Finally changed to B…

I got some stoma-sick-felt while I saw ma score on practice no more than, ermm…, IT WAS TOTALLY WRITTEN E! OMG! Oh Mai God! Oh my… score. T___T What I have been done? Surely I was speechless, till I recognized who has fault. Then after saw what was the reason, this story has begun…

I was not telecom eng stud. And not power eng stud too. Tapi, ya while seeing breath branch of electronics on communication system, I tried it. Thus, I started it easily. No sashitsukaeru mono anymore to omotta. :p Gaa~, here was the problem. I just knew this breath had some, yaah, extra which was said by pract session, in lab of course. Not hard-hard enough. But still interesting.

Yo~ah, i was so curious. Had I apply this course? Then consult to our beloved kaprodi named Mr You-know-who-laa~ He said I must take this course too if i already choose this breath, without jartel. Thus, I tuk.

Nah-nah-nah…, after wan fall this sem, I got the score loh. See what? E!!! OMG! Oh Mai God! Oh my… score. T___T What I have been done? I not stupid!!! <= see? wkwkwkw… The reason is, I didn’t join at jartel pract. In this course, this pract, has 2 kind of practs, 1st comm sys and 2nd jartel. Dunno loh what jartel was, the fact I didn’t join it because of not ma breath. Then-then-then… I do kinda confirmation to the staff with bringing some shoko (<= what’s in english ya this? hahaha…), he assumed and knew and understood what I felt at that time (soooo hard looohh~~~…). Yap, I was given wan propo letter to ma beloved teacher who leads this course to correct ma score of course.

This story just began… (story board approx)

I go over the office… He was not over there. Yaa~, till sweety me on ma body. == Then I go to that office egen, mei you le… ==’ but thanks God, the assist went to me offering help to immediate this busy teacher wan. OK, I accept. I have to got some extra letter from TU for verification. Went to comm TU. The staff said, oh not this comm TU, but gen TU. Went egen to there loh~… It’s summer! >.> Then, OK, gotta one letter. Then, go egen to the assist place. Then, for several days, I didn’t contact. Saw ma score list, and still, E. == Then, mata mitomete shimau. Verified was terrible things. ==’ Ping-pong egen. Tapi, now for different story. They was no over there anymore! The other different staff said, yaa, moving workstation lah.

Huh? 😮

Then OK, I tried to search where it was? Nope, not found! Then, somehow, I got, they was changed to PLN building. Yaaa, went egen… == knok-knok-knok… Wanna see Mr XXX? Available? Sorry, he was no here… Aaarrrgghhh… Tapi egen, the super angel assist came and offering help egen. == Syukurlah. Then, she said they now was in trans condition, so cannot process the demand right now (at that time),

eg tool box still on furui (<= what’s this in english ya? hahaha… :D) office.

OK, receipt! Thus, I waited for some days. Went egen. She said, ‘sorry, the box was changed here but it was changed there egen…

Come other day ya. 🙂 <= khhh…

>.<‘ Honestly, I didn’t understand what she said about. Tapi, ok lah, receipt… == Then, other day, she was not in her office. <= where huh? Then, other day, she was *** egen… ==’ Tapi, gua got hp number from the staff.

Yokatta… 😀

Then, made appointment. Got at 10-an a’clock around. But, missed wan, I was played fb, flickr, and something stuff. Ya, that Then, today, I came, she just went… == OK, I called her, and we made again appoint (with some additional instruct to her office at PLN <= what shamefull me~). Thus-thus-thus, I ran to her place, and…

Yay~! I got the repair!

thanks to gaszappers

thanks to gaszappers

Hohoho… It was so terrible. But, finally I was so rileks. ~(^.-)~

Advertisements

Kronologis Resmi Meninggalnya Peserta Ospek Geodesi

Setelah beberapa lama mencoba memastikan kronologis resmi, baik yang dikeluarkan ITB maupun IMG, mengenai berita meninggalnya salah seorang peserta ospek geodesi, akhirnya ditemukan 2 sumber berita yang cukup bisa dipertanggungjawabkan.

Yang pertama dari pihak ITB. Anda bisa mengaksesnya di situs ITB langsung atau klik di sini.

Yang kedua dari pihak ketua himpunan geodesi. File dapat langsung didapatkan pada halaman salah seorang blog teman saya, kak Latu, dengan mengeklik di sini.

Semoga kejadian ini bisa memperjelas fakta, dan semoga almarhum diterima di sisi-Nya dan keluarganya diberi ketabahan menghadapinya. Juga, semoga menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.

Jadi, sebetulnya apa yang kita bahas? ~in memoriam of Dwiyanto Wisnugroho~

Saya, turut berduka cita atas meninggalnya teman kita.

Civitas akademika ITB baru-baru ini dikejutkan dengan berita meninggalnya seorang peserta ospek geodesi di gunung batu. Belum ada Sepertinya sudah ada kronologis resmi dari kejadian ini (tapi penulis masih harus konfirmasi apakah itu resmi atau tidak). Tapi sudah beredar banyak kabar tentang peristiwa ini. Yang tentu saja, memiliki beragam versi yang berbeda satu sama lain.

