Pengalaman pakai Pertamax Turbo

Pertamax-Turbo-7

Pertamax Turbo. thanks to: autos

Dalam beberapa minggu belakangan ini gua kebetulan lumayan berkendara jauh dengan rute Banyuwangi – Surabaya – Malang – Kediri dengan intensitas lumayan banyak. Dan kebetulan juga, beberapa waktu sebelumnya, mobil gua sempet gua rasa tiba-tiba ndak bisa dibuat ngebut dan boros BBM-nya semenjak gua servis di sebuah tempat yang bukan dealer resmi, di mana katup penutup filternya jadi rusak. Alhamdulillah, masalah udah beres setelah gua bawa beberapa kali ke dealer resmi. Gua inget selalu diwanti-wanti pakai Pertamax. Walaupun jujur, gua selalu tergoda setiap melihat harga Pertalite di pom-pom.

Nah, semenjak kasus BBM boros tadi kejadian, gua hobi ngecatet performa efisiensi penggunaan BBM-nya. Standard pengecekan yang gua lakukan sebetulnya ndak akurat-akurat amat, tapi cukup ngasih gua gambaran keseluruhan efisiensinya. Gua catet kilometer dan bar start penanda kapasitas BBM sebelum BBM baru diisi di waktu T, jenis BBM, total biaya, dan terakhir, gua catet kilometer yang terpakai begitu bar penanda kapasitas BBM kembali ke kondisi tepat sebelum BBM baru diisi di waktu T. Dari situ gua bisa hitung berapa kilometer yang bisa ditempuh per liter BBM-nya. Gua pun juga ngebandingin konsumsi liter BBM dari komputer internal di mobil gua juga. Hasilnya gak beda jauh.

Dengan pengecekan berkala ini gua jadi tahu bahwa ada gerai-gerai yang ‘tampak’ curang kalau ngisi BBM, dan memperkenalkan gua pada gerai BBM yang sampai sekarang jadi langganan tercinta gua. Dan juga mobil gua efisiensi penggunaan BBM-nya menurun sekitar 20%-an kalau ngelewati jalanan nanjak (ya iya lah @_@).

Kemudian hingga pada suatu hari, ketika gua dalam perjalanan balik Kediri ke Surabaya, gua memutuskan untuk belok ke SPBU random terdekat dari posisi gua di jalan. Alangkah terkejutnya gua (halah), begitu mereka jawab bahwa mereka ndak punya Pertamax. Mereka bilang punyanya Pertamax Turbo. Gua yang berasal dari kota terpencil di ujung yang belum pernah mendengar kata Turbo di belakang Pertamax ini agak terkesiap mendengarnya. “Emang yang Pertamax Turbo berapaan mbak?” “Sembilan ribu 200,” jawab petugasnya.

Ehm!? Gua rada tersentak denger harganya. Soalnya gua udah cukup trauma melihat kenaikan Pertamax 2 kali dalam rentang waktu 3 bulan, yang mana masing-masing naeknya gak lebih dari 4%-an. 4%-an aja udah shock, lah ini kok harganya 12.88% lebih mahal? Kemudian gua melihat Pertalite RON 90. Harganya 9%-an lebih murah. Maka belilah gua Pertalite untuk pertama kalinya. Murmer, dan liternya dapat banyak. Gua pun bahagia.

Namun kebahagiaan itu segera sirna begitu beberapa kilometer berikutnya gua mulai merasakan kejanggalan. Mobil gua gak bisa ngebut. Tarikannya seret. Jalanan pun macet. Stres gua. Gua pernah baca komputer internal Juke ini bisa tahu jenis BBM yang masuk dan suka iseng ngubah-ubah settingan mesinnya tergantung minumannya. Khawatir kenapa-kenapa, gua pun segera isi Pertamax lagi begitu waktu isi ulang tiba. Sampai di sini gua gak tertarik blas nyatet performansinya pas keisi Pertalite. Padahal RON-nya beda 2 doang.

