Mobil dan Rumah

Waktu kuliah, keinginan gua dulu sebatas nonton film, jalan-jalan, lulus kuliah, berprestasi, cepet dapet kerja, hidup bahagia, dan sejenisnya. Yang namanya keinginan, tampaknya selalu berubah seiring berjalannya waktu. Keinginan di waktu SD tentu berbeda dengan keinginan di waktu kuliah. Dan keinginan di waktu kuliah, tampaknya berbeda dengan keinginan di waktu gua sudah bekerja.

Mobil dan rumah, gua suka sama dua entitas ini. Kalau gua bosen kerja, gua sering ngelihatin web mobil-mobil sejenis Lambo dan semacamnya di situsnya. Bagus sih. Bikin apa ya kalau diistilahkan, hm, bikin gua tiba-tiba ada kesenangan yang datang bergelombang-gelombang. Seperti bertemunya air dan tanaman yang sudah lama ga disiram. Gua suka otomatis senyum-senyum sendiri lihat mobil-mobil beginian. Sayangnya, harga mobilnya bikin istighfar.

😀

Kemudian adalah rumah. Gua mendambakan sebuah rumah yang nyaman. Berbau petrichor maksimal jika diguyur hujan. Ada jendela yang bisa gua pakai buat merenung memandang luaran kalau hujan. Sederhana, minimalis, luas, tapi ada ruang-ruang nyaman yang bisa gua habiskan buat baca buku di siang hari atau ngelamun menikmati semilir angin. Kalau bisa, gua juga mau bikin bertingkat. Gua juga mendambakan ruang tamu gua lesehan, ditemani deretan kursi malas berbentuk bantal memanjang, dengan meja rendah ala-ala minimalis. Hah. Sangat berorientasi gua sekali ya. Padahal masih ada keperluan keluarga lain, seperti perabotan, meja, pembersih, alat masak. Belum lagi keinginan istri gua. Belum lagi kamar buat anak-anak.

Selain dua entitas di atas, gua juga masih membutuhkan beberapa hal lain yang sangat prinsipil. Panjang kalau dilist di sini. Dan itu adalah hal-hal yang gua temui di kebanyakan keluarga yang gua tahu sewaktu kecil. Tapi entah kenapa, biaya hidup di masa ini, dan di kota besar, tampaknya selalu naik tiap tahunnya.

Kadang gua termenung mikirin masa depan. Dan itu menyadarkan gua akan berbagai hal.

Hah. Banyak ya keperluan hidup itu.

Advertisements

Ingatan Kehidupan Gua Terawal yang bisa Gua Ingat

Ada sebuah ingatan kehidupan. Memori kehidupan gua terawal yang pernah bisa gua ingat. Samar, bahkan begitu samarnya, gua ga yakin itu mimpi atau bukan. Uniknya, ingatan ini adalah ingatan yang paling membekas, paling kentara, dan paling terngiang dibanding ingatan-ingatan gua yang lain.

Gua ga tahu gua umur berapa waktu itu. Tapi ada satu yang gua yakin gua inget, bahwa gua “sadar” secara tiba-tiba. Berikut cuplikan ingatan kehidupan terawal gua.

Sumpek. Pengap. Sesak. Tiba-tiba gua sadar entah kenapa.

Gelap.

Gua sadar, kalau gua tersadar. Gua masih inget, gua seperti punya kesadaran penuh tiba-tiba. Seperti bangun tidur, gua seperti ngebawa beribu pikiran terpendam yang menunggu untuk dieskpresikan.

Berontak, gua pingin berontak dan ngomong. Tapi ga bisa. Gua bahkan seperti pingin jalan.

Tiba-tiba gua sadar ada di mobil malem-malem. Mobilnya tampak menyinari jalanan depan gelap dengan 2 lampu depannya. Ngelewati jembatan.

Jalan gelap. thanks to: booklikes

Jalan gelap. thanks to: booklikes

Nah lho. Sejujurnya ini absurd, dari mana gua bisa tahu konsep mobil dan jembatan di ingatan terawal gua. Hahaha. Btw, ingatan gua masih berlanjut sebetulnya. Cukup panjang. Gua cukupkan sampai di sini. Karena gua pribadi melihat ini sebagai salah satu ingatan paling berkesan dalam hidup gua karena terngiang-ngiang sampai sekarang.

Gua ga tahu umur berapa ingatan gua ini. Tapi gua entah kenapa sedikit percaya, mungkin ini ingatan awal-awal gua didatangkan ke dunia. Haha.

Gua tampaknya harus lebih banyak referensi tentang topik ini lebih lanjut.