sebulan di Jakarta: hari cieee-cieee sedunia

Pada dasarnya saya orang yang mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Saya suka punya teman baru geng baru atau semacamnya. Tapi tidak sama suhu. (@.@;)

Sorry lebay, karena aslinya saya besar di lingkungan dengan suhu cukup tinggi, daerah pesisir Jawa Timur, Banyuwangi. That’s very damn hot! LOL Ahahaha… Pas masih SMA suhu setinggi itu saya anggap biasa. Tapi sejak saya pindah ke Bandung, saya jadi rada manja sama urusan suhu menyuhu. Maklum saya bener-bener jatuh hati sama Bandung. Bandung is very beautiful. Akibatnya kalau saya pulkam, biasanya 20 hari pertama saya habiskan dengan tidur-tiduran nggak pake baju buat menetralisir keringat yang keluar jor-joran (btw, gua masih pake celana kok :”>). Mandi 5 kali sehari pun hayu-hayu wae. Dan selepas masa-masa penyetelan ulang adaptasi suhu pun, biasanya saya masih males pake baju. Di mobil pun saya masih nggak pake baju. Ahahaha…

Dan sekarang, saya ada di mana? Saya ada di Jakartah sodara-sodara! #berasaGaul. Tapi doh, kotanya cui, masya Allah sekali. Kesenjangan sosialnya tinggi beut dah. Hawanya juga luar biasa sekali, jarang pohon. T.T Orang-orangnya juga ramahan di Bandung. Lalalala pokoknya. Saya dehidrasi yang jelas. Walau di kantor pake AC, di kosan, saya cuma bisa mengandalkan AC alami a.k.a. angin. Pokoknya gua harus beli AC dulu ntar klo mo bangun rumah di sini. … Eh …, nggak jadi deng, gua bangun rumah di Bandung aja deh. Ahahahaha…

Begitulah dan demikian.

Jadi, ceritanya, saya klo udah di kosan bete abis. Kantor jauh lebih menyenangkan (ya iyalah, ada AC, ada internet, …, ada apa lagi ya, LOL). Persis sebelah kantor ada mall. Ini sama anak-anak biasanya disebut jalur gaol. Puji Tuhan sekali, ada toko bakso seharga 30 rebuan. Mirip cerita di Surabaya, ada toko gado-gado seharga 50 rebu. Jadi di jalur gaol ini, kita sering beralay ria berjalan bergerombol. Tapi jarang makan di jalur ini juga sih. Karena ada jalur yang lebih tradisional dan lebih bersahabat di kantong. :”> Oh ya, gua lupa, divisi gua itu klo gua liat-liat divisi paling kompak deh. Kemana-mana selalu ngegeng. Ahahaha… Udah kek anak bebek aja klo mau makan siang.

Yang jelas, gua mulai mencintai (#bahasanya ~.~) keluarga baru gua. Orang-orangnya asik. Selain itu, kebiasaan kuliah gua nggak bisa ilang juga di sini karena suasana di divisi gua juga membantu mempertumbuh suburkan kebiasaan ini. Apakah itu? Tidak lain dan tidak bukan “cieee-cieee”. Setiap kejadian dan event selalu bisa dispot dengan kata-kata “cieee”. Emang, tiada yang lebih nikmat selain ngegoda orang buat cepet kawin (walau kasus non-kawin pun bisa dicieee-cieee-in juga). Wkwkwkwkw… Hari cieee-cieee sedunia keknya perlu gua canangkan di sini deh.

Tapi itulah, saya jadi kehilangan keremajaan kulit saya #7tandaPenuaan maka dari itu #olayPleaseHelpMe. 😥 Seorang kawan berkata, “gi, loe kecapean kerja ya? kok raut wajah loe lelah gitu.” Itulah. Gua dehidrasi. Berlebih. (#_#) Ntar deh gua beli m*izone atau ke mens skin center. Ada yang mau nemenin? Huahauhauhau… :p

Sekian postingan labil saya kali ini.