Kemudian gua pun merenung. Haruskah aku mencoba RON 98 si Pertamax Turbo. Tapi mahal edan. Tapi bentar, beda 2 RON aja udah kayak gitu termehek-meheknya, apalagi klo beda 6 RON, gua penasaran kayak apa jadinya. Gua pun nyoba cari referensi tentang Pertamax Turbo. Maka, bertemulah gua dengan tabel populer yang dicite berkali-kali para pereview Pertamax Turbo.

compression-ratio-57b2b1d7ce9273d50c02f276

Compression Ratio vs RON. thanks to: hondagrom

Nilai oktan BBM sebuah mobil yang dibutuhkan tergantung rasio kompresi mesinnya rupanya. Kalau di bawah rentang yang dibutuhkan, maka bahaya pada mesin, jika di atas rentang, maka terjadi pemborosan. Buku manual gua ketinggalan di rumah, cuman yang jelas setahu gua rentang rasio kompresi mobil gua keknya ada di 9.5:1 sampai 10.5:1. Maka kalau dibuat regresi linear dari tabel di atas, gua dapet kisaran masing-masing rentang RON-nya seperti ini.

Compression Ratio - Minimum - Maximum
9.5:1 - 91.15 - 97.7
10.5:1 - 94.45 - 101.5

Karena gua diwanti-wantinya suruh pakai Pertamax, maka gua bisa simpulkan rasio kompresi mesin mobil gua ada di 9.5:1. Selama ini gua pakai BBM yang menghasilkan performasi terendah rupanya. Pantesan, review mobil yang bilang harusnya efisiensi maksimal ada di 14 km/liter untuk mode Eco dan 20 km/liter untuk mode Normal, gak pernah kecapai di sepanjang pencatatan performa gua. Kisarannya palingan ada di 11 km/liter, itu pun udah gonta ganti mode antara Eco dan Normal. Tapi Pertamax Turbo RON-nya 98, boros 0.3. @_@

Akhirnya, gua pun memberanikan diri beli Pertamax Turbo untuk perjalanan Surabaya – Banyuwangi.

BUSET! Langsung kerasa bedanya begitu ditarik. Mulus. Halus. Cem tak bersuara. Desahan mesinnya juga indah. Berasa berlevitasi gua. Bahkan klo gua lihat level torsinya cem ngasih bonus kecepatan yang bukan pada seharusnya. Gak kayak pas pakai Pertamax, yang level torsinya ya ngasih kecepatan sesuai kecepatan yang seharusnya, jarang dibonusi gitu. Apalagi pertalite, ngoyo banget. Itu padahal gua yakin campuran tanki gua masih ada unsur Pertalite-nya. Gak mau ketipu, gua pun melakukan pencatatan performa seperti biasanya.

Dan ini hasilnya.

Dengan jarak tempuh yang sama untuk Banyuwangi – Surabaya, dengan mode campuran antara Eco dan Normal, maka

  1. Pertamax: Efisiensi tempuh 12.3 km/liter. Efisiensi biaya 1.51 m/rupiah, dan
  2. Pertamax Turbo: Efisiensi tempuh 15.3 km/liter. Efisiensi biaya 1.66 m/rupiah.

Luar biasa irit dan menguntungkan Pertamax Turbo ternyata. Sampai rumah, gua buka buku panduan. Di sana tertulis RON minimum tanpa timbal haruslah 95. Klo kepepet, suruh yang 91 dengan catatan penurunan performa. Rentang RON berminimum 95 dicakup sama yang rasio kompresinya 10.5:1. Berarti harusnya masih bisa lebih efisien lagi kalau ada BBM dengan RON 101.

Tapi begitu nyampe Banyuwangi, gua masih belum nemu yang jual Pertamax Turbo.

Sekian review Pertamax Turbo. Selamat mencoba bagi yang ingin mencoba.

Advertisements