Kajian al-Qur’an :: Muqatta`at :: Alif Lam Mim

الم
Alif Lam Mim [Q2:1]

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
Kitab ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa [Q2:2]

Seperti kebanyakan mereka yang penasaran dengan [Alif-Lam-Mim :: الم], gua pun sedari dulu gatel pengen tahu arti katanya. [Alif-Lam-Mim :: الم], seperti kita tahu muncul di pembuka 6 Surat al-Qur’an, yang artinya, menjadi bahan diskusi sampai sekarang. Muqatta`at huruf-huruf ini disebutnya. Selain [Alif-Lam-Mim :: الم], ada

  • [Alif-Lam-Mim-Sad :: المص],
  • [Alif-Lam-Ra :: الر],
  • [Alif-Lam-Mim-Ra :: المر],
  • [Kaf-Ha-Ya-`Ain-Sad :: كهيعص],
  • [Ta-Ha :: طه] (salah satu Surat kesenengan gua),
  • [Ta-Sin-Mim :: طسم],
  • [Ta-Sin :: طس],
  • [Ya-Sin :: يس] (salah satu Surat favorit gua),
  • [Sad :: ص],
  • [Kha-Mim :: حم], +[`Ain-Sin-Qaf :: عسق],
  • [Qaf :: ق], dan terakhir
  • [Nun :: ن] (ini juga salah satu Surat yang gua demen, penuh twist di dalamnya).

Huruf Muqatta`at ini disebut-sebut salah satu misteri dari al-Qur’an yang kelak di hari kiamat rahasia aslinya dikasih tahu sama Allah.

Spoiler

Buat spoiler, dari beragam tafsir yang gua baca, dan dari beragam cucokmologi yang mereka tawarkan, gua terpukau dengan salah satu penawaran yang membuat adrenalin gua naek pengen ikutan nyebur ke gelombang dan tafsir Muqatta`at ini. Apakah itu?

Kalau seluruh Muqatta`at tadi dikumpulkan, terus dihilangkan huruf-huruf duplikatnya, maka bisa dibikin kalimat seperti ini.

نص حكيم قاطع له سر

yang artinya

Teks Bijaksana yang Jelas/Tajam yang di dalamnya ada Rahasianya

Beugh!

Hyuk nyebur, mencari apa-apa yang bisa digali dari Muqatta`at ini.

Header dan Payload

Sebelum gua mulai nyebur, gua pingin ndak berjalan dalam gelap dalam menggali Muqatta`at ini. Harus ada langkah awal yang masuk akal sebelum memulai analisis lebih jauh. Lagipula Allah berFirman, ilmu-Nya jika digali gak bakal habis walau ditulis dengan 8 lautan sekalipun. Dan gua sempet download al-Qur’an dari Tanzil Project di sini yang datanya gak sampai 1 MB. Masih 1 MB kan? Kalau, ada cara merubah 8 lautan tadi jadi media penyimpanan ber-qubit-qubit, maka, …, mari, kita gali lebih jauh lagi ilmu Allah.

Qubit?

Qubit adalah salah satu kandidat pengganti Bit untuk arsitektur komputer Quantum. Buat apa dia? Buat medium informasi. Kalau Bit, data yang bisa disimpan 0 sama 1. Kalau Qubit, bisa 0, 1, dan superposisi dari kedua nilai tadi. Memangnya informasi selalu dikirim dalam Bit? Ndak. Kebetulan aja, tingkat kecanggihan manusia mentoknya baru bisa ngirim data pakai 0 sama 1. Dan itu juga biasanya ada embel-embel data tambahannya, biar kalau ada loss atau error di jalan bisa dideteksi dengan mudah di sisi receiver, yang nantinya bisa minta ditransfer ulang, atau, direcovery dengan dirinya sendiri. Jaman dulu, data yang dimodulasi itu analog, tapi hasilnya gak canggih-canggih amat, jadi lari ke digital. Tapi, aslinya lagi nih, di alam, kita ya kalau nerima informasi ya mediumnya sifatnya analog, luwes, gak cuman 0 sama 1 doang. Tapi, yang ingin gua sampaikan sebetulnya bukan Qubit-nya.

