ITB Tukang Plagiat? Sebuah Hadiah dari Tuhan

Belakangan ini, kampus saya memang sedang geger-gegernya membahas kasus mas-mas yang melakukan plagiat karya ilmiah. Tidak tanggung-tanggung, IEEE bok! Dan kejadiannya pun terjadi di tempat yang cukup strategis, yaitu STEI. Oya, STEI itu kepanjangan dari Sekolah Teknik Elektro dan Informatika. Dan kebetulan, saya adalah mahasiswa STEI. Oh Tuhan…

Logo ITB

Logo ITB

Bagaimana perasaan kami ketika mengetahui berita ini? Jangan tanya, marah sedih malu super luar biasa. Bahkan membahasnya pun rasanya aneh sekali. Sebuah rasa bangga kejujuran akademis yang dibawa-bawa selama 90 tahun ini rasanya habis dalam waktu satu hari hanya akibat ulah satu oknum.

Mungkin bagi anda yang belum pernah bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari kami akan mudah berkomentar negatif ini itu tentang kasus ini. Gua maklum kalau ada orang yang beranggapan seperti itu. Dan gua sangat maklum kalau nama ITB bakal sangat tercemar di mata publik. Dan mungkin banyak juga orang yang bertanya-tanya, seperti apa sih kehidupan kami di kampus itu sebenarnya. Dan itulah alasan kenapa gua pengen nulis ginian. Sebagai mahasiswa STEI tingkat 4, gua ingin bercerita sedikit tentang bagaimana kehidupan kami sehari-hari di kampus, khususnya STEI.

Mahasiswa di ITB terbagi atas 3 kelompok strata. S1, S2, dan S3. Ketiga kelompok ini tidak terlalu membaur satu sama lain, walaupun satu gedung, mengingat perbedaan kegiatan dan umur yang cukup mencolok antar kelompok. Walaupun begitu ada juga mahasiswa-mahasiswa non-S1 yang diwajibkan mengambil matrikulasi mata pelajaran S1. Sehingga, kultur kehidupan akademis S1 dan non-S1 pun sudah pasti akan sangat berbeda. Secara sederhana, banyak orang mengatakan kehidupan S1 di sini jauh lebih sulit dibanding kehidupan non-S1 di sini. Lho? Nggak kebalik? Nggak. Itu pendapat mayoritas yang saya dengar. S1 jauh lebih sulit dibanding S2. Banyak anak-anak yang di-DO selama S1. Kata dosen saya pak Budi, jika sudah lulus S1 di sini, maka S2 tinggal leha-leha saja, apapun universitasnya, walau di luar negeri sekalipun. Bahkan, ada program fast-track bagi mereka yang memiliki kinerja otak berlebih, sehingga institusi mengizinkan S1 dan S2 ditempuh dalam waktu 5 tahun.

Nah sekarang apa yang membuat kasus ini terasa super janggal di mata anak-anak S1 di sini? Tidak lain adalah anak-anak mempertanyakan S1 beliau yang tidak di sini. Kenapa? Jawabannya sangat sederhana, karena di S1 ada kegiatan yang bernama praktikum. Praktikum? Yup, praktikum! Seheboh itukah praktikum di sini? Bukan heboh lagi, melegenda malahan. Saya mengalaminya sendiri, dan merasakah hidup berdarah-darah selama semester-semester (umumnya semester 3 sampai 6) tersebut. Dengan adanya praktikum ini, dipercaya kedisiplinan akan menjadi sifat yang akan dibangga-banggakan sampai kami lulus. Berikut adalah sederet aturan horor yang ada.

Time is your Price

Sebagai pemanasan, kalau anda tingkat awal, jangan pernah telat. Kalau di fisika dasar, kita tidak boleh terlambat sedetik pun. Jaman saya, kalau masuk ruangan kita pakai kartu pengenal dan discan barcode-nya persis kek scanning harga barang di toko-toko. Bedanya, harga barangnya dinilai dari sisa jam masuknya. Telat satu detik, harga barang jadi merah, alias nilai bakal berkurang beberapa puluh persen.

