Tahun Baru ya Habis ini

Udah 2014 aja tiba-tiba. Gak tiba-tiba juga sih, karena tahun ini kehidupan gua lumayan stress. Tapi udah 2014 aja. Mana tanggal 31 Desember besok adalah ane dapet jatah ngelembur piket. Ah- cem betol ini. =_=’

Btw, setelah ane amati blog ane, blog ane klo ane reka-reka jejak rekam topiknya kira-kira begini.

A. 1/3 awal
Sekolah :: Review :: Organisasi :: Review :: Review :: Kehidupan :: Review :: Kehidupan :: Organisasi :: Kehidupan

Masa-masa ane lagi kaget hidup hedon (apa coba).

B. 1/3 tengah
Jalan-jalan :: Freak moment :: Alayisme :: Politik :: Kampus :: Kampus :: Kehidupan :: Review :: Pelajaran :: Pelajaran

Masa-masa ane lagi semangat-semangatnya berkampus ria.

C. 1/3 akhir (awal-awal)
Freak moment :: Politik :: Norakisme :: Reliji :: Politik :: Kehidupan :: Freak moment

Masa-masa ane lagi memahami kehidupan masyarakat Indonesia dan kehidupan gua sendiri. Tsah.

D. 1/3 akhir (akhir-akhir)
Korengan :: Agama :: Kerjaan

Masa-masa post-hijrah ke korewa.

Khusus bagian akhir, di post-post bagian ini ane amati kok kayaknya postingan diwarnai dengan satu topik khas ya: Agama. Agama? Iya, Agama. Kok gua jadi relijius gini ya pergi-pergi dari Indon. Seinget gua di Indonesia ane ga terlalu mikirin yang namanya sektarian agama dan semacamnya. Tapi belakangan isu agama jadi menguat dalam kehidupan sehari-hari melebihi isu kerjaan sehari-hari gua. Tapi bukannya korewa negara hedon bin non-agamis ya? Well, mari dipikir ulang.

Ada Aksi, maka Ada Reaksi

Dulu, banyak orang-orang sekitar pada suka mikir klo orang pergi ke luar negeri, balik-balik bisa jadi hedon atau murtad (loh?). Kek komik horor jadul surga dan neraka. Di sana ada dua tokoh. Tokoh pertama digambarkan sebagai pria sholeh, rajin sembahyang, ga neko-neko, tidak terpengaruh pendidikan barat, dan sederhana. Tokoh kedua digambarkan sebagai pria sukses, lulusan luar negeri, jelas terpengaruh pendidikan barat, punya perusahaan, dan kaya. Bisa ditebak, sang pria pertama digambarkan berakhlak baik dan masuk surga. Sang pria kedua digambarkan berakhlak tidak baik dan masuk neraka. Stereotip. Apalagi di tengah ributnya anak-anak alay yang teriak-teriak bentrok dua kebudayaan antara Barat dan Timur. Semacam, barat itu jelek, dan timur itu baik. Atau semacam jadi orang miskin itu beruntung, dan jadi orang kaya itu jelek. Hadeh.

Kembali ke korewa selatan. Ini pengamatan ane selama di korewa selatan, jadi ane ga tahu kasus di negara lain. Jadi, korewa selatan itu negara yang bisa dibilang penduduknya kebanyakan Ateis, ga beragama. Komunis dong? Salah, demokratis. Di Indon, banyak orang mengira klo ateis artinya komunis. Ini pemahaman yang salah kaprah, karena ada juga tokoh-tokoh muslim Indonesia jaman dulu tapi komunis. Perang korewa utara dan selatan pun perang ideologi, antara komunisme dan demokrasi, padahal mereka sejenis. Tapi, setelah beberapa lama ane mengamati kehidupan ekspat di sini, baik mereka itu Islam ataupun Kristen, rata-rata mereka jadi pada alim. Termasuk ane. Padahal temen-temen sekitar ane kebanyakan Ateis. Walau ada satu dua temen yang kristen. Padahal berdasarkan statistik harusnya 30 persen penduduk korewa itu kristen. Dan kalau kita ubek-ubek internet di kalangan mereka, akan ada 2 keyboard warrior yang mewarnai sendi-sendi kehidupan perinternetan korewa, regu Ateis dan regu Kristen. Regu Islam mana? Anggap aja nggak signifikan, karena minoritas di bawah 1 persen. Jadi klo di antara dua regu tadi nyerang regu Islam, udah pasti kalah suara, ngarep apa mau menang suara. Dan juga korewa kebetulan bahasa yang kaya akan ragam kata-kata kotor bin misuh, forum-forum pun akan tampak sangat berwarna, menyegarkan, penuh intrik, deg-degan, marah, sedih, terharu, pengen nonjok, pengen ketawa, semuanya, campur jadi satu.