Bentar, tadi apa yang kita bahas?

  1. Informasi, bisa dimodulasi dulu sebelum dikirim
  2. Di setiap informasi yang dikirim, biasanya ada embel-embel peneman informasi utama

Jadi inget jaman-jaman kuliah. Dalam transmisi data, hal seperti ini biasa kita kenal dengan sebutan Header sama Payload.

Mekanisme Turunnya al-Qur’an

Sebelum lanjut menggulirkan apa yang ingin gua gulirkan, mari kita refresh mekanisme al-Qur’an diturunkan. Dari beberapa riwayat dan tafsir yang gua baca, gua bisa simpulkan al-Qur’an turun dalam beberapa tahap

  1. Dari [Lauh Mahfuudz :: لَوْحٍ مَحْفُوظٍ] ke Langit Dunia (Samaa’a Dunyaa :: السَّمَاءَ الدُّنْيَا) dalam sekejap pada malam Qadr (lailatil Qadr :: لَيْلَةِ الْقَدْرِ)
  2. Dari Langit Dunia ke Nabi Muhammad (saw) oleh [ar-Ruuh al-Amiin :: الرُّوحُ الْأَمِينُ] secara berangsur-angsur selama 22 tahun 2 bulan 22 hari

Btw, ada juga pendapat yang berkomentar, lokasi tepatnya al-Qur’an turun di langit Dunia itu di Bait al-`Izzah. Referensi tentang Bait al-`Izzah susah didapat, beda sama [Bait il-Ma`muur :: الْبَيْتِ الْمَعْمُورِ] yang cukup banyak referensinya. Mereka berdua tempat yang berbeda, Bait al-`Izzah ini Bait di Langit Dunia, adapun [Bait il-Ma`muur :: الْبَيْتِ الْمَعْمُورِ] itu Bait di langit ketujuh, biasa dikenal sebagai kiblat buat penduduk langit ke-7. Btw, kata Dunia (Dunyaa :: دنیا) dan kata Bumi (Ard :: الأرض) itu merujuk pada dua hal yang berbeda lho di al-Qur’an. Gua jadi pengin bikin tulisan tentang ini.

Anyway, sampai di sini, kesan yang gua tangkap dari runutan ini berarti, turunnya al-Qur’an ini mirip sama transmisi data. Upload speed dari langit ketujuh ke langit pertama bisa dalam sekejap, tapi upload speed dari pucuk langit pertama ke Bumi makan waktu bertahun-tahun. Dalam hal ini, kayaknya bukan karena Jibrilnya lama deh turun dari Bait al-`Izzah ke Bumi, tapi paradigma interface-nya udah beda, dalam hal ini, otak manusia buat nyerna informasinya emang lemot.

Apa kesimpulan yang bisa gua dapat dari Header-Payload, dan, transmisi Langit ke-7 ke Langit Pertama ini?

Kesimpulannya, gua akan ambil approach di mana [Alif-Lam-Mim :: الم] adalah additional data dari al-Qur’an itu sendiri.

Linux, Python, dan al-Qur’an

Dilihat dari kacamata data transmisi, berikut adalah beberapa kemungkinan Muqatta`at.

  1. Header, sebagai blok identifikasi
  2. ACK atau Acknowledgment, sebagai sinyal persetujuan antar komunikasi
  3. Trailer, sebagai verifikasi integritas data

Dan gua tertarik untuk memandang [Alif-Lam-Mim :: الم] sebagai trailer, verifikasi integritas Surat kedua yaitu Surat [al-Baqarah :: البقرة], atau bisa jadi, verifikasi integritas Surat pertama.

Kenapa? Karena [Alif-Lam-Mim :: الم] muncul setelah [al-Faatihah :: الْفَاتِحَة] dan di awal [al-Baqarah :: البقرة]. Tapi trailer biasanya di akhir kan ya? Atau ini trailer-nya yang justru di awal? Tapi, bisa jadi kan [Alif-Lam-Mim :: الم] berlaku seperti ACK atau header pada umumnya?

Bisa jadi. Tapi di sini gua bakal coba satu-satu dulu. Dan biar gak berasumsi, mari kita membuat metodologi analisis eksak. Metode analisis yang gua bangun sederhana, bisa dibagi atas 4 langkah.

