Bahasa Tanpa Bertata

Sore itu kelabu terlukis. Derulah angin menghujan jendela. Kabut terlihat jauh terpendar. Cahaya sore di tengah air berintik. Dingin menyengat relungan kulit. Damai terasa senyapkan indera. Ah, jauhlah asa pikir berterbang. Indahnya senyuman ingatan berpawai.

Sejenak ada berpikir, apa jua tulis yang kugores?

Gurat - Thanks to: yarnswithatwist, Remodelista on BenjaminMoore's White, dreamstime's sample on water

Gurat – Thanks to: yarnswithatwist, Remodelista on Benjamin Moore’s White, dreamstime’s sample on water

Namun, di situlah. Di situlah nikmat saat secangkir nuansa kopi jadi peneman. Lirih lamunan mata lurus khidmat memandang. Sedang luaran, hujan terbasa jalan berempas. Berlari bersimpang ruang orang terlihat. Di tengah pacuan ramai hilir bermudik.

Tuhan, terima kasih.

Pernah lelah ada diri terasa. Pikir berjamur mendaki hasrat. Irilah mata berpacu nafsu. Bibir syukur terhilang muram.

Padahal, engkau wahai pengemban misi. Emaslah ada pun terserak sorai. Sendirilah engkau jatuhkan gegap. Beruntunglah engkau yang tak bersia syukur. Saat tetesan embun menampar halus.

Ah.

Jari pun ini bersadur merunut. Mencoret garis dalam kertas terbuku. Suasana hangat biru terasa. Saat deru berderas percik. Gelegar bingar justru tenang membawa. Jauh, jauh di temaram sana, ada secercah cerita warna biasa. Warna yang tak berbeda jua terbanding sekitar. Bersama segenap insan berjuang. Di saat juang ialah peluh terindah.

Sesaat diam memanggil lirih. Entah mengapa hanya terucap bisa. Damai. Damai rasanya. Damai bergelora di dalam sini.

Gurat, 20141112

Advertisements

Ketibaan Musim Dingin

Waktu ga terasa jalannya cepet ya. Rasanya baru September kemaren gua perpanjang visa gua, baru April kemaren gua balik jalan-jalan, baru Januari kemaren gua ngelihat monyet-monyet pada mandi. Dan sekarang, gua ketemu musim dingin lagi. Musim yang gua ga bisa umbar-umbar aurat lagi. Haha.

Gua pribadi seneng-seneng sebel sama musim dingin. Gua seneng karena gua suka suhunya. Walau bisa minus di bawah 0, badan gua ga rewel sama suhu musim dingin. Melankolis lah. Menenangkan.

Yang gua ga suka dari musim ini adalah kalau salju turun. Bagusnya di awal doang. Sisanya jalanan jadi licin karena es membeku. Orang lokal pun banyak yang berkali-kali kepeleset jatuh. Gua yang bukan orang lokal? Haha. Apalagi kalau hujan turun, wah, itu, menambah efek licin es jadi lebih licin lagi. Gua selalu takjub sama anak2 yang bisa lari-lari di atas salju tanpa jatuh. Selain itu hari-hari entah kenapa jadi suram, cem mendung-mendung ga jelas gitu. Kurang matahari lah. Nemu secercah kehangatan matahari aja senengnya bukan main. Bahkan buka freezer kulkas pun rasanya bisa lebih hangat daripada suhu sekitar.

Wah, ternyata lebih banyak yang ga gua suka ya. Haha.

Kerjaan gua prediksi bakal ga terlalu banyak berhubung beberapa sudah mulai bisa gua beresin belakangan. Maka dari itu tahun baru gua ada rencana mau pergi ke tempat hangat, atau kalau ga, bisa dibilang panas. Lima hari udah gua coba alokasiin. Gua ga sabar nunggu hari H datang. Entah kenapa gua seneng aja nunggunya. 😀

Ah, gua inget. Gua juga baru aja dapat hasil tes kesehatan.

Haha. Ini hasil nggak banget lah. Hal yang sama sekali ga pernah gua bayangin waktu jaman SMP ataupun SMA. Jaman-jaman gua kurang gizi. Kangen gua masa-masa alay gua. Belakangan gua yang udah ngerasa nggak bener sama pola hidup gua, gua mulai coba perbaiki lagi asupan makan gua. Buah pun gua jus hampir tiap hari. Kata dokter gua disarankan menghindari makanan yang paling gua cintai. Maka ayam pun gua tinggalkan sama sekali. Ah, tragisnya.

Akhir kata, semoga liburan besok bisa menoreh bekas yang lumayan membekas di ingatan gua. Besar kemungkinan gua bikin laporan video jalan-jalan gua di liburan mendatang.

Last winter trip

A post shared by 亜木 Prasetiadi (@agiprasetiadi) on

Akhir kata, selamat beraktifitas semuanya.
🙂