Kajian al-Qur’an :: Diksi :: Beda Kawaakib dan Nujuum

Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Karena ini lagi di bulan al-Qur’an, gua ingin bikin blog analisis sederhana tentang al-Qur’an.

Dalam al-Qur’an, Allah banyak bersumpah dengan menyebut-nyebut benda langit. Pemilihan kata untuk benda-benda langit tadi begitu serius bedanya. Walau beberapa terjemahan, gak serius membedakannya. Taruhlah kata [Kawaakib :: الْكَوَاكِبُ] dan [Nujuum :: النُّجُومَ]. Banyak terjemahan yang nerjemahin kedua kata ini dengan kata yang sama ‘bintang-bintang‘. Padahal mereka berdua berbeda, hurufnya aja udah beda, apalagi kata-kata yang mengikuti mereka.

Jadi, apa beda [Kawaakib :: الْكَوَاكِبُ] dan [Nujuum :: النُّجُومَ]?

Mari kita bertanya kepada al-Qur’an, karena al-Qur’an menjelaskan tentang dirinya sendiri.

Kata [Kawaakib :: الْكَوَاكِبُ] memiliki kata dasar [ك و ك ب], dan bentukan kata ini muncul 5 kali dalam al-Qur’an. Kisah paling fenomenal tentang [ك و ك ب] ini mungkin bisa ditemui dari kisah nabi Yusuf dan nabi Ibrahim. Mari kita lihat kisah nabi Yusuf terlebih dahulu ketika dia bermimpi melihat 11 [كَوْكَبًا] bersujud padanya.

…إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا…
… sesungguhnya aku telah melihat sebelas كَوْكَبًا… [Q12:4]

Lebih lengkapnya, ada Matahari dan Bulan juga ikutan bersujud kepadanya. Jadi, 11 [كَوْكَبًا], Matahari, dan Bulan. Sampai di sini harusnya pembaca mulai merasakan gaya bahasa atas benda-benda langit yang dimaksud, bahwa ini, tampaknya merujuk ke tata surya.

Kalau [كَوْكَبًا] artinya bintang, sedang ukuran bintang seperti yang kita tahu gede-gede dan banyak yang lebih besar daripada Matahari, maka Bulan akan tampak kasihan sekali dalam mimpinya nabi Yusuf, karena dia kecilnya kebangetan di antara temen-temennya yang lain gede-gede. Dan Bulan tidak mengeluarkan cahaya dari dirinya sendiri, bakal sangat kontras sama bintang-bintang dan Matahari yang mengeluarkan cahaya sendiri. Sebaliknya, kalau [كَوْكَبًا] artinya planet, dan merujuk sebuah tata surya, maka mimpi nabi Yusuf menjadi mimpi yang sangat masuk akal. Btw, tata surya kita cuman ada 8/9 planet doang, ini kok 11? Tapi, yakin cuman ada 8/9 planet? Yakin yang dimaksud tata suryanya itu tata surya kita? Terakhir gua tahu, ada orang yang berburu planet ke-9 yang lokasinya di luar cooper belt. Jadi, apakah [كَوْكَبًا] merujuk pada planet?

Mari lanjut, ke ayat selanjutnya untuk menuntaskan kecurigaan kita bahwa [الْكَوَاكِبُ] adalah “planet-planet” adanya. Setelah nabi Ibrahim berargumen sama bapaknya tentang berhala-berhala yang dia sembah, adegan berpindah ke scene yang menarik.

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ
Ketika malam telah menyelimuti dia, dia melihat sebuah [كَوْكَبًا], dia berkata inilah Tuhanku, ketika itu terbenam, dia berkata aku tidak suka yang terbenam [Q6:76]

Kemudian adegan dilanjutkan ketika dia melihat Bulan dia berkata inilah Tuhanku. Bulannya tenggelam, terus dia berkata sungguh jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat. Adegan pun berlanjut ketika dia melihat Matahari terbit, dia berkata inilah Tuhanku ini lebih besar. Tapi Mataharinya tenggelam, dia berkata wahai kaumku sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Sampai di sini kita dapat 2 macam informasi tentang