  1. Jangan ada asumsi. Analisis aja data yang ada. Tapi, asumsi dikit-dikit boleh deh
  2. Temukan pattern dari data yang ada
  3. Uji pattern yang ada untuk kasus yang lain
  4. Jika ada anomali, kembali ke langkah 1

Alat bantu analisis yang dipergunakan kali ini adalah Linux dan Python. Target awal kita sekarang adalah, mendapatkan data Surat [al-Baqarah :: البقرة] murni abjad. Dari file al-Qur’an yang sudah kita download, mari kita lihat struktur filenya dengan,

> less quranic-corpus-morphology-0.4.txt

proj0000-2018-06-04_17-08-59

File terbagi atas 4 kolom utama. Kolom kedua berisi per kata al-Qur’an. Nomor Surat, Ayat, dan Kata, diformat dengan format (Nomor Surat : Nomor Ayat : Nomor Kata). Surat [al-Faatihah :: الْفَاتِحَة] dimulai dari baris ke-58 sampai baris ke-105. Adapun Surat [al-Baqarah :: البقرة] dimulai dari baris ke-106 sampai baris ke-10348.

Kolom keduanya ini menarik. Teks bahasa arabnya cukup sederhana ter-encode, [Bismillah :: بسم الله] di-enconde dengan [bi somi {ll~ahi]. Huruf “a”, “i”, “u”, “o” masing-masing untuk harakat fathah, kasrah, dammmah, sukun. Karena harakat hanyalah tanda bantu membaca, kita tidak akan hitung sebagai abjad. Selain itu, abjad Alif (dan Hamzah), selain dengan huruf “A”, ia juga di-encode dengan banyak varian di teks ini dengan “{“, “}”, “>”, “<“, “\”, “@”. Kita akan menganggap semua varian ini sebagai Alif “A” adanya.

Sekarang, mari mulai ngoding.

Untuk mengambil teks dari baris ke-106 sampai ke-10348 kita bisa pakai perintah sed.

> sed -n 106,10348p quranic-corpus-morphology-0.4.txt > Q02

Sedangkan untuk mengambil kolom keduanya saja, kita bisa pakai perintah awk.

> awk -F"\t" '{print $2}' Q02 > Q02

Untuk one liner pakai pipeline jadinya,

> sed -n 106,10348p quranic-corpus-morphology-0.4.txt | awk -F"\t" '{print $2}' > Q02

proj0001-2018-06-04_18-13-16

Sekarang mari kita buat program Python sederhana buat menganalisis statistik teks Surat [al-Baqarah :: البقرة]. Input programnya standard lah ya, nama file. Untuk outputnya mari kita coba tampilkan statistik histogram teks inputnya.

Alurnya programnya, baca masukan input, kemudian hitung histogram, bersih-bersih hasil hitungan histogram untuk harakat, varian Alif dan Hamzah. Code-nya bisa dilihat sebagai berikut.

proj000x-2018-06-05_05-06-33

Sekarang hyuk di-run code-nya. Berhubung gua kasih nama pyOrderAnalyze.py, syntax nge-run-nya kira-kira jadi begini.

> python pyOrderAnalyze.py Q02

Dan ini outputnya.

proj0003

proj0004-2018-06-04_18-37-42

Seriusan, ini reaksi gua pertama kali liat hasilnya.

proj0005

Jadi,

intinya,

bentar… gua sebetulnya agak emosional nemu histogram beginian. T_T

Jadi, intinya, [Alif-Lam-Mim :: الم] ini sejenis checksum tampaknya. Jumlah abjad terbanyak dalam Surat [al-Baqarah :: البقرة] adalah [Alif :: ا] sebanyak 4.935 buah, [Lam :: ل] ada di urutan kedua sebanyak 3.198 buah, dan [Mim :: م] ada di peringkat ketiga sebanyak 2.192 buah.