Pengen Ngritik, (some) Medias: Suck – Lebay

-___________________________________-‘

Jadi, saya pikir, hanya sinetron saja yang kebanyakan isi ceritanya samp*h. Dan saya tahu, blog saya pun juga banyak samp*hnya juga. Dan berhubung sama-sama samp*h, saya pun terantuk pada kejadian yang bener-bener menggelitik saya untuk pengen ngomong samp*h. Beberapa media massa, dalam kacamata saya, tingkat kedodolannya sudah sangat mendekati samp*h juga cem sinetron-sinetron kebanyakan. Sebut saja tv*** atau koran ****** atau situs berita *****.

Bad news is good news?

What the heck! Life is so full of beauty. There is good out there.

Thanks to selfhelpmagazine
Thanks to selfhelpmagazine

Nih, gua kasih saran buat pegiat berita yang suka bikin berita-berita samp*h dibesar-besarin. Hidup itu nggak cuman tentang buruk dan buruk. Korupsi atau hukum atau politik atau apalah, itu cuman subset di antara sekian banyak bidang yang ada di dunia ini. Pendidikan, teknologi, perlombaan, bilateral, sastra, kebudayaan, dll, masih banyak berita-berita bagus yang jauh lebih penting untuk dibesar-besarkan daripada masalah remeh temeh cem, -sorry, gua ambil contoh temporary- gayus, atau apalah.

Emang ya, klo gossip itu lebih mudah dibuat berita daripada sesuatu yang agak susah nganalisisnya cem kerja sama antar dua negara atau pergerakan harga sembako. Nggak tahu kenapa, gua ngerasa berita-berita jaman gua kecil dulu rasa-rasanya lebih nempel di memory daripada berita-berita belakangan hari ini yang sifatnya lebih reaktif dan impulsif. Nggak bisa ya bikin berita dengan analisis yang agak dalem? _nggak cuman berbasis perasaan sang pewarta beritanya doang.

Kesan yang gua tangkep, kebanyakan pegiat berita yang sekarang kek nggak punya kemampuan analisis. Ada juga yang nggak punya etika nulis atau menggelar acara show. Nggak banget lah. Sekedar tempel doang. Itupun berita-berita pop. Model-model kejar setoran. I don’t know. Kalau di beberapa koran, yang bagus biasanya justru kolom opini atau analisis dari orang eksternal. Oya, kalau koran juga, yang bagus biasanya versi cetak daripada versi onlen. Sisanya, ahahaha, euwh… ==’ Mending baca straitstimes daripada baca koran lokal via internet atawa nonton berita tv. Kalau nggak bisa nganalisis, mending beritanya netral aja deh biar nggak keliatan begonya. Karena kita bisa jadi sama-sama bego.

Sekedar saran buat pegiat berita yang hobi bikin berita negatif, kalian itu disimak orang banyak di negeri ini. Dan sayangnya masih banyak orang yang nggak punya kemampuan atau akses untuk menganalisis suatu hal. Akibatnya bener nggaknya berita banyak juga yang langsung percaya. Kalau setiap orang selalu direcoki hal-hal negatif terus, kapan bisa positifnya? Kalau semua orang udah ilang kepercayaan sama sebuah institusi gara-gara berita yang modelnya totum pro parte, bukannya itu sama saja secara nggak langsung memfitnah sisa institusi tersebut yang tidak melakukan hal tersebut?

Berilah berita yang bagus untuk bangsa ini. Beri kepercayaan diri kepada masyarakat lain yang perlu dibantu. Masih banyak masyarakat kecil yang butuh sokongan moril untuk bisa merubah nasibnya untuk terpecut maju mengejar saudara-saudaranya yang lain. Jangan sampai gara-gara berita buruk yang setiap hari datang kepada saudara-saudara kita yang masih butuh uluran tangan ini, membuat mereka kehilangan semangat mereka untuk memperbaiki hidup mereka karena merasa semua orang kesusahan. Nggak, nggak semua orang susah. Makanya, bikin berita bagus. Biar saudara-saudara yang butuh uluran tangan ini tahu, banyak saudara-saudara mereka yang lain bisa maju karena mereka terlecut untuk maju juga.

See the point?

Berita itu selingan. Hidup itu beneran. Jangan liat yang jelek-jelek aja kalau hidup nggak mau jelek. ==’

Gitu aja ah, curhatan sampah gua. Btw, gua bener-bener pengen kasih applaus buat media yang menurut gua profesional banget.

1. Antara
2. Kick Andy
3. Mario Teguh Show

They are the best in my view btw. 😀