Perang

Pernah dengar pengungsian besar-besaran warga Kristen di satu wilayah Irak?

Atau sudah dengar makam dan masjid nabi Yunus diratakan oleh ISIS?

Situs yang ditengarai makam nabi Danial pun juga ikut-ikutan dihancurkan.

Atau sudah pernah dengar ada gereja berumur 18 abad yang dibakar di sana?

11 tahun yang lalu, ada sebuah negara yang nyerang sebuah negara lain dengan alasan senjata pemusnah masal. Sampai detik ini, tuduhan itu ga terbukti. Rakyat negara penyerang marah merasa dibohongi. Beberapa dari mereka menuntut presiden penginisialisasi untuk dihukum sebagai penjahat perang.

Indah ya, ngelihat sebuah negara penjajah yang tobat setelah melakukan kesalahan.

Ah, tapi 11 tahun yang lalu pun, ada anak-anak kecil yang menjadi saksi peperangan ketika mereka masih berumur 8-14 tahunan. Anak-anak SD atau SMP yang ngelihat negara mereka diluluhlantakkan bangsa asing yang membebaskan mereka dari pemimpin mereka sendiri. Adakah sama opini dan pikiran di semua kepala anak-anak ini melihat negara mereka dibebaskan asing?

Nggak lah. Mereka akan terbelah berkubu-kubu ketika dewasa kelak. Pasti bakal ada yang dendam karena anggota keluarganya mati di depan matanya sendiri ketika masih kecil. Atau pasti ada yang bakal berterima kasih karena keluarga mereka terbebas dari belenggu sang diktator. Dan pasti ada juga anak-anak yang hanya bisa memendam kesedihannya di dada. Yang jelas ada satu kata buat mereka: trauma.

Dan ketika anak-anak yang trauma ini menginjak masa remaja mereka di umurnya yang 20 tahunan, bertemu dengan kesempatan yang menjulur dari negara tetangga mereka yang relatif aman dari tahun 2011-an, Suriah, maka reaksi yang ditimbulkan pun sudah tidak mengejutkan lagi.

Hasilnya?

Pernah dengar pengungsian besar-besaran warga Kristen di satu wilayah Irak?
Atau sudah dengar makam dan masjid nabi Yunus diratakan oleh ISIS?
Situs yang ditengarai makam nabi Danial pun juga ikut-ikutan dihancurkan.
Atau sudah pernah dengar ada gereja berumur 18 abad yang dibakar di sana?

Dan semua kejadian ini terjadi di Mosul. Tahukah kamu di mana Mosul itu berada? Ninawa. Yunus bin Mata, salah satu nabi dari sekian banyak nabi, yang umatnya menerimanya sebagai nabi, yang umatnya disanjung dalam Firmannya sebagai umat yang tidak mendustakan nabi yang diutus kepadanya, diutus untuk Ninawa. Dan mulai sekarang, kelak, jika generasi baru bertanya kepada kita, “Benarkah Yunus benar-benar pernah ada?”, maka jangan heran orang kelak berkata “ini tidak lain adalah dongeng-dongengan orang-orang terdahulu belaka”.

Jika ada yang bertanya berapa korban jiwa Suriah yang diakibatkan perang saudara sejak Maret 2011 ini, maka jawabannya adalah 160.000 jiwa, alias rata-rata 4.000 orang meninggal setiap bulannya. Lebih dari 4 kali jumlah populasi Monako, atau 40% dari seluruh penduduk Brunei.

Ah. Tuhan.

Lain cerita Eropa timur. Gua ada kenalan dari Ukraina. Sekarang pun gua khawatir sama keadaan mereka. Sejak kerusuhan Kiev, sudah lebih 1.100 korban jiwa akibat perang saudara di sana. 100.000 orang mengungsi dari tanah-tanah dan rumah-rumah mereka.

Palestina dan Israel? Speechless gua. Speechless. Sejak jaman gua bisa baca koran pun gua udah speechless.

Gua sadar, ga pantas gua berdebat di atas penderitaan orang lain. Ga sebanding.

Oh, Kongo.

Pernah dengar LRA? Grup yang merekrut anak-anak sebagai prajurit perang, demi membangun negara keTuhanan berbasis 10 perintah Tuhan. Jumlah korban jiwa memang nggak sebanding sama kasus Suriah. Tapi korban penculikan pun mencapai lebih dari 5000 orang.

Jauh di sana, Nigeria, ada Boko Haram.

Grup yang awalnya niatnya baik untuk mengedukasi anak-anak yang nggak mampu di seluruh Nigeria, memerangi kehancuran negeri, dan memperjuangkan kesetaraan golongannya, bisa berubah jadi grup yang memilukan untuk didengar. Puncaknya, lebih dari 200 siswa Nigeria diculik mereka. Ah, lagi-lagi anak-anak yang jadi korban. Mikir apa coba mereka?

Myanmar, IRA, Kashmir, Tibet, dst, banyak kisah sedih datang dari mereka. Bahkan gak jauh dari tempat gua tinggal, ada zona demiliterisasi paling ketat di dunia. Dan gua sadar, perang bisa pecah sewaktu-waktu di negara yang gua cari makan di sini ini. Kalau pecah perang, mau lari ke mana gua? Hah.