Tidak hanya praktikum, pada tingkat awal, ada beberapa mata kuliah yang sangat heboh memperhatikan tata krama dan etika. Ada teman-teman saya yang terlambat, dan kuliah teknik pun terhenti dan diganti menjadi kuliah etika di mana mereka dipajang di depan kelas sambil dimarahi habis-habisan berpuluh-puluh menit. Mereka pun didudukkan tersendiri di depan kelas menghadap ke arah berlawanan. Kalau tidak salah dia pernah memarahi seorang anak yang telat selama berpuluh-puluh menit. Di akhir ceramah, anak tersebut bilang kalau dia dari Vietnam dan tidak bisa bahasa Indonesia. Menyadari hal itu sang dosen pun mengulang lagi dari awal ceramahnya, hanya saja, berubah jadi bahasa Inggris, dan sama, selama berpuluh-puluh menit juga.

Everything is for your own Bussiness

Kimia dasar juga saat-saat yang hot, duduk semanis apapun pertemuan anda akan diawali dengan berbagai peringatan-peringatan yang membuat kita memegang tabung reaksi pun harus mengingat Tuhan. Saya pernah memecahkan tabung reaksi kecil, dan saya disuruh ganti membeli. Temannya teman saya pernah memecahkan tabung reaksi besar, dan dia disuruh ganti membeli. Saya bersyukur karena jumlah angka harga tabung reaksi saya masih lebih sedikit dibanding dia.

Perlengkapan

Selanjutnya, jangan pernah lupakan apa yang harus dibawa ketika praktikum. Harus pakai kemeja (karena dalam kehidupan sehari-hari kebanyakan anak-anak pakai kaos). Kalau ada aturan pakai jas lab, ya harus dibawa juga. Name tag. Atau request spesial. Pengalaman pribadi saya, saya dan teman saya pernah tidak membawa foto di hari pertama, dan kami dihukum mengumpulkan foto teman seangkatan yang jumlahnya dua ratusan untuk database.

Pahami Modul Sebelum Masuk

Ini bukan perkataan klise. Tapi modul bener-bener harus dipahami sebisa mungkin sebelum masuk ruangan praktikum. Hukuman maksimal paling terkenal dari kasus ini adalah anda akan mendapat nilai E dan diwajibkan mengulang semester depannya. Why? Karena akan ada patroli mendadak yang akan mengintai cara anda bekerja. Teman saya pernah ditanya alasan dia melakukan suatu “gerakan” praktikum yang cukup “unik”. Dan dia tidak bisa menjawab pertanyaan. Dia pun diusir dengan cukup dramatis. Saya yang melihatnya bengong, tapi pura-pura cuek. Teman saya merusakkan multimeter karena salah pakai. Nilainya jadi 0.

Yang lebih heboh, dahulu ada seorang anak yang pernah merusakkan suatu alat karena dia melakukan kesalahan yang sangat fatal dan dianggap konyol. Dan harga alat tersebut jutaan. Seluruh anak-anak yang pada saat itu bersama dia diwajibkan mengganti dengan gotong royong dan anak tersebut dapat E. Sejak kejadian itu, kami benar-benar ketakutan dan berusaha memahami sebisa mungkin acara praktikum. Beberapa tahun kemudian, hal sama terulang lagi. Malangnya anak-anak ini menjadi bahan olok-olokan seantero elektro. Milis-milis menjadi ramai membicarakan mereka. Kalau anda bisa melihat pembicaraan di sana, anda akan melihat betapa pembicaraan tanpa belas kasihan dan tanpa toleransi ada di mana-mana.

GOLDEN RULE: Jangan Pernah Nyontek Laporan

Ini adalah slogan paling horor selama praktikum. “Jangan Pernah Nyontek Kalau Tidak Mau di-Ground-kan!” Apa itu ground? Ground adalah, sebuah referensi atas konsensus bersama di mana voltase bernilai 0 V. Alias, barang siapa yang ketahuan nyontek, maka nilai 0, dan E, siap menunggu anda. Nama anda, tulisan anda, nama yang dicontek, dan tulisan yang dicontek akan dipampang di papan pengumuman besar-besar menggunakan stabilo. Tidak hanya itu, setiap orang akan menerima imel pemberitahuan pengumuman bahwa si A menyontek si B lengkap dengan isinya. Kemudian di daftar nama peserta, kolom pada nama anda akan diwarnai dengan warna yang sangat berbeda yang akan menjadi kenang-kenangan sampai praktikum usai.

