Pengalaman ke China tanpa Visa – China Eastern Airlines – TWOV

Pada umumnya untuk masuk China, WNI membutuhkan visa. Nah kebetulan kemaren, untuk mengisi liburan dalam rangka mengingat 215 tahun dibubarkannya VOC, gua memutuskan ingin jalan-jalan ke kota-kota di negara sekitar (Korea), yang dalam hal ini gua putuskan China sebagai negara tujuan gua. Dulu pernah gua dibantuin bikin visa turis ke China, dan saat itu dokumen yang perlu disiapin ga seribet visa negara tetangganya. Tapi teuteup, gua ga ada pengalaman bikin visa turis China langsung dan gua pun males cuti bolak-balik bikin dan ambil visa di sini. Ditambah gua dapat info, visa turis ke China mensyaratkan masa berlaku Alien Card (kartu kependudukan orang asing di Korea) minimal 6 bulan. Adapun visa gua adalah visa yang kudu gua perpanjang di akhir tahun, alias gua ga memungkinkan apply visa turis ke China di bulan-bulan Juli ke bawah.

Namun ternyata Tuhan menunjukkan cara lain. Ternyata tiket pesawat dari Seoul ke Singapura lebih efisien dibanding gua beli Seoul ke Shanghai atau kota-kota sekitar. Terlebih Papi gua ada di Medan yang notabene deket dengan Singapura. Dan tiket Seoul ke Singapura ini memungkinkan gua untuk transit di Shanghai hampir seharian. Dan yang lebih menyenangkannya lagi, ternyata China memiliki kebijakan TWOV aka Transit Without Visa (Transit Tanpa Visa). Di China kebijakan ini memungkinkan para pengguna maskapai untuk berhenti sebentar di kota transit setelah melewati imigrasi, dan diperbolehkan untuk berkeliaran bebas di kota tersebut (dalam beberapa kasus, bebas di daerah tersebut) selama kurun waktu 24 jam.

Tiket pun mulai gua pesan untuk tujuan Singapura. Saat itu pilihannya China Eastern Airlines yang tersedia. Ini gua lihat-lihat harganya murmer untuk ukuran penerbangan jarak jauh. Bisa dibilang Air Asianya China, walau ada juga yang China Southern Airlines. Iseng-iseng gua ngecek rating nih maskapai, dan gua pun menemukan berita bahwa dia masuk 10 maskapai terburuk. Komen-komennya banyak yang ngeluh tentang makanan yang di sediakan. Suram. =_=’

China Eastern Airlines. Thanks to: ch-aviation

China Eastern Airlines. Thanks to: ch-aviation

Btw, gua pun mulai mencari-cari Hostel murah daerah Shanghai. Oh ya, Shanghai ini punya 2 bandara internasional, Hongqiao sama Pudong. Dan bandara kedatangan gua berbeda sama bandara keberangkatan gua. Gua kudu turun di Hongqiao baru kemudian besoknya nyambung penerbangan ke Singapura via Pudong. Dan dua-duanya ini jauh jaraknya. Maka gua pun memutuskan untuk nginep di Hostel yang lokasinya kira-kira ada di tengah-tengah kedua bandara tadi, yang ternyata, setelah gua lihat-lihat peta, banyak tempat menarik yang bisa gua datangi di sekitar Hostel gua.

Peta Bandara Hongqiao ke Pudong. Thanks to: map.baidu

Peta Bandara Hongqiao ke Pudong. Thanks to: map.baidu

Maka tibalah hari H. Sebetulnya masih terbesit rasa kurang percaya diri di gua. Pertanyaan-pertanyaan cem, “Ini beneran boleh diijinkan masuk ga ya di Shanghainya. Bijimana prosesi pengurusan TWOV ini? Ada bagian sendirinyakah atau gimana?”, bermunculan di otak gua. Soalnya publikasi tentang TWOV ini lebih kenceng informasinya yang tentang TWOV 72 jam. TWOV 72 jam sendiri adalah kebijakan TWOV untuk pemegang paspor negara-negara tertentu, yang Indonesia, ternyata tidak termasuk di dalamnya. Singkat kata, akhirnya gua pun berangkat dari Incheon menuju Shanghai. Si counternya ga mempermasalahkan rencana ke-TWOV-an gua, dia malah justru nanyain status visa Singapura gua. Padahal Singapura masuk perjanjian bebas visa ASEAN.

