Papan-Papan Pembuat Mata Pening

Belakangan gua mengintensifikasikan acara jalan-jalan gua ke daerah Cina Daratan. Gede bok, segede gaban pisan lah negaranya. Rasanya sayang banget kalau ndak dieksplore. Walau sebetulnya badan gua bakal pegel-pegel naek bus 3 jaman, tapi setidaknya gua udah berusaha untuk menjadi backpacker traveller dadakan.

Ini negara rasanya gado-gado. Orang-orang yang gua temui pun gado-gado. Dan, ternyata mereka ini orang-orangnya rasnya bermacam-macam. Dulu klo di Indonesia, di benak gua, yang otomatis terpikirkan ketika mendengar Cina adalah orang-orang dengan karakteristik tertentu, seperti berkulit putih, bermata sipit, berambut lurus, ulet berdagang, banyak orang kayanya, makanannya eksotis, dan sejenisnya. Sayangnya, semua streotype tadi gagal total ketika gua menginjak kaki gua ke tanah empunya.

Perkenalan gua dengan Cina Daratan pertama kalinya justru dimulai dengan kata-kata, “Ewh!?”

Balada si ribut

Tersebutlah gua pergi ke sebuah kota di pedalaman Cina. Katanya sih salah satu daerah termiskin di China. Jadi gua ga terlalu berharap banyak bakal menemukan hal-hal yang bakal bikin gua ternganga. Tapi ternyata penduduk lokal daerah tersebut yang gua temui di lounge keberangkatan sudah bikin gua ternganga duluan. Mereka ribut. Buset dah. Mana suaranya keras kayak orang mau bertengkar lagi. Seumur-umur baru kali itu gua menemukan segerombolan manusia yang suaranya naik turun kayak orang gagal nyanyi dengan suara keras dan ndak enak didengar sama sekali dan menyangka bahwa mereka bakal saling jambak-jambakan di tempat gara-gara berantem sesuatu. Tapi raut wajah mereka menampilkan kesan yang sama sekali lain, mereka senyum-senyum, wajahnya polos, manyun, pokoknya sama sekali ndak ada kesan marahnya. Ini ya, kalau misalnya gua bisa nge-mute suara orang dan cuman bisa lihat ekspresi wajah mereka, kayaknya bakal fine-fine aja kesan pertama gua. Ah, belakangan gua menemukan bangsa lain yang cara bicaranya lebih parah dari mereka, dan bonusnya, bikin mau ngakak ngedengernya.

Kembali ke Cina Daratan, maka singkat cerita, pesawat gua pun mendarat dengan menyenangkannya di kota tadi. Di pesawat sebetulnya gua udah ngecoba ngepraktekkin Mandarin gua yang belepotan, tapi daripada gua beresiko salah pesen makanan, gua gagalkan, dan gua pun pakai bahasa Inggris di dalam kabin. Sebegitu gua keluar airport dan nyegat taksi, gua pun memberanikan diri meliuk-liukan nada bicara gua sekuat tenaga dan seinget memori gua untuk ngasih tahu tujuan gua. Di luar dugaan, gua merasa fasih! Si supir taxi langsung paham, dan kita pun berangkat. Ternyata rasa hiperbola tadi hanya sesaat. Terbukti setelah ngomong agak panjangan sama si pak sopir, kejanggalan-janggalan mulai terasa. Si pak sopir mulai ndak paham sama omongan gua. Padahal gua udah merasa bener ngucapin nada kata-katanya. Dan seiring ngaconya nada-nada gua, kata-kata yang gua ucapkan pun mulai gua rasa kacrut tata bahasanya. Akhirnya tangan gua pun ikut-ikutan gerak buat mempertegas bahasa gua yang semakin mirip Tarzan.

