The Jin – a Religious View

At-Tirmidzi dengan isnadnya dari Jabir r.a. katanya: Rasulullah s.a.w. keluar menemui sahabatnya dan membaca kepada mereka Surat ar-Rahman sampai akhir dan mereka terdiam, lalu beliau berkata, “Aku telah membaca surat ini kepada para jin, dan sambutan mereka lebih baik dibanding kalian. Setiap sampai pada firman Allah “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Mereka lalu berkata: ‘Tidak sedikit pun dari nikmat-Mu yang kami dustakan, wahai Tuhan kami. Maka, hanya bagi-Mu segala puji.’”

Prologue

OK, itu tadi penggalan yang cukup menggetarkan untuk disimak oleh gua, sebagai seorang manusia. Hehehe… Btw-btw, gua kangen juga menulis hal-hal kerohanian seperti ini. Dan topik yang pengin gua bahas kali ini adalah the Jinn! Why? Simpel. Karena gua cukup tergelitik dengan selorohan beberapa orang di internet yang membabi buta menyamakan jin dengan iblis ataupun dengan setan. Ada di antara mereka yang menulisnya dengan ungkapan “jin/setan”, seakan semua jin sudah pasti setan. Dan Tuhan sendiri sudah bilang di surat An-Naas, bahwa setan itu terdiri dari jin dan manusia. Which means, kalau gua jin, gua juga bisa nulis juga dong dengan tulisan “manusia/setan”.

Dan yang paling parah, ada ungkapan yang gua gak tahu dari mana asalnya yang bilang, “sebaik-baik jin masih lebih jahat daripada seburuk-buruk manusia.” Hellooo~?! Terus buat apa Tuhan menciptakan makhluknya klo para jin dijudge seakan-akan dah nggak ada harapan lagi tobat. Di mana letak kasih dan sayang Tuhan kalau begitu caranya? Percayalah, Tuhan benar-benar maha pengasih dan penyayang untuk semua makhluknya, bahkan terhadap iblis sekalipun.

Saya adalah termasuk golongan orang yang tidak menganggap bahwa perkara jin adalah perkara gaib. Karena definisi gaib berdasarkan Al-Qur’an adalah segala sesuatu yang tidak diketahui oleh siapapun di kolong alam raya ini kecuali Allah sendiri.

Surat 27. AN NAML – Ayat 65

قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.

Nah, kalau saya dilahirkan sebagai jin, tentu saya bisa melihat orang-orang lain yang dilahirkan juga sebagai jin. Dan jin tentu saja bukan menjadi perkara gaib bagi saya dan jin-jin yang lain. Ada beberapa orang yang terkesan antipati atau sangat berhati-hati ketika membicarakan mengenai jin, seakan-akan itu tabu dan tidak ada ruang bagi dunia science untuk menjelaskan mereka. Dan ini menarik. Belakangan waktu ini, saya sempat membaca beberapa tulisan dan hasil penelitian dari para scientist dan engineer, mengenai sesuatu yang mungkin oleh orang dahulu akan disebut sebagai takhayul. Dan memang benar-benar terdengar seperti takhayul. Karena secara filosofis, science sendiri adalah takhayul yang berbasiskan matematika yang berfondasi tidak sempurna.

Tahu teori apa yang saya baca? Teori mengenai dimensi ekstra dan superlumina di dalam fisika. Dan teori-teori ini menggiring kita terhadap suatu paradigma yang benar-benar baru terhadap alam semesta. Yang singkatnya, ada alam semesta lain di samping alam semesta yang kita lihat selama ini. Implikasinya adalah, keberadaan jin sangat mungkin bisa dibuktikan keberadaannya menggunakan pengembangan teori-teori dasar ini. OK, sampai di sini pembacotan ilmiah-ilmiahannya. Sekarang saya sedang ingin membahas mereka dari sudut pandang religiusitasan saya. Karena bangsa ini adalah salah satu bangsa yang paling sering disalahartikan sepanjang peradaban manusia.

yingyang style: theSeen&theHidden

Ying Yang style: theSeen&theHidden

Kisah Pembuka

Sekarang, mari kita simak firman Tuhan yang berkisah tentang mereka sebagai berikut.