Dari sisi kaca mata orang beriman, yang namanya keimanan itu diuji habis-habisan. Ya tentu aja ujiannya ya sesuai dengan kemampuan masing-masing. Misal, loe ga bisa bahasa korewa dan cuman bisa ngomong “Annyeonghaseyo. Kamsahamnida. Bye-bye.” dan hidup bersama-sama orang korewa, ujian loe paling sebatas pandangan aneh dari orang-orang sekitar atau susah nyari makanan halal atau berjuang membaca tulisan korea setengah mati pelan-pelan buat ngecek ada babi atau nggak di bungkus makanan atau klo beruntung, “diskusi” agama dengan teman-teman sebangsa. Klo loe pengurus mesjid dan bener-bener melebur dengan kehidupan korewa, ujian loe bakal lebih berwarna, mulai dari debat di siang bolong di jalan, ngurus perizinan yang dipersulit, rebutan sama sekte sesat, sampe ditipu di ranah hukum pun bisa kejadian.

FPK

Klo di Indon ada FPI, di korewa ada FPK (Front Pembela Kristen). Ini adalah grup favorit gua yang dari dulu pengen gua share di sini. Bahkan orang kristen korewa normal pun gerah ngeliat mereka. Bedanya mereka ada di mana-mana dan bisa diamati di jalan-jalan. Mereka ini epik dan vulgar. Ane terhibur juga ngelihat polah mereka kadang-kadang. Mereka bisa ditemui di jalan-jalan, dengan poster segede gaban di samping mereka, bertuliskan “Orang beriman -> Surga, Orang kafir -> Neraka”. Klo lagi semangat, mereka pake loud speaker, tereak-tereak mengulang kata-kata yang sama. Senorak itu? Ho-oh, senorak itu. Bagi member FPK yang beriman tinggi, kadang mereka datang ke kuil-kuil dan mendakwahi biksu-biksu di sana sampai polisi dateng. Klo loe berani berinteraksi sama orang-orang lokal, loe kadang bakal disamperin sama penginjil berpenampilan menarik di tengah jalan baik di siang bolong ataupun malam-malam. Biasanya sih Jehovah Witness. Klo loe orang korewa (yang ini curhatan temen gua sendiri), freak level akan meningkat di mana akan ada orang-orang yang mendatangi rumah-rumah dan ngajak penghuninya ke gereja. Seru deh.

Makanya, klo kehidupan keagamaan loe terusik cukup intens kayak gitu, secara naluriah loe pasti bakal membentengi diri. Siapapun. Siapapun yang punya norma-norma yang sudah terbiasa dimiliki semenjak kecil dan tiba-tiba dirubung dengan sesuatu yang asing, refleks paling naluriah dari orang tersebut jika merasa terancam adalah berontak dan memasang perisai semampu dia. Di saat-saat seperti ini, kenal dengan temen satu pemahaman atau satu iman aja senengnya setengah mati.

Aftermath

Makanya, terkadang ane super kecewa begitu ngelihat aktivitas keberagamaan beberapa grup di Indonesia. Terutama grup-grup yang hobi pecah belah. Gua benci luar biasa. Mulai dari grup-grup yang kritik jilbab “gak bener” gaya Indonesia, sampai ribut-ribut ngasih ucapan selamat ke lain agama di hari perayaan hari agama itu. Mereka itu sadar ga sih, manusia itu lari jika orang-orang menyeru dalam kengototan dan kekerasan. Masih untung ada cewek yang pakai jilbab, daripada mereka yang cuman pake bikini di jalan-jalan (di Indon jarang, di sini bertebaran). Salah dakwah mereka itu. Mereka menyerang saudari mereka sendiri, daripada grup lain. Dan kalau mau ngasih saran larangan ucapan hari raya ke agama lain ya jangan di hari-hari sekitar perayaan itu, didiskusikan di hari-hari biasa juga bisa. Itu semacam ada orang yang bikin artikel “Sesatnya Ramadhan. Ternyata Ramadhan adalah hari raya penyembah berhala di Yunani.” dan dipost pas di hari raya Iedul Fitri. Kekecewaan ane cukup memuncak ngeliat ribut-ribut nggak perlu klub sunni ke klub ahmadiyah dan klub syiah. Intinya gua kecewa. Setengah mati. Karena terkadang fitnahan mereka itu sama persis dengan kata-kata yang diucapkan grup-grup di sini yang menghina agama. Sama persis. Terus apa bedanya grup-grup itu sama mereka? Hampir ga ada. Beda stiker doang. Pemikiran mereka sama. Bedanya mereka sama-sama ngaku memperjuangkan “kebenaran”.

Udah. Ane sebel. Pokoknya ane sebel aja. Di postingan selanjutnya, ane mau bikin postingan tentang jalan-jalan aja deh. Hahaha.