Singkat cerita, sampailah gua di hotel dan melakukan aktivitas tujuan awal gua dengan seperti biasa. Bosen di hotel, gua pun pingin jalan-jalan. Melihat pemandangan dan kehidupan sosial masyarakat sekitar gitu. Gua bersiap pergi pakai kaos dan celana 3/4. Mbak-mbak resepsionis terbelalak ngelihat kostum gua. “Apa sih, jarang lihat cowok kece ya?” pikir gua. Begitu pintu lobi kebuka, gua merasa ada yang janggal. Udara malam itu begitu, …, berbeda, berbeda dengan udara Bandung. Dengan berbekal peta di ipod, gua pun mencoba mencari warung di sekitar yang buka malam itu. Kebingungan, gua pun mencoba nyegat setiap orang yang lewat buat gua tanyain lokasi yang pingin gua tuju. Sayangnya, ndak ada yang mau berenti bantu gua yang kebingungan. Semua yang gua deketin pada ketawa-ketawa cekikikan gua tanyai sambil pergi berlalu. Eh, tapi tadi kan emang ada yang berbeda kan ya. Dan gua sadar, badan gua mulai menggigil hebat ga terkontrol. Udaranya ternyata, buset, kelewat dingin. Gua merasa ada di freezer raksasa, dalam keadaan singletan doang. Gua pun buru-buru lari ke hotel menyelamatkan diri mencari kehangatan. Akhirnya gua pun ganti baju yang lebih hangat.

Balada restoran Halal

Halal. thanks to: mzb

Halal. thanks to: mzb

Di luar, makanannya ga ada yang bikin selera sama sekali. Banyak pedagang pinggir jalan jualan daging-dagingan yang dibakar ndak jelas. Baunya pun menyengat, ndak harum seperti makanan-makanan Cina kebanyakan di Indonesia. Selain itu gua mulai mengenali bau babi secara samar-samar. Eits, tapi tunggu dulu. Gua ngespot sebuah restoran yang makai salah satu Hanzi buat kata Islam. Subhanallah, jangan-jangan rumah makan halal, pikir gua. Gua pun mendekat dan mulai mengamati pekerja di dalamnya. Isinya tipikal orang-orang ras Han. Gua mencoba mencari tanda-tanda ‘keislaman’ restoran ini. Gua berusaha coba nyari kaligrafi bismilah atau logo halal atau semacamnya. Ndak nemu. Tapi mas-masnya pekerjanya pake kupluk, dan cewek-ceweknya pakai, mmm, jilbab? Tapi kok jilbabnya tembus pandang. Tapi gua yakin itu model jilbab. Tapi kok nanggung?

Gua pun memberanikan diri nanya ke mbak-mbak resepsionis. Gua langsung tanya. “Islam?” Si mbaknya bengong. Dia manggil temennya. “Bismillah?” Mereka geleng-geleng ndak paham. Temen pekerja yang lain pun datang. Dalam hati, buset, salah restoran deh gua kayaknya. Ah, gua kan bisa huruf Cina, walau versi Kanji sih. Kenapa ga gua tulis aja dan tunjukkin mereka. Ndak mau kecolongan lagi, maka gua pun keluarkan buku note kecil gua, dan gua pun dengan panik mulai nulis, yang kira-kira “Gua ndak makan babi, kalian masak ndak pake babi kan?” Si mbak-mbaknya mbaca. Dia mengernyit. Temen sebelahnya pun juga. Semua mengernyit. Lah!? Ini orang Cina bukan sih? Masak ndak bisa baca tulisan Cina. Masak gua salah nulis? Setelah agak lama bengong, gua baru sadar, gua nulis Kanji, yang pada dasarnya mendekati huruf Cina tradisional aka Fantizi. Fantizi dipakai di Makau, Hongkong, sama Taiwan. Sedangkan orang-orang Cina Daratan pakai set huruf Cina yang lebih sederhana yang namanya Jiantizi. Gua pun mulai ga yakin gua tahu Jiantizi untuk kata “babi” dan “makan”.

Gua pun langsung tembak pakai Mandarin gua yang belepotan, +- “Kalian ndak pakai babi kan masaknya?” Semua langsung kompak ngomong, “Oh ndak! ndak! Kita ndak pakai babi.” Okay, 50% kayaknya ini resto halal walau gua masih belum bisa mengidentifikasi identitasnya. Tapi teuteup gua ragu. Masak gua sebut “Bismillah” tadi mereka ndak nyaut. Akhirnya gua pun pamit. Dan kabur beli roti. Sampai hotel, setelah gua coba googling ternyata mereka pakai huruf yang berbeda untuk kata “babi”. Baiklah. Gua pun mulai mencoba membagi mana Jiantizi mana Fantizi secara hati-hati. Dan pagi-paginya gua baru ngeh 100% bahwa itu restoran halal. Dan mereka ternyata bangsa yang sensitif sama nada. Salah baca huruf, atau salah sebut nada naik atau turunnya, mereka bisa ndak paham sama sekali. Pantesan gua sebut Islam kemaren ndak ngeh, orang mereka ngejanya Yi-si-lan. Ya ampun, maafkan saya meragukan kalian mas mbak.