Surat 46. AL AHQAAF – Ayat 29 – 32

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنْصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِمْ مُنْذِرِينَ

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.

قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيقٍ مُسْتَقِيمٍ

Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.

يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُمْ مِنْ ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.

وَمَنْ لا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الأرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِنْ دُونِهِ أَولِيَاءُ أُولَئِكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ

Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”.

Kronologi Adam dan Iblis

OK, jika sudah membaca kisah di atas, sekarang coba baca surat Al-A’raaf ayat 10 sampai ayat 26. Sebuah kisah dramatis tentang pengusiran Iblis dari surga. Yang kalau dirangkum, alur ceritanya bakal seperti ini.

Adam diciptakan. Allah menyuruh makhluk-makhluk lainnya di surga sana untuk sujud kepadanya. Mereka sujud, kecuali iblis. Iblis ditanya kenapa. Jawaban mengejutkan. Dia menyombongkan diri di dalam surga dengan berkata bahwa dia lebih baik daripada Adam. Allah murka. Si iblis disuruh turun dari surga dalam keadaan hina. Dan si iblis pun mulai panik. Dia minta tangguh. Dan dia pun mulai berpikir naluriah. Tampaknya dia campur aduk perasaannya antara sedih, marah, kecewa, kesal, dan sadar, kalau yang dia lakukan itu konsekuensinya beneran dan sangat mengerikan. Satu-satunya cara meredam segala yang dia rasakan, dia berjanji untuk mencari orang lain yang akan dihukum seperti dia juga. Dunia yang punya sejarah menyedihkan ini terjadi karena adanya seseorang yang sedih luar biasa atas nasibnya. Sebuah kesedihan yang serius dan tidak main-main. Dia tahu neraka itu apa, dan dia dengan membabi-butanya seperti orang lepas kendali mencari orang-orang yang akan bersama dengannya di neraka. Akhirnya, dia pun diusir dengan keadaan yang sangat menyedihkan.

Adam dan Hawa masih di surga. Tapi ada seorang jin yang berperan sebagai setan yang membisiki mereka untuk makan buah pohon terlarang. Sampai orang itu bersumpah bahwa dia termasuk orang-orang yang memberi nasehat. Yang jelas orang ini bukan iblis. Yang kesimpulannya, nggak hanya iblis doang yang derajatnya seperti malaikat, ada orang lain. Karena iblis udah terusir. Lalu muncul percakapan yang intinya adalah jadi malaikat atau sejenisnya itu sangat memungkinkan, naik ke sebuah jenjang spiritualitas yang lebih tinggi. Sejujurnya, gua nggak tahu motif si jin gatel ini mbujuk-mbujuk adam. Apa dia lagi jahil atau sengaja pengin menggelincirkan Adam dan Hawa biar jadi kek iblis juga atau dia emang pengikut iblis. Btw, alasan terakhir keknya sangat tidak mungkin mengingat dia pasti lihat peristiwa pengusiran iblis. Kecuali dia punya sifat tenggang rasa sama dia. Tapi pasti dia nggak mau dibegituin juga. Tapi jika dilihat dari kasus manusia, udah pasti manusia nggak mungkin mau masuk neraka dengan kesadarannya. Pasti dia melakukan perbuatan buruk dengan tanpa sadar konsekuensinya. Begitu pula yang dari golongan jin. Jadi, interpretasinya keknya si jin ini emang lagi jahil pas mbujuk Adam ama Hawa.

Eng-ing-eng. Mereka pun makan buah terlarang itu. Terjadilah hal memalukan di antara mereka. Adam ama Hawa akhirnya tahu konsekuensinya. Dan mereka pun minta maaf ke Allah. Gua curiga, si jin gatel tadi jadi takut juga setelah tahu kemarahan Allah. Akhirnya Allah menyuruh mereka semua turun dari surga. Kata semua itu sangat besar kemungkinan dari golongan si jin yang mbujuk-mbujuk, beserta Adam ama Hawa tentunya. Tapi dosa si setan keknya nggak separah iblis deh, jadi dia keknya juga masih diberi kesempatan tobat dengan disuruh turun juga.

