Ngejaga Jarak

Gua itu GAGA (Gua tAhu Gua Alay). Tapi tiba-tiba pengen bikin tulisan alay.

Dulu, kalau gua pulang kampung, gua senang bukan main.

Maklum jarak Korewa Indonesia nggak memungkinkan gua untuk pulang seminggu sekali di zaman ini. Dan ketika gua pulang kampung, biasanya pun gua ketemu satu atau dua temen lama ngobrol-ngobrol. Ngobrol pake bahasa Indonesia sama orang lain itu ngangenin pisan. Ngobrol spontanitas, semacam ketemu sama mbak-mbak atau mas-mas di jalan, tanya jalan pakai bahasa Indonesia, ngeliat orang-orang senyum-senyum sendiri di jalan, ngomong sama penjaga warung, dll dst dsb.

Hal-hal sederhanalah.

Tapi kemaren pas gua pulang kampung kok kayaknya gua ngerasa ada yang beda ya. Entah kampung gua yang beda, apa gua yang ngerasa ga sreg. Gua semacam ngerasa, orang-orang yang gua temui dan ajak bicara di jalan pada ngejaga jarak. Banyak orang yang gua temui semacam ga lepas klo ngomong. Gua sempet mikir, apa karena gua ketemu orang-orang dalam keadaan formal terus ya. Atau apa gua terkesan sombong ya? Atau pakaian gua yang alaykah? Misal, nggak mungkin juga sih gua dateng ke Bank terus ngajak ngobrol orang Bank tentang cuaca. Ada juga orang lain yang ngajak gua ngobrol pas lagi ngantri, tapi kali ini gua yang bingung nanggepinnya.

Setelah gua analisa secara seksama, keknya ada satu yang bikin gua canggung sendiri, yang tidak lain dan tidak bukan adalah, gua jadi jarang tersenyum. 😐

Gua keluar rumah pasang muka jutek. Ketemu orang pasang muka jutek. Beli pecel pun juga pasang muka jutek. Tidur pun mungkin keknya gua juga pasang muka jutek. Gua juga jarang inisiatif nyapa orang duluan. Intinya ga Indonesia pisan lah. Klo dipikir-pikir, ya iyalah, siapa yang mau ngajak ngobrol orang jutek. Intinya gua jadi jarang senyum ke mana-mana. Senyum pun gua ga tulus. Padahal dulu seingat gua ke mana-mana gua senyum-senyum sendiri. Gua ngerasa gua bukan Agi yang dulu lagi. #bahasaguatolongsekali.

Inikah efek gua kelamaan pergi dari Indo?

Terus suatu hari, gua nemu iklan dari Telkom. Cheesy sih. Tapi bagus pisan sih. Hahaha. Tentang cerita Telkom masang WiFi di sekolah-sekolah di Indonesia. Dan ada SMA gua masuk. Haha. Btw, Indonesia itu luas. Ga negara yang ukurannya seiprit cem kebanyakan negara maju lainnya (kecuali Amerika). Bangun infrastruktur itu susah di negara yang tanahnya mencar-mencar kek gini.

Dan gua salut, sama Telkom.

Abis nonton ini, mata gua jadi keringetan. Cengeng nih gua. Dan gua jadi pengen cepet-cepet balik ke negara gua. Bangun negara gua sendiri…

Tapi Indonesia panas, jadi gua rada mikir-mikir untuk balik lagi. Haha.

Ada satu bangsa yang pernah ane kunjungi negaranya. Hampir semua orang yang ane temui di sana wajahnya bahagia semua. Semuanya tersenyum. Pakaian mereka sederhana, keseharian mereka sederhana, bicara pun santun sekali. Mereka memperlakukan tamu dengan hormat walaupun gua orang asing. Gua bahkan pernah ketahuan melanggar peraturan mereka, dan gua pun udah siap sama konsekuensi denda atau apalah. Tapi ternyata yang berwenang saat itu malah memaafkan gua. Speechless gua. Dan gua pengin suatu saat kalau bangsa gua maju, gua pingin karakter ramah bangsa gua yang di desa-desa tetap membekas di saat itu.

Gua benci orang sombong. Dan gua ga mau jadi cem orang sombong gara-gara gua hobi pasang wajah jutek sama bangsa gua sendiri. Tulisan ini gua bikin untuk peringatan buat diri gua sendiri untuk terus berusaha jadi orang yang ramah untuk siapapun yang ane temui.

Sekian. 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Ngejaga Jarak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s