Pengen Ngritik, (some) Medias: Suck – Lebay

-___________________________________-‘

Jadi, saya pikir, hanya sinetron saja yang kebanyakan isi ceritanya samp*h. Dan saya tahu, blog saya pun juga banyak samp*hnya juga. Dan berhubung sama-sama samp*h, saya pun terantuk pada kejadian yang bener-bener menggelitik saya untuk pengen ngomong samp*h. Beberapa media massa, dalam kacamata saya, tingkat kedodolannya sudah sangat mendekati samp*h juga cem sinetron-sinetron kebanyakan. Sebut saja tv*** atau koran ****** atau situs berita *****.

Bad news is good news?

What the heck! Life is so full of beauty. There is good out there.

Thanks to selfhelpmagazine
Thanks to selfhelpmagazine

Nih, gua kasih saran buat pegiat berita yang suka bikin berita-berita samp*h dibesar-besarin. Hidup itu nggak cuman tentang buruk dan buruk. Korupsi atau hukum atau politik atau apalah, itu cuman subset di antara sekian banyak bidang yang ada di dunia ini. Pendidikan, teknologi, perlombaan, bilateral, sastra, kebudayaan, dll, masih banyak berita-berita bagus yang jauh lebih penting untuk dibesar-besarkan daripada masalah remeh temeh cem, -sorry, gua ambil contoh temporary- gayus, atau apalah.

Emang ya, klo gossip itu lebih mudah dibuat berita daripada sesuatu yang agak susah nganalisisnya cem kerja sama antar dua negara atau pergerakan harga sembako. Nggak tahu kenapa, gua ngerasa berita-berita jaman gua kecil dulu rasa-rasanya lebih nempel di memory daripada berita-berita belakangan hari ini yang sifatnya lebih reaktif dan impulsif. Nggak bisa ya bikin berita dengan analisis yang agak dalem? _nggak cuman berbasis perasaan sang pewarta beritanya doang.

Kesan yang gua tangkep, kebanyakan pegiat berita yang sekarang kek nggak punya kemampuan analisis. Ada juga yang nggak punya etika nulis atau menggelar acara show. Nggak banget lah. Sekedar tempel doang. Itupun berita-berita pop. Model-model kejar setoran. I don’t know. Kalau di beberapa koran, yang bagus biasanya justru kolom opini atau analisis dari orang eksternal. Oya, kalau koran juga, yang bagus biasanya versi cetak daripada versi onlen. Sisanya, ahahaha, euwh… ==’ Mending baca straitstimes daripada baca koran lokal via internet atawa nonton berita tv. Kalau nggak bisa nganalisis, mending beritanya netral aja deh biar nggak keliatan begonya. Karena kita bisa jadi sama-sama bego.

Sekedar saran buat pegiat berita yang hobi bikin berita negatif, kalian itu disimak orang banyak di negeri ini. Dan sayangnya masih banyak orang yang nggak punya kemampuan atau akses untuk menganalisis suatu hal. Akibatnya bener nggaknya berita banyak juga yang langsung percaya. Kalau setiap orang selalu direcoki hal-hal negatif terus, kapan bisa positifnya? Kalau semua orang udah ilang kepercayaan sama sebuah institusi gara-gara berita yang modelnya totum pro parte, bukannya itu sama saja secara nggak langsung memfitnah sisa institusi tersebut yang tidak melakukan hal tersebut?

Berilah berita yang bagus untuk bangsa ini. Beri kepercayaan diri kepada masyarakat lain yang perlu dibantu. Masih banyak masyarakat kecil yang butuh sokongan moril untuk bisa merubah nasibnya untuk terpecut maju mengejar saudara-saudaranya yang lain. Jangan sampai gara-gara berita buruk yang setiap hari datang kepada saudara-saudara kita yang masih butuh uluran tangan ini, membuat mereka kehilangan semangat mereka untuk memperbaiki hidup mereka karena merasa semua orang kesusahan. Nggak, nggak semua orang susah. Makanya, bikin berita bagus. Biar saudara-saudara yang butuh uluran tangan ini tahu, banyak saudara-saudara mereka yang lain bisa maju karena mereka terlecut untuk maju juga.

See the point?

Berita itu selingan. Hidup itu beneran. Jangan liat yang jelek-jelek aja kalau hidup nggak mau jelek. ==’

Gitu aja ah, curhatan sampah gua. Btw, gua bener-bener pengen kasih applaus buat media yang menurut gua profesional banget.

1. Antara
2. Kick Andy
3. Mario Teguh Show

They are the best in my view btw. 😀

Advertisements

6 thoughts on “Pengen Ngritik, (some) Medias: Suck – Lebay

  1. sama gi, sy jg sudah muak…
    masa tiap hari dari pagi smpe malem dicekoki berita negatif, dr kasus kekerasan antar agama, bunuh diri, kemiskinan, sampai carut marut pemerintah…
    padahal masih byk berita positif yg lain yg bisa menumbuhkan semangat untuk bangkit, yg bisa menginspirasi untuk lebih baik. cuma pekerja di media kbanyakan nyari yg gampang n bernilai duit, ga perlu mikir n analisis mendalam. cenderung yg jelek2, krn kejelekan lbh mudah diingat dr kebaikan..

  2. ho’oh nur. tampaknya kamu sependapat dengan saya. hahahaha…

    satu yang gua tangkap, berita yang sekarang modelnya infotainment, gossip, dan kayak dikuasai sama orang-orang masih labil. klo di amerika media katanya dikuasai orang-orang yahudi, di indon kayaknya media dipegang anak-anak yang masih labil. kadang antara judul sama isi nggak nyambung klo di koran-koran. judulnya, provokatif misalnya.

    yang gua herankan, apa wartawan-wartawan jaman sekarang nggak diajari etika keprofesian gitu ya. menurut gua rada-rada norak kebanyakan. paling kentara kasus video ahmadiyah sama pemberitaan kasus ariel yang berlebihan. yang gua gak habis pikir, klo alasannya kebebasan demokrasi, sekalian aja media massa setel video porno di jam-jam pas keluarga nonton tipi semua. -_-‘

    dalam hal ini menurut gua, gua sedikit banyak mendukung ajakan Dipo. media minta pemerintah tegas. dan Dipo sudah cukup tegas tuh. baru digituin aja beberapa media udah reaktif. menurut gua di situ kelihatan banget noraknya.

    intinya, gua mulai luntur kepercayaan gua sama beberapa media massa..

  3. pingin media yang berimbang positif-negatif atau netral? Hmm,, menurutku sih agak susah ya, banyak faktor yang bermain di sana. Ibaratnya seperti ingin mendesain filter dengan daerah transisi yang sangat tajam sekali, tapi nggak pake ripple… 😆

  4. @petrus, saya setuju pet.
    mario teguh show emang benar-benar menginspirasi. mulai dari hal-hal sederhana tapi signifikan sampai pernyataan-pernyataan yang saya sendiri mungkin tidak berpikir sampai di sana. brilliant show! kalau acara-acara lain juga memiliki teknik penyampaian yang berbobot dan bermutu seperti mario teguh show, mungkin kita semua bisa jadi orang yang memiliki wacana-wacana baru setiap harinya. 😀

  5. @nanto, hahahaha… benar juga ya nto,
    saya pikir memang banyak hal-hal yang menjadi faktor kesubjektifan sesuatu. dan kalau tidak ada bumbu kesubjektifan dalam banyak hal rasanya memang sangat tidak manusiawi. dan, mwahahahahaha… daerah transisi memang akan selalu memiliki ripple dalam dunia nyata. :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s