Penghina Agama

Sebetulnya gua males nulis beginian. Tapi gua ingin nulis juga.

Kebetulan, kasus si bapak lagi booming. Walau gua secara pribadi ndak ngedukung si bapak (ya iya lah, gua bukan orang Jakarta), tapi gua adalah salah satu orang yang tidak tersinggung sama sekali dengan ucapan si bapak. Dan kebetulan juga gua ingin berbagi pengalaman tentang realitas dunia di luar Indonesia.

Gua lumayan lama tinggal di luar.

Dan gua lumayan lama bergaul dengan banyak orang dengan berbagai latar belakang. Gua menemui beragam manusia, baik yang toleran maupun tidak toleran. Dan gua juga sudah berkali-kali berhadapan dengan manusia-manusia yang menghina agama gua sendiri di depan mata gua sendiri, langsung maupun tidak langsung. Mereka-mereka ini orang-orang yang benci luar biasa sama agama gua, entah dengan berita-berita tentang perang, terorisme, atau hal-hal goblok yang dilakukan umat gua sendiri di belahan dunia lain. Seringkali gua menangkis argumen-argumen mereka, baik dari sisi politik ataupun agama penganut yang menyerang gua tadi (kalau orangnya beragama). Dan kebetulan juga, gua tinggal di negara dengan tingkat keantian terhadap agama gua sendiri yang sangat tinggi.

Reaksi gua udah tahap seperti ini setiap kali gua tahu agama gua dihina kala itu.

Entah, gua lebih suka menyelam di kalangan orang-orang yang benci agama gua setengah mati ini dan berusaha menetralkan kebencian di kalangan mereka, daripada gua menyelam di kalangan gua sendiri dan hidup dalam kehidupan alim-alim lugu yang saling menguatkan iman dan membangun kubah pelindung terpaan angin-angin cobaan. Saat itu di pikiran gua, mengajak manusia atau, menginformasikan manusia ke kebenaran yang gua yakini lebih menarik daripada membiarkan mereka terlena.

Hinaan-hinaan masif ini jelas gak bakalan bisa diajukan atau dituntut ke ranah hukum. Karena framework hukum kenegaraannya jelas beda. Dan, jujur, wasting time.

Oh, gua jadi teringat kata-kata ini.

Jika diam saat agamamu dihina, gantilah bajumu dengan kain kafan.

Komentar gua? Bullshit.

Sangat anti-al-Qur’an sekali kata-kata ini.

Yang hobi mengulang kata-kata ini juga banyak dari orang-orang yang mengaku dirinya Muslim. Sering gua bertanya, situ Muslim, tapi kok bisanya mengekor hawa nafsu orang-orang lain. Bukankah Rasulullah sendiri sudah mengasih contoh gamblang terang benderang segampang mencari arti suatu kata lewat google translate?

Kalau ngaku Muslim, kenapa ga mengikuti instruksi ayat-ayat Tuhan langsung? Kalau ngaku Muslim, kenapa ga mengikuti contoh Nabi ketika dia dan agamanya dihina banyak orang?

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang dzalim itu sesudah teringat (akan larangan itu). [QS 6:68]

Lihat? Bos Besar sendiri yang ngasih panduan, yang entah, apakah para pengikut Nabi itu bakal mengimaninya atau mengkafiri ayat ini.

Flownya simple.

Loe tahu ada orang mengolok-olok agama -> maka -> Tinggalin mereka, sampai mereka ganti topik.

Perlukah memutus persahabatan atau hubungan dengan mereka?

Cukup tinggalin mereka sampai ganti topik. Titik.

Ga ada gugat-gugatan dan semacamnya. Ngobrol lagi aja sama orang-orang ini begitu ganti topik. Kalau lupa ga ninggalin mereka pas acara ngolok-ngolok tadi gimana? Ya udah, ga usah duduk-duduk lagi sama mereka. Komen-komenan di Facebook lagi ndak apa-apa juga sih.

Kalau mau mengcounter gimana dong?

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) ke jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dialah Yang Mahatahu tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. [QS 16:125]

Teknik mengcounternya btw sudah dikasih guideline juga sih. Musa aja pas menghadapi si Fir’aun, yang separah itu aja ngehina-hina Tuhan, disuruh ngomong dengan lemah lembut.

Atau kisah wanita yang hobi ngeludahi Nabi setiap saat juga, tapi Nabi cuma lempeng-lempeng aja, mungkin bisa dijadikan panutan. Atau kisah lelaki Yahudi buta yang hobi ngehina-hina Nabi sebagai pembohong dan Nabi palsu, tapi Nabi malah ngasih makanan ini orang tiap waktu, mungkin bisa dijadikan panutan juga. Atau kisah Nabi yang ditawari malaikat untuk membalikkan penduduk kota Tha’if, tapi Nabi melarang dan malah berharap keturunan penduduk kota itu jadi manusia beriman, mungkin bisa sekali dijadikan panutan juga. Nabi sama Abu Jahal sama Abu Lahab aja masih berlaku lemah lembut dan hobi ngenasehati mereka walau kaumnya sering ngolok-ngolok Nabi sebagai penyihir kek, dukun kek, tukang tipu-tipu kek.

Intinya satu. Nabi selalu lempeng-lempeng aja kalau dihina secara verbal ataupun non-verbal. Satu-satunya kasus Nabi bereaksi yaitu pas Nabi diajak perang. Iya, diajak perang. Selama Nabi nggak diajak perang sama musuh, Nabi reaksinya selalu standar, yaitu, LEMPENG.

Acara komentar-mengomentari ayat-ayat atau kitab suci agama lain dari orang-orang yang bukan pemeluknya itu udah kejadian dari sejak jaman jebot. Lah, Nabi sendiri juga ngomentari agama lain. Kalau ga ada acara komentar-komentaran, mana ada cerita orang bakal pindah agama satu ke agama lainnya. Cuman Tuhan ngasih guideline.

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. [QS 6:108]

Udah gitu aja. Intinya, mari gak baperan. Beneran, hidup bakalan lebih indah jika engkau sudah mampu bereaksi seperti ini di setiap celaan yang ada.

Sekian.