Sesampai di dalam pesawat kesan pertama yang gua lihat, kabinnnya ga jelek-jelek amat. Ga sesuram poto kabin yang ane temuin di google. Bener-bener mengingatkan gua sama Air Asia. Juga, seinget gua walau kursinya agak keras, tapi tetep nyaman untuk diduduki. Intinya, interiornya bisa dibilang bagus. Setelah selang beberapa lama pesawat berangkat, pramugari pun mulai ngebagiin makanan. Dan pas nyampe di kursi gua, gua ngelihat tulisan “肉” aka “daging” di bungkus makanan. Gua pun tanya ke si pramugarinya ada ga makanan vegetarian. Dia pun rada bingung karena makanan tampak tidak ada, dan dia pun balik bertanya, sudah pesen makanan spesial belum sebelum berangkat? Dan gua baru ngeh si China Eastern ini menawarkan jasa makanan khusus yang bisa dipesan sebelum berangkat. Alhasil gua pun cuman makan roti. Hik. Ah, tapi untungnya, penerbangan leg kedua gua dari Shanghai ke Singapura, mereka ada sediain dua jenis makanan, yang salah satunya adalah “鱼” aka “ikan”. Puji Tuhan, gua pun bisa makan di perjalanan yang kedua ini. Pas ane lihat, isinya itu cem ikan lele deh keknya. Haha. Btw, selese dengan makanan gua pun beralih nonton film. Ini gua lupa-lupa ingat, kayaknya ya, ada leg penerbangan yang ga ada filmnya. Tapi yang ada filmnya, koleksi filmnya lumayan oke punya doi.

Setelah perjalanan singkat, maka pesawat pun nyampe di Hongqiao, Shanghai. Di ruang kedatangan imigrasi, sudah banyak orang berjejer antri masuk. Gua awalnya pikir klo TWOV 24 jam ada loketnya sendiri atau diurus maskapai. Dan gua tidak melihat kedua hal itu. Gua pun siap-siap ngeluarin tiket gua yang nunjukkin klo gua ada tiket pergi ke negara ketiga yang nunjukkin klo gua cuman transit di bawah 24 jam. Ternyata selang ga berapa lama, ada petugas imigrasi yang mondar-mandir ngecekin penumpang sambil tanya-tanya apakah mereka transit atau nggak. Giliran gua nyampe di depan petugas imigrasi dan lapor klo gua transit, si petugasnya langsung ngarahin gua dikumpulin di area sendiri setelah garis pembatas masuk imigrasi di mana ada petugas transit khusus TWOV di sana. Banyak orang-orang pada berdiri nunggu di sana. Paspor ane pun diminta. Mereka meriksa paspor satu-satu dan tiketnya ternyata. Yang lolos pemeriksaan pun mulai dipanggil satu-satu. Lama gua nunggu, ada 10-30 menit kali ya. Sampai akhirnya ada petugas yang nyocokin paspor gua sama wajah gua dan doi pun ngasih paspor gua sambil ngangguk bilang, “OK”. Haha. Gua akhirnya lolos dan bisa masuk China tanpa paspor. Hore. Jadi tips gua, klo kalian lagi TWOV-an dan kebetulan ngerencanain transit yang mepet antar 2 airport, ada baiknya diperhatikan juga waktu buat pemeriksaan transit.

