Pijet

Gua penggemar pijet. Pisan.

Setiap gua jalan ke negara lain hal yang pertama gua buru adalah pijet atawa massagenya. Begitu pun kalau dalam perjalanan dalam negeri, entah pas lagi nyebrang kapal, nunggu keberangkatan, bengong di kota lain; yang mana kalau gua lagi kosong gua pasti sempatkan nyari sesuatu yang mau mijetin gua, baik manusia ataupun kursi yang bisa bergetar. Bahkan kalau lagi duduk bareng sama temen pun kadang gua godain, “pijetin gua dong gan”. Dan beruntunglah gua punya banyak temen-temen yang selalu sukses digoda, mereka pun mau mijetin gua.

Dan posisi favorit gua ketika pijet adalah ketika sandaran. Apalagi kalau kursinya gede, empuk, dan lucu. Itu rasanya super ultimate pisan itu kenikmatannya. Gua seakan bisa mengerti arti kata-kata ini.

على سرر موضونة متكئين عليها متقابلين
Mereka berada di atas dipan yang bertahta emas dan permata. Seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan.

Ini sangat gua hayati sekali kemungkinan khayalan yang paling bisa gua khayalkan. Kenikmatan surgawi bagian ini adalah salah satu gambaran yang paling bisa gua mengerti dan paling bisa gua recreate dan rasakan sedikit percikan-percikannya. #tsah

Pijet paling ideal gua adalah, di mana gua pingin rebahan di kursi gede mirip kasur super duper elegan bercorak gelap dan empuk dan penuh bulu-bulu lucu, ditemani temaram lampu dan aromaterapi ndak jelas yang enak baunya, sambil diiringi musik ndak jelas juga tapi menenangkan, di ruangan yang super menenangkan, ditemani pemijet paling handal, yang juga handal ngobrol ndak jelas yang menyenangkan, bonusnya apalagi kalau pelanggan kanan kiri bilik ikutan nimbrung ngerumpi.

Masih banyak lagi sih sebetulnya ide-ide acara pijet-memijet ini yang ada baiknya ndak gua tuliskan di blog ini. Tapi yang jelas intinya, dari alam bawah sadar gua, gua mendambakan kehidupan super rileks dengan kegiatan liburan setiap harinya sambil bertelekan di atas kasur atau apapun yang menyenangkan sambil menikmati pemandangan yang menyengangkan-menyenangkan dengan ditemani sentuhan-sentuhan menyenangkan di sekujur badan ketika pijet.

Sayangnya, kehidupan ndak bisa seperti itu. +_+

Manusia itu bekerja mencari nafkah, dan itulah yang membuat manusia sebagai manusia. Ada lelah di setiap pencarian kebaikan dalam kehidupan. Dan para pemijat tadi sangat gua apresiasi keberadaannya. Mereka adalah orang-orang yang bisa gua hadapi dengan rasa bahagia. Dahulu, gua menghormati 2 macam profesi di dunia ini. Sekarang ada 3, yaitu Guru, Dokter, dan kemudian Tukang Pijet.

Coba deh bayangkan. Mereka rela berkorban memberikan penat mereka untuk membawa kebahagiaan kepada mereka yang dipijat. Entah kenapa kesannya seperti berbahagia di atas penderitaan orang lain, ya? Tapi gua melihat keindahan tersendiri di balik filosofi pijet memijet ini. Juga, terkadang gua akan belajar banyak dengan mendengar cerita-cerita kehidupan dari para pemijat ini kalau dipancing dengan obrolan ringan per sesinya. Mulai dari perasaan mereka sebagai pemijat, kehidupan keluarganya, kesehariannya, suka dukanya, macem-macem lah. Jarang-jarang juga gua ngobrol sama orang asing. Mungkin ini juga salah satu faktor yang menyebabkan gua suka dipijet, karena gua pada dasarnya suka mendengarkan orang lain bercerita.

Beragam pemijat maka beragam pula tekniknya. Ada yang nyaman ada juga yang ndak nyaman sama sekali. Tapi tetep aja sih, sejelek-jeleknya pijetan mereka, sebetulnya masih enak juga kok rasanya klo dipikir-pikir.

Ada yang memijet pakai perasaan. Sambil nanya-nanya udah pas belum tekanannya, sakit apa ndak, ada daerah yang pingin dipijet atau ndak. Ada juga yang pemijet yang suka diapresiasi pijatannya. Mereka suka memperhatikan reaksi pelanggannya. Sering gua ngegap mereka yang senyum-senyum sendiri ngelihat ekspresi wajah keenakan gua pas lagi dipijet. Ada juga calon terpijat yang merem melek ngelihat orang lain yang sedang keenakan dipijet sama pemijetnya. Kebetulan gua suka pijet kepala ringan. Gua suka terpana ngelihat orang yang kepalanya lagi diuwel-uwel pas dipijet.

Bagian tubuh buat mijet pun macem-macem. Ada yang pakai telunjuk, ada yang pakai telapak tangan, ada yang pakai sikut, ada yang pakai punggung. Dan acara pijet-pijetan yang lumayan paling eksotik yang pernah gua rasakan adalah pijet ala Thai. Buset dah, itu pemijetnya menggunakan 100% seluruh badannya deh buat mijet gua. Semua bagian badan gua kena semua. Mulai dari ditindih, ditarik, diputer, ditendang, sampai pemijetnya menggeliat di atas badan pun kejadian. Super ndak nyaman pisan. Gua selalu ngakak kalau dipijet ala-ala begini selama sesinya. Apalagi kalau yang mijet ndak bisa bahasa Inggris, bahasa tubuh secara harfiah pun bener-bener dipergunakan. Tapi enak juga kok sebetulnya. Hahaha.

Akhir kata, selamat berburu pijet bagi mereka para pecinta pijet!

Advertisements

One thought on “Pijet

  1. Tulisan ini seharusnya bersambung nih, dengan review masing-masing pijatan yang pernah dirasakan. Tapi kalau saya boleh ikutan nyumbang pengalaman, dari semua pijatan yang pernah saya coba, rasanya Javanese atau Balinese Massage itu paling enak, terutama karena teknik deep tissue nya. Paling nggak enak sih yang Ayurweda Massage nya India. Rasanya saya kaya dicelupin ke dalam minyak dan siap untuk digoreng 😀

    salam kenal yaaaa 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s