Part 1 – Ber Komunikasi

Jika kita seorang yahudi, sedang berdiskusi tentang permasalahan moral, apakah orang lain yang beragama Islam akan menerima argumentasi kita jika kita menggunakan dalil-dalil torah?

Manusia hidup dalam dunia yang membutuhkan rasa mengerti yang cukup. Untuk memahami dan memaklumi, inisialisasi awal menjadi konsekuensi logis dalam konteks mengerti, sebuah survey sederhana. Memantau, mengamati, adalah sebuah fenomena yang sering kita lakukan ketika kita melakukan sebuah pemahaman lawan bicara. Adapun yang di luar konteks, sebutan autis rasanya cukup layak diberi.

Ketika kita berbicara, kita membutuhkan sesuatu untuk dijadikan referensi pendengar, mulai orang lain sampai diri kita sendiri untuk sekedar memastikan apa yang kita ucapkan sudah benar pelafalannya. Di ranah yang lebih tinggi, ketika kita ingin serius mengungkapkan apa yang kita pikirkan, tentu kita mengharapkan respon yang mencoba memikirkan apa yang kita pikirkan. Kata lainnya adalah menghargai. Menghargai tidak selalu dengan memberi umpan balik bicara, mencoba menampung keluh kesah seseorang dengan sabar juga bisa disebut peka. Begitulah.

Dunia ini dipenuhi oleh makhluk-makhluk yang membutuhkan teman. Makhluk sosial. Reaksi dan tanggapan. Sederhana. Tapi tidak sesederhana yang dibayangkan. Kita tahu setiap orang memiliki apa yang diyakini dan dianggap sebagai norma universal. Hal seperti ini terbentuk semenjak kita kecil. Kita sudah bisa dipastikan selalu terbiasa dengan sebuah norma yang sangat kita yakini kebenarannya. Tapi tidak bisa dipungkiri, kita hidup lahir sebagai manusia. Sama-sama punya hak yang sama hidup di dunia. Sama-sama punya perasaan dan keinginan dengan tingkat kedalaman yang setara. Semua sama-sama memiliki tingkat keyakinan, apa yang diyakini sebagai sebuah kebenaran…

Apakah layak kita menganggap diri kita memegang suatu norma absolut yang pasti benar menurut kita?

Rasanya layak.

Apakah layak kita memaksakan kepada orang yang memegang pemahaman yang berbeda sejak lahir dari kita dengan pemahaman kita secara barbar?

Kita, manusia dengan tingkat kepercayaan yang sama dalamnya. Jadi, rasanya tidak layak kita menganggap orang lain bodoh karena tidak memegang norma kita.

Maksudnya, semua orang memiliki kemungkinan salah apa yang dia yakini. Bukan hanya dalam konteks agama. Di dunia ini dengan tingkat keakurasian dan kepresisian yang sempurna, akan selalu menginduksikan bahwa hanya ada satu kebenaran. Sedangkan ada banyak sekali versi-versi kebenaran di dunia ini. Jadi, memang, semua sudah siap dengan konsekuensi kebenaran yang kita pegang masing-masing, bahwa hanya ada satu kebenaran, dan yang lainnya salah… Bisa jadi kitalah yang salah, tidak peduli seberapa percayanya kita pada kebenaran tersebut…


thanks to bi.no

Kebenaran adalah fondasi dasar kita berpikir. Jika kita tidak memegangnya, alur logis akan lenyap, hasilnya kita akan termasuk dalam orang-orang yang di dalam kamus ditulis sebagai kata gila. Tapi sepanjang kita memegang sebuah konsep kebenaran dan logis, agaknya kita tidak cocok dengan gila.