Ada sesuatu yang menarik yang gua amati sewaktu gua transit balik dari Singapura-Shanghai ke Shanghai-Incheon. Waktu itu gua berangkat sekitar jam 11:25 malam Singapura dan nyampe Shanghai jam 4:55 Subuh. Mata gua masih beberapa Watt dan gua pun masih belum 100 persen sadar waktu turun. Di bandara kedatangan ada loket khusus bagi mereka yang transit tanpa masuk ngelewati imigrasi. Dan itu antrian udah mulai mengular. Dan jam segitu si loketnya masih adem ayem aja. Ada mbak-mbak yang nungguin loket sih, tapi mereka ga ngapa-ngapain. Beberapa bule yang ga sabar ngedatangin tuh meja nanya kapan dibuka. Mereka jawab sesuatu. Gua ga denger. Yang jelas si bule, yang kebetulan bawa maknya, keluar dari baris antrian dan langsung nyelonjor di kursi tunggu. Ane pun keluar antrian dan mengarungi toilet dan tempat-tempat nongkrong sekitar bareng warga-warga asing yang pada bengong-bengong ga jelas. Ternyata sodara-sodara, loketnya bukanya jam 5:30 pagi. Untung gua ga pegang penerbangan lanjutan di bawah jam segitu. Barulah ane bisa masuk ke ruang boarding yang masih sepi dan selonjor tidur di salah satu kursi gate sepi pagi itu.

Mobil Bagasi

Mobil Bagasi

Oya selain itu, transit balikan ini juga menguras ati. Sebelumnya ane pernah denger temen ane delay 2 jam di Shanghai, dan katanya ini tempat emang terkenal delaynya sama tuh maskapai. Tapi maskapai ane ternyata ga ngetem tuh manggilin penumpang di boarding room, aka tepat waktu manggilnya. Gua pikir ane beruntung masuk pesawat tepat waktu. Gua pun udah ga sabar segera nyampe Incheon dan tidur di rumah. Nuansa kabin saat itu gray, pramugari-pramugarinya hilir mudik pasang wajah sedikit senyum. Di luar pun cuaca mendung. Gua teringat gua sempet ngelihat mobil bagasi masukin barang ke dalam pesawat. Lama gua menunggu. Ada kira-kira beberapa menit, si kapten ngasih pengumuman yang gua rada ga ngeh apa maksudnya. Suasana ceria di hati gua pun mulai bete. Karena pesawat ga berangkat-berangkat. Detik pun berjalan lambat. Yang setelah gua amati gua mulai gelisah karena pesawat ga berangkat-berangkat sesudah 1 jam ane nongkrong di dalem. Beuh. Buset dah. Klo delay di boarding room gua masih bisa keluyuran jalan-jalan atau beli makanan atau cuci mata lihat pemandangan. Nah ini, gua diphpin di dalem kabin yang ga tahu kapan berangkatnya. Ngelihat orang-orang mulai ga sabar, para pramugari pun mulai ngebagiin makanan ke orang-orang. Lumayan ngehilangin kebosanan. Makanan pun beres. Terus ngapain? Haha. Bete gua di dalem kabin pas itu. Sampai akhirnya, 2 jam kemudian pesawat pun berangkat. Akhirnya!

Bener-bener pengalaman unik naik si China Eastern. 😀

Sebetulnya masih banyak yang pingin gua ceritain selama gua di Shanghai sama di Singapura. Tapi intinya, not bad juga naik ini pesawat. Gua ngerasa gelar 10 maskapai terburuk keknya berlebihan untuk pengalaman gua kali ini. Karena pelayanan jalur yang gua naiki cukup baik dan memuaskan, kecuali delay tadi. Lumayan lah recommended buat yang demen perjalanan murah via Shanghai.

Berikut video acara jalan-jalan singkat gua di Shanghai.

Akhir kata, selamat berjalan-jalan.

Advertisements

Salmon Kimchi Rebus dengan Kerang bersaoskan Tomat Jahe

Kimchi adalah salah satu makanan penyambut gua di Korea yang sukses bikin gua mau muntah beberapa waktu sesaat setelah lahapan pertama di mulut. Intinya, gua ga demen. Acem, kecut, busuk, aneh, ga jelas, dan ga enak.

Tapi itu dulu. Sekarang, gua malah lumayan sering makan kimchi. Bahkan gua sudah mulai bisa membedakan mana kimchi enak dan mana kimchi ga enak. Padahal, pada dasarnya, rasanya ya sebetulnya, bagi gua tetep ga enak. Hahaha.

