Kontemplasi Hidup Kecil-Kecilan: Hidup itu Melelahkan ya

Pernah ga kebayang dulu pas kita masih kecil kita mau ini itu, terus ternyata keinginan kita itu setelah kita telaah lebih teliti ketika dewasa, kita jadi menyadari keinginan-keinginan itu mustahil untuk didapatkan, entah karena kondisi, ketidakmampuan, dan macam-macam?

Gua pernah. Dulu pas masih kecil, gua pengin jadi pilot. Ini lipservice total. Keinginan asal nyablak SD yang gua sama sekali ga tahu kenapa ngomong pengin jadi pilot. Yang jelas, beberapa tahun kemudian, gua sadar, jadi pilot itu berbahaya. Gua pun membuang impian tadi, dengan bahagia. Maklum, judulnya aja masih anak-anak.

Pas SD, gua dulu lumayan lancar ngitung kali bagi. Dan karena hal ini gua udah ngerasa pinter dan GR. Akhirnya, dulu gua juga bercita-cita jadi Professor, yang kalau diterjemahkan ke bahasa akademis, setidaknya gua perlu jadi, mmm, S4, alias melampaui S3. Bagaimana dengan sekarang? Sekarang gua sangat menyadari dan insyaf, bahwa ini adalah cita-cita yang nggak gua banget. Haha.

Tapi ada juga cita-cita gua yang lumayan kecapai, cita-cita yang gua punya waktu SMA. Jaman ini gua udah mulai bisa berpikir rasional dengan melihat kenyataan hidup dan realita sekitar. Dan terpujilah Tuhan semesta alam, Tuhan memberikan jalan untuk cita-cita SMA gua, dengan memberikan gua kesempatan ikut perkuliahan di ITB.

Ah, ITB, kampus tercinta ane yang katanya lagi kena kasus ya. Terlepas dari itu, nih kampus adalah tempat jatuh cinta gua dengan yang namanya kehidupan. Gua jatuh cinta untuk hidup. Banyak kenangan gua di kampus ini. Sebelum masuk sini, pas simulasi tes SPMB, jujur, ane ga yakin ane bisa tembus masuk sini. Beberapa pelajaran dasar aja ane masih kelimpungan. Bahkan pengajar gua ada yang nyindir, bahwa gua kudu nyadar sama kemampuan gua sendiri yang pas-pasan. Btw, itu masa lalu. Kembali ke kampus.

Kampus ini di mata gua adalah kampus yang gua susah menyembunyikan kecintaan gua. Gua belajar banyak di sini tentang kehidupan. Di sini juga untuk pertama kalinya gua melihat masyarakat yang di mata gua adalah masyarakat madani. Dibilang liberal ya nggak juga, dibilang agamis ya nggak juga. Entah kenapa, gua melihat teman-teman gua dan pemikiran mereka komposisinya pas. Kampus ini membuka mata gua dan mengajarkan gua untuk toleran, menghargai manusia sebagai manusia. Yang terakhir masih gagal juga sih kadang-kadang. Haha. Intinya, gua senang di sini. Temen-temen terbaik gua semua ada di sini. Kalau gua diberi kesempatan lagi untuk kembali ke kampus ini tanpa beban ikatan, ane dengan sukarela pengen mengulang lagi pengalaman hidup gua dari tingkat 1 ke tingkat 4 gua di sini. Aaa, indah kakak… T____T.

Tapi hidup yang sebenarnya justru dimulai begitu lepas dari sini. Gua berhadapan dengan, yang orang-orang biasa sebut dengan istilah, “kerasnya dunia”. Dunia itu keras gan. Ngarep apa loe kalau maunya cuman bakal ketemu dengan hal-hal indah aja di dunia. Menghidupi diri sendiri itu berat ya. Jujur, kadang gua takut sama masa depan gua sendiri. Pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti, makan apa gua besok, mikirin tagihan, butuh berapa uang untuk nyekolahin anak gua, gimana gua kalau beli tanah, gimana bangun rumah, mau bekerja apa gua di umur 40, asuransi gimana? Pertanyaan-pertanyaan ini gaib banget. Walau loe sudah berusaha merancang sebaik mungkin rencana masa depan loe, Tuhan terkadang punya rencana yang ga pernah loe duga.