Surat 7. AL A’RAAF – Ayat 24 – 25

قَالَ اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ وَلَكُمْ فِي الأرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ

Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan kamu mempunyai tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang telah ditentukan”.

قَالَ فِيهَا تَحْيَوْنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ

Allah berfirman: “Di bumi itu kamu hidup dan di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan.

It means, kelak ada kelompok-kelompok yang saling bermusuhan, baik dari kalangan manusia vs manusia, jin vs jin, manusia vs jin. Tapi karena dikatakan sebagian, berarti ada yang nggak begitu. Ada yang hidup tentram, bahagia, damai, dan sejahtera… seperti saya yang cinta damai ini contohnya… :p Dan baik dari kalangan jin dan manusia itu, mereka bakal mati juga.

Iblis dan Pencerahan

Ada sebuah kisah yang populer di kalangan kaum muslim. Pas pelajaran agama SMP, kalau tidak salah saya mendapatkan kisah ini. Dahulu jauh sebelum manusia diciptakan, sudah ada peradaban lain yang mendiami bumi. Yaitu bangsa jin. Mereka juga dibebani kewajiban untuk menyembah Allah. Dan tampaknya ada jin-jin yang membuat masalah dengan membuat kerusakan di bumi dan suka menumpahkan darah. Yang akibatnya malaikat pada sempat protes pas Allah mau bikin khalifah baru di muka bumi. Kata mereka kenapa nggak mereka aja yang jelas-jelas selalu bertasbih kepada Allah? Allah berfirman, Dia tahu apa yang tidak diketahui oleh mereka.

Surat 2. AL BAQARAH – Ayat 30

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.

Surat 51. ADZ DZAARIYAAT – Ayat 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.

Dan inilah insiden yang disebut-sebut melatar-belakangi kenapa Adam diciptakan. Akhirnya diperintahkanlah para malaikat untuk mengatasi huru hara saat itu. Saat itu iblis kalau tidak salah dengar ceritanya menjadi salah satu panglima yang memimpin para malaikat untuk mengatasi masalah di bumi. Dan akhirnya kekacauan berhasil dihentikan. Barulah setelah kejadian itu, Allah menciptakan Adam.

Dari kisah di Al-Qur’an tentang jin dan manusia, saya bisa menarik kesimpulan sederhana. Di bumi, ada jin-jin yang mereka sangat shalih sehingga mereka mendapatkan, istilahnya pencerahan, sehingga mereka naik ke jenjang spiritual yang lebih tinggi, menjadi sejajar dengan malaikat. Simpelnya, sebuah level yang sangat jauh di atas bayangan orang kebanyakan. Dan bagi mereka yang mencapai jenjang ini, mereka tampaknya diajak naik ke surga untuk menjadi jajaran orang-orang yang senantiasa memuliakan Tuhan di dalamnya. Bagi mereka yang nggak shalih-shalih amat, ya udah, di bumi aja, hidup seperti orang-orang kebanyakan. Dan iblis, dalam beberapa riwayat, namanya saat itu kalau nggak salah Azazil. Dan dia termasuk orang-orang yang shalihnya luar biasa.

Para Pembawa Kabar

Dalam Al-Qur’an, sering sekali disebutkan tentang bagaimana Allah selalu mengirimkan para pemberi peringatan di kalangan jin dan manusia semenjak dahulu kala. Dan Al-Qur’an juga terus mendorong kita untuk belajar tentang riwayat-riwayat mereka yang mengagumkan, tentang bagaimana jejak-jejak ajaran-ajaran tersebut, tentang pelajaran-pelajaran apa yang bisa dipetik dari mereka, dan semacamnya. Saya sempat bertanya-tanya apakah semenjak insiden Adam dan Iblis, masih ada reward pencerahan bagi mereka yang luar biasa shalihnya di zaman-zaman sesudahnya. Tapi dari kisah orang-orang terdahulu, kisah mereka yang mendapat reward pencerahan dari Tuhan tampaknya juga masih terjadi di kalangan manusia. Sebuah kisah yang diriwayatkan dalam Al-Qur’an terjadi sebelum kisah Musa.

