Pengalaman pakai Pertamax Turbo

Pertamax-Turbo-7

Pertamax Turbo. thanks to: autos

Dalam beberapa minggu belakangan ini gua kebetulan lumayan berkendara jauh dengan rute Banyuwangi – Surabaya – Malang – Kediri dengan intensitas lumayan banyak. Dan kebetulan juga, beberapa waktu sebelumnya, mobil gua sempet gua rasa tiba-tiba ndak bisa dibuat ngebut dan boros BBM-nya semenjak gua servis di sebuah tempat yang bukan dealer resmi, di mana katup penutup filternya jadi rusak. Alhamdulillah, masalah udah beres setelah gua bawa beberapa kali ke dealer resmi. Gua inget selalu diwanti-wanti pakai Pertamax. Walaupun jujur, gua selalu tergoda setiap melihat harga Pertalite di pom-pom.

Nah, semenjak kasus BBM boros tadi kejadian, gua hobi ngecatet performa efisiensi penggunaan BBM-nya. Standard pengecekan yang gua lakukan sebetulnya ndak akurat-akurat amat, tapi cukup ngasih gua gambaran keseluruhan efisiensinya. Gua catet kilometer dan bar start penanda kapasitas BBM sebelum BBM baru diisi di waktu T, jenis BBM, total biaya, dan terakhir, gua catet kilometer yang terpakai begitu bar penanda kapasitas BBM kembali ke kondisi tepat sebelum BBM baru diisi di waktu T. Dari situ gua bisa hitung berapa kilometer yang bisa ditempuh per liter BBM-nya. Gua pun juga ngebandingin konsumsi liter BBM dari komputer internal di mobil gua juga. Hasilnya gak beda jauh.

Dengan pengecekan berkala ini gua jadi tahu bahwa ada gerai-gerai yang ‘tampak’ curang kalau ngisi BBM, dan memperkenalkan gua pada gerai BBM yang sampai sekarang jadi langganan tercinta gua. Dan juga mobil gua efisiensi penggunaan BBM-nya menurun sekitar 20%-an kalau ngelewati jalanan nanjak (ya iya lah @_@).

Kemudian hingga pada suatu hari, ketika gua dalam perjalanan balik Kediri ke Surabaya, gua memutuskan untuk belok ke SPBU random terdekat dari posisi gua di jalan. Alangkah terkejutnya gua (halah), begitu mereka jawab bahwa mereka ndak punya Pertamax. Mereka bilang punyanya Pertamax Turbo. Gua yang berasal dari kota terpencil di ujung yang belum pernah mendengar kata Turbo di belakang Pertamax ini agak terkesiap mendengarnya. “Emang yang Pertamax Turbo berapaan mbak?” “Sembilan ribu 200,” jawab petugasnya.

Ehm!? Gua rada tersentak denger harganya. Soalnya gua udah cukup trauma melihat kenaikan Pertamax 2 kali dalam rentang waktu 3 bulan, yang mana masing-masing naeknya gak lebih dari 4%-an. 4%-an aja udah shock, lah ini kok harganya 12.88% lebih mahal? Kemudian gua melihat Pertalite RON 90. Harganya 9%-an lebih murah. Maka belilah gua Pertalite untuk pertama kalinya. Murmer, dan liternya dapat banyak. Gua pun bahagia.

Namun kebahagiaan itu segera sirna begitu beberapa kilometer berikutnya gua mulai merasakan kejanggalan. Mobil gua gak bisa ngebut. Tarikannya seret. Jalanan pun macet. Stres gua. Gua pernah baca komputer internal Juke ini bisa tahu jenis BBM yang masuk dan suka iseng ngubah-ubah settingan mesinnya tergantung minumannya. Khawatir kenapa-kenapa, gua pun segera isi Pertamax lagi begitu waktu isi ulang tiba. Sampai di sini gua gak tertarik blas nyatet performansinya pas keisi Pertalite. Padahal RON-nya beda 2 doang.

Kemudian gua pun merenung. Haruskah aku mencoba RON 98 si Pertamax Turbo. Tapi mahal edan. Tapi bentar, beda 2 RON aja udah kayak gitu termehek-meheknya, apalagi klo beda 6 RON, gua penasaran kayak apa jadinya. Gua pun nyoba cari referensi tentang Pertamax Turbo. Maka, bertemulah gua dengan tabel populer yang dicite berkali-kali para pereview Pertamax Turbo.

compression-ratio-57b2b1d7ce9273d50c02f276

Compression Ratio vs RON. thanks to: hondagrom

Nilai oktan BBM sebuah mobil yang dibutuhkan tergantung rasio kompresi mesinnya rupanya. Kalau di bawah rentang yang dibutuhkan, maka bahaya pada mesin, jika di atas rentang, maka terjadi pemborosan. Buku manual gua ketinggalan di rumah, cuman yang jelas setahu gua rentang rasio kompresi mobil gua keknya ada di 9.5:1 sampai 10.5:1. Maka kalau dibuat regresi linear dari tabel di atas, gua dapet kisaran masing-masing rentang RON-nya seperti ini.