Pattern yang gua temukan adalah bahwa, [Alif-Lam-Mim :: الم] untuk Surat [al-Baqarah :: البقرة] melambangkan jumlah abjad terbanyak di surat tersebut. Tapi tunggu dulu, [Alif-Lam-Mim :: الم] ini checksum untuk Surat [al-Faatihah :: الْفَاتِحَة] atau Surat [al-Baqarah :: البقرة]?

Maka, mari kita cek histogram Surat [al-Faatihah :: الْفَاتِحَة].

proj0006.png

Gak urut ya histogramnya. Mari kita modif dikit code-nya jadi begini.

proj0007-2018-06-04_22-20-22

Maka kita akan dapatkan histogram Surat [al-Faatihah :: الْفَاتِحَة] sebagai berikut.

proj0008

Peringkat 3 teratas dipegang abjad [Alif-Lam-Mim :: الم]. Eh, abjad Alif sama Lam sama deng.

Sekarang mari kita coba tes juga untuk Surat selanjutnya [Al `Imraan :: آل عمران] yang juga diawali [Alif-Lam-Mim :: الم].

proj0009

Peringkat 3 teratas juga, masih dipegang abjad [Alif-Lam-Mim :: الم].

Surat an-Nisaa, non-Muqatta`at

Mari kita coba sekarang tes Surat sesudah [Al `Imraan :: آل عمران], yaitu Surat ke-4 dalam al-Qur’an, Surat [an-Nisaa :: النساء] yang tidak diawali [Alif-Lam-Mim :: الم]. Gua punya firasat, Surat ini tidak akan memegang [Alif-Lam-Mim :: الم] sebagai peringkat teratasnya.

proj00011

Dan hasilnya, peringkat teratas Surat [an-Nisaa :: النساء] memang tidak dipegang oleh [Alif-Lam-Mim :: الم], tapi [a-l-n-w-m] alias Alif, Lam, Nun, Waw, barulah Mim.

Btw, ada yang sadarkah dengan urutan histogram Surat [an-Nisaa :: النساء] kali ini? Walau dia tidak termasuk Surat yang ada Muqatta`at-nya, tapi ada pattern menarik yang mungkin bisa gua pakai hipotesis untuk membangun teknik verifikasi lanjutan.

[alnwm] ini kalau kita arrange jadi [al-nw-m], kita bisa dapat kesan bahwa rank histogramnya masih ada di zona [Alif-Lam-Mim :: الم], tapi dengan modifikasi [al-*-m]. [al :: ال], dalam bahasa Arab, jika dikiaskan kepada bahasa Inggris, akan setara artinya dengan [the]. Gua tergoda melihat [al-*-m] ini memiliki pattern [the-*-m]. Tapi gua lebih tergoda lagi melihatnya punya pattern dasar [A*C], di mana * melambangkan sebuah abjad yang seharusnya make sense. Emangnya abjad [nw] make sense, gitu?

[A*C] Pattern

Hyuk, kita lihat [al-nw-m]. Gua udah gatel sedari tadi melihat abjad yang ada di tengah-tengah [al] dan [m] ini, [nw]. Hampir semua kata dalam bahasa Arab punya kata dasar yang terdiri dari 3 abjad. Dan [nw] ini, kalau mau dibikin tebak-tebakan kira-kira membentuk kata apa, kayaknya, bakal abu-abu banget deh. Soalnya kombinasinya bisa [nw*], [n*w], atau [*nw].

Eh, tapi bentar. Tadi kita lagi bahas Surat apa? Surat [an-Nisaa :: النساء]. Dan kata [an-Nisaa :: النساء] dibentuk dari kata dasar [ن س و] alias [nsw].

Btw, tadi kita lagi bahas [A*C] pattern, dan sempat bingung tentang kombinasi [nw]. Tapi, kalau kombinasinya [n*w], seperti [A*C] pattern, ini malah sangat kebaca sekali kalau [n*w] itu merujuk ke kata [nsw], alias [an-Nisaa :: النساء].

Seakan histogram tadi berkata [al-n*w] = [al-nsw][an-Nisaa :: النساء] = Wanita. Alias histogramnya menceritakan tentang dirinya sendiri, yaitu nama Surat itu sendiri.

Menarik ya.

Sadaqallahul Adzim. Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Sekian.

Wallahualam.

Wassalamu’alaikum wr wb.

