Sepertinya Gua yang Belum Siap

Sebenarnya, debat adalah hal yang gua coba benci. Gua sudah lama mencoba meninggalkan segala macam perdebatan sejak cukup lama. Maklum, ane hobi debat dulu pas masih muda. Tapi belakangan ini, gua gabung ke klub yang membutuhkan argumen untuk terjun di sana, alias, debat.

Gua kembali lagi ke jalan yang dulu gua tinggalkan.

Dan jujur, gua ga nyaman dengan jalan yang gua tempuh ini. Tapi gua merasa, ada hal-hal yang memang tidak bisa untuk didiamkan. Semacam, loe ngelihat ada anak kecil lagi maen-maen tabung gas sedangkan di sana ada lilin yang sedang nyala. Apa yang bakal loe lakuin? “Ah, biarin aja. Selama dia nggak menggangu gua, gua fine-fine aja”, atau, loe ambil tindakan dengan kasih tahu si anak kalau itu bahaya?

Gua rasa, hati gua berkata gua kudu melakukan hal yang terakhir. Mengingatkan setelaten mungkin.

Tapi gua juga keknya kudu tahu diri, kalau si anak tetep nggak mau dengerin, gua keknya juga kudu ambil tindakan dengan cara menjauhi tuh anak. Maklum, khawatir klo ada apa-apa, misal si tabung bocor dan terjadi ledakan, ane bakal ikutan kena getahnya.

Dan ini yang gua takutin. Gua masih meraba-raba, kapan gua harus pergi dan kapan gua masih kudu meneruskan “perbincangan” itu. Intinya, gua takut ilang kontrol.

Tapi bukan itu yang jadi kegalauan ane sebetulnya. Kalau anak kecil tadi anak dari kampung sebelah, ane mungkin masih ngerasa ada kekerabatan jauh sama tuh anak, jadi kalau tuh anak kenapa-kenapa, gua ga terlalu kepikiran. Tapi kalau lawan yang gua hadapin adik sendiri, hati gua kok berasa ada yang lain ya. Sampai di sini gua sadar, tantangan terbesar itu bukan ketika berbagi pemahaman kepada orang asing, tapi justru kepada orang-orang terdekat kita. Itu yang gua sedihkan. Kadang gua ngerasa, gua nggak siap untuk ngobrol sama si adik sendiri ini, alias, debat dengan orang yang sebenernya berasal dengan background yang sejenis.

thanks to allgamewallpapers, yin yang

thanks to allgamewallpapers, yin yang

Sayangnya, belakangan, gua mulai melihat gejala main api bareng gas ini terlihat dari orang-orang yang sebetulnya masih satu “keluarga” sama gua. Gua ga pengin melukai perasaan orang-orang itu. Tapi di mata gua, beberapa dari orang-orang ini sudah mulai kelewatan. Dan gua ngerasa gua kudu ikutan nyemplung di sana sambil seakan teriak, “Woy, api woy.”

Keknya gua belum siap menghadapi orang-orang seperti ini.

The end. *Hasil nyemplung di beragam forum debat, dan, sayangnya timeline facebook gua justru sumber utama yang perlu gua perhatikan.

Advertisements