Ada juga tempat-tempat yang 28 persen dari total kasus pembunuhan di seluruh dunia datang dari tempat-tempat itu. Tersebutlah Meksiko, Honduras, dan Venezuela. Karena ada kota berjudul San Pedro Sula, sebuah kota yang rasio pembunuhannya adalah 169 kasus per 100.000 penduduk. Diikuti Acapulco dan Caracas, yang masing-masing punya rasio kasus pembunuhan sebesar 142 dan 119 per 100.000 penduduk.

Sedih gua. Gua bahkan sudah ga bisa bertanya lagi apa sih maunya orang-orang ini?

Dalam hati gua pingin bantu mereka semua. Gua pingin negara gua bantu mereka. Tapi gua sadar. Bantu pakai apa? Pakai daun? Bantu perang itu pasti bakalan memihak. Dan yang namanya memihak itu pasti kontroversial. Memang ya dunia ini berputar. Kadang kita di atas, kadang kita di bawah. Dan kita lagi ga di atas.

Gua sadar gua ga akan bisa merubah negara segampang main gaplek. Tapi seenggaknya gua bisa coba mulai dari diri gua, untuk berusaha ada di atas. Harga diri gua, kehormatan, kedudukan, atau apalah, seenggaknya gua pingin coba memulai dari diri gua sendiri dulu. Dan gua tahu banyak teman-teman gua yang lainnya yang gua lihat dari jauh, sedikit-demi sedikit mereka mulai memutar roda mereka untuk ke atas.

Indonesia. Ah. Bayangkan. Kita masih punya rumah. Kita masih bisa makan enak. Dan problem kita pun akhir-akhir ini juga seputar debat capres. Banyak penduduk kita yang masih sekolah. Banyak penduduk kita yang masih bisa komen nyinyir ngeliat korban perang di negara lain. Bersyukurlah kalian wahai manusia Indonesia. Tuhan masih mengaruniai kalian negeri dengan mayoritas jiwa-jiwa yang masih bisa berpikir jernih.

Adakah yang teringat kalimat ini, “Nikmat Tuhan manakah yang kalian dustakan?”

Nggak ada oh Tuhan. Dan gua berusaha tidak akan mendustakan nikmat-nikmat yang telah Engkau berikan wahai Tuhanku.

Advertisements

VBlog Kedua Belas – Ramadan

Assalamu’alaikum wr. wb.

Nggak terasa sudah mulai masuk sepertiga akhir Ramadan ya. Padahal perasaan baru kemarin Ramadannya, dan sekarang Ramadan sudah mau pergi lagi. Betapa waktu cepat berlalu. T_T

Bagi gua, Ramadan kali ini rada spesial dibanding tahun-tahun sebelumnya. Karena walaupun judulnya Ramadan, entah kenapa gua melihat intensitas fitnah beredar menjadi-jadi. Awalnya kejadian berawal dari kasus jambak-jambakan antar pendukung capres, di media sosial. Media sosial yang dulu berisi hal-hal gak penting namun membawa senyum, sekarang isinya mulai berisi hal-hal serius namun membawa ketidaknyamanan gak penting. Kata-kata kotor, makian, cacian, hilangnya tata krama, seakan menjadi norma bagi sebagian pegiat media sosial. Diperparah lagi dengan banyaknya berita sedih dari berbagai belahan dunia lain, seakan kezhaliman demi kezhaliman terjadi di depan mata. Dan gua sendiri ga bisa berbuat apa-apa…

Di Ramadan ini gua sadar bahwa kesedihan, konflik, dan peperangan di dunia ini masih banyak. Mulai dari LRA, Ukraina-Rusia, Siria, Israel-Palestina, Tibetan, Kahsmir, sampai kasus homeless pun banyak ditemui di jalan. Ngebaca berita pun emosi serasa dipush habis-habisan. Tapi emosi tadi ga seberapa dan ga ada bandingnya jika kita adalah orang yang mengalami penindasan dan kesedihan yang dialami oleh mereka.

Maka dari itu, arti Ramadan untuk berempati kepada mereka yang bernasib kurang baik dari kita bagi gua begitu terasa di Ramadan kali ini.

Indonesia itu negara yang sangat dikaruniai banyak keuntungan dibanding kebanyakan negara. Damai, ayem, tropis, orang-orangnya banyak yang ramah, walau ada satu dua juga yang bikin jengkel, tapi Indonesia itu negara yang relatif aman dari konflik, setidaknya dibanding negara-negara lain di luar sana. Ini mengingatkan gua sama Inggris, ketika negara-negara daratan Eropa lagi sibuk perang masing-masing, Inggris adem ayem karena lokasinya yang strategis. Yang pada akhirnya, mengantarkan si Inggris itu sendiri menjadi negara dengan pencapaian teknologi yang lebih baik dibanding negara sekitarnya yang sedang konflik di masa itu. Gua harap, Indonesia kelak bernasib sama.

Mari bekerja dengan segenap tenaga yang kita miliki. Makmurkan diri kita, cukupi keluarga kita, tinggikan derajat negara kita, sehingga kelak jika bukan kita, setidaknya anak cucu kita memiliki lingkungan yang kondusif memperkuat negara ini, menjadikan bangsa ini bangsa yang besar, yang disegani. Sehingga kelak jika ada bangsa lain yang dibuli-buli, bangsa ini mau bangkit dan berdiri membelanya.

Akhir kata, daripada mengutuk kegelapan, mari kita ciptakan terang pada dunia kita dengan cara kita masing-masing.