Disclaimer

Program yang gua tulis, berhipotesis, segala varian Alif dan Hamzah, adalah Alif.

Gua menambah Hamzah untuk ikut dihitung sebagai Alif, karena pada dasarnya bunyinya mereka sama semua, yaitu A. Hamzah, pada abjad Arab, walau dibaca A juga, biasanya dianggap bukan abjad utuh. Perhitungan Hamzah sebagai Alif dilakukan semata untuk mempermudah histogram abjad biar konsisten dan ndak muncul Alif ganda.

Di Disclaimer ini, gua ingin berdoa semoga Allah mengampuni dosa gua kalau gua melakukan kesalahan besar dalam analisis ini. Gua gak ada maksud sama sekali merubah kata-kata dari tempatnya.

Semoga Allah memberikan petunjuk selalu kepada kita semua.

Amiiin.

al-Qur’an Corpus

[*] http://corpus.quran.com/download/

Advertisements

Kajian al-Qur’an :: Diksi :: Beda Kawaakib dan Nujuum

Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Karena ini lagi di bulan al-Qur’an, gua ingin bikin blog analisis sederhana tentang al-Qur’an.

Dalam al-Qur’an, Allah banyak bersumpah dengan menyebut-nyebut benda langit. Pemilihan kata untuk benda-benda langit tadi begitu serius bedanya. Walau beberapa terjemahan, gak serius membedakannya. Taruhlah kata [Kawaakib :: الْكَوَاكِبُ] dan [Nujuum :: النُّجُومَ]. Banyak terjemahan yang nerjemahin kedua kata ini dengan kata yang sama ‘bintang-bintang‘. Padahal mereka berdua berbeda, hurufnya aja udah beda, apalagi kata-kata yang mengikuti mereka.

Jadi, apa beda [Kawaakib :: الْكَوَاكِبُ] dan [Nujuum :: النُّجُومَ]?

Mari kita bertanya kepada al-Qur’an, karena al-Qur’an menjelaskan tentang dirinya sendiri.

Kata [Kawaakib :: الْكَوَاكِبُ] memiliki kata dasar [ك و ك ب], dan bentukan kata ini muncul 5 kali dalam al-Qur’an. Kisah paling fenomenal tentang [ك و ك ب] ini mungkin bisa ditemui dari kisah nabi Yusuf dan nabi Ibrahim. Mari kita lihat kisah nabi Yusuf terlebih dahulu ketika dia bermimpi melihat 11 [كَوْكَبًا] bersujud padanya.

…إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا…
… sesungguhnya aku telah melihat sebelas كَوْكَبًا… [Q12:4]

Lebih lengkapnya, ada Matahari dan Bulan juga ikutan bersujud kepadanya. Jadi, 11 [كَوْكَبًا], Matahari, dan Bulan. Sampai di sini harusnya pembaca mulai merasakan gaya bahasa atas benda-benda langit yang dimaksud, bahwa ini, tampaknya merujuk ke tata surya.

Kalau [كَوْكَبًا] artinya bintang, sedang ukuran bintang seperti yang kita tahu gede-gede dan banyak yang lebih besar daripada Matahari, maka Bulan akan tampak kasihan sekali dalam mimpinya nabi Yusuf, karena dia kecilnya kebangetan di antara temen-temennya yang lain gede-gede. Dan Bulan tidak mengeluarkan cahaya dari dirinya sendiri, bakal sangat kontras sama bintang-bintang dan Matahari yang mengeluarkan cahaya sendiri. Sebaliknya, kalau [كَوْكَبًا] artinya planet, dan merujuk sebuah tata surya, maka mimpi nabi Yusuf menjadi mimpi yang sangat masuk akal. Btw, tata surya kita cuman ada 8/9 planet doang, ini kok 11? Tapi, yakin cuman ada 8/9 planet? Yakin yang dimaksud tata suryanya itu tata surya kita? Terakhir gua tahu, ada orang yang berburu planet ke-9 yang lokasinya di luar cooper belt. Jadi, apakah [كَوْكَبًا] merujuk pada planet?

