Pengalaman ke China tanpa Visa – China Eastern Airlines – TWOV

Pada umumnya untuk masuk China, WNI membutuhkan visa. Nah kebetulan kemaren, untuk mengisi liburan dalam rangka mengingat 215 tahun dibubarkannya VOC, gua memutuskan ingin jalan-jalan ke kota-kota di negara sekitar (Korea), yang dalam hal ini gua putuskan China sebagai negara tujuan gua. Dulu pernah gua dibantuin bikin visa turis ke China, dan saat itu dokumen yang perlu disiapin ga seribet visa negara tetangganya. Tapi teuteup, gua ga ada pengalaman bikin visa turis China langsung dan gua pun males cuti bolak-balik bikin dan ambil visa di sini. Ditambah gua dapat info, visa turis ke China mensyaratkan masa berlaku Alien Card (kartu kependudukan orang asing di Korea) minimal 6 bulan. Adapun visa gua adalah visa yang kudu gua perpanjang di akhir tahun, alias gua ga memungkinkan apply visa turis ke China di bulan-bulan Juli ke bawah.

Namun ternyata Tuhan menunjukkan cara lain. Ternyata tiket pesawat dari Seoul ke Singapura lebih efisien dibanding gua beli Seoul ke Shanghai atau kota-kota sekitar. Terlebih Papi gua ada di Medan yang notabene deket dengan Singapura. Dan tiket Seoul ke Singapura ini memungkinkan gua untuk transit di Shanghai hampir seharian. Dan yang lebih menyenangkannya lagi, ternyata China memiliki kebijakan TWOV aka Transit Without Visa (Transit Tanpa Visa). Di China kebijakan ini memungkinkan para pengguna maskapai untuk berhenti sebentar di kota transit setelah melewati imigrasi, dan diperbolehkan untuk berkeliaran bebas di kota tersebut (dalam beberapa kasus, bebas di daerah tersebut) selama kurun waktu 24 jam.

Tiket pun mulai gua pesan untuk tujuan Singapura. Saat itu pilihannya China Eastern Airlines yang tersedia. Ini gua lihat-lihat harganya murmer untuk ukuran penerbangan jarak jauh. Bisa dibilang Air Asianya China, walau ada juga yang China Southern Airlines. Iseng-iseng gua ngecek rating nih maskapai, dan gua pun menemukan berita bahwa dia masuk 10 maskapai terburuk. Komen-komennya banyak yang ngeluh tentang makanan yang di sediakan. Suram. =_=’

China Eastern Airlines. Thanks to: ch-aviation

China Eastern Airlines. Thanks to: ch-aviation

Btw, gua pun mulai mencari-cari Hostel murah daerah Shanghai. Oh ya, Shanghai ini punya 2 bandara internasional, Hongqiao sama Pudong. Dan bandara kedatangan gua berbeda sama bandara keberangkatan gua. Gua kudu turun di Hongqiao baru kemudian besoknya nyambung penerbangan ke Singapura via Pudong. Dan dua-duanya ini jauh jaraknya. Maka gua pun memutuskan untuk nginep di Hostel yang lokasinya kira-kira ada di tengah-tengah kedua bandara tadi, yang ternyata, setelah gua lihat-lihat peta, banyak tempat menarik yang bisa gua datangi di sekitar Hostel gua.

Peta Bandara Hongqiao ke Pudong. Thanks to: map.baidu

Peta Bandara Hongqiao ke Pudong. Thanks to: map.baidu

Maka tibalah hari H. Sebetulnya masih terbesit rasa kurang percaya diri di gua. Pertanyaan-pertanyaan cem, “Ini beneran boleh diijinkan masuk ga ya di Shanghainya. Bijimana prosesi pengurusan TWOV ini? Ada bagian sendirinyakah atau gimana?”, bermunculan di otak gua. Soalnya publikasi tentang TWOV ini lebih kenceng informasinya yang tentang TWOV 72 jam. TWOV 72 jam sendiri adalah kebijakan TWOV untuk pemegang paspor negara-negara tertentu, yang Indonesia, ternyata tidak termasuk di dalamnya. Singkat kata, akhirnya gua pun berangkat dari Incheon menuju Shanghai. Si counternya ga mempermasalahkan rencana ke-TWOV-an gua, dia malah justru nanyain status visa Singapura gua. Padahal Singapura masuk perjanjian bebas visa ASEAN.

Sesampai di dalam pesawat kesan pertama yang gua lihat, kabinnnya ga jelek-jelek amat. Ga sesuram poto kabin yang ane temuin di google. Bener-bener mengingatkan gua sama Air Asia. Juga, seinget gua walau kursinya agak keras, tapi tetep nyaman untuk diduduki. Intinya, interiornya bisa dibilang bagus. Setelah selang beberapa lama pesawat berangkat, pramugari pun mulai ngebagiin makanan. Dan pas nyampe di kursi gua, gua ngelihat tulisan “肉” aka “daging” di bungkus makanan. Gua pun tanya ke si pramugarinya ada ga makanan vegetarian. Dia pun rada bingung karena makanan tampak tidak ada, dan dia pun balik bertanya, sudah pesen makanan spesial belum sebelum berangkat? Dan gua baru ngeh si China Eastern ini menawarkan jasa makanan khusus yang bisa dipesan sebelum berangkat. Alhasil gua pun cuman makan roti. Hik. Ah, tapi untungnya, penerbangan leg kedua gua dari Shanghai ke Singapura, mereka ada sediain dua jenis makanan, yang salah satunya adalah “鱼” aka “ikan”. Puji Tuhan, gua pun bisa makan di perjalanan yang kedua ini. Pas ane lihat, isinya itu cem ikan lele deh keknya. Haha. Btw, selese dengan makanan gua pun beralih nonton film. Ini gua lupa-lupa ingat, kayaknya ya, ada leg penerbangan yang ga ada filmnya. Tapi yang ada filmnya, koleksi filmnya lumayan oke punya doi.