Compression Ratio - Minimum - Maximum
9.5:1 - 91.15 - 97.7
10.5:1 - 94.45 - 101.5

Karena gua diwanti-wantinya suruh pakai Pertamax, maka gua bisa simpulkan rasio kompresi mesin mobil gua ada di 9.5:1. Selama ini gua pakai BBM yang menghasilkan performasi terendah rupanya. Pantesan, review mobil yang bilang harusnya efisiensi maksimal ada di 14 km/liter untuk mode Eco dan 20 km/liter untuk mode Normal, gak pernah kecapai di sepanjang pencatatan performa gua. Kisarannya palingan ada di 11 km/liter, itu pun udah gonta ganti mode antara Eco dan Normal. Tapi Pertamax Turbo RON-nya 98, boros 0.3. @_@

Akhirnya, gua pun memberanikan diri beli Pertamax Turbo untuk perjalanan Surabaya – Banyuwangi.

BUSET! Langsung kerasa bedanya begitu ditarik. Mulus. Halus. Cem tak bersuara. Desahan mesinnya juga indah. Berasa berlevitasi gua. Bahkan klo gua lihat level torsinya cem ngasih bonus kecepatan yang bukan pada seharusnya. Gak kayak pas pakai Pertamax, yang level torsinya ya ngasih kecepatan sesuai kecepatan yang seharusnya, jarang dibonusi gitu. Apalagi pertalite, ngoyo banget. Itu padahal gua yakin campuran tanki gua masih ada unsur Pertalite-nya. Gak mau ketipu, gua pun melakukan pencatatan performa seperti biasanya.

Dan ini hasilnya.

Dengan jarak tempuh yang sama untuk Banyuwangi – Surabaya, dengan mode campuran antara Eco dan Normal, maka

  1. Pertamax: Efisiensi tempuh 12.3 km/liter. Efisiensi biaya 1.51 m/rupiah, dan
  2. Pertamax Turbo: Efisiensi tempuh 15.3 km/liter. Efisiensi biaya 1.66 m/rupiah.

Luar biasa irit dan menguntungkan Pertamax Turbo ternyata. Sampai rumah, gua buka buku panduan. Di sana tertulis RON minimum tanpa timbal haruslah 95. Klo kepepet, suruh yang 91 dengan catatan penurunan performa. Rentang RON berminimum 95 dicakup sama yang rasio kompresinya 10.5:1. Berarti harusnya masih bisa lebih efisien lagi kalau ada BBM dengan RON 101.

Tapi begitu nyampe Banyuwangi, gua masih belum nemu yang jual Pertamax Turbo.

Sekian review Pertamax Turbo. Selamat mencoba bagi yang ingin mencoba.

6 Bulan Akhir Tahun – Refleksi

Dalam hitungan hari, tahun 12.016 HE sudah hampir berakhir. Tahun yang membawa tekanan psikis lumayan tinggi kalau diamati. Dari tahun ini pun, hampir segala zona nyaman gua coba kikis habis-habisan. Tapi zona nyaman gua pun ternyata masih banyak yang harus dikikis lagi.

Pelajaran demi pelajaran datang bertubi-tubi dengan cara yang tidak pernah gua bayangkan sama sekali. Rasanya seperti ditonjok habis-habisan dari segala arah. Oya, tonjokan di sini bisa dibaca juga sebagai cobaan dan pelajaran sih sebetulnya. Kadang waktu gua berpikir, “Sudah selesaikah tonjokkan kali ini?”, tiba-tiba saja alam semesta tertawa meremehkan dan memberikan tambahan siraman tonjokan yang baru. Dan bekas tonjokannya masih menyimpan lebam dan memar sampai sekarang, yang uniknya, gua suka dengan lebam-lebam itu.

Kalau udah di ujung tanduk, gua kadang cuman bisa berucap, gua gak tahu apa-apa tentang dunia ini, kecuali barang sedikit.

Gua ambil contoh 2 hal, usaha dan fitness. Dalam waktu 6 bulan belakangan ini, gua mendapatkan hal-hal yang gak pernah gua lihat sebelumnya. Dan mereka datang bertubi-tubi. Jika dituliskan dalam monolog, kira-kira monolog gua dengan tema usaha bakal seperti ini.