Mari lanjut, ke ayat selanjutnya untuk menuntaskan kecurigaan kita bahwa [الْكَوَاكِبُ] adalah “planet-planet” adanya. Setelah nabi Ibrahim berargumen sama bapaknya tentang berhala-berhala yang dia sembah, adegan berpindah ke scene yang menarik.

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ
Ketika malam telah menyelimuti dia, dia melihat sebuah [كَوْكَبًا], dia berkata inilah Tuhanku, ketika itu terbenam, dia berkata aku tidak suka yang terbenam [Q6:76]

Kemudian adegan dilanjutkan ketika dia melihat Bulan dia berkata inilah Tuhanku. Bulannya tenggelam, terus dia berkata sungguh jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat. Adegan pun berlanjut ketika dia melihat Matahari terbit, dia berkata inilah Tuhanku ini lebih besar. Tapi Mataharinya tenggelam, dia berkata wahai kaumku sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Sampai di sini kita dapat 2 macam informasi tentang

  1. Berhala-berhala kaumnya nabi Ibrahim, dan
  2. Kegiatan nabi Ibrahim mengomentari
    a.) sebuah [كَوْكَبًا] -> b.) Bulan -> c.) Matahari

Bagian berhala-berhalanya bisa dipahami bahwa mereka punya banyak jenis berhala. Tapi ada adegan nabi Ibrahim bermonolog tentang [كَوْكَبًا], Bulan, dan Matahari, sebagai objek potensial sebagai sesuatu yang disembah, kayaknya kontras sekali berhala versus benda-benda langit. Selain itu, [كَوْكَبًا] ini yang mana yang dimaksud ya? Banyak sesuatu yang bersinar di langit, ada Sirius, ada Jupiter. Tapi, dilihat dari urutan dia berkomentar tentang benda-benda langit ini, hampir bisa dipastikan dia merujuk kepada 3 benda langit paling bersinar di langit, Venus, Bulan, dan Matahari. Venus? Iya, dan Venus, walaupun terlihat bercahaya, dia bukan bintang.

Oh btw, dari ekskavasi yang ditemukan di kota di mana asal nabi Ibrahim tinggal, tanpa perlu terkejut lagi, ditemukan banyak berhala di sana, ada yang ukurannya gede, ada juga yang ukurannya kecil-kecil kayak mainan robot-robotan. Menariknya, ada 3 berhala paling gede di antara berhala-berhala lainnya yang ukurannya ndak seberapa. Apa ketiga berhala itu? Tidak lain adalah berhala yang muncul di Kudurru berikut.

Buat gambaran, strata berhala-berhala mereka di zaman Melishipak II bisa dilihat sebagai berikut.

KudurruMelishipakII

Kudurru zaman Melishipak II. Thanks to: pinterest

Gak terlalu jelas ya? Hyuk, kita perbesar di Kudurru zaman Melishipak I.

Louvre Museum, Paris. Department of Near Eastern Antiquities. Kudurru (stele) of King Melishipak I (1186–1172 BC): the king presents his daughter to the goddess Nannaya. The crescent moon represents the god Sin, the sun the Shamash and the star the godd

Kudurru zaman Melishipak I. Thanks to: Babak Tafreshi

Ada gambar si raja terlihat lagi bawa anaknya ke depan sesuatu. Tiga objek di atasnya dari kiri ke kanan melambangkan apa yang mereka sembah, Ishtar (Venus), Sin (Bulan), dan Shamash (Matahari). Ini adalah objek-objek langit yang dikomentari nabi Ibrahim. Dan ini adalah berhala-berhala terbesar kaumnya. Sebuah [كَوْكَبًا] yang dikomentari nabi Ibrahim merujuk pada sebuah planet, yang dijadikan objek sembahan sama kaumnya, yaitu Venus. Di sini, al-Qur’an sangat teliti sekali dengan tidak menggunakan kata [النَّجْمِ] yang berarti bintang ketika merujuk apa yang dilihat nabi Ibrahim, tapi al-Qur’an menggunakan kata [كَوْكَبًا] ketika merujuk Venus.

Apakah mereka membeda-bedakan antara komet, planet, dan bintang? Ndak. Orang jamannya nabi Ibrahim lihat yang bercahaya di langit ya dikomentari ‘bintang‘ doang. Al-Qur’an mengomentari apa yang mereka komentari dengan diksi yang berbeda.