Tapi cobaan terberat hidup yang gua rasa cukup besar adalah membanding-bandingkan. Entah kenapa, ada satu titik di mana loe bakal ngerasa bahwa, rumput tetangga lebih hijau. Kepikiran juga kadang-kadang. Gua tahu tiap orang udah ada rejekinya masing-masing. Tuhan bakal ngasih makan gua besok dan besoknya lagi sampai Dia berkehendak lain. Tapi tetep aja, kepikiran. 😐

Tapi gua salah. Kalau loe cuman liat ke atas, keknya hidup loe bakal capek deh. Karena begitu gua liat ke bawah, entah kenapa gua bakal selalu pengin lari ke hadapan Tuhan dan teriak “terima kasih, terima kasih”. Banyak orang di dunia ini yang perlu uluran tangan jauh lebih krusial daripada sekedar rasa iri dengan tetangga. Karena gua pernah liat ada orang-orang yang mungkin, dalam standar hidup keduniawian, mereka kurang mampu, tapi kalau gua lihat mata mereka, tiba-tiba gua ngerasa ada rasa damai di hati. Mata mereka berkata bahwa mereka lebih damai dan bahagia daripada gua.

Apa sih kebahagian itu? Kebahagian itu adalah tingkat kepuasan antara realita dan harapan.

Kebagiaan = Kenyataan – Harapan

Semakin tinggi kenyataan yang ditemui, dan semakin rendah harapan yang dimiliki, semakin tinggi kebahagiaan didapat. Semacam puasa, loe berusaha mati-matian menahan lapar, di mana harapan loe cuman satu, loe ga ngerasa lapar-lapar dan dahaga-dahaga amat selama puasa. Tapi begitu berbuka, kenyataan yang loe dapat, loe mendapatkan kekenyangan dan rasa syukur bahwa loe masih bisa makan. Itu bahagia banget. Gua jadi sadar, itulah kenapa berbuka puasa itu adalah salah satu kenikmatan yang susah dilukiskan.

Maka dari itu, taruhlah harapan serendah mungkin, yang dalam kasus gua, gua kasih semua harapan gua ke Tuhan. Alias gua ga berharap banyak. Gua siap gua kalah, dan gua ga nolak juga gua sukses. Setelah itu bekerjalah sekuat tenaga. Hasil yang loe dapat pasti menyenangkan. 🙂

Sekarang ketika gua merantau, gua juga menemukan satu pelajaran baru yang tak tergantikan bagi gua. Pelajaran itu adalah Kebijaksanaan dan Hikmah. Ah, abstrak ya? Ga abstrak juga. Tapi mari gua perjelas. Gua Muslim, dan selama di Indonesia gua selalu menjadi bagian mayoritas. Gua lebih sering berpikir mindset ala mayoritas, daripada berpikir ala minoritas. Gua bisa ngomong dan ngasih statement seenak jidat gua selama di sana sebagai mayoritas. Tapi sekarang, gua hidup di tempat di mana gua hidup sebagai minoritas.

Dan sekarang, untuk pertama kalinya dalam hidup gua, gua tahu rasanya jadi minoritas. Gua ga pengin dramatis di sini, tapi jadi minoritas itu berat. Karena ketika suatu grup mayoritas melemparkan statement kepada minoritas ini dengan seenak jidat sendiri, itu, rasanya perih. Apalagi kalau loe ada di salah satu komunitas mayoritas mereka dan mereka memborbardir komunitas minoritas loe dengan segala tuduhan dan kata-kata kasar, itu rasanya perih sekali. Hati itu bisa sakit. Di titik itu, gua jadi sadar, inikah rasanya jadi minoritas? Walau tidak semua grup mayoritas itu memperlakukan grup minoritas seenak jidat, tapi tetep aja, yang keinget ya si grup yang meninggalkan luka itu. Tuduhan dan ketidaktahuan beberapa grup mayoritas itu terkadang bikin gua, pengin nangis, nangis sejadi-jadinya. Di situlah, gua menjadi semakin respek sama grup-grup minoritas di negara gua. Mereka kuat juga ya.

Keknya itulah salah satu hikmah Tuhan menyuruh umatnya untuk pergi mengadakan perjalan di muka bumi. Keluar dari zona nyaman, menetap di tempat lain, merasakan hidup sebagai orang asing, dan mengambil hikmah dan pelajaran yang sebelumnya belum pernah loe dapatkan.

Dan itu semua bakal balik lagi, bahwa, hidup itu keras gan. Dalam hidup itu pula kita ditempa, dicobai, belajar, jatuh, bangkit, jatuh, dan bangkit lagi. Melelahkan memang. Tapi di situlah indahnya hidup.

Akhir kata, marilah kita mengambil setiap pelajaran dalam hidup dengan penuh hikmat.

Advertisements