Ngerasa pemasukan mencukupi? Oh tunggu dulu, ada tagihan yang harus loe bayar. Ada orang lain yang lebih berhak atas pendapatanmu. Ada juga pengeluaran mendadak kejutan yang gak pernah loe bayangkan. Dan oh ya, surprise! Keran-keran rezeki yang itu Dia lagi mau tutup. Frustasi? Jangan dong, Dia buka keran-keran rezeki yang lain. Dia juga kasih pemasukan kejutan di sana dan di sini. Ada juga orang lain yang ngebantu loe. Tagihan-tagihan pun bisa loe hapus pelan-pelan. Sudah dapet ilmu baru? Udah ngerasa pemasukan mencukupi?

Dan siklus pun berulang. Dengan bumbu yang berbeda.

Usaha itu susah. 😐

Lalu ada pula fitnes. Entah gua kesambet apa yang jelas gua jadi keranjingan ngefitnes. Empat bulan awal dari Januari akhir tahun 2016 gua coba datangi tempat gym rutin hampir SABAN HARI. Duh, bahkan mbak-mbak instrukturnya pun udah ngewanti-wanti tubuh perlu istirahat biar bisa berkembang. Dan itu pun gua sembarang pakai alatnya tanpa schedule, tanpa rencana mau target gimana kek apa kek, dan tanpa ilmu yang mencukupi. Intinya coba-coba sih. Alhasil, gak berkembang sesuai keinginan. Perut masih buncit. Payudara ndak montok-montok. Lengan pun gak benjol-benjol. DNA badan gua gak ada bakat kali ya biar jadi montok. >:D

Hingga akhirnya 6 bulan lalu, tiba-tiba ada mas-mas instruktur nowel gua dari belakang. Dia ngoreksi latihan gua. Udah gemes kayaknya dia ngelihat salah kaprahnya gerakan gua. Gua pun merubah cara pandang gua ngefitnes. Gua pun coba bikin target ngecilin buncitnya perut gua. Latihan demi latihan yang fokus ngecilin perut pun gua jabani. Dan itu SUSAH-. SUSAH EDAN sumpah. Latihan 6 bulan sebelumnya gak ada apa-apanya. Jungkir balik di atas matras, besi, atau entah apalah itu sampai mual muntah-muntah gua tetep terusin. Awal-awal, kaki kram, kepala pusing, tangan terkilir, paha sakit, jalan pun susah. Dan semakin lama gua pun mengenal tipe-tipe latihan sirkuit yang variasinya buset dah, banyak pisan, yang kadang kudu dicatet di hape, terus tiap gerakannya diitung jeda detik antara latihan dan istirahatnya. Dan setelah 4 bulan, eng-ing-eng, gua pertama kali melihat hasil signifikan dalam berfitnes ria: kebuncitan perut gua berkurang 2-3 cm. Duh Gusti, sedikit pisan! Itu baru perut doang. Dan latihannya udah stres maksimal begitu. Dan itu belum ada tanda-tanda muncul roti kasur-nya sama sekali. Gua pun curhat ke temen-temen latihan. Kata mereka sih keep going aja. Besok-besoknya gua makan barbar. Perut pun maju lagi beberapa senti. Wassalam deh.

Dan dalam pertama kalinya dalam hidup gua, gua baca paper dengan tema olahraga. Like, mencari cara paling efisien, efektif, dan hemat waktu buat latihan. Ada juga paper begituan ternyata, dan itu detil banget mereka-mereka nelitinya. Sampai-sampai berapa derajat optimum posisi tubuh harus duduk ketika melakukan latihan tertentu pun diteliti. Belum latihan payudara, eh…, dada deng, sama lengan, kaki, dan temen-temennya yang belum gua jabani secara maksimal.

Intinya, fitnes itu susah. 😐

Penghina Agama

Sebetulnya gua males nulis beginian. Tapi gua ingin nulis juga.

Kebetulan, kasus si bapak lagi booming. Walau gua secara pribadi ndak ngedukung si bapak (ya iya lah, gua bukan orang Jakarta), tapi gua adalah salah satu orang yang tidak tersinggung sama sekali dengan ucapan si bapak. Dan kebetulan juga gua ingin berbagi pengalaman tentang realitas dunia di luar Indonesia.

Gua lumayan lama tinggal di luar.

Dan gua lumayan lama bergaul dengan banyak orang dengan berbagai latar belakang. Gua menemui beragam manusia, baik yang toleran maupun tidak toleran. Dan gua juga sudah berkali-kali berhadapan dengan manusia-manusia yang menghina agama gua sendiri di depan mata gua sendiri, langsung maupun tidak langsung. Mereka-mereka ini orang-orang yang benci luar biasa sama agama gua, entah dengan berita-berita tentang perang, terorisme, atau hal-hal goblok yang dilakukan umat gua sendiri di belahan dunia lain. Seringkali gua menangkis argumen-argumen mereka, baik dari sisi politik ataupun agama penganut yang menyerang gua tadi (kalau orangnya beragama). Dan kebetulan juga, gua tinggal di negara dengan tingkat keantian terhadap agama gua sendiri yang sangat tinggi.