Btw, gua menemukan sebuah penemuan luar biasa. Penemuan yang merubah cara pandang gua ke kimchi beda adanya. Gua ga asal masukin segelas air ke panci lagi buat ngerebus kimchi, tapi gua menemukan cita rasa Indonesia campur Korewa dalam ramuan gua, yang gua sendiri juga sebetulnya asal njeplak juga motong, nyincang, dan nyemplungin bumbu dapur ke panci.

Inilah penampakan amatir masak-memasak gua tanpa bumbu sachet yang bikin gua ketagihan ngulang masak dengan racikan bumbu yang sama.

Boiled ClamSalmon Kimchi with Tomato Ginger Sauce spiced with Kaffir Lime Leaves and Lemon Grass

Boiled Clam Salmon Kimchi with Tomato Ginger Sauce spiced with Kaffir Lime Leaves and Lemon Grass

Berikut adalah resep pembuatannya.

Bumbu:
1 Sere
2 lembar Jeruk Purut
5 irisan tipis Jahe

Saos:
8 butir Tomat kecil
1/2 buah Paprika
3 Cabe non pedes

Rempah:
1 sendok makan tipis Garam
1/2 sendok makan tipis Lada
1 sendok makan tipis Ketumbar

Minyak:
1 sendok makan minyak zaitun

Menu utama:
Kimchi
Kerang
Salmon

Bahan-bahan. Thanks to: Flickr Nagy (Kimchi), Mohamed Yosri (Sere), Francisco Manuel Blanco (Daun Jeruk Purut), Timothy Knepp (Salmon)

Bahan-bahan. Thanks to: Flickr Nagy (Kimchi), Mohamed Yosri (Sere), Francisco Manuel Blanco (Daun Jeruk Purut), Timothy Knepp (Salmon)

Cara memasak:

Rebus bumbu di air mendidih sambil masukkan kerang.
Tunggu sampai air menguning.
Masukkan adonan saos yang sudah diulek/dicampur/diblender.
Tambahkan rempah dan minyak zaitun.
Masukkan kimchi secukupnya.
Aduk adonan sampai mendidih.
Jika adonan sudah berkurang airnya kira2 setengahnya, masukkan Salmon.
Masak sampai adonan air tinggal setengahnya lagi.

Sajikan hangat.

Hahaha. Sorry lebay. Tapi gua coba rasanya ga norak-norak amat kok. Akhir kata, selamat masak-masak bagi siapapun yang akan masak-masak apapun.

😀

Ketibaan Musim Dingin

Waktu ga terasa jalannya cepet ya. Rasanya baru September kemaren gua perpanjang visa gua, baru April kemaren gua balik jalan-jalan, baru Januari kemaren gua ngelihat monyet-monyet pada mandi. Dan sekarang, gua ketemu musim dingin lagi. Musim yang gua ga bisa umbar-umbar aurat lagi. Haha.

Gua pribadi seneng-seneng sebel sama musim dingin. Gua seneng karena gua suka suhunya. Walau bisa minus di bawah 0, badan gua ga rewel sama suhu musim dingin. Melankolis lah. Menenangkan.

Yang gua ga suka dari musim ini adalah kalau salju turun. Bagusnya di awal doang. Sisanya jalanan jadi licin karena es membeku. Orang lokal pun banyak yang berkali-kali kepeleset jatuh. Gua yang bukan orang lokal? Haha. Apalagi kalau hujan turun, wah, itu, menambah efek licin es jadi lebih licin lagi. Gua selalu takjub sama anak2 yang bisa lari-lari di atas salju tanpa jatuh. Selain itu hari-hari entah kenapa jadi suram, cem mendung-mendung ga jelas gitu. Kurang matahari lah. Nemu secercah kehangatan matahari aja senengnya bukan main. Bahkan buka freezer kulkas pun rasanya bisa lebih hangat daripada suhu sekitar.

Wah, ternyata lebih banyak yang ga gua suka ya. Haha.

