Gundah dan Jenuh

Gua merasa semakin jauh sama Tuhan.

Gua belakangan super ga produktif. Bukan dalam hal kerjaan tapi, karena lumayan sibuk bulan-bulan belakangan. Tapi karena gua semakin jarang menginspirasi diri gua sendiri. Gua semakin jarang nyiram kejiwaan gua dengan hal-hal positif. Gua biarin tumbuh apa adanya. Dan hasilnya ga begitu bagus, dibilang seger ya nggak dibilang layu ya nggak. Intinya rona pemikiran gua mulai kerasa ga ada passionnya.

Apakah gua bosan dengan kerjaan gua? Ga. Malah suka banget. Salah satu kerjaan yang gua impikan, puji Tuhan, sudah Doi ijinkan gua nyicip. Apakah gua terlalu banyak masalah belakangan ini? Ga. Malah gua super lempeng-lempeng aja. Super terprediksi. Super teroganisir sampai gua bosen sendiri. Apakah temen-temen gua nyebelin? Ga. Temen-temen gua seperti biasa menggemaskan dan menyenangkan.

Apakah gua bosan dengan lingkungan gua? Mmm. Kalau ini sih ya, hahaha. Realita kehidupan di sini adalah, gua melihat golongan-golongan ekspat, bule kebanyakan, (yang mari kita singkat sebagai x-4) yang hobi ngeluh. Ngeluh tentang hal-hal yang sangat sehari-hari. Awalnya gua nganggap golongan ini rada kacrut dan lemah. Hal-hal sepele kok dikeluhkan. Eh ternyata, acara batin membatin gua menghantam diri gua sendiri. Karena gua mulai mengeluh saudara-saudara, seperti kebanyakan x-4 lain yang suka ngeluh dengan lingkungan mereka.

Ada aja kejadian yang bikin gua poker face tiap minggunya. Gua selalu mengingatkan diri gua sendiri akan orang-orang baik yang gua temui di sepanjang tempat ini untuk mengimbangi ke-pokerface-an gua. Apakah gua dibuli masyarakat setempat? Nggak. Tapi gua kecewa sama kejiwaan beberapa golongan di sini. Harus gua akui tempat gua ini memang mengalami pencapaian luar biasa di bidang keduniawiannya. Sekali lagi, kisah itik buruk rupa jadi angsa cantik jelita memang super menarik untuk diamati. Tapi saking keduniawiannya, semua jadi terkesan mengutamakan penampilan, bukan isi. Karena si isi ini, adalah bagian yang paling gua pertanyakan dari tempat ini.

Untuk kesekian kalinya dalam hidup gua, gua melihat kehampaan. #dramatis

thanks to Poker Face

thanks to Poker Face

Buset dah kalimat gua. Hahaha. Gua kangen pelajaran kehidupan yang gua dapet dulu hampir tiap hari. Gua kangen masa-masa gua belajar hal-hal baru tiap hari. Gua kangen kehangatan dan keramahtamahan bangsa gua sendiri tiap hari. Gua kangen juga masa-masa gua ngopi-ngopi ganteng di cafe tiap hari. Gua gundah (bukan galau yak). Hahaha.

Di tengah-tengah rasa kangen negara gua sendiri yang padahal gua baru aja balik dari sana, gua ada dilema. Dilema yang gua pikir mengada-ada tapi setelah gua pikir-pikir kok jadi agak serius lama-lama.

Gua selalu sakit sehabis balik dari Indonesia.

Ah, ini lah kan. Selalu. Berawal pas gua masih kuliah gua pulang kampung gua batuk pilek sampai kembali lagi ke sini. Kejadian ini lama-lama berlanjut dan berlanjut. Dulu malah pernah parah, 3 minggu ga sembuh-sembuh. Dan pas acara pulang kampung kemarin pun, gua batuk pilek lagi yang ga mereda-reda walau gua pakai tidur seharian. Untungnya cuman seminggu. Selain itu kulit gua selalu bereaksi pas pulang kampung. Menyiksa pisan lah. Sudah alergikah gua sama suhu, udara, dan cuaca kampung gua? Gua bisa berpikiran begitu karena gua ga sakit klo gua pergi ke negara lain yang suhunya ga jauh beda sama tempat ini. Suhu. Badan gua mulai alergi sama suhu udara panas. Seriusan. Gua mau ketawa denger diagnosis gua sendiri tapi sedih dalam waktu bersamaan. T_T

Padahal gua mendambakan menghabiskan waktu masa tua gua di negara tropis gua sendiri. Berlari-lari di pantai. Ketawa-ketawa sama keluarga. Minum es kelapa di bawah pohon apapun. Menikmati sinar ultra violet rame-rame. Bangun rumah bertemakan ramah alam dan elegan. Naek angkot nganter anak jalan-jalan ke taman rekreasi terdekat. Makan sate, makan gado-gado, makan rujak cemplung, makan rujak soto, makan ayam penyet cisitu. Foto-foto, terus upload facebook. Seneng-seneng, dan masuk surga. Haha. Impian standar gitu lah ya.

thanks to travelhub, insureandgo

thanks to travelhub, insureandgo

Mungkin benarlah ungkapan semakin lama bergaul dengan pandai besi maka engkau pun akan terimbas baunya. Gua butuh bergaul lebih sering dengan para pembuat parfum tampaknya.

Akhir kata, gua butuh makan buah dan sayur lebih banyak lagi. Sekian. 😀

Advertisements