Konsensus

Tidak adakah toleransi dalam aturan-aturan tadi? Secara garis besar tidak ada. Tapi, yang perlu dicatat. Konsensus yang tidak tertulis di sini sebetulnya adalah, jika anda bertanya dan melihat jawaban tugas apapun selama bukan saat-saat membuat laporan, UTS, dan UAS, maka hal tersebut dianggap sebagai belajar bersama. Jadi, jika anda melihat jawaban tugas pendahuluan teman anda dan anda menulis ulang dengan pemahaman dan kata-kata yang berbeda dari teman anda, hal tersebut dianggap belajar. Namun jika sudah berbicara mengenai laporan, UTS, ataupun UAS. Hal-hal seperti itu akan menjadi perbuatan paling tabu yang pernah ada. Lebih baik membuat laporan 2 halaman sebisanya daripada 4 halaman tapi hasil mencontek.

Apa akibatnya jika anda melanggar konsensus tidak tertulis ini? Pernah suatu waktu, karena tugas pendahuluan yang terlalu banyak dan sulit dikerjakan dalam waktu 3 hari, ada anak-anak yang menyalin sama sebuah gambar grafik hasil jawaban dari masteran. Akibatnya, seluruh kloter praktikum saat itu yang berhubungan dengan anak-anak tersebut diwajibkan mengerjakan ulang tugas pendahuluan beserta tambahannya.

Itu masih mending, pernah juga kejadian, hanya karena ulah beberapa orang anak yang mengerjakan tugas pendahuluan di saat-saat kritis sebelum praktikum, seluruh kloter anak-anak yang berhubungan dengan anak-anak malang ini, menjadi kloter ternama seantero ITB saat itu karena satu kloter harus mengulang praktikum pada semester depan.

That’s it!

Itulah mengapa kata contek-mencontek yang terdengar sangat horor di telinga kami, tiba-tiba menjadi kata-kata yang sangat aneh bin ajaib dan muncul dari strata S3 yang kami sangat jarang bersentuhan dengannya. Usaha-usaha, pengalaman-pengalaman, kerja mati-matian yang kami rasakan selama S1 seakan tidak ada artinya di kasus S3 ini.

Dan itulah mengapa di mata kami anak-anak S1, kasus ini adalah akibat dari oknum yang bersangkutan bukanlah S1 ITB.

Logo IEEE

Logo IEEE

Apa itu IEEE?

Bagi yang belum tahu IEEE, ini adalah sebuah perkumpulan para engineer elektro yang paling prestisius di seluruh dunia. Jika anda berhasil menjadi anggotanya, seantero dunia perelektroan akan memandang anda dengan sangat segan. Ikut konferensi yang diadakan IEEE pun merupakan salah satu cara meningkatkan harga diri kepintaran anda di mata perkumpulan internasional ini. Tentu saja, anda harus mempublikasikan karya ilmiah anda berupa paper ke hadapan para engineer ini. Apa itu paper? Sederhananya, paper itu semacam laporan penemuan yang super padat dan hampir tidak bisa dirangkum lagi dengan jumlah halaman berkisar 2 sampai 5, 6 halaman. Wah banget kan?

Nah, panitia penyelenggara konferensi yang ada di seluruh dunia itu juga berbeda-beda. Ada yang tipenya cukup mengirimkan perwakilan satu nama saja. Sehingga cukup dikonfirmasi oleh seseorang saja. Ada juga yang harus dikonfirmasi oleh seluruh nama yang tertulis di paper. Dan tentu saja, siapa yang tertulis namanya di paper itu akan sangat mempengaruhi tingkat kepercayaan pereview terhadap paper yang ditulisnya.

Untuk kasus mas-mas ini, tampaknya dia mengikuti konferensi yang cukup disahkan oleh 1 perwakilan. Sehingga ketiga doktor tidak perlu klarifikasi. Akibatnya wajar jika ketiga doktor pembimbing ini tidak tahu. Dan di ITB sendiri selama ini anak-anak dan para dosen banyak yang mengirimkan paper dan konferensi, jumlahnya sampai sekitar 1200an. Tentu saja kita tidak bisa tahu seluruh isi paper yang ada di dunia. Karena tidak bisa dicari dengan mudah seperti Google. Anda harus membayar untuk membaca satu paper saja. Dan kita bukanlah orang yang tahu segalanya.

Fenomena gunung es atau fenomena deteksi dini?

Lalu apa ini fenomena gunung es? Fenomena gunung es adalah fenomena yang terjadi jika sebuah sistem tidak memiliki filter atau saringan yang baik atau bahkan tidak memiliki saringan sama sekali sehingga setiap masukan yang melaluinya susah dibedakan mana yang normal dan abnormal. Adapun fenomena deteksi dini adalah fenomena yang terjadi jika sebuah sistem memiliki filter atau saringan yang baik sehingga jika terdapat satu saja masukan yang abnormal, maka sistem akan segera memberikan peringatan. IEEE terkenal karena memiliki sistem deteksi dini yang baik. Selama bertahun-tahun, dari sekian banyak paper yang masuk selama ini tidak ada peringatan satu pun yang menyala dari pihak IEEE. Dan tahun lalu peringatan tersebut menyala. Sehingga, bisa disimpulkan bahwa ITB diberikan peringatan dini bahwa mulai saat ini ada satu masukan yang bermasalah datang dari ITB. Dan itu artinya kita harus mawas diri bahwa mulai ada masukan abnormal yang mencoba masuk ke dalam sistem tersebut.

Sebuah Konspirasi?

Dari 1200an paper yang terpublish selama ini tidak ada masalah plagiat. Semuanya murni buatan mereka masing-masing. Maka dari itu wajar jika seorang doktor percaya 100% kepada mahasiswa-mahasiswa di sini. Karena jika 1 dari 1200 paper itu ada yang plagiat, tentu organisasi-organisasi itu sudah dari dulu memberikan pengumuman. Sehingga para dosen pun percaya karena reputasi 1200 paper yang lain. IEEE pun bahkan meloloskan paper tersebut. Dan mas-mas ini dengan teganya menodai kepercayaan tersebut. Tuhan tampaknya mengirimkan hadiah spesial yang bernama mas MZ yang melakukan inovasi yang belum pernah dilakukan sebelumnya, yaitu memplagiat secara kembar siam sebuah paper 8 tahun lalu yang dikirim ke IEEE.

Kami anak-anak S1 saja, mau menjiplak laporan praktikum saja harus berpikir berulang kali mengingat konsekuensinya. Apalagi menjiplak paper orang lain untuk diikutkan di IEEE. Hanya orang bodohlah yang melakukan hal itu. Sehingga wajar seorang teman berkata, jangan-jangan mas-mas itu adalah agen yang memang bertujuan menghancurkan ITB karena melakukan tindakan yang kelewat konyol.

Ntah vava. ==’ Tapi yasudahlah. Nasi sudah menjadi bubur. Intinya Tuhan sudah menegur dengan sangat halus dan memberi pelajaran berharga yang bisa direnungkan bersama. Saatnya kita bekerja lebih baik lagi.

Bagi yang mau baca press release resmi, silahkan baca di sini atau donlot di sini.

Advertisements

11 thoughts on “ITB Tukang Plagiat? Sebuah Hadiah dari Tuhan

  1. Mantaaaaaab!! 😀 😀
    Saya suka postingan ini! ^__^ 🙂
    Mengingatkan saya akan jaman TPB, Tahap Paling Berat buat anak Planologi. 😆
    Kata kami anak PL, TPB buat anak STEI itu Tahap Paling Bahagia, apa bener? 😛
    Bagus lah, ini akan saya jadikan referensi buat temen2 dan sodara saya yang nantinya mau masuk ITB. 😀 Mohon ijin ya.