  1. Berhala-berhala kaumnya nabi Ibrahim, dan
  2. Kegiatan nabi Ibrahim mengomentari
    a.) sebuah [كَوْكَبًا] -> b.) Bulan -> c.) Matahari

Bagian berhala-berhalanya bisa dipahami bahwa mereka punya banyak jenis berhala. Tapi ada adegan nabi Ibrahim bermonolog tentang [كَوْكَبًا], Bulan, dan Matahari, sebagai objek potensial sebagai sesuatu yang disembah, kayaknya kontras sekali berhala versus benda-benda langit. Selain itu, [كَوْكَبًا] ini yang mana yang dimaksud ya? Banyak sesuatu yang bersinar di langit, ada Sirius, ada Jupiter. Tapi, dilihat dari urutan dia berkomentar tentang benda-benda langit ini, hampir bisa dipastikan dia merujuk kepada 3 benda langit paling bersinar di langit, Venus, Bulan, dan Matahari. Venus? Iya, dan Venus, walaupun terlihat bercahaya, dia bukan bintang.

Oh btw, dari ekskavasi yang ditemukan di kota di mana asal nabi Ibrahim tinggal, tanpa perlu terkejut lagi, ditemukan banyak berhala di sana, ada yang ukurannya gede, ada juga yang ukurannya kecil-kecil kayak mainan robot-robotan. Menariknya, ada 3 berhala paling gede di antara berhala-berhala lainnya yang ukurannya ndak seberapa. Apa ketiga berhala itu? Tidak lain adalah berhala yang muncul di Kudurru berikut.

Buat gambaran, strata berhala-berhala mereka di zaman Melishipak II bisa dilihat sebagai berikut.

KudurruMelishipakII

Kudurru zaman Melishipak II. Thanks to: pinterest

Gak terlalu jelas ya? Hyuk, kita perbesar di Kudurru zaman Melishipak I.

Louvre Museum, Paris. Department of Near Eastern Antiquities. Kudurru (stele) of King Melishipak I (1186–1172 BC): the king presents his daughter to the goddess Nannaya. The crescent moon represents the god Sin, the sun the Shamash and the star the godd

Kudurru zaman Melishipak I. Thanks to: Babak Tafreshi

Ada gambar si raja terlihat lagi bawa anaknya ke depan sesuatu. Tiga objek di atasnya dari kiri ke kanan melambangkan apa yang mereka sembah, Ishtar (Venus), Sin (Bulan), dan Shamash (Matahari). Ini adalah objek-objek langit yang dikomentari nabi Ibrahim. Dan ini adalah berhala-berhala terbesar kaumnya. Sebuah [كَوْكَبًا] yang dikomentari nabi Ibrahim merujuk pada sebuah planet, yang dijadikan objek sembahan sama kaumnya, yaitu Venus. Di sini, al-Qur’an sangat teliti sekali dengan tidak menggunakan kata [النَّجْمِ] yang berarti bintang ketika merujuk apa yang dilihat nabi Ibrahim, tapi al-Qur’an menggunakan kata [كَوْكَبًا] ketika merujuk Venus.

Apakah mereka membeda-bedakan antara komet, planet, dan bintang? Ndak. Orang jamannya nabi Ibrahim lihat yang bercahaya di langit ya dikomentari ‘bintang‘ doang. Al-Qur’an mengomentari apa yang mereka komentari dengan diksi yang berbeda.

Sampai di sini, [الْكَوَاكِبُ] adalah “planet-planet”. Tapi satu lagi, kayaknya perlu satu lagi ayat yang menegaskan bahwa [الْكَوَاكِبُ] berperilaku seperti “planet-planet” adanya, bukan seperti “bintang-bintang“. Maka, mari kita melihat Ayat singkat berikut.