Setelah perjalanan singkat, maka pesawat pun nyampe di Hongqiao, Shanghai. Di ruang kedatangan imigrasi, sudah banyak orang berjejer antri masuk. Gua awalnya pikir klo TWOV 24 jam ada loketnya sendiri atau diurus maskapai. Dan gua tidak melihat kedua hal itu. Gua pun siap-siap ngeluarin tiket gua yang nunjukkin klo gua ada tiket pergi ke negara ketiga yang nunjukkin klo gua cuman transit di bawah 24 jam. Ternyata selang ga berapa lama, ada petugas imigrasi yang mondar-mandir ngecekin penumpang sambil tanya-tanya apakah mereka transit atau nggak. Giliran gua nyampe di depan petugas imigrasi dan lapor klo gua transit, si petugasnya langsung ngarahin gua dikumpulin di area sendiri setelah garis pembatas masuk imigrasi di mana ada petugas transit khusus TWOV di sana. Banyak orang-orang pada berdiri nunggu di sana. Paspor ane pun diminta. Mereka meriksa paspor satu-satu dan tiketnya ternyata. Yang lolos pemeriksaan pun mulai dipanggil satu-satu. Lama gua nunggu, ada 10-30 menit kali ya. Sampai akhirnya ada petugas yang nyocokin paspor gua sama wajah gua dan doi pun ngasih paspor gua sambil ngangguk bilang, “OK”. Haha. Gua akhirnya lolos dan bisa masuk China tanpa paspor. Hore. Jadi tips gua, klo kalian lagi TWOV-an dan kebetulan ngerencanain transit yang mepet antar 2 airport, ada baiknya diperhatikan juga waktu buat pemeriksaan transit.

Ada sesuatu yang menarik yang gua amati sewaktu gua transit balik dari Singapura-Shanghai ke Shanghai-Incheon. Waktu itu gua berangkat sekitar jam 11:25 malam Singapura dan nyampe Shanghai jam 4:55 Subuh. Mata gua masih beberapa Watt dan gua pun masih belum 100 persen sadar waktu turun. Di bandara kedatangan ada loket khusus bagi mereka yang transit tanpa masuk ngelewati imigrasi. Dan itu antrian udah mulai mengular. Dan jam segitu si loketnya masih adem ayem aja. Ada mbak-mbak yang nungguin loket sih, tapi mereka ga ngapa-ngapain. Beberapa bule yang ga sabar ngedatangin tuh meja nanya kapan dibuka. Mereka jawab sesuatu. Gua ga denger. Yang jelas si bule, yang kebetulan bawa maknya, keluar dari baris antrian dan langsung nyelonjor di kursi tunggu. Ane pun keluar antrian dan mengarungi toilet dan tempat-tempat nongkrong sekitar bareng warga-warga asing yang pada bengong-bengong ga jelas. Ternyata sodara-sodara, loketnya bukanya jam 5:30 pagi. Untung gua ga pegang penerbangan lanjutan di bawah jam segitu. Barulah ane bisa masuk ke ruang boarding yang masih sepi dan selonjor tidur di salah satu kursi gate sepi pagi itu.

Mobil Bagasi

Mobil Bagasi

Oya selain itu, transit balikan ini juga menguras ati. Sebelumnya ane pernah denger temen ane delay 2 jam di Shanghai, dan katanya ini tempat emang terkenal delaynya sama tuh maskapai. Tapi maskapai ane ternyata ga ngetem tuh manggilin penumpang di boarding room, aka tepat waktu manggilnya. Gua pikir ane beruntung masuk pesawat tepat waktu. Gua pun udah ga sabar segera nyampe Incheon dan tidur di rumah. Nuansa kabin saat itu gray, pramugari-pramugarinya hilir mudik pasang wajah sedikit senyum. Di luar pun cuaca mendung. Gua teringat gua sempet ngelihat mobil bagasi masukin barang ke dalam pesawat. Lama gua menunggu. Ada kira-kira beberapa menit, si kapten ngasih pengumuman yang gua rada ga ngeh apa maksudnya. Suasana ceria di hati gua pun mulai bete. Karena pesawat ga berangkat-berangkat. Detik pun berjalan lambat. Yang setelah gua amati gua mulai gelisah karena pesawat ga berangkat-berangkat sesudah 1 jam ane nongkrong di dalem. Beuh. Buset dah. Klo delay di boarding room gua masih bisa keluyuran jalan-jalan atau beli makanan atau cuci mata lihat pemandangan. Nah ini, gua diphpin di dalem kabin yang ga tahu kapan berangkatnya. Ngelihat orang-orang mulai ga sabar, para pramugari pun mulai ngebagiin makanan ke orang-orang. Lumayan ngehilangin kebosanan. Makanan pun beres. Terus ngapain? Haha. Bete gua di dalem kabin pas itu. Sampai akhirnya, 2 jam kemudian pesawat pun berangkat. Akhirnya!

Bener-bener pengalaman unik naik si China Eastern. 😀

Sebetulnya masih banyak yang pingin gua ceritain selama gua di Shanghai sama di Singapura. Tapi intinya, not bad juga naik ini pesawat. Gua ngerasa gelar 10 maskapai terburuk keknya berlebihan untuk pengalaman gua kali ini. Karena pelayanan jalur yang gua naiki cukup baik dan memuaskan, kecuali delay tadi. Lumayan lah recommended buat yang demen perjalanan murah via Shanghai.

Berikut video acara jalan-jalan singkat gua di Shanghai.

Akhir kata, selamat berjalan-jalan.

Advertisements