Balada “Ewh!?”

Cina itu gede. Dengan gede di sini itu maksudnya super gede pisan. Di peta kelihatan deket, tapi begitu dijabanin buat jalan, kaki gua mulai gontai ngos-ngosan. Gua tahu menggeneralisir suatu kumpulan grup dengan satu kuas itu pasti salah. Tapi ini kesan salah yang gua dapat pertama kali ketika berkenalan dengan Cina Daratan. Banyak yang suka meludah sodara-sodara! Ndak tua ndak muda, semua meludah sembarangan. Dan kalau meludah, mereka fasih sekali. Dibunyikan sampai ke ujung qolqolah, “Tscyuih!” Buset dah. Agak stres gua dengernya. Di jalan klo gua perhatiin, jalan kudu hati-hati karena bisa jadi ada cairan-cairan tidak dikenal berserakan di bawah.

Btw, setelah agak di luar lamaan, kok gua merasa udaranya bau ya? Baunya super menyengat. Ndak pernah seumur-umur gua mencium bau daging semenyengat ini. Tapi gua belum pernah mencium bau seperti ini. Setelah agak menyasarkan diri ke sana ke mari, gua pun sampai di daerah jualan daging. Ya ampun, ternyata itu babi sodara-sodara. Babi-babi yang baru dikuliti atau dicacah digantung. Banyak. Dan itu bau. Baunya menyengat sekali. Sebuah bau yang susah gua lupain sampai sekarang. Sebetulnya gua dari dulu juga penasaran sih sama babi itu kayak gimana rasanya, bahkan foto-foto babi di google yang keluar kadang lucu-lucu. Gua sempet kepikiran klo di dunia ini ndak bisa makan babi, nanti aja deh kalau gua masuk surga, gua pingin makan babi di sana. Tapi kenyataan yang gua temui di jalanan mengurungkan niat gua untuk nyoba babi selama yang gua bisa. Bikin eneg! Ilang selera makan gua sama sekali. Namun gua pun mencoba makanan mereka yang gua yakini vegetarian. Tapi ternyata teuteup, gua ndak cocok ternyata sama makanannya. Makanannya banyak bikin tenggorokan gua sakit. Banyak minyaknya. Dan kebetulan gua pun sensitif sama minyak berlebih. Klop deh. Di mana-mana minyak. Bahkan mie pun berminyak. Eh tapi di rumah soalnya gua bikin mie goreng dengan cara direbus sih. Akhirnya gua pun banyak-banyakin makan bakpao sama roti sama bubur doang pas di sana.

Balada manusia Elegan

Pengalamannya ndak asik semua ya? Eh jangan salah, kan gua udah bilang di awal Cina itu gado-gado. Dan ndak bisa digeneralisir semuanya. Karena di lain waktu, gua justru mendapatkan segala kesan kebaikan dari Cina di acara jalan-jalan gua yang lain. Tersebutlah gua ke Shanghai. Sebuah kota metropolitan ceunah. Tapi gua pun sudah bersiap dengan menurunkan segala ekspektasi yang pernah gua alami di pengalaman-pengalaman sebelumnya. Tapi ternyata, gua mulai merasakan sesuatu yang beda. Pesawat yang gua tumpangi ke Cina ndak ribut. Lho? Kok, tumben ndak kayak pasar kayak kemarin? Bahkan mbak-mbak Cina yang duduk sebelah gua pun kalau ngomong pelan sekali, gua sampai kudu ndengerin apa yang dia coba katakan. Si pramugari yang ngelayani si mbaknya pun nggak kalah pelan. Mereka bersuara tapi seperti sudah mengerti satu sama lain, lirih, cepat, dan efisien. Hebat!