Kerjaan gua prediksi bakal ga terlalu banyak berhubung beberapa sudah mulai bisa gua beresin belakangan. Maka dari itu tahun baru gua ada rencana mau pergi ke tempat hangat, atau kalau ga, bisa dibilang panas. Lima hari udah gua coba alokasiin. Gua ga sabar nunggu hari H datang. Entah kenapa gua seneng aja nunggunya. 😀

Ah, gua inget. Gua juga baru aja dapat hasil tes kesehatan.

Haha. Ini hasil nggak banget lah. Hal yang sama sekali ga pernah gua bayangin waktu jaman SMP ataupun SMA. Jaman-jaman gua kurang gizi. Kangen gua masa-masa alay gua. Belakangan gua yang udah ngerasa nggak bener sama pola hidup gua, gua mulai coba perbaiki lagi asupan makan gua. Buah pun gua jus hampir tiap hari. Kata dokter gua disarankan menghindari makanan yang paling gua cintai. Maka ayam pun gua tinggalkan sama sekali. Ah, tragisnya.

Akhir kata, semoga liburan besok bisa menoreh bekas yang lumayan membekas di ingatan gua. Besar kemungkinan gua bikin laporan video jalan-jalan gua di liburan mendatang.

Akhir kata, selamat beraktifitas semuanya.
🙂

Gundah dan Jenuh

Gua merasa semakin jauh sama Tuhan.

Gua belakangan super ga produktif. Bukan dalam hal kerjaan tapi, karena lumayan sibuk bulan-bulan belakangan. Tapi karena gua semakin jarang menginspirasi diri gua sendiri. Gua semakin jarang nyiram kejiwaan gua dengan hal-hal positif. Gua biarin tumbuh apa adanya. Dan hasilnya ga begitu bagus, dibilang seger ya nggak dibilang layu ya nggak. Intinya rona pemikiran gua mulai kerasa ga ada passionnya.

Apakah gua bosan dengan kerjaan gua? Ga. Malah suka banget. Salah satu kerjaan yang gua impikan, puji Tuhan, sudah Doi ijinkan gua nyicip. Apakah gua terlalu banyak masalah belakangan ini? Ga. Malah gua super lempeng-lempeng aja. Super terprediksi. Super teroganisir sampai gua bosen sendiri. Apakah temen-temen gua nyebelin? Ga. Temen-temen gua seperti biasa menggemaskan dan menyenangkan.

Apakah gua bosan dengan lingkungan gua? Mmm. Kalau ini sih ya, hahaha. Realita kehidupan di sini adalah, gua melihat golongan-golongan ekspat, bule kebanyakan, (yang mari kita singkat sebagai x-4) yang hobi ngeluh. Ngeluh tentang hal-hal yang sangat sehari-hari. Awalnya gua nganggap golongan ini rada kacrut dan lemah. Hal-hal sepele kok dikeluhkan. Eh ternyata, acara batin membatin gua menghantam diri gua sendiri. Karena gua mulai mengeluh saudara-saudara, seperti kebanyakan x-4 lain yang suka ngeluh dengan lingkungan mereka.

Ada aja kejadian yang bikin gua poker face tiap minggunya. Gua selalu mengingatkan diri gua sendiri akan orang-orang baik yang gua temui di sepanjang tempat ini untuk mengimbangi ke-pokerface-an gua. Apakah gua dibuli masyarakat setempat? Nggak. Tapi gua kecewa sama kejiwaan beberapa golongan di sini. Harus gua akui tempat gua ini memang mengalami pencapaian luar biasa di bidang keduniawiannya. Sekali lagi, kisah itik buruk rupa jadi angsa cantik jelita memang super menarik untuk diamati. Tapi saking keduniawiannya, semua jadi terkesan mengutamakan penampilan, bukan isi. Karena si isi ini, adalah bagian yang paling gua pertanyakan dari tempat ini.

Untuk kesekian kalinya dalam hidup gua, gua melihat kehampaan. #dramatis

thanks to Poker Face

thanks to Poker Face

Buset dah kalimat gua. Hahaha. Gua kangen pelajaran kehidupan yang gua dapet dulu hampir tiap hari. Gua kangen masa-masa gua belajar hal-hal baru tiap hari. Gua kangen kehangatan dan keramahtamahan bangsa gua sendiri tiap hari. Gua kangen juga masa-masa gua ngopi-ngopi ganteng di cafe tiap hari. Gua gundah (bukan galau yak). Hahaha.

