Kapitalisme: Benarkah Membawa Kehancuran?

OK guys, di sini saya ingin berbagi tentang tugas artikel Jurnalistik saya. Jadi, ini adalah artikel yang saya kumpulkan ke dosen saya. Hehehe… Karena isinya saya rasa cukup menyentuh, setidaknya untuk diri saya sendiri, saya jadi ingin membagi persepsi ini kepada para pembaca yang lain. 😀

@prambanan: pecel ibu ini enak loooh... ^^

@prambanan: pecel ibu ini enak loooh... ^^

Now, this is one of my think thank. It’s about capitalism! Sesuatu yang dengan mudahnya diteriakkan oleh beberapa orang dengan tendensi untuk menghina sesuatu. Banyak juga dari kalangan muslim yang sangat anti-pati mendengar perkataan ini. Mirip anti-pati ketika mendengar kata Israel, yang padahal itu adalah nama hadiah pemberian Tuhan kepada nabi Ya’kub, yang artinya kekasih Allah. Sekarang, mari kita amati bagaimana dan apa sebenarnya kapitalisme itu.

Kapitalisme merupakan sebuah istilah atau kata, yang cukup sulit dideskripsikan mengingat penggunaannya yang sangat luas pada berbagai macam fenomena yang ada dalam sejarah dan berbagai sudut pandang. Sampai sekarang kapitalisme belum memiliki definisi yang memuaskan semua pihak. Namun secara garis besar bisa dikatakan bahwa kapitalisme adalah sebuah sistem yang mengacu atas kepemilikan pribadi. Kepemilikan ini lebih mengacu kepada hak atas benda-benda hasil produksi yang dimiliki oleh segelintir orang-orang para pemegang modal utama. Orang-orang ini disebut sebagai pemilik kapital. Karena uang didefinisikan sebagai kapital juga, maka uang juga termasuk barang yang bisa diperjualbelikan. Kapitalisme memiliki peranan sejarah yang sangat besar menggantikan sistem barter yang dulu dilakukan oleh nenek moyang kita.

thanks to howstuffworks: merchants on silk road

thanks to howstuffworks: merchants on silk road

Salah satu bentuk paling awal dari kapitalisme adalah merkantilisme. Sesuai dengan namanya, merkantilisme adalah sebuah paham ekonomi yang mengacu pada pencarian profit atas hasil penjualan barang dagangan dalam skala besar. Paham merkantilisme pada awalnya muncul pada masa kerajaan Romawi. Saat Romawi mengekspansi Eropa, paham ini menyebar dengan luas di sana. Namun sejak kejatuhan Romawi, merkantilisme hilang di Eropa dan digantikan sistem ekonomi feodal. Lain cerita dengan Arab, semenanjung ini masih mempertahankan paham merkantilisme di sana. Saat itu semenanjung Arab melakukan transaksi jual beli dengan Mesir, Persia, dan Bizantium. Puncaknya, begitu Islam muncul pada abad ke-7, paham ini dengan cepat menyebar luas ke Spanyol, Portugal, Afrika Utara, dan Asia. Saat itulah Eropa kembali menganut paham yang dahulu sempat mereka lupakan.

Seiring dengan berjalannya waktu, pada abad ke-16 di Eropa merkantilisme berkembang menjadi kapitalisme. Sehingga tidak heran prinsip-prinsip pada kapitalisme sebetulnya tidak jauh berbeda dengan merkantilisme. Walau begitu pada ranah praktis, kapitalisme bisa dikenali atas ciri-ciri kegiatannya. Pertama, akumulasi berbagai macam produksi dimiliki oleh sedikit orang. Kedua, pekerja cenderung bekerja untuk mendapatkan gaji bukan untuk kepentingan membuat sebuah produk. Ketiga, hasil produksi dan pekerja diperhitungkan sedemikian rupa sehingga didapatkan profit yang diinginkan. Dari ciri-ciri ini tidak heran Karl Polanyi menyebutkan kapitalisme sebagai ranah kegiatan ekonomi yang menyentuh komoditas-komoditas abstrak: tanah, pekerja, dan uang.

Secara sederhana kita bisa katakan bahwa merkantilisme adalah sebuah kegiatan ekonomi yang didasari oleh para pelaku kegiatan yang bekerja untuk diri mereka sendiri dengan menghasilkan barang dan/atau mendistribusikan barangnya sendiri untuk mencari keuntungan. Adapun kapitalisme adalah sistem ekonomi terpadu dengan komando di atasnya untuk membuat dan/atau mendistribusikan barangnya dengan pola pembagian kerja yang terpisah-pisah. Konsep seperti ini tidak bisa disangkal menguat setelah munculnya revolusi industri di Eropa pada abad ke-18. Revolusi industri benar-benar merubah cara hidup manusia seutuhnya. Terlebih ketika mesin industri semakin menyebar luas pemakaiannya di Eropa.

Mesin industri membuat hasil produksi menjadi berlipat-lipat banyaknya. Akan tetapi produksi massal sebuah jenis produk tertentu, tidak bisa dipungkiri lagi, akan melalui berbagai macam proses pembuatan yang cukup kompleks. Konsekuensinya dibutuhkan pekerja yang banyak dan lebih terampil dalam mengoperasikan mesin-mesin tersebut. Sehingga tidak mungkin seseorang mengerjakan semua proses yang dilakukan seluruh mesin itu sendirian. Maka dari itu pengelompokan pekerjaan menjadi sangat lumrah. Terlebih populasi penduduk semakin meningkat seiring dengan adanya revolusi industri. Jiwa kepemimpinan, enterpreneurship, menjadi salah satu komoditas sesungguhnya yang dibutuhkan oleh masyarakat. Pengadaan mesin, proses produksi, pengaturan pekerja, menjadi bidang-bidang yang wajib dikuasai oleh para pengusaha. Kapitalis adalah sebutan terhormat untuk para pengusaha yang bergerak di bidang produksi massal saat itu. Sampai di sini, kapitalisme lebih mengacu kepada cara kerja yang dilakukan oleh orang-orang pada masa itu.

Dari kapitalisme inilah muncul ilmu-ilmu terapan baru. Manajemen adalah salah satu ilmu yang cukup mencolok berkembang saat itu. Misal, untuk mencapai hasil paling efisien dalam melakukan kegiatan produksi, F.W. Taylor menganggap ada cara kerja paling efisien dalam bekerja. Sehingga muncul istilah waktu standard dan gerakan-gerakan standard bekerja. Di sini manusia terlihat dianggap sebagai mesin. Pemahaman seperti ini disebut dengan pendekatan klasik. Selanjutnya eksplorasi lebih lanjut dilakukan oleh Elton Mayo, di mana dia menemukan secara tidak sengaja bahwa faktor psikososial adalah salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kinerja pekerja. Paham ini disebut paham neo-klasik. Selanjutnya, Joan Woodward menemukan bahwa lingkungan juga ikut berpengaruh terhadap kinerja yang dilakukan oleh para pekerja. Pendekatan pemeningkatan kinerja semacam ini dikenal dengan pendekatan modern. Sampai di sini kita tahu bahwa, semua pendekatan ini dilakukan untuk mencari cara produksi atau berekonomi yang stabil dan seefisien mungkin dengan memanfaatkan tenaga para pekerja.

thanks to exquisitesafaris: creative capitalism

thanks to exquisitesafaris: creative capitalism

Lalu di sisi manakah kapitalisme sangat dipertentangkan oleh beberapa pihak? Kapitalisme sebetulnya dipertentangkan dari sisi pemegang kapitalnya, di mana hirarki yang ditimbulkan cenderung bersifat feodal. Walau begitu, hirarki kepemilikan kapital pada dasarnya selalu muncul di sistem perusahaan manapun. Di mana ada pemilik ada pekerja. Hirarki organisasi sangat dibutuhkan untuk mengatur koordinasi dan mencari efisiensi dalam menjalankan kegiatan ekonomi suatu perusahaan. Sehingga sudah bisa dipastikan untuk perusahaan dengan skala menengah dan besar akan selalu menggunakan sistem semacam ini, mengingat produksi yang dihasilkan akan selalu berjumlah banyak. Berbeda dengan usaha dengan skala kecil, seperti misalnya toko biasa yang sangat mungkin strukturnya hanya terdiri atas seorang pemilik atau beberapa pemilik. Sehingga model merkantilisme akan sangat cocok dijalankan pada usaha semacam ini. Walaupun ada juga model ekonomi yang menentang sistem kapitalisme saat itu, yaitu sosialisme, namun kapitalisme sendiri sebetulnya bisa dipandang sebagai subset teknik berekonomi di antara berbagai macam teknik berekonomi lainnya. Sehingga, tidak mungkin kita menyamaratakan semua jenis usaha menggunakan prinsip kapitalisme. Karena kita sendiri yang menentukan apakah usaha kita membutuhkan sistem ini atau tidak.

Dengan kata lain, kapitalisme dan merkantilisme sebetulnya tidak lain adalah cara kerja suatu perusahaan dalam mengelola kegiatan yang dijalankannya. Jenis kegiatan seperti ini adalah kegiatan fundamental yang akan dilakukan oleh siapapun para pegiat ekonomi. Sehingga, rasanya kurang pas jika kapitalisme selalu diidentikkan dengan suatu grup yang berkonotasi dengan hal-hal negatif. Karena kapitalisme bukanlah teknik yang dimiliki oleh suatu grup tertentu, karena semua pihak pada dasarnya memiliki teknik ini. Sehingga apakah benar kapitalisme membawa kehancuran? Tidak jika diterapkan pada perusahaan yang memang membutuhkan sistem ini. Jika anda seorang pemimpin perusahaan elektronik multinasional yang memiliki banyak pekerja di berbagai belahan dunia, maka sistem semacam ini tidak bisa dihindarkan oleh perusahaan anda. Akan tetapi jika anda bergiat di UKM, maka kapitalisme rasanya bukan sistem yang cocok anda terapkan di perusahaan anda.

Terakhir sebagai catatan, banyak negara yang menerapkan sistem ekonomi campuran. Amerika sekalipun, walaupun terkenal dengan sebutan negara perdagangan bebas, pemerintah Amerika masih melakukan kebijakan proteksi dalam negeri atas kegiatan perdagangan yang dilakukan oleh penduduknya. Bailout dan Cina merupakan salah satu contoh paling nyata sikap pemerintah Amerika terhadap paham ekonomi campuran yang dianut.