Turun di pesawat pun gua mulai mendengar ‘lagu’ naik turun ini secara masif lagi. Tapi kok, kayaknya kali ini terdengar beda. Orang-orang yang gua temui semua berbicara dengan Mandarin yang terdengar super elegan. Bernada, pelan, tempo yang pas, dan susah diikuti. Pertama kalinya gua merasakan bahwa bahasa Mandarin itu indah (dan susah) adalah dari mereka-mereka ini. Gua pun ancang-ancang melihat jalanan di kota sekitar memeriksa apakah ada ranjau air atau ndak. Dan di luar dugaan, bersih sodara-sodara. Udaranya pun gua coba hirup, bersih! Oh… inikah bagian dari Cina di mana orang-orang berbudayanya pada ngumpul? Terus gua coba amati polusi kotanya. Dan ternyata bersih juga. Eh ada yang ndak elegan-elegan amat sih kelihatannya, karena sungainya kuning. Inikah sungai kuning yang gua pelajari waktu gua masih SD? Kuning sekali sungainya. Ternyata judul sungainya Huangpu, dan ada kata Huang di sana, yang secara harfiah artinya emang kuning.

Gua pun mencoba mengarungi kota gede ini. Semuanya tertata rapi. Busnya nyaman dinaiki. Transportasi modern. Orang-orangnya juga, mmm, elegan-elegan. Mungkin karena mereka lebih kaya dibanding kota lain yang relatif lebih miskin ya, jadinya mereka lebih mudah diatur. Eh, diatur? Yakin mereka mudah diatur? Jalanannya ternyata yang susah di atur. Ini kacrut pisan, masak lampu merah pun diterobos sama mobil-mobil dan motor-motor. Ngebut lagi. Gua sampai deg-degan kalau mau nyebrang di zebra cross. Bahkan gua berpikir, ini pasti sering kecelakaan deh klo kondisinya begini. Tapi penduduk lokalnya lempeng-lempeng aja nyebrang zebra cross, dalam keadaan lampu masih merah buat nyebrang. Dan yang lebih bikin mlongo lagi adalah, orang-orang asingnya pun juga pada ngelanggar aturan, nyebrang pas saat lampu masih merah. Bahkan kadang ngasih contoh. Buset! Mereka ketularan.

Tapi seriusan, itu doang sih komplain gua. Sisanya semuanya terasa begitu indah. Pedagang-pedagannya pada sopan-sopan. Bahkan terkesan malu-malu. Pernah suatu waktu gua masuk McD-nya Cina. Gua pun bingung mau pesan apaan. Dan gua melihat menu ikan! Kebetulan gua masih belum tahu cara baca Hanzi untuk menu itu, maka gua pun menulis Hanzinya di atas note yang gua bawa dan gua tunjukkin ke mbak-mbak kasir. Dia bengong ngelihat gua nulis. Dia baca sepintas pesenan gua. Terus dia ngomoh, +- “Oh, fish? With fried fries? Big or medium? Do you want to eat here?” Ternyata dia lancar ngomong Inggris. Luar biasa mbak!

Selain itu, daerah ini juga membuka mata gua akan China. Judulnya aja kota besar. Seperti Jakarta, semua suku dan ras tumplek blek jadi satu. Di Shanghai pun begitu, semua suku dan ras tumplek bleg jadi satu. Pertama kalinya gua melihat orang-orang Cina yang tidak berwajah ‘Cina’ yang gua lihat di Indonesia. Jenis orang-orang Cina yang gua temui pun hampir komplit sudah, mulai dari yang berwajah Asia Tengah, Turki, keArab-araban, keJawa-jawaan (suer ndak bo’ong), sampai yang berkulit kehitaman pun ada. Bahkan gua melihat pasangan interracial keluyuran menghiasi kota. Maka gua, yang dalam salah satu episode hidupnya pernah dipanggil Cina walau ndak ngerasa Cina sama sekali, pun tak ketinggalan ikut diajak-ajak ngobrol sama orang-orang lokal karena disangkanya orang lokal.

