Ketiadaan Gosip

Dulu pas kerja kantoran, sesibuk apapun shitload kerjaan, selalu gua sempatkan program pendulang apdetan gosip terkini nangkring di taskbar bawah windows. Posisi gua duduk sebetulnya sangat nyaman untuk bermagabut ria setiap hari. Sayangnya oh sayangnya, sebelah kiri gua duduklah kepala deputi dan sebelah kanan gua duduklah si bos kepala bagian.

Ndak asik. T_T

Sedangkan ndak jauh dari tempat gua, duduklah bergerombol anak-anak tim yang kerjaannya, suer, gua bingung, dari pagi sampai sore ngobrol dan bercanda terus. Mereka ngegosip terus tiap hari. Dan mereka juga cekikikan terus tiap hari. Dan mereka juga umurnya ndak beda jauh sama gua, sangat berseberangan sama dua orang di sebelah gua. Jujur, gua selalu pingin nimbrung ikutan ngegosip sama anak-anak. Dan itu cuman bisa dilakukan pas makan siang di mana pada akhirnya gua pun bisa ‘bergerombol pada tempatnya’. Tapi ya itu, cuman sebentar doang pas makan siang. Karena begitu jam masuk kantor lagi, gua kembali ke tempat gua berkutat sama kerjaan, dan mereka kembali ke tempat mereka berkutat sama gosip mereka. Ah! Gua iri!

Akhirnya gua lampiaskan dahaga gosip gua dengan buka facebook atau yutub atau situs geje apalah, secara diam-diam. Pas si bos lagi mèléng, ctrl + tab pun dengan lincah gua tekan, dan gua pun berselancar membaca postingan-postingan ga penting penyulut emosi yang muncul dari temen-temen pesbuk gua. Dan gua pun ketagihan pesbuk. Oh dunia…

Tapi, pesbuk tidak seperti dulu lagi. Dulu pas gua baru kenalan dengan mereka, isinya paling banter sebatas selfie, postingan foto alay makan-makan, jalan-jalan, atau segala sesuatu yang menenangkan. Sekarang mah boro-boro, bisa lihat ada yang ngelike foto kucing lucu aja gua bersyukur banget. Heran deh, social media yang harusnya membuat kita semakin akrab malah jadi ajang tengkar.

Gua sudah tidak melihat kedamaian lagi di dalamnya.

Atau mungkin gua yang sudah terlalu tua ya? Lelah sudah gua dengan drama dan intrik ga jelas. Dan kepulangan gua ke Indonesia benar-benar membuat gua bersyukur setengah mati, hal-hal yang dulu gua sempat hilang dalam hidup gua akhirnya pelan-pelan gua dapatkan lagi.

Di tiap jalan-jalan sore yang gua lakukan di sekeliling perumahan, gua melihat manusia dan kehidupan sehari-hari mereka. Ada bapak-bapak, ada ibu-ibu, ada mas-mas, ada mbak-mbak yang berjuang dengan keras mencari rezeki mereka dengan tanpa menyerah di tiap harinya. Ada banyak manusia dengan motornya bersegera kembali ke rumah masing-masing setelah seharian lelah bekerja untuk menemui keluarganya. Ibu-ibu langganan makanan gua, mas-mas tukang bangunan depan tempat gua, bapak-bapak penjual sate, om-om gojek, mbak-mbak Alfamaret, mereka begitu menyenangkan untuk ditemui. Mereka bagaikan mutiara yang bertebaran di muka bumi berjuang untuk kehidupan mereka dan keluarga mereka. Dunia menjadi begitu indah dengan hadirnya pejuang-pejuang ini.

Persetan dengan fitnah dan kebencian yang menyebar di dunia maya.

Kehidupan nyata seperti mereka inilah sesuatu yang jauh lebih pantas untuk diapresiasi. Karena memang hidup adalah sesuatu yang pantas diapresiasi, bukan untuk dihina-hina dan disia-siakan.

Dan hati gua entah kenapa begitu damai dengan tidak membuka social media dengan beralih menikmati dunia nyata. Gua sadar, berbahaya memang jika gua tidak mengetahui informasi. Kembali ke penyedia informasi tulus bisa jadi pilihan baik.

Ada masih banyak rencana kehidupan yang belum gua sempat eksekusi. Dan puji Tuhan, keluhan-keluhan gua tentang Indonesia perlahan memudar dengan kesibukan nggak penting gua. Oh! Gua jadi suka baca novel. Dan di luar dugaan, membaca novel itu menenangkan ya. Gua menemukan efek luar biasa yang juga luar biasanya lagi bisa menekan kebiasaan buruk bawaan gua yang lain. Buku-buku sok-sokan sebenernya masih kadang baca sih, tapi entah kenapa agak hilang selera gua ngebaca begituan.

Intinya, hobi baru gua adalah, gua mencoba menghindar segala pertentangan, atau segala sesuatu yang ga gua suka. Menghindar entah kenapa lebih menyenangkan daripada gua harus berdebat. Ada banyak cara menunjukkan ketidaksetujuan, termasuk dengan tersenyum mendengar pendapat orang untuk kemudian baru keesokan harinya menunjukkan secuil pendapat yang berbeda kepada orang lain dengan cara yang bahkan si pendengar tidak sadar bahwa itu adalah pendapat yang berbeda.

Akhir kata, masih ada banyak hal yang harus gua tata ulang, tapi secara pelan tapi pasti gua mulai mendapatkan serpihan-serpihan kehidupan gua yang hilang. Semoga esok kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik daripada hari ini.

(;