Telat – Tuhan, terima kasih atas tamparan halusnya

Ini tulisan saya tulis setelah saya sidang TA beberapa bulan yang lalu. Sorry, isinya labil. Hahahaha… Tapi keknya menarik kalau saya bagikan di sini. Selamat menikmati.

Hai blog! Kemarin adalah hari yang membuat saya sangat paham akan diri saya sendiri. Saya sebut sebagai hari yang menyadarkan saya.

Kenapa?

Tidak lain dan tidak bukan adalah saya seorang laki-laki yang sering diliputi ketelatan secara intens dalam hidup saya. Padahal seingat gua, pas tingkat-tingkat awal gua selalu tepat waktu dalam segala hal. Dan di tingkat akhir, kenapa kata telat seakan selalu nemplok ke kehidupan gua?

Mari kita list.

– Saya sering janjian telat.

– Saya sering kuliah telat.

– Saya sering tidur telat.

– Saya sering bangun telat.

– Saya sering makan telat.

Puncak-puncaknya,

– Permohonan visa telat karena seluruh dokumen gua ilang di kantor pos. Gua menjadi anak yang tidak berijazah SMA pada akhirnya.

– Pengumpulan project Panasonic telat 2 hari + 3 minggu ekstra untuk permohonan spesial yang juga telat ngumpulinnya 1 minggu. Ini sumpah, karena emang susah dan gua banyak menghabiskan waktu buat menghilangkan stress secara tidak pada tempatnya + bonus sakit 20 hari lebih.

– Pengumpulan project LDPC telat lebih dari 3 bulan, padahal sudah hampir saya selesaikan sejak sekitar 2 bulan awal pengerjaan. Karena saya tidak bisa membagi waktu dengan project Panasonic.

– Pengumpulan draft TA gua telat karena memang banyak kendala ketika mengerjakan dan akan mengumpulkannya (alasan gua aja sih).

Dan kemarin adalah puncak permainan telat-telatan yang membuat saya malu dan semoga tidak akan pernah saya lupakan seumur-umur gua.

– Gua telat datang sidang TA!!!

Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!

Tidak!!! Saya speachless. Jangan tanya kenapa. Karena saya pun juga nggak habis pikir kenapa telat. Jadi, saya sidang jam 11. Dan saya sudah di ITB sejak jam 10. Nah, sugesti saya mengatakan, karena satu hari sebelumnya sidang anak-anak mengalami shifting ketelatan 1/2 atau 1 jam, maka sidang saya yang kemarin pun mungkin begitu juga. Kemudian, dengan santainya saya berjalan-jalan dan berlari-lari kecil untuk ngeprint draft TA revisian ke Salman. Penuh! ==’ Saya pun ke tempat pengeprintan yang kata kiki 5 menit jadi. Dan beneran! Lebih dari 100 halaman keknya terprint kurang dari 5 menit. Saya pun lega luar biasa. Dan ngeprint dengan nyantainya.

Tapi kenapa gua baru ngeprint jam 10 sedang sidang jam 11? Karena di tengah pengerjaan, saya ketiduran. AAAAAAA!!! Tuhan, ampuni saya… T___T

Setelah print-printan jadi, jam sudah menunjukkan pukul 10.59. Saya pun langsung lari sejadi-jadinya, walau capek juga dan akhirnya berjalan biasa, menuju gedung elektro dengan kepedean bahwa sidang bakal telat.

Dan ternyata…

Ketika saya naek tangga ke lantai 3, saya melihat segerombolan dosen ngobrol di tangga menunggu saya. Diliati sama anak-anak yang ikutan nongkrong nungguin saya datang, membuat adegan naek tangga tadi semakin dramatis. Dan saya pun menjadi mahasiswa yang datang telat dan membuat dosen menunggu 15 menitan.

Dosen-dosen pun masuk lagi ke dalam. Dan tentu saja, saya nggak langsung disidang. Pakaian saya lusuh karena lari-lari sebentar. Dan saya pun disuruh ganti baju warna putih sama pemimpin sidang. Dan akhirnya saya mengejar Benny! Dan dengan panik saya berkata “Benny, saya pinjam baju putih kamu dong…” Dan Benny pun meminjamkan hardwarenya kepada saya. Benny terima kasih… T.T Kamu akan menjadi salah satu nama teman saya yang tidak ingin saya lupakan. Kemudian saya lari ke Hamka dan juga berkata “Hamka, saya pinjam dasi kamu dong…” Dan Hamka pun meminjamkan hardwarenya kepada saya. Hamka terima kasih… T.T Kamu juga akan menjadi salah satu nama teman saya yang tidak ingin saya lupakan.

Ketika saya kembali lagi tentu saja sidang tidak serta merta dimulai. Saya pun dibuli-buli secara tidak langsung dulu selama 15 menit di dalam. Dan kemudian, sidang pun dimulai. Nggak ada acara deg-degan berlebih karena tenaga saya udah habis terkuras buat lari-lari dan, oh ya, saya baru ingat, sejak pagi saya belum minum aer putih. ==’

Dan terpujilah Tuhan semesta alam, mereka tampaknya cukup tertarik dengan apa yang saya kerjakan. Jadi belakang-belakangnya masih bisa haha-hihi sama para penguji.

Setelah nilai diumumkan, saya pun diberitahu pak Arif dosen pembimbing saya bahwa ketelatan itu biasanya unforgivable. Dosen biasanya udah pada walk out semua. Dan saya tahu, pak Ariflah yang pasti menahan mereka semua. Dia pun menyuruh saya berterima kasih kepada pemimpin sidang. Dan bapak pemimpin sidang pun menimpali juga untuk berterima kasih kepada pak Arif. Yang jelas, suer, saya mau nangis sejak awal sidang.

Dengan mata berkaca-kaca saya ke kantor pak Arif dan mengucapkan terima kasih banyak pak Arif…

TA hasil hibrida dari projekan yang berisi 25 fungsi yang sukses terkonversi dari 32 fungsi yang ada ini merupakan salah satu sumber pengalaman yang tidak akan saya lupakan. ==’

Oya, kalau si Hamka nulis tentang hubungan dirinya dengan Tuhan di Al-Qur’an sebelum sidang, saya pun tampaknya mengalami hal yang sama dengan dia.

Kita kembali ke satu hari sebelum sidang. Setelah saya baca postingannya, saya pun coba baca Al-Qur’an dan berharap melihat apa yang ingin saya lihat. Maka jadilah 1 hari sebelum sidang saya membaca Al-Qur’an dengan pembukaan random. Saya bukan orang yang percaya pada kebetulan. Pada awalnya saya tidak melihat cerita saya dari apa yang saya baca. Tapi saya begitu terkejut karena saya menemukan bahwa yang saya baca juga tentang TA saya,

1. Saya berhenti membaca Al-Qur’an pada ayat ke-25. Dan saya ingat ini adalah angka keramat yang sering saya sebut-sebut dalam TA saya ketika pengumpulan project Panasonic saya telat. Karena ini adalah total fungsi utama yang saya buat di project Panasonic sampai akhir Juli.

2. Saya membaca surat Al-Hadid which means besi. Saya suka nama surat ini. Entah kenapa rasanya terdengar sangat elektro. Nah, Al-Hadid adalah surat ke-57. Lalu saya pun mulai melakukan hitungan matematika ala orang-orang yang selama ini saya pikir suka menghubung-hubungkan apa yang mereka dengar dan lihat dengan cara mengurangkan 57-25 menjadi 32. Dan DEG! Saya tidak tahu apakah saya sudah menjadi orang-orang yang selama ini pernah saya remehkan, tapi yang jelas saya langsung mulai merinding karena hitung-hitungan awal ini sudah merepresentasikan apa yang saya kerjakan selama 6 bulan. 25 dan 32. Itu angka-angka yang selalu saya sebut-sebut selama projek kelar. SELALU SAYA SEBUT. Angka-angka yang sangat saya ingat karena selalu saya ucapkan dengan bangga ketika menceritakan hasilnya pekerjaan saya. Angka-angka yang saya anggap kombinasi unik yang melambangkan projek saya. Karena tugas projek saya adalah mengkonversi ke-32 fungsi pilihan dalam OpenCV ke mode Ansi C. Dan sampai Juli, ada 25 fungsi yang berhasil terselesaikan. 25 dan 32. Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!