Surat 95. AT TIIN – Ayat 1 – 4

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ

Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun,

وَطُورِ سِينِينَ

dan demi bukit Sinai,

وَهَذَا الْبَلَدِ الأمِينِ

dan demi kota (Mekah) ini yang aman,

لَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Urutannya sangat pas sekali. Ayat pertama menceritakan tentang kisah umat-umat yang memiliki ciri khas dengan kedekatannya terhadap buah Tin dan Zaitun. Pohon Tin sendiri artinya pohon Boddhi. Sebuah kisah yang populer tentang umat-umat yang keteladanannya, kearifannya dan kebijakannya sangat menyentuh untuk diamati semenjak ribuan tahun lalu. Pada awalnya tampaknya saya miss tentang kisah umat-umat di belahan dunia lain yang kedekatannya berhubungan dengan buah zaitun. Tapi tampaknya ketemu juga, kisah mengenai umat-umat yang membuat perjanjian Tuhan melalui api. Sebuah kisah populer juga tentang api yang semenjak ribuan tahun tidak pernah padam dan akan padam jika sang pemberi peringatan terakhir tiba.

Ayat kedua berbicara tentang sepak terjang kaum yang sangat-sangat sering disebut-disebut dalam Al-Qur’an. Kaumnya nabi Musa, Bani Israel. Bani Israel sendiri artinya keturunan Israel, atau anak-anak Israel. Dan salah satu nabi kita, Ya’kub, diberi hadiah oleh Allah dengan nama yang indah, Israel, yang dalam bahasa Ibrani artinya pahlawan Allah, pimpinan yang diridhai Allah, hamba Allah, kekasih Allah (dan masih banyak lagi artinya). Kaum ini cukup unik dilukiskan dalam Al-Qur’an. Demografi orang-orang yang taat dan yang fasik cukup tidak pasti juga. Atau kalau boleh gua tarik kesimpulan, sebetulnya mereka ini kaum yang labil. Yah, sangat mirip dengan sebagian kaum muslim yang sekarang, dan saya termasuk tampaknya, yaitu labil. Kadang taat kadang fasik. ==’ Oh Tuhan, maafkan aku.

Surat 2. AL BAQARAH – Ayat 60

وَإِذِ اسْتَسْقَى مُوسَى لِقَوْمِهِ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْحَجَرَ فَانْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا قَدْ عَلِمَ كُلُّ أُنَاسٍ مَشْرَبَهُمْ كُلُوا وَاشْرَبُوا مِنْ رِزْقِ اللَّهِ وَلا تَعْثَوْا فِي الأرْضِ مُفْسِدِينَ

Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman: “Pukullah batu itu dengan tongkatmu”. Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing) Makan dan minumlah rezeki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan.

Surat 5. AL MAA-IDAH – Ayat 12

وَلَقَدْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيبًا وَقَالَ اللَّهُ إِنِّي مَعَكُمْ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلاةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنْتُمْ بِرُسُلِي وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لأكَفِّرَنَّ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَلأدْخِلَنَّكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ فَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ

Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) Bani Israel dan telah Kami angkat di antara mereka dua belas orang pemimpin dan Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan salat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Dan sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Maka barang siapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus”.

Yang unik dari kaum ini adalah kisah tentang kedua belas suku. Yang pada kisah-kisah terdahulu disebutkan bahwa untuk kedua belas suku ini, Allah akan memberi mereka kehormatan spesial untuk masuk surga lewat dua belas gerbang surga khusus untuk Bani Israel.

