Sebuah Pintu

# Cerita ini gua tulis dengan berbagai perumpamaan yang bisa gua comot di pikiran gua.

Ada sebuah pintu. Sebutlah sang pintu berjubah. Pintu yang indah jika dilihat dari luar. Sedari dulu gua selalu coba ketuk beberapa kali. Tapi tampaknya pemilik pintu seakan malu-malu kucing membukakan pintunya. Walau begitu, terkadang, sang pemilik pintu akan membuka pintunya sedikit untuk gua. Dari dalamnya, hempasan cahaya halusnya, bebauan harum makanan, dan indahnya pemandangan di dalamnya, cukup membuat gua takjub terpana beberapa waktu. Dalam waktu sekejab tersebut, sang pemilik pintu pun menutupnya kembali meninggalkan gua dengan segala angannya di kepala. Sang pemilik pintu berjanji, suatu waktu, suatu waktu, gua akan dipersilahkan masuk ke dalamnya jika gua udah siap.

Waktu demi waktu berlalu. Dari kejauhan terkadang gua memperhatikan lalu lalang orang-orang yang keluar masuk dipersilahkan pemilik pintu masuk ke dalamnya. Dari kejauhan pula, gua belajar memahami dan meniru gerak-gerik mereka. Aneh. Unik. Elegan. Mempesona. Berbagai macam kesan gua dapatkan dari mereka yang melalui pintu itu. Dan, seiring berjalannya waktu pun, gua mulai menyimpan sebuah rasa percampuran, antara ketidaksukaan dan kesukaan gua terhadap pintu dan orang-orangnya tersebut. Gua ingin pintu itu dan segala yang ada di dalamnya, tapi gua juga takut menjadi orang-orang yang gua benci lihat berlalu lalang di pintu itu.

Ah.

Mungkin gua melupakan pintu-pintu yang lain. Sejujurnya sudah banyak pintu-pintu lain yang seiring berjalannya waktu mulai terbuka satu demi satu buat gua. Banyak hal yang gua dapat dari pintu-pintu lain tersebut. Tapi tetap, pintu berjubah tadi menjadi obsesi tersendiri bagi gua. Gua tampaknya kurang bersyukur. Gua pun bertanya, apa yang bisa gua dapatkan dari pintu berjubah yang menjadi obsesi gua tersebut?

Hingga suatu hari, sang pemilik pintu berjubah akhirnya mulai membuka pintu tersebut sedikit demi sedikit buat gua. Pintu yang gua tunggu-tunggu sekian lama, akhirnya terbuka. Dari dalam, cahaya pintu tersebut mulai menyinari tempat gua berdiri. Banyak hal yang menarik ternyata yang bisa gua temui dari tempat berdirinya gua dengan cahaya pintu tadi. Hingga kemudian, gua melihat, terdapat 2 buah gelas di belakang gua. Gua dekati kedua gelas tadi.

Lorenzo Extra Virgin Olive Oil. thanks to: foodhq

Lorenzo Extra Virgin Olive Oil. thanks to: foodhq

Sebuah gelas berisi minyak zaitun. Warnanya begitu indah. Cahaya pintu tadi membuat minyak itu berpendar begitu elegan. Lama. Lama sekali gua memainkan gelas berisi minyak zaitun tadi. Tak lama kemudian, gua pun mendekati gelas yang satu lagi. Kali ini gelas ini berisi air putih. Sparkling. Jernih warnanya. Bening. Gua bisa melihat jelas isi gelasnya, walau ga jelas-jelas amat. Pendaran cahaya yang muncul darinya sangat menenangkan.

Souroti Sparkling Water. thanks to: totalwine

Souroti Sparkling Water. thanks to: totalwine

Cuman satu jenis gelas diperbolehkan dibawa saat itu. Gua gundah, dengan gelas yang gua mau. Dalam hati gua tahu gelas mana yang harus diambil. Tapi teuteup, akhir-akhirnya gua berasa alay.

Hahaha.

Haaaa—ah…

Mungkin ini yang disebut cobaan. (:

Advertisements