Di tengah-tengah rasa kangen negara gua sendiri yang padahal gua baru aja balik dari sana, gua ada dilema. Dilema yang gua pikir mengada-ada tapi setelah gua pikir-pikir kok jadi agak serius lama-lama.

Gua selalu sakit sehabis balik dari Indonesia.

Ah, ini lah kan. Selalu. Berawal pas gua masih kuliah gua pulang kampung gua batuk pilek sampai kembali lagi ke sini. Kejadian ini lama-lama berlanjut dan berlanjut. Dulu malah pernah parah, 3 minggu ga sembuh-sembuh. Dan pas acara pulang kampung kemarin pun, gua batuk pilek lagi yang ga mereda-reda walau gua pakai tidur seharian. Untungnya cuman seminggu. Selain itu kulit gua selalu bereaksi pas pulang kampung. Menyiksa pisan lah. Sudah alergikah gua sama suhu, udara, dan cuaca kampung gua? Gua bisa berpikiran begitu karena gua ga sakit klo gua pergi ke negara lain yang suhunya ga jauh beda sama tempat ini. Suhu. Badan gua mulai alergi sama suhu udara panas. Seriusan. Gua mau ketawa denger diagnosis gua sendiri tapi sedih dalam waktu bersamaan. T_T

Padahal gua mendambakan menghabiskan waktu masa tua gua di negara tropis gua sendiri. Berlari-lari di pantai. Ketawa-ketawa sama keluarga. Minum es kelapa di bawah pohon apapun. Menikmati sinar ultra violet rame-rame. Bangun rumah bertemakan ramah alam dan elegan. Naek angkot nganter anak jalan-jalan ke taman rekreasi terdekat. Makan sate, makan gado-gado, makan rujak cemplung, makan rujak soto, makan ayam penyet cisitu. Foto-foto, terus upload facebook. Seneng-seneng, dan masuk surga. Haha. Impian standar gitu lah ya.

thanks to travelhub, insureandgo

thanks to travelhub, insureandgo

Mungkin benarlah ungkapan semakin lama bergaul dengan pandai besi maka engkau pun akan terimbas baunya. Gua butuh bergaul lebih sering dengan para pembuat parfum tampaknya.

Akhir kata, gua butuh makan buah dan sayur lebih banyak lagi. Sekian. 😀

Pulang Kampung ke Indonesia

Korea kapan hari sempat liburan Chuseok lumayan panjang 3 hari berturut-turut di hari kerja. Gua pun cuti 2 hari biar bisa liburan 1 minggu balik ke negeri kelahiran ane sendiri.

Di sini gua bakal mengulas sedikit tentang moda transportasi yang ane tumpangi. Dan untuk perjalanan kali ini, gua mamakai rute perjalanan sebagai berikut.