  2. hehehe… 😀
    wah, ternyata definisi TPB tiap jurusan beda rupanya

    ho’oh, di sini TPB anak-anak nyebutnya Tahap Paling Bahagia
    teman saya nyelutuk, membedakan anak TPB atau bukan itu gampang
    jika jalannya bergerombol, ketawa-ketawa, berwajah tanpa beban,
    hampir bisa dipastikan mereka anak TPB~

    sampai sekarang saya masih kangen dengan masa-masa itu (^^)

  3. Ya sudah lah, kami ga tau lagi harus bagaimana. Kalau ngomongin itu serasa menjadi tabu saja.
    Kalau conference mereka bisa lolos apa di conference itu ga ada sistem orisinalitas kaya globecomm itu ya?

  4. BTW, conference mereka kan di chengdu. Berarti sama kaya kiki besok donk. Padahal di surat konfirmasi dari IEEE kiki, ada beberapa point penilaian dimana paper tersebut layak tidak masuk conference. Point tersebut : originality, innovation, technical merit,aplicability,presentation and english,match to conference topic. Jadi?

  5. salam….

    turut prihatin juga mendengar nama saudara tua tercemar gara-gara salah satu oknum.
    yah semoga yang bersangkutan bisa berintrospeksi, meskipun saya tidak tahu lagi bagaimana masa depan beliau kelak….

  6. @ndox, jadi kesimpulannya~, sang pereview 3D topology tralala tidak mengetahui persis apa yang direviewnya mungkin? dan conferencenya juga tampaknya tidak memiliki sistem orisinalitas seperti globecomm.

    saya sempat mendengar celutukan dari prodi tetangga yang menyatakan bahwa 3D topologi analysis sebetulnya bukan bidang kita. namun, dalam list dosen pembimbing, tidak diikutkan dosen pembimbing dari dosen tetangga. kasusnya sebetulnya mirip dengan ketika kita membahas finite algebra versi elektro tapi selama ini tidak ada anak-anak yang menyertakan dosen dari matematik sebagai pembimbing. karena akan dianggap aneh mengingat antena ataupun topik-topik elektromagnetik cukup dengan dosen dari prodi telkom tanpa perlu memanggil dosen dari fisika.

    jadi, menurut saya ini masalah sudut pandang pereview dan pengalaman pereview tentunya.

  7. @rizkianto, salam kenal juga…
    anda dari kediri? wah, saya juga dari kediri lho kecilnya… hehehe…

    saya setuju, semoga yang bersangkutan atau siapapun yang telah, sedang atau akan terlibat dengan masalah yang mirip seperti ini, ikut berintropeksi.

    masalah nama tercemar saya pribadi tidak terlalu mempermasalahkan. sisi bagus dari nama yang tercemar adalah ada pada fase semangat untuk memulihkan. saya rasa di situ Tuhan berkehendak sesuatu. (:

  8. Nice posting gi,,

    Btw,, menurut gw gak aneh kalo topik2 elektromagnetik cukup dari ET/EP/EL. Berbeda dengan 3D topologi apalah itu,, elektromagnetik itu memang core kita, liat aja logo IEEE di atas 😀

    Kecuali mungkin kalau topik risetnya menyangkut bidang2 lain, misalnya seperti radio astronomy,, ya emang harus ada orang astronominya …

  9. @anantoep, iya saya sutuju. saya juga menganggap gak aneh kalo topik2 elektromagnetik cukup dari ET/EP/EL, sehingga tidak perlu memanggil dosen dari fisika.

    dan… logo IEEE yang sangat elektromagnetik… ahahaha… anda benar ananto~, elektro gimana-gimana pun juga sebetulnya elektromagnetik juga tampaknya.

    klo 3D topologi tralala, ketika saya baca papernya dan kalau saya tidak salah menginterpretasikannya, lebih ke arah matematis tampaknya. makanya saya menganggap isi paper tersebut mirip dengan pembahasan finite algebra di elektro, seperti ketika membahas codec MPEG versi matematis yang sangat tralala juga dengan asumsi pembaca bisa mengkonversi ke versi sirkuit di lsi dengan mudahnya.

    tapi nggak tahu juga sih kalau saya salah menginterpretasikan isi paper tersebut. (:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s