Ada beberapa kemungkinan yang pasti bisa didapat dari beragamnya versi cerita yang beredar ini. Pertama, semua cerita sebenarnya sama, hanya saja disampaikan dengan cara yang berbeda. Sehingga untuk tahu cerita lengkapnya, tinggal digabung-gabungkan saja. Kedua, spekulasi dari berbagai pihak yang membumbu-bumbui cerita ini. Mirip dengan kasus anak ITB hilang beberapa waktu lalu dengan beragam cerita yang tidak bertanggung jawab. Ketiga, ada upaya memblurkan cerita yang beredar untuk menutupi sementara waktu kejadian apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa sementara waktu? Karena cerita yang asli pasti akan dirilis resmi. Dan agaknya memang sudah ada tapi sekali lagi, masih butuh konfirmasi.

Terlepas dari beragam cerita, yang jelas ITB sedikit banyak akan kehilangan respek dari masyarakat. Di jaman seperti ini, masih ada ospek yang memakan korban jiwa? Begitu mungkin yang dipikirkan masyarakat. Akibatnya, kredibilitas moral anak ITB secara otomatis sedikit banyak akan tergeneralisir oleh masyarakat. Dan, pastinya, ospek akan semakin buruk citranya di mata masyarakat.

Tentu saja, dengan menerima komplain dan sorotan dari pihak luar yang cukup deras, tindakan men-DO-kan segala orang yang dirasa bertanggungjawab dengan peristiwa ini merupakan suatu hal yang hampir pasti terjadi. Tidak peduli siapa yang akan di-DO atau dikenai sanksi, toh karena sudah memakan korban jiwa, yang berupa manusia, tentu yang bertanggungjawab dalam kegiatan itu menerima hal yang semestinya.

Bagaimana reaksi kebanyakan anak begitu mengetahui ada peserta yang meninggal di ospek? Pertanyaan yang biasa muncul adalah, “Kenapa bisa meninggal?” atau “Siapa?” atau “Kok bisa?” atau “Jadi habis ini gimana dong?”

Berikut adalah pembahasan lebih lanjut terhadap rumor yang beredar. Dan, spekulasi sekali lagi harus dihindari agar tidak menimbulkan persepsi yang salah terhadap kejadian ini.

Benarkah hanya dengan memanjat gunung bisa membawa kematian? Salah seorang teman menjawab, bisa saja. Jika fisik dan kesehatan tidak stabil hal tersebut bisa berdampak fatal. Salah satu versi yang agak bisa dipercaya menyebutkan serangan jantung. Ada juga yang berkomentar, “Aku manjat gunung biasa aja tuh.” Sepintas komentar seperti ini rasanya sedikit tak berperasaan. Tapi jika kita analisis lebih lanjut, terkandung rasa ketidakpercayaan jika yang bersangkutan meninggal hanya dengan alasan seperti itu.

Tapi, sekarang, sebetulnya apakah kita hanyalah orang yang tertarik dengan isi berita ini? Apakah kita adalah orang yang suka mendengar dan membahas kejadian ini dengan semangat karena menarik? Ada jawaban yang rasanya membahas semua hal ini. Pernyataan ini ditujukan untuk semua teman-teman di ITB, bukan masyarakat luar.

Tidak adakah yang bertanya, “Bagaimana perasaan kedua orang tua almarhum sekarang?” Ini adalah pertanyaan yang belum pernah gua dengar selama ini…

friends from kuratachieko.wordpress

Tidak adakah yang bertanya, “Bagaimana perasaan almarhum sebelum kematiannya?” atau “Bagaimana keadaan orang-orang sekitar almarhum setelah kejadian ini?”

Jadi, sebetulnya apa yang kita bahas?

Saya pernah berkecimpung di dunia jurnalistik selama beberapa saat. Dan berita seperti ini menarik untuk dibahas. Terlebih rasa solidaritas ingin menyampaikan apa yang dirasakan kepada khalayak ramai akan menambah semangat meliput. Berita ini tidak akan menjadi seheboh ini jika saja almarhum meninggal dalam keadaan wajar. Namun, almarhum meninggal dalam keadaan tidak wajar dan di kegiatan yang seharusnya tidak ada kematian tidak wajar. Dalam artian, seperti orang kebanyakan, sakit dan meninggal di atas tempat tidur. Mengutip apa yang pernah ditulis di buku Meutia bahwa, percayalah, nyawa manusia lebih berarti daripada berita paling ekslusif di seluruh dunia pun.

Setiap orang pasti akan mati dan semuanya sudah punya waktu kematian masing-masing. Sekarang mari kita coba untuk barang sebentar menjadi orang-orang terdekat almarhum. Dimulai dari yang meninggal adalah seorang manusia. Yang sesama dengan kita. Yang sama-sama memiliki impian dan cita-cita. Yang sama-sama belajar di tempat yang sama. Yang sama-sama memiliki orang yang dicintai. Yang sama-sama memiliki harapan di masa depan. Yang sama-sama memiliki kedua orang tua… Yang orang-tuanya pun sama-sama memiliki harapan besar kepada anaknya seperti orang tua kebanyakan…

Tidak semua panitia salah, karena pasti ada faktor x yang menyebabkan hal itu terjadi. Tapi, yang meninggal adalah manusia. Jika panitia berani menyelenggarakan hal seperti ini, secara langsung, sudah menjadi konsekuensi panitia bertanggung jawab terhadap keselamatan semua peserta. Harus ada yang bertanggung jawab. Berikut adalah petikan note yang diucapkan oleh salah seorang sahabat Wisnu yang dimuat di salah satu blog teman gua. Klik di sini.

Karena, jika yang meninggal adalah anak kita, kira-kira apa yang akan kita ucapkan?