  1. Incheon – Jakarta [bersama Asiana] :: Awalnya gua pesen Garuda, tapi karena satu dan lain hal, gua pun membatalkan pemesanan dan naik Asiana demi waktu liburan yang lebih panjang. Kesan gua, Garuda masih jauh lebih unggul pelayanan dan kenyamanannya. Kualitas dan tingkat kejernihan hiburan multimedia bahkan masih unggul Garuda.
  2. Jakarta – Surabaya [bersama Batik] :: Ini maskapai saudaraan sama si Lion. Gua sering denger selentingan Lion hobi telat. Dan yang bikin ane wah, si Batik ini on-time banget. Gua bahkan terkesima sama interior kabinnya yang bahkan lebih asoy dibanding Asiana atau bahkan Garuda. Bahkan, monitor layar sentunya jernih pisan. Rekomended pisan lah nih maskapai.
  3. Surabaya – Banyuwangi [bersama Mutiara Timur Malam] :: Gua baru ngeh kenapa ada harga berbeda untuk kelas eksekutif. Walau gua memilih eksekutif (yang paling murah), kereta yang ane naiki berasa ga wow-wow amat kayak eksekutif Turangga. Iseng gua tengok gerbong eksekutif sebelah, ternyata bentuknya lebih mengesankan dibanding gerbong yang ane naiki.
  4. Banyuwangi – Surabaya [bersama Wings] :: Foker. Biasanya ane naik ini berangkat jam 10-11an, tapi kemarin ane berangkat jam 1-an siang. Gua mikir jangan-jangan karena kehadiran Garuda yang ikut gabung di Blimbingsari untuk keberangkatan pagi menyebabkan kepergian Wings diubah ke siang. Anyway, ga ada multimedianya seinget gua.
  5. Surabaya – Jakarta [bersama Batik] :: Gua tetep puas naik nih maskapai. Lumayan on-time. Tapi ada satu yang beda, si multimedianya ga ada movienya, padahal pas berangkat ke Surabaya di awal gua masih lihat pilihan movie. Gantinya, gua nonton acara masak-masak di sini.
  6. Jakarta – Incheon [bersama Asiana] :: Gua ngantuk berat. Rencana gua bahkan pingin lihat Kesalahan ada di Bintang-bintang kita yang katanya bikin mewek. Tapi ga ada pilihannya.

Berikut VBlog yang sempat ane bikin sewaktu gua balik ke Indonesia.

Topiknya sebagian besar tentang makan-makan, karena gua memang lagi kangen berat masakan Indonesia. Banyak hal yang sempet ane lakuin sewaktu di Jakarta, salah satunya adalah mencoba naik komuter. Dan kesan gua adalah, wah, keren pisan lah. Moda transportasi kereta dalam kotanya sudah nyaman pisan. Masuk pake kartu, keluar pun pake kartu. Salut buat PT KAI yang terus berbenah menjadi baik.

Akhir kata, selamat menikmati.

(:

Boseong Nokchabat – 보성녹차밭으로 가는 인도네시아 사람의 일기

Last week, I have a chance to get my feet to arrive at Boseong, Jeollanamdo. Many of my Korean friends have said nothing but good about this province. So I do a little bit of research on my own, and I found that this place has an enormous amount of interesting places to go. So, the day has been set up, and I went to the station to pick my ticket up. Unfortunately, the tickets are sold out. I am forced to start my journey at the next day, the journey to Korean tea plantation, Boseong Nokchabat.

That’s okay for me. But man… the transportation for going there is quite adventurous for me. It is far, and certainly not crowded, and of course, more traditional scenes can be seen along the route. The road is refreshing. I take a train, continued by taking intercity bus from Gwangju to Boseong. And at the last minute before the departure, I loss my ticket. Duh. I don’t know how it can disappear without my notice. I ran to the booth and re-buy my ticket. =_=

The story didn’t stop there. Because I get off from the bus at the wrong city. Hahaha. I thought the bus has stopped at the destination, so when I asked the driver, “So, here is Boseong, right?” He just nodded and encourage me to get off from the bus as soon as possible because of the queue behind me. Hah. Then I realized. I arrived at the middle of nowhere between Gwangju and Boseong. I am lost. Hahaha.

Fortunately, there is a village bus coming passing me, and the driver told me that I can go to there by riding his bus. So then, I arrived at Boseong.

Next, the city bus from Boseong to Nokchabat is still long to depart. So I decided to take a taxi from the terminal to the Nokchabat. I just very exhausted at that time. But, hahaha, the taxi meter is running quite little bit faster than ordinary Korean taxi. Anyway, I arrived at the tea plantation nicely and safely. It is cloudy at the time I arrived there. But it is good.

Finally, here is my footage about my journey there. Enjoy. 😀

Ngejaga Jarak

Gua itu GAGA (Gua tAhu Gua Alay). Tapi tiba-tiba pengen bikin tulisan alay.

Dulu, kalau gua pulang kampung, gua senang bukan main.

