Jadi, sebetulnya apa yang kita bahas? ~in memoriam of Dwiyanto Wisnugroho~

Saya, turut berduka cita atas meninggalnya teman kita.

Civitas akademika ITB baru-baru ini dikejutkan dengan berita meninggalnya seorang peserta ospek geodesi di gunung batu. Belum ada Sepertinya sudah ada kronologis resmi dari kejadian ini (tapi penulis masih harus konfirmasi apakah itu resmi atau tidak). Tapi sudah beredar banyak kabar tentang peristiwa ini. Yang tentu saja, memiliki beragam versi yang berbeda satu sama lain.

Ada beberapa kemungkinan yang pasti bisa didapat dari beragamnya versi cerita yang beredar ini. Pertama, semua cerita sebenarnya sama, hanya saja disampaikan dengan cara yang berbeda. Sehingga untuk tahu cerita lengkapnya, tinggal digabung-gabungkan saja. Kedua, spekulasi dari berbagai pihak yang membumbu-bumbui cerita ini. Mirip dengan kasus anak ITB hilang beberapa waktu lalu dengan beragam cerita yang tidak bertanggung jawab. Ketiga, ada upaya memblurkan cerita yang beredar untuk menutupi sementara waktu kejadian apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa sementara waktu? Karena cerita yang asli pasti akan dirilis resmi. Dan agaknya memang sudah ada tapi sekali lagi, masih butuh konfirmasi.

Terlepas dari beragam cerita, yang jelas ITB sedikit banyak akan kehilangan respek dari masyarakat. Di jaman seperti ini, masih ada ospek yang memakan korban jiwa? Begitu mungkin yang dipikirkan masyarakat. Akibatnya, kredibilitas moral anak ITB secara otomatis sedikit banyak akan tergeneralisir oleh masyarakat. Dan, pastinya, ospek akan semakin buruk citranya di mata masyarakat.

Tentu saja, dengan menerima komplain dan sorotan dari pihak luar yang cukup deras, tindakan men-DO-kan segala orang yang dirasa bertanggungjawab dengan peristiwa ini merupakan suatu hal yang hampir pasti terjadi. Tidak peduli siapa yang akan di-DO atau dikenai sanksi, toh karena sudah memakan korban jiwa, yang berupa manusia, tentu yang bertanggungjawab dalam kegiatan itu menerima hal yang semestinya.

Bagaimana reaksi kebanyakan anak begitu mengetahui ada peserta yang meninggal di ospek? Pertanyaan yang biasa muncul adalah, “Kenapa bisa meninggal?” atau “Siapa?” atau “Kok bisa?” atau “Jadi habis ini gimana dong?”

Berikut adalah pembahasan lebih lanjut terhadap rumor yang beredar. Dan, spekulasi sekali lagi harus dihindari agar tidak menimbulkan persepsi yang salah terhadap kejadian ini.

Benarkah hanya dengan memanjat gunung bisa membawa kematian? Salah seorang teman menjawab, bisa saja. Jika fisik dan kesehatan tidak stabil hal tersebut bisa berdampak fatal. Salah satu versi yang agak bisa dipercaya menyebutkan serangan jantung. Ada juga yang berkomentar, “Aku manjat gunung biasa aja tuh.” Sepintas komentar seperti ini rasanya sedikit tak berperasaan. Tapi jika kita analisis lebih lanjut, terkandung rasa ketidakpercayaan jika yang bersangkutan meninggal hanya dengan alasan seperti itu.

Tapi, sekarang, sebetulnya apakah kita hanyalah orang yang tertarik dengan isi berita ini? Apakah kita adalah orang yang suka mendengar dan membahas kejadian ini dengan semangat karena menarik? Ada jawaban yang rasanya membahas semua hal ini. Pernyataan ini ditujukan untuk semua teman-teman di ITB, bukan masyarakat luar.

Tidak adakah yang bertanya, “Bagaimana perasaan kedua orang tua almarhum sekarang?” Ini adalah pertanyaan yang belum pernah gua dengar selama ini…

friends from kuratachieko.wordpress

Tidak adakah yang bertanya, “Bagaimana perasaan almarhum sebelum kematiannya?” atau “Bagaimana keadaan orang-orang sekitar almarhum setelah kejadian ini?”

Jadi, sebetulnya apa yang kita bahas?

Saya pernah berkecimpung di dunia jurnalistik selama beberapa saat. Dan berita seperti ini menarik untuk dibahas. Terlebih rasa solidaritas ingin menyampaikan apa yang dirasakan kepada khalayak ramai akan menambah semangat meliput. Berita ini tidak akan menjadi seheboh ini jika saja almarhum meninggal dalam keadaan wajar. Namun, almarhum meninggal dalam keadaan tidak wajar dan di kegiatan yang seharusnya tidak ada kematian tidak wajar. Dalam artian, seperti orang kebanyakan, sakit dan meninggal di atas tempat tidur. Mengutip apa yang pernah ditulis di buku Meutia bahwa, percayalah, nyawa manusia lebih berarti daripada berita paling ekslusif di seluruh dunia pun.

Setiap orang pasti akan mati dan semuanya sudah punya waktu kematian masing-masing. Sekarang mari kita coba untuk barang sebentar menjadi orang-orang terdekat almarhum. Dimulai dari yang meninggal adalah seorang manusia. Yang sesama dengan kita. Yang sama-sama memiliki impian dan cita-cita. Yang sama-sama belajar di tempat yang sama. Yang sama-sama memiliki orang yang dicintai. Yang sama-sama memiliki harapan di masa depan. Yang sama-sama memiliki kedua orang tua… Yang orang-tuanya pun sama-sama memiliki harapan besar kepada anaknya seperti orang tua kebanyakan…

Tidak semua panitia salah, karena pasti ada faktor x yang menyebabkan hal itu terjadi. Tapi, yang meninggal adalah manusia. Jika panitia berani menyelenggarakan hal seperti ini, secara langsung, sudah menjadi konsekuensi panitia bertanggung jawab terhadap keselamatan semua peserta. Harus ada yang bertanggung jawab. Berikut adalah petikan note yang diucapkan oleh salah seorang sahabat Wisnu yang dimuat di salah satu blog teman gua. Klik di sini.

Karena, jika yang meninggal adalah anak kita, kira-kira apa yang akan kita ucapkan?

4 thoughts on “Jadi, sebetulnya apa yang kita bahas? ~in memoriam of Dwiyanto Wisnugroho~

  1. 1 hal yang gw kecewain adalah pemberitaan di luar sana. Koq sekarang saya semakin yakin bahwa kerjaannya “kuli tinta” (begitulah seseorang mengatakannya), suka membesar2kan masalah….
    Saya berharap ada beberapa media yang benar2 jujur, apa adanya dan sesuai dengan fakta dalam pemberitaannya

  2. @jois,

    Berita yang live stream sangat membutuhkan resource gosip dan kenyataan dalam jumlah yang sangat banyak, ditambah deadline sepanjang waktu terus-menerus. Masalahnya kemampuan manusia menginvestigasi dan menganalisis masalah butuh waktu, dan ini biasanya susah menutupi time line pemberitaan. Padahal time line yang penuh berita adalah uang. Jadi, menyiarkan apa pun yang kira-kira bisa mendongkrak rating (dan gua juga masih yakin pasti ada juga orang yang menyiarkan berita karena solidaritas) akan dilakukan agar orang-orang tetap stay tune di depan tv.

    Yah… Semua memang saling membutuhkan…

  3. ATAS NAMA PENDIDIKAN

    Putih kapas dapat dilihat, putih hati berkeadaan. Demikianlah keadaanku kini, terbujur kaku di pusaran pembaringan dengan taburan do’a di atasnya. Ya.. memang… aku telah mati!! aku harap… Janganlah engkau terkejut karenanya… aku adalah mayat korban kekerasan atas nama pendidikan.

    Tahun 2008… aku putuskan untuk memulai perjalanan panjangku. Teknik Geodesi ITB menjadi pijakan utamaku. ITB.. salah satu Universitas besar… Impianku, ku mulai dari sana.

    Berjuta harapan dan terpaung jelas di kampus itu, menjadi orang besar di Indonesia… Menjadi orang berguna. Tujuanku satu, dapat mengarungi maghligai bahagia di masa mendatang.

    Setelah beberapa lama…

    Rencana tinggalah rencana. Semua sia-sia belaka… Kala ku tahu kekerasan menjadi legalitas disana. Dengan sangat terpaksa, satu persatu mimpi indahku terpaksa ku tanggalkan. Mimpiku membuatku terluka. Mimpiku membuat aku menderita. Aku kecewa… kecewa… sungguh kecewa…

    Di ITB, aku hanyalah sansak hidup yang berada dalam arena tinju pendidikan Universitas. Mereka bebas menamparku, meraka bebas menginjakku, mereka bebas memukulku, mereka meludahiku… mereka bebas melakukan kekerasan… semua demi nama pendidikan…

    Feb 2009… dengan berat hati, aku mengakhiri perjalananku. Ku tutup mataku… Ku hembuskan nafas terakhirku… Karena pendidikan mengajarkan kekarasan.

    sumber:http://www.asyiknyaduniakita.blogspot.com/

  4. @redaksi,

    terima kasih atas solidaritasnya. kami sangat menghargai simpati yang ada. karena memang sudah seharusnya begitu.

    ospek yang menimbulkan korban jiwa selama ini biasanya muncul akibat korban kekerasan. itu terjadi belakangan ini, disebutkan di berita, dengan dalih pendidikan, yang cukup kontroversial, seperti di salah satu lembaga terkenal beberapa waktu lalu. sehingga stereotip masyarakat muncul bahwa jika ada orang meninggal di ospek, pasti karena korban kekerasan. stereotip yang sangat bisa dimaklumi.

    seperti disebut sebelumnya, berita yang beredar di dalam maupun di luar itb sangat beragam versinya. sehingga, rasanya agak kurang tepat jika kita langsung menjudge kematian saudara kita di ospek tadi akibat kekerasan yang ada. karena menurut versi yang paling mendekati yang bisa dipercaya (semoga sumber tidak berkata bohong) yang berkata saudara kita ini meninggal karena sakit karena kondisi gunung. tapi kita juga tidak bisa menegasikan kemungkinan kekerasan tersembunyi.

    karena hanya mereka di tempat kejadian dan Tuhan yang mengetahui, bukankah ada baiknya jika kita tidak berkomentar sesuatu yang bisa menimbulkan pemahaman negatif lebih lanjut, baik kejadian ini, maupun institusi pendidikan pada umumnya?

Leave a Reply to redaksi Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s