وَإِذَا الْكَوَاكِبُ انْتَثَرَتْ
Dan apabila [Kawaakib :: الْكَوَاكِبُ] berserakan [Q82:2]

Kata [انْتَثَرَتْ] berasal dari kata dasar [ن ث ر], bisa diartikan berarti berserakan, berterbangan, bertaburan. Dipergunakan untuk benda-benda yang keras seperti bebatuan, mutiara, atau debu. Adapun bintang, yang pada dasarnya gas, ndak pas kalau digandengkan sama kata[انْتَثَرَتْ]. Tapi sejujurnya, artinya kok masih luas begini ya? Sekali lagi, mari kita bertanya kepada al-Qur’an bagaimana dia menggunakan kata [ن ث ر] ini, karena al-Qur’an menjelaskan tentang dirinya sendiri. Kata ini hanya dipergunakan 3 kali dalam al-Qur’an. Apa saja itu?

  1. Untuk [الْكَوَاكِبُ] – [Q82:2]
  2. Untuk kesudahan amal-amal orang-orang yang celaka – [Q25:23]
  3. Untuk kesudahan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan – [Q76:19]

Uhm, perpaduan planet-planet, orang-orang celaka, dan orang-orang yang berbuat kebajikan dari Ayat-ayat yang berjauhan posisinya. Perpaduan simetri yang begitu elegan.

Untuk nomor 2, amal-amal orang-orang yang tidak mengharap pertemuan dengan Tuhan-Nya, di [Q25:23] digambarkan amal-amal mereka akan dibuat bagai debu yang berterbangan. Nuansa yang paling kentara dari ayat ini adalah, debu yang berterbangan.

Untuk nomor 3, pada [Q76:19], disebutkan orang-orang yang berbuat kebajikan, mereka dikelilingi para pemuda yang kekal. Dan para pemuda yang kekal ini, jika dilihat, mereka bagaikan mutiara yang bertaburan.

OK, jadi apa tadi yang dikelilingi? Orang-orang yang berbuat kebajikan. Mereka dikelilingi siapa? Para pemuda yang kekal. Para pemuda ini dimisalkan seperti apa? Mutiara yang bertaburan.

Sekarang hyuk kita melihat hubungan antar bintang dan planet. Bedanya, mari kita kiaskan orang-orang yang berbuat kebajikan tadi sama bintang-bintang, dan para pemuda kekal ini sama planet-planet. Jadi, bintang-bintang di langit itu pada dasarnya mereka dikelilingi oleh sesuatu. Mereka dikelilingi sama apa? Sama para planet. Planet-planet ini bisa dimisalkan seperti apa? Bola-bola yang bertaburan. Bandingkan sama kesudahan orang-orang yang celaka, mereka bagaikan dikelilingi amal-amal yang berterbangan menjadi debu.

Kesimpulannya, [Kawaakib :: الْكَوَاكِبُ] adalah “planet-planet”.

Bagaimana dengan kata [Nujuum :: النُّجُومَ]? Kata ini memiliki kata dasar [ن ج م] dan muncul sebanyak 13 kali di dalam al-Qur’an. Artinya “bintang-bintang”. Udah.

Di sini gua ndak mempermasalahkan arti [Nujuum :: النُّجُومَ]. Gua mempermasalahkan kata [Kawaakib :: الْكَوَاكِبُ] yang diterjemahkan sebagai “bintang-bintang”, yang padahal artinya “planet-planet”. Adapun kata [Nujuum :: النُّجُومَ] dalam al-Qur’an sudah cukup sering dibarengi dengan kata-kata sifat yang artinya bercahaya, besar sekali, membara. Bintang, memang begitu adanya, bercahaya, besar sekali, dan membara.

Sekian.

Wallahualam.

Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Advertisements

7 thoughts on “Kajian al-Qur’an :: Diksi :: Beda Kawaakib dan Nujuum

    • Subhanallah Iman, apa kabar? 😀

      Pemikiran sendiri ndak lebih dari 1% kayaknya. Wkwkwk. Sisanya ngandelin om google, wikipedia, corpus Qur’an, sama lexicon bahasa Arab.

      Lain kali kayaknya perlu gua bikin daftar bibliografi di paper-paper sepertinya.

      • Alhamdulillah baik ka. Ka Agi gmn kbrnya?
        ide bagus ka, ditambah referensi di tulisannya.
        Klo sempat bisa juga ditambah hasil diskusi dgn pakar tafsir ^^. Akan lebih joss sepertinya. hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s