Sampai di sini, [الْكَوَاكِبُ] adalah “planet-planet”. Tapi satu lagi, kayaknya perlu satu lagi ayat yang menegaskan bahwa [الْكَوَاكِبُ] berperilaku seperti “planet-planet” adanya, bukan seperti “bintang-bintang“. Maka, mari kita melihat Ayat singkat berikut.

وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ
Dan apabila [Kawaakib :: الْكَوَاكِبُ] berserakan [Q82:2]

Kata [انْتَثَرَتْ] berasal dari kata dasar [ن ث ر], bisa diartikan berarti berserakan, berterbangan, bertaburan. Dipergunakan untuk benda-benda yang keras seperti bebatuan, mutiara, atau debu. Adapun bintang, yang pada dasarnya gas, ndak pas kalau digandengkan sama kata[انْتَثَرَتْ]. Tapi sejujurnya, artinya kok masih luas begini ya? Sekali lagi, mari kita bertanya kepada al-Qur’an bagaimana dia menggunakan kata [ن ث ر] ini, karena al-Qur’an menjelaskan tentang dirinya sendiri. Kata ini hanya dipergunakan 3 kali dalam al-Qur’an. Apa saja itu?

  1. Untuk [الْكَوَاكِبُ] – [Q82:2]
  2. Untuk kesudahan amal-amal orang-orang yang celaka – [Q25:23]
  3. Untuk kesudahan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan – [Q76:19]

Uhm, perpaduan planet-planet, orang-orang celaka, dan orang-orang yang berbuat kebajikan dari Ayat-ayat yang berjauhan posisinya. Perpaduan simetri yang begitu elegan.

Untuk nomor 2, amal-amal orang-orang yang tidak mengharap pertemuan dengan Tuhan-Nya, di [Q25:23] digambarkan amal-amal mereka akan dibuat bagai debu yang berterbangan. Nuansa yang paling kentara dari ayat ini adalah, debu yang berterbangan.

Untuk nomor 3, pada [Q76:19], disebutkan orang-orang yang berbuat kebajikan, mereka dikelilingi para pemuda yang kekal. Dan para pemuda yang kekal ini, jika dilihat, mereka bagaikan mutiara yang bertaburan.

OK, jadi apa tadi yang dikelilingi? Orang-orang yang berbuat kebajikan. Mereka dikelilingi siapa? Para pemuda yang kekal. Para pemuda ini dimisalkan seperti apa? Mutiara yang bertaburan.

Sekarang hyuk kita melihat hubungan antar bintang dan planet. Bedanya, mari kita kiaskan orang-orang yang berbuat kebajikan tadi sama bintang-bintang, dan para pemuda kekal ini sama planet-planet. Jadi, bintang-bintang di langit itu pada dasarnya mereka dikelilingi oleh sesuatu. Mereka dikelilingi sama apa? Sama para planet. Planet-planet ini bisa dimisalkan seperti apa? Bola-bola yang bertaburan. Bandingkan sama kesudahan orang-orang yang celaka, mereka bagaikan dikelilingi amal-amal yang berterbangan menjadi debu.

Kesimpulannya, [Kawaakib :: الْكَوَاكِبُ] adalah “planet-planet”.

Bagaimana dengan kata [Nujuum :: النُّجُومَ]? Kata ini memiliki kata dasar [ن ج م] dan muncul sebanyak 13 kali di dalam al-Qur’an. Artinya “bintang-bintang”. Udah.

Di sini gua ndak mempermasalahkan arti [Nujuum :: النُّجُومَ]. Gua mempermasalahkan kata [Kawaakib :: الْكَوَاكِبُ] yang diterjemahkan sebagai “bintang-bintang”, yang padahal artinya “planet-planet”. Adapun kata [Nujuum :: النُّجُومَ] dalam al-Qur’an sudah cukup sering dibarengi dengan kata-kata sifat yang artinya bercahaya, besar sekali, membara. Bintang, memang begitu adanya, bercahaya, besar sekali, dan membara.

Sekian.

Wallahualam.

Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh