Akhirnya, Gua Nyerah

Hampir 4 bulan gua sudah menetap di Surabaya. Segala benak gua dan harapan gua yang gua bawa sewaktu balik lagi ke Indonesia sekarang mulai jelas arah keputusannya. #tsah

Percobaan gua gagal. Percobaan kehidupan gua gagal di sini. Mengingat gua sudah menghabiskan 1/3 tahun waktu gua di sini dan gua tidak melihat perubahan yang signifikan, maka dengan ini, gua pun memutuskan untuk pindahan.

Salah satu alasan gua memilih Surabaya adalah karena ini adalah salah satu kota yang gua relatif sangat tidak familiar sama sekali, biaya hidup yang relatif murah, akses penerbangan antar kota lumayan terjangkau, dan yang paling penting, sangat sedikit orang-orang yang gua kenal di sini.

Lho, kok yang paling sedikit? Ini pertanyaan yang paling sering gua denger dari temen-temen gua. Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah gua pingin menantang kemampuan bersosialisasi gua di tempat yang asing sama sekali. Gua pingin menghindari orang-orang yang pernah gua kenal. Sederhananya, gua pingin cari temen baru. Temen yang sama sekali baru, punya hobi yang sama, dan 11 12 sama gua.

Bulan lalu, ada temen lama gua dari Vietnam berkunjung ke Indonesia. Gua pun jadi guide buat dia sekitar 1 mingguan. Gua temenin ke Jogja sampai Bali. Gua jadi tahu banyak tentang temen gua ini. Dan entah kenapa setelah pertemuan gua dengan temen lama gua ini, ada saat di mana gua tercenung lama sekali. Suasana hati gua ga karuan sama sekali. “What the fuck I am doing at Surabaya?”

Hingga akhirnya, gua pun mengeluarkan uneg-uneg gua ke dia. Kurang lebih begini percakapannya.

Gua: I read an article somewhere. When we get older, the number of close friends we have are decreasing. I don’t believe it. I would like to challenge that article. So I went to unfamiliar town, lived there, and tried making some new friends. But every new people I met there are just, well, not at the same chemistry with me. Mostly I got awkward introductions. I failed miserably.

Doi: So the article is true. LOL

Haha.

Absurd sekali. 4 bulan gua habiskan hidup gua hanya karena sebuah artikel.

Dan acara jalan-jalan kemaren membuka mata gua. Gua bahagia ketika lihat temen gua bahagia. Dan gua melakukan kesalahan besar dengan mencoba menghindari segala temen-temen lama gua. Padahal temen-temen lama gua juga adalah mereka-mereka yang harus gua syukuri keberadaannya. Merekalah orang-orang yang menemani kehidupan gua selama ini, bukan lantas gua nomor duakan hanya demi egoisme mencari temen baru di kota ini.

Tapi sejujurnya, gua pun juga bingung menghubungi mereka lagi. 😀

Btw, berikut adalah hal-hal yang membuat gua memutuskan hengkang dari Surabaya selain masalah transportasi.

Cafe

Gua suka ngafe. Suka sekali. Dulu waktu S1 bikin TA pun di cafe. Suer, otak gua kayak tersteroid tiba-tiba buat mikir jernih. Pas kerja di Jakarta pun begitu, keknya, hampir tiap hari saban balik kantor gua nongkrong di cafe deket kantor. Kehidupan perkorewaan pun begitu, setiap gua ada waktu gua selalu pergi ke cafe, entah ngerjain paper, cari inspirasi, ngobrol ga jelas, atau ngitung uang pun gua jabani ke cafe.

Dan gua mulai menyadari, ada 1 kekurangan besar yang cem hilang tiba-tiba begitu gua pindahan ke sini, yaitu bahwa tempat perangsang otak yang selalu mensupport kehidupan pergejean gua ndak ada yang cocok di sini sama selera gua. Gua perhatikan, kebanyakan warung kopi terdekat gua itu: keramean; ndak ada asenya; menunya biasa aja; bentuknya yang kurang menginspirasi; dan yang paling penting, kursinya keras semua. Buset dah, baru sadar manja sekali gua ini.

Desperate, gua pun mencoba pergi ke mall (yang notabene jauh pisan dari tempat tinggal gua), berharap menemukan starbaks, ekselso, atau binlif apalah, yang penting unyu, nyaman, dan ada sofanya. Dan uniknya, gua pun ndak suka juga. Kecuali ekselso, gua melihat cafe-cafe tadi kursinya keras-keras, keramean, dan gua melihat ga worth it antara harga dan tempatnya. Lho, tapi ekselso kan ada empuk-empuknya. Mmm, iya sih, gua pernah ditowel awang-awang sama mas-mas penjaga ekselso. Gua berhenti sebentar. Gua perhatikan isinya dari kaca luar. Audience-nya, saat itu, tipikal para pekerja kantoran, rata-rata dress formal, rame, dan mereka-mereka semua bergerombol cerita-cerita. Gua perhatikan baju gua, kaosan, sandalan, dan ndak ada temen. Gua gamang. Kehidupan individualis masih gua bawa-bawa juga ke sini. Entah, gua sedih tiba-tiba.

Teman/Orang (baru)

Ada 7 orang. Mereka ini gua temui di salah 2 komunitas yang gua ikuti di sini. Keenam orang ini, suer, sama persis dengan 7 kenalan lama gua. Oh Tuhan! Dalam hati gua selalu histeris ngelihat mereka ini. Dari sekian banyak manusia berhamburan di Surabaya yang gua arungi ini, hampir gua nggak pernah menemui orang-orang yang mirip dengan temen-temen gua. Tapi kenapa, justru di komunitas-komunitas yang super spesifik ini, gua justru menemui manusia-manusia berwajah mirip yang pernah gua temui sebelumnya dengan intens?

Gua jabarkan. Si A ini wajah tumplek bleg persis sama temen deket gua di Korea. Dulu gua selalu nahan ketawa ngobrol sama dia. Kemudian, muncullah si B, doi mirip bener sama temen akrab lama gua si B’, dari wajah sampai postur. Gua bener-bener tercenung ngelihat nih anak. Btw gua ketemu si B ini di komunitas besar yang gua termasuk jarang ngomong di dalamnya dan ndak kenal semuanya. Dan karena gua akrab sama B’, gua selalu gatel pingin kenalan dan ngajak ngobrol sama si B’ gadungan ini. Gua urungkan, karena si B ini selalu nempel sama si C, yang mana si C ini mirip sama kenalan lama gua si C’, yang, puji Tuhan, mereka cem kembar. @_@ Bayangkan, 2 orang asing berteman akrabnya dan mereka mirip kenalan lama loe semua, dan loe ada di dekat mereka. Bedanya, loe diasingkan sama 2 orang ini. Absurd. Kemudian, ada si D, yang mirip temen lama gua si D’. Wajah boleh mirip, tapi badan beda sama sekali. Kemudian ada juga si E (yang mirip si E’ temen Korea gua) yang bikin gua ga kalah tercenungnya sama si B, karena literally model rambutnya, wajah, dan cara mereka berekspresi sama persis. Padahal, sepengamatan gua, jarang sekali kemiripannya orang etnis China Indonesia yang secara fisik gua temui sama orang Korea. Iya, gua cem bisa bedain orang China, Jepang dan Korea sewaktu di Korea. Bedanya si E ini cem masih muda. Dan karena si E’ ini bikin gua sebel sewaktu di Korea, si E ini pun secara naluri gua hindari. Begitu juga si F dan G. Duh, 7 orang. Banyak ya.

Ada lumayan banyak komunitas yang gua gabungi selama gua di sini, mulai dari yang bener sampai yang ndak bener. Dan salah satu tujuan gua adalah ya itu tadi, nyari temen baru. Dan mencari teman yang cocok itu ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak orang yang berkenalan, banyak juga orang yang berbicara dengan gua. Tapi yang satu chemistry sama gua hampir bisa gua bilang ndak ada. Kesalahan ada di gua sih. Berkali-kali gua dikelilingi orang-orang yang dengan semangat mencari kegiatan bersama-sama setelah aktifitas komunitas rame-rame, tapi guanya yang kadang ndak semangat ngikutin acara jalan-jalan mereka. Ada juga komunitas yang gua ga sreg sama ideologi mereka, cem isinya orang-orang kelebihan duit. Kebalikannya, ada juga yang isinya orang-orang yang selalu mengerjap-ngerjap mengeja uang. Hadeh.

Dan gua pun mulai mengingat-ngingat, bagaimanakah ceritanya gua bisa kenal dengan teman-teman lama gua. Dan gua pun langsung dapat jawaban instan: sekolah dan kerja. Di sekolah, gua bertemu dengan orang-orang yang gua temui dengan intens setiap harinya. Mereka pun menjadi teman gua. Di tempat kerja pun begitu, karena aktivitas yang selalu kita lakukan bersama-sama, ada ikatan emosi yang terbentuk sampai hari ini. Mereka pun menjadi teman gua. Sayangnya, dua hal ini sudah tidak gua miliki lagi.

Tidak ada yang sempurna di dunia ini.

Tapi gua nggak menyesal sama sekali, walau percobaan kehidupan gua gagal. Gua seneng sekali malah. Banyak sekali pelajaran yang gua dapati selama 4 bulan di sini, walau kerjaan gua kebanyakan tidur siang melulu. Haha. Dan berhubung ada proyek baru menunggu di depan, sekalian gua pakai momentum ini untuk merefleksi kehidupan sekali lagi dan mencoba kembali ke ritme kehidupan yang dulu atau ke ritme kehidupan yang sama sekali baru.

Akhir kata, selamat beraktifitas!

Advertisements

3 thoughts on “Akhirnya, Gua Nyerah

  1. Problematika yang biasa dihadapi manusia yang berumur nanggung dan jomblo
    Mau cari temen baru, agak susah, ga punya temen, berasa absurd akhirnya lalalala 😦

    • hahaha. kata-katanya luar biasa sekali untuk dicerna. tapi puji syukur, sekarang keabsurdannya mulai menghilang sedikit-dikit karena kesibukan.

      btw, terima kasih ya sudah membaca. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s