Menyampaikan apa yang kita yakini adalah fitrah. Kita ingin orang lain memastikan apa yang kita yakini. Dan kebanyakan kita juga ingin orang lain percaya dan yakin apa yang kita yakini, karena kita secara tidak sadar sayang dengan orang-orang terdekat kita, sehingga kita ingin membuat orang-orang terdekat tadi berada dalam jalan kebenaran seperti kebenaran versi kita masing-masing. Jadi, penyampaian adalah masalah yang fatal. Masalahnya terkadang penyampaian pemikiran kita dilakukan dengan cara yang sedikit memaksa. Judge awal bahwa semua yang diluar norma kita salah, DAN, tetap menyampaikan dengan memakai norma yang tidak semua orang meyakininya sebagai fondasi penyampaian, agaknya merupakan kombinasi sempurna sebagai calon pernyataan yang akan menerima sumpah serapah dari orang lain.

Berikut adalah perumpamaan yang sedikit berlebihan tapi cukup membantu menyampaikan apa yang saya maksud. Jika kita seorang sarjana lulusan elektro apakah kita akan menyampaikan konsep medan elektromagnetik dengan bahasa sehari-hari kita kepada anak kelas 1 SMP? Agak muluk memang perumpamaan ini. Tapi mari kita coba beri perumpamaan yang agak ekstrim lagi. Jika kita seorang yahudi, sedang berdiskusi tentang permasalahan moral, apakah orang lain yang beragama Islam akan menerima argumentasi kita jika kita menggunakan dalil-dalil torah?

Begitulah…

Jadi, intinya adalah, jika kita ingin menyampaikan pemikiran yang sifatnya berupa norma-norma kehidupan (bisa jadi juga masalah teknis kehidupan) kepada orang lain, maka seyogyanya kita menyampaikannya dengan bahasa dan gaya perkataan yang dimengerti orang lain, luar dalam. Sehingga esensi apa yang kita ingin sampaikan bisa tersampaikan dengan baik tanpa perlu terjadi kesalahpahaman atau keterlukaan rasa.

Advertisements

7 thoughts on “Part 1 – Ber Komunikasi

  1. Ok2….
    Yup, karena setiap orang menganut nilai2 yang berbeda. Belum tentu buat lo sopan buat mereka sopan juga.
    Ya, seperti itu.

    Btw, kenapa musti Medan Elektromagnetik? kenapa gak RE aja atau apa kek
    hahahaha…

  2. hahaha…

    karena itu mata pelajaran yang paling berkesan bu…
    secara belajar mati-matian cuman dapet xx… ==’
    tapi ntar klo protes takutnya dosennya malah bilang, ‘sebetulnya saya sudah berbaik hati menaikkan nilai anda dari x’

    ^^

  3. Soalnya Cisco ada hubungannya sama koneksi analog ke digital. Jadi, klo dipikir-pikir, sama aja dengan menerjemahkan cara berkomunikasi lama ke cara berkomunikasi kontemporer. Hehehe…

  4. Jika kita seorang yahudi, sedang berdiskusi tentang permasalahan moral, apakah orang lain yang beragama Islam akan menerima argumentasi kita jika kita menggunakan dalil-dalil torah?

    Tidak, jelas tidak akan.

    Kalau ini dibalik

    Jika kita seorang muslim, sedang berdiskusi tentang permasalahan moral, apakah orang lain yang beragama Yahudi akan menerima argumentasi kita jika kita menggunakan dalil-dalil Qur’an?

    entah, mengapa banyak orang muslim menganggap ini bisa dijawab dengan “ya”.

    Tidakkah kita bisa mengambil pendekatan lain dalam diskusi? Norma yang benar bagi kita belum tentu benar bagi orang lain. 🙂

  5. 私も同感! 🙂

    masih banyak loh orang2 yang masih dengan pedenya ngomong ngalor ngidul pake dalil ini itu tapi orang lain ga ngerti..

    paling bagus tu emang berdiskusi sesuai dengan jalan pikiran dia..

  6. @ardianto,

    yup. pendekatan pertemanan dengan bahasa sederhana dan keseharian lawan bicara pasti memiliki daya tarik diskusi yang jauh lebih mudah dimengerti dan menarik untuk diikuti lawan bicara kita. 😀

    @superdevil,

    yup. memang kalau kita memegang suatu norma dan ingin membuat orang lain tadi menganut norma tadi, alangkah baiknya kalau menggunakan bahasa sehari-hari yang dimengerti oleh orang yang kita ajak bicara. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s