Tuhan, sekali lagi saya semakin percaya kepadaMu dengan penambahan keimanan secara eksponensial… Lihatlah Tuhan, SAYA PERCAYA!!! T.T

3. Saya baru sadar, setelah peristiwa terlambat dari jam 11 tadi, saya langsung balik pulang ke kos karena ngerasa bener-bener ada yang aneh. Dan pikiran saya langsung tertuju dengan Al-Qur’an yang saya baca kemaren. Sampai kos langsung saya buka Al-Qur’an saya dan, …, demi Tuhan, aaa… saya baru sadar kalau ayat yang saya baca kemaren itu dimulai dari ayat ke-11. Dan angka 11 itu jam presentasi TA saya yang terlambat.

Suer!

Tangan ini rasanya panas dingin kalau inget-inget kejadian itu lagi.

Satu hal yang saya rasanya tersadarkan adalah, saya yang masih sering berbuat jahat terhadap Tuhan, saya yang masih mencari-cari Dia di setiap jejak-jejak kehidupan, saya yang selalu berpikir saya harus mencari Tuhan dengan sekuat tenaga saya, terjawab sudah saat itu. Jika engkau menyongsong Dia dengan berjalan, maka Dia akan menyongsongmu dengan berlari. Dan Dia menunjukkan kepada saya, bahwa semua kejadian berat yang saya alami, Dia senantiasa bersama saya.

Saya coba review lagi apa yang saya baca. Yang saya membekas dari bacaan yang kemarin yang saya baca adalah, jika engkau mendapatkan kesusahan tidak usah terlalu bersedih hati, itu semua sudah tertulis di Lauh Mahfudz, dan jika engkau mendapatkan kegembiraan tidak usah terlalu gembira atau congkak, itu semua juga sudah tertulis di Lauh Mahfudz.

4. Setelah saya terbengong lama sekali dengan bacaan sekilas yang benar-benar menohok saya. Dia pun menyapa lagi saya. Seakan mengingatkan apa yang saya lakukan ini tidak sia-sia belaka. 4 tahun saya kuliah, Tuhan memantau saya. Tiba-tiba, saya teringat dengan kimia. Dan entah apa hubungannya dengan elektro, tapi Ferum bernomor atom 26 dan Al-Hadid total jumlah angka abjad arabnya 26. Ya, jumlah elektron. Dan elektron itu maenan utama kalau udah ngomongin elektro.

udah.

saya nggak kuat lagi.

mungkin karena saya terlalu emosi.

tapi udah sampai di puncaknya juga. jadi saya nggak bisa melukiskan kejadian setelah itu dengan kata-kata. udah.

saya kapok.

You’re my only God. I believe in You.

Oya, satu lagi, saya juga ngerjain LDPC. Proyek tentang error correction. Saya sempat ngerasa TA saya lebih berat daripada LDPC. Dan saya mungkin merasa menomorduakan LDPC. Saya juga berpikir, apakah saya sia-sia mengerjakan LDPC? Dan Tuhan langsung menjawab saya secara kontan dan lunas.

Sejujurnya saat itu, saya sedang belajar tentang hikayat nabi-nabi besar yang pernah dikirim Tuhan ke berbagai umat di berbagai belahan dunia. Saya juga kepikiran untuk melist nama-nama Tuhan dalam berbagai bahasa di dunia. Kemudian sebelum saya melangkah lebih jauh, saya iseng mencoba menghitung jumlah kata ‘Allah’ di Al-Qur’an. Dan saya menemukan angka 2304 ayat.

Dan ohya, ekspansi yang selalu saya bicarakan di LDPC itu adalah ekspansi 2304.

(:

Terima kasih Tuhan atas segala pemberian yang engkau berikan kepada saya. Terlalu banyak kebahagiaan yang saya terima dari Engkau. Jika hambamu yang besar pernah berkata dunia ini bagaikan penjara, maka saya sadar, jika penjara saja sudah sebahagia ini maka janjimu lebih tidak bisa dibayangkan lagi kebahagiaannya, sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati siapapun juga.

Advertisements

Maha Ada

Short conversation I have done with my senior in past.

Q1. Apa itu hakikat?
Q2. Apa itu wujud?
Q3. Kamu percaya bahwa semua ini ada?
Q4. Kamu percaya bahwa kamu, dia, mereka, ini, itu, semua yang kamu lihat itu ada?
Q5. Lalu, percayakah konsep itu ada?
Q6. Lantas, apakah ada itu ada?
Q7. Kalau begitu, apakah tidak ada itu tidak ada?

I believe in You.