulu kekaguman saya akan ranah bahasa di dunia ini. Btw, kok jadi bukan inti dari teknik akustik ya. Hahaha… Yasud, semoga kita sebagai manusia bisa terus mensyukuri hidup ini kepada Tuhan YME.

do not bother with this

thanks to taylorguitars: do not bother with this

(source utama: Sagaya Applied Acoustic on Phonetics)

2 thoughts on “Bab Pendahuluan Akustik Terapan ==’

  1. aku juga sebetulnya tidak terlalu mengerti dengan apa yang aku tulis kok kk… 😀 btw, apaan sih Busby SEO? keknya pernah denger tapi lupa dan aku gak terlalu bisa basa inglish jadi ga mudeng sama situsnya… hahaha… 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s