Balada Mata Pening

Hong Kong

Hong Kong

Pada dasarnya, hampir sebagian besar waktu dalam hidup gua dihabiskan untuk membaca tulisan-tulisan yang berasal dari negara-negara Asia Timur, seperti Jepang, Mandarin, dan Korea. Karena gua tinggal di Korea, maka sebagian besar kehidupan gua, gua coba habiskan untuk ngebaca Hangeul. Tapi sebelum ke Korea, ada masa-masanya gua menghabiskan sebagian besar waktu gua membaca buku-buku berbahasa Jepang diselingi buku-buku berbahasa Cina. Proses transisi gua dari habit ngebaca Kanji ke Hangeul itu berat sekali. Apa ya, sistem huruf Jepang itu kompleks dan paling susah yang pernah gua pelajari seumur-umur, tapi efisien dan cepat untuk dibaca dan dimengerti. Bahkan tingkat kekompleksannya mengalahkan huruf si ibunya yaitu Hanzi Cina Daratan. Sehingga ketika gua mulai membiasakan diri membaca Hangeul yang sama sekali bukan ‘piktogram’, ada kehilangan yang sangat besar dalam tingkat kemampuan membaca gua di huruf-huruf Cina tadi.

Dan semuanya jadi super terasa menyakitkan begitu gua menginjak Hong Kong. Sakitnya bukan di hati sih, tapi di mata. Karena Hong Kong memakai Fantizi, alias huruf-huruf 11-12 jenisnya sama Kanji Jepang, bedanya, lebih usil goresannya. Sebagai ilustrasi, Jiantizi (huruf Cina Daratan) itu seperti tulisan yang disingkat-singkat kaya abg-abg lagi sms, sedangkan Fantizi (huruf Hong Kong, Taiwan, dan sekitar) itu seperti tulisan yang ditulis apa adanya. Sebagai ilustrasi, tulisan “Hy, km skrg lg da di mn sich?” dan “Hai, kamu sekarang sedang berada di mana sih?” terasa bedanya kan? Sekarang bandingkan juga dua tulisan ini, “我们能听见你” dan “我們能聽見你”, terasa mana yang lebih ngabisin tinta kalau buat diprint kan?

Dan semua huruf dan tulisan yang gua temui di Hong Kong adalah huruf-huruf Cina tradisional apa adanya tadi, lebih ruwet, lebih banyak goresannya, lebih susah dimengerti, dan lebih susah dibaca klo ukurannya kekecilan. Papan-papan iklan yang seharusnya membahagiakan malah berefek sebaliknya buat gua yang mencoba membacanya. Perih, mata gua perih, gua udah lama ndak terbiasa ngebaca tulisan kecil-kecil begitu. Mana ternyata Hong Kong itu pemilihan kata-katanya jauh lebih beda daripada Cina daratan, seperti Indonesia versus Malaysia, cuman lebih ekstrim. Baca peta google map pun harus gua gedein berkali-kali biar jelas huruf-huruf yang gua baca. Pertama kalinya dalam hidup gua, gua merasa butuh kacamata. Dan nada bicara mereka sama sekali beda sama Cina Daratan, karena bahasanya berbeda. Mereka pakai Kanton. Lebih kompleks dan lebih naik turun bervariasi. Buset dah. Pertama kalinya gua kagum sama sebuah bangsa hanya gara-gara pemilihan gaya hidup mereka, dalam hal ini, tulisan yang mereka pertahankan mati-matian.

Gua termenung di pinggir jembatan penyebrangan. Gua lihatin wajah-wajah mereka yang keluyuran di sana. Gua bertanya-tanya, ndak capek ya baca tulis begituan. Dan emang banyak sih mak-mak, bapak-bapak, dan anak-anak yang pake kacamata di mana-mana. Dan tampaknya kekhawatiran gua ndak beralasan. Karena mereka lempeng-lempeng aja.

Eits tapi tunggu dulu. Bahkan, gua mulai sadar, bahwa cowok-cowok di Hong Kong yang berseliweran di depan gua seperti gua, mereka buncit-buncit. Akhirnya! Gua menemukan negara di mana para lelakinya buncit juga kayak gua. Gua tidak sendiri lagi. Hore, artinya mereka bahagia-bahagia aja hidupnya. Buktinya suka makan. Karena selama di Korea gua sebetulnya agak tekanan batin sih klo ngelihat badan gua yang udah mulai melebar. Kapankah gua seseksi dulu lagi sewaktu masih kuliah? Karena orang-orang di sekitar gua pada slim-slim. Dan akhirnya gua punya temen kebuncitan. Ah, Hong Kong. 😀

Istirahat

Istirahat

Akhir kata, sekian laporan tertunda jalan-jalan gua. Bagi yang akan menikmati Cina, gua mengucapkan, “Selamat mengarungi!” ^^