Dan ayat ketiga, berkisah tidak lain dan tidak bukan tentang sepak terjang kita sendiri saudara-saudara~ Ohohoho… Yang sudah pasti labil juga demografinya mirip dengan Bani Israel. Wkwkwkwk…

Nabi Muhammad sendiri diutus untuk membawa rahmat bagi semesta alam. Salah satu hujah dasar beliau sebagai nabi untuk jin dan manusia. Dalam riwayat hadits sering juga diceritakan tentang nabi yang berkhotbah di hadapan para jin. Sebetulnya kalau saya membaca Al-Qur’an, saya sedikit curiga sebetulnya Allah lebih berbicara kepada siapa, bangsa manusia atau bangsa jin? Sebagai manusia yang saya tidak bisa melihat bangsa jin, saya terkadang berfikir Allah memberikan keistimewaan terhadap manusia tentang beragam kisah-kisah menyejukkan tentang perjalanan manusia mencari Tuhannya. Tapi kecurigaan saya memuncak, jangan-jangan Allah lebih menitik beratkan perkabaran ayat-ayatnya pada bangsa jin? Soalnya gini, surat AL JIN terdiri atas 28 ayat. Dan surat AN NAAS yang artinya manusia, terdiri dari atas hanya 6 ayat. Berarti… ==’ Tampaknya bangsa jin lebih mendapat prioritas dibanding manusia… T___T Dan semua tampaknya menjadi lebih jelas ketika saya coba baca-baca ayat-ayat lainnya. Ternyata Al-Qur’an jika berbicara tentang sesuatu hal yang menyangkut dua bangsa ini, banyak sekali didahului dengan sebutan “jin dan manusia”, dan sedikit, hanya 3 ayat, yang memulainya dengan “manusia dan jin”. Sisanya biasanya Allah menggunakan kata-kata tsaqalain untuk merujuk dua bangsa ini.

Semenjak dahulu ada banyak sekali bangsa-bangsa yang dibinasakan Allah karena mereka berbuat lalim, padahal rasul datang membacakan ayat-ayat Allah kepada mereka, baik dari golongan jin dan manusia. Dan ada juga bangsa-bangsa yang mengikuti petunjuk rasul itu sehingga Allah memberkati mereka.

Bangsa yang terkenal mengimani apa-apa firman Tuhan adalah bangsanya Yunus bin Matti. Adapun kerajaan dengan riwayat yang menguasai teknologi tingkat tinggi, sampai teleportasi tidak lain adalah kerajaannya Sulaiman bin Daud. Uniknya disebutkan juga dalam riwayat terdahulu, kelak akan dibangkitkan seorang ratu pada hari kiamat yang menuduh orang-orang yang lalai tidak mencari kebenaran dari Tuhannya, sedangkan dirinya rela membuat perjalanan yang sangat jauh dari belahan dunia ke belahan dunia lain hanya untuk mendengarkan hikmah dari seorang nabi. Tahu siapa? She is Bilqis from Saba.

Surat 43. AZ ZUKHRUF – Ayat 6

وَكَمْ أَرْسَلْنَا مِنْ نَبِيٍّ فِي الأوَّلِينَ

Berapa banyaknya nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu.

Surat 6. AL AN’AAM – Ayat 130

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالإنْسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي وَيُنْذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَذَا قَالُوا شَهِدْنَا عَلَى أَنْفُسِنَا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ

Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: “Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri”, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir.

Surat 28. AL QASHASH – Ayat 59

وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَى حَتَّى يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا وَمَا كُنَّا مُهْلِكِي الْقُرَى إِلا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ

Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kelaliman.

Surat 22. AL HAJJ – Ayat 45

فَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَبِئْرٍ مُعَطَّلَةٍ وَقَصْرٍ مَشِيدٍ

Berapa banyak kota yang Kami telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan lalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang tinggi,

Surat 41. AL FUSHSHILAT – Ayat 25

وَقَيَّضْنَا لَهُمْ قُرَنَاءَ فَزَيَّنُوا لَهُمْ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَحَقَّ عَلَيْهِمُ الْقَوْلُ فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِمْ مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ إِنَّهُمْ كَانُوا خَاسِرِينَ

Dan Kami tetapkan bagi mereka teman-teman yang menjadikan mereka memandang bagus apa yang ada di hadapan dan di belakang mereka dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yang terdahulu sebelum mereka dari jin dan manusia; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang merugi.

OK, sekian dulu tulisan saya kali ini. Dan semoga Tuhan memudahkan segala urusan kita semua. Amiiin~ 😀

Advertisements

5 thoughts on “The Jin – a Religious View

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s