Maklum jarak Korewa Indonesia nggak memungkinkan gua untuk pulang seminggu sekali di zaman ini. Dan ketika gua pulang kampung, biasanya pun gua ketemu satu atau dua temen lama ngobrol-ngobrol. Ngobrol pake bahasa Indonesia sama orang lain itu ngangenin pisan. Ngobrol spontanitas, semacam ketemu sama mbak-mbak atau mas-mas di jalan, tanya jalan pakai bahasa Indonesia, ngeliat orang-orang senyum-senyum sendiri di jalan, ngomong sama penjaga warung, dll dst dsb.

Hal-hal sederhanalah.

Tapi kemaren pas gua pulang kampung kok kayaknya gua ngerasa ada yang beda ya. Entah kampung gua yang beda, apa gua yang ngerasa ga sreg. Gua semacam ngerasa, orang-orang yang gua temui dan ajak bicara di jalan pada ngejaga jarak. Banyak orang yang gua temui semacam ga lepas klo ngomong. Gua sempet mikir, apa karena gua ketemu orang-orang dalam keadaan formal terus ya. Atau apa gua terkesan sombong ya? Atau pakaian gua yang alaykah? Misal, nggak mungkin juga sih gua dateng ke Bank terus ngajak ngobrol orang Bank tentang cuaca. Ada juga orang lain yang ngajak gua ngobrol pas lagi ngantri, tapi kali ini gua yang bingung nanggepinnya.

Setelah gua analisa secara seksama, keknya ada satu yang bikin gua canggung sendiri, yang tidak lain dan tidak bukan adalah, gua jadi jarang tersenyum. 😐

Gua keluar rumah pasang muka jutek. Ketemu orang pasang muka jutek. Beli pecel pun juga pasang muka jutek. Tidur pun mungkin keknya gua juga pasang muka jutek. Gua juga jarang inisiatif nyapa orang duluan. Intinya ga Indonesia pisan lah. Klo dipikir-pikir, ya iyalah, siapa yang mau ngajak ngobrol orang jutek. Intinya gua jadi jarang senyum ke mana-mana. Senyum pun gua ga tulus. Padahal dulu seingat gua ke mana-mana gua senyum-senyum sendiri. Gua ngerasa gua bukan Agi yang dulu lagi. #bahasaguatolongsekali.

Inikah efek gua kelamaan pergi dari Indo?

Terus suatu hari, gua nemu iklan dari Telkom. Cheesy sih. Tapi bagus pisan sih. Hahaha. Tentang cerita Telkom masang WiFi di sekolah-sekolah di Indonesia. Dan ada SMA gua masuk. Haha. Btw, Indonesia itu luas. Ga negara yang ukurannya seiprit cem kebanyakan negara maju lainnya (kecuali Amerika). Bangun infrastruktur itu susah di negara yang tanahnya mencar-mencar kek gini.

Dan gua salut, sama Telkom.

Abis nonton ini, mata gua jadi keringetan. Cengeng nih gua. Dan gua jadi pengen cepet-cepet balik ke negara gua. Bangun negara gua sendiri…

Tapi Indonesia panas, jadi gua rada mikir-mikir untuk balik lagi. Haha.

Ada satu bangsa yang pernah ane kunjungi negaranya. Hampir semua orang yang ane temui di sana wajahnya bahagia semua. Semuanya tersenyum. Pakaian mereka sederhana, keseharian mereka sederhana, bicara pun santun sekali. Mereka memperlakukan tamu dengan hormat walaupun gua orang asing. Gua bahkan pernah ketahuan melanggar peraturan mereka, dan gua pun udah siap sama konsekuensi denda atau apalah. Tapi ternyata yang berwenang saat itu malah memaafkan gua. Speechless gua. Dan gua pengin suatu saat kalau bangsa gua maju, gua pingin karakter ramah bangsa gua yang di desa-desa tetap membekas di saat itu.

Gua benci orang sombong. Dan gua ga mau jadi cem orang sombong gara-gara gua hobi pasang wajah jutek sama bangsa gua sendiri. Tulisan ini gua bikin untuk peringatan buat diri gua sendiri untuk terus berusaha jadi orang yang ramah untuk siapapun yang ane temui.

Sekian. 🙂