Reaksi gua udah tahap seperti ini setiap kali gua tahu agama gua dihina kala itu.

Entah, gua lebih suka menyelam di kalangan orang-orang yang benci agama gua setengah mati ini dan berusaha menetralkan kebencian di kalangan mereka, daripada gua menyelam di kalangan gua sendiri dan hidup dalam kehidupan alim-alim lugu yang saling menguatkan iman dan membangun kubah pelindung terpaan angin-angin cobaan. Saat itu di pikiran gua, mengajak manusia atau, menginformasikan manusia ke kebenaran yang gua yakini lebih menarik daripada membiarkan mereka terlena.

Hinaan-hinaan masif ini jelas gak bakalan bisa diajukan atau dituntut ke ranah hukum. Karena framework hukum kenegaraannya jelas beda. Dan, jujur, wasting time.

Oh, gua jadi teringat kata-kata ini.

Jika diam saat agamamu dihina, gantilah bajumu dengan kain kafan.

Komentar gua? Bullshit.

Sangat anti-al-Qur’an sekali kata-kata ini.

Yang hobi mengulang kata-kata ini juga banyak dari orang-orang yang mengaku dirinya Muslim. Sering gua bertanya, situ Muslim, tapi kok bisanya mengekor hawa nafsu orang-orang lain. Bukankah Rasulullah sendiri sudah mengasih contoh gamblang terang benderang segampang mencari arti suatu kata lewat google translate?

Kalau ngaku Muslim, kenapa ga mengikuti instruksi ayat-ayat Tuhan langsung? Kalau ngaku Muslim, kenapa ga mengikuti contoh Nabi ketika dia dan agamanya dihina banyak orang?

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang dzalim itu sesudah teringat (akan larangan itu). [QS 6:68]

Lihat? Bos Besar sendiri yang ngasih panduan, yang entah, apakah para pengikut Nabi itu bakal mengimaninya atau mengkafiri ayat ini.

Flownya simple.

Loe tahu ada orang mengolok-olok agama -> maka -> Tinggalin mereka, sampai mereka ganti topik.

Perlukah memutus persahabatan atau hubungan dengan mereka?

Cukup tinggalin mereka sampai ganti topik. Titik.

Ga ada gugat-gugatan dan semacamnya. Ngobrol lagi aja sama orang-orang ini begitu ganti topik. Kalau lupa ga ninggalin mereka pas acara ngolok-ngolok tadi gimana? Ya udah, ga usah duduk-duduk lagi sama mereka. Komen-komenan di Facebook lagi ndak apa-apa juga sih.

Kalau mau mengcounter gimana dong?

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) ke jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dialah Yang Mahatahu tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah Yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. [QS 16:125]

Teknik mengcounternya btw sudah dikasih guideline juga sih. Musa aja pas menghadapi si Fir’aun, yang separah itu aja ngehina-hina Tuhan, disuruh ngomong dengan lemah lembut.

Atau kisah wanita yang hobi ngeludahi Nabi setiap saat juga, tapi Nabi cuma lempeng-lempeng aja, mungkin bisa dijadikan panutan. Atau kisah lelaki Yahudi buta yang hobi ngehina-hina Nabi sebagai pembohong dan Nabi palsu, tapi Nabi malah ngasih makanan ini orang tiap waktu, mungkin bisa dijadikan panutan juga. Atau kisah Nabi yang ditawari malaikat untuk membalikkan penduduk kota Tha’if, tapi Nabi melarang dan malah berharap keturunan penduduk kota itu jadi manusia beriman, mungkin bisa sekali dijadikan panutan juga. Nabi sama Abu Jahal sama Abu Lahab aja masih berlaku lemah lembut dan hobi ngenasehati mereka walau kaumnya sering ngolok-ngolok Nabi sebagai penyihir kek, dukun kek, tukang tipu-tipu kek.

Intinya satu. Nabi selalu lempeng-lempeng aja kalau dihina secara verbal ataupun non-verbal. Satu-satunya kasus Nabi bereaksi yaitu pas Nabi diajak perang. Iya, diajak perang. Selama Nabi nggak diajak perang sama musuh, Nabi reaksinya selalu standar, yaitu, LEMPENG.

Acara komentar-mengomentari ayat-ayat atau kitab suci agama lain dari orang-orang yang bukan pemeluknya itu udah kejadian dari sejak jaman jebot. Lah, Nabi sendiri juga ngomentari agama lain. Kalau ga ada acara komentar-komentaran, mana ada cerita orang bakal pindah agama satu ke agama lainnya. Cuman Tuhan ngasih guideline.

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. [QS 6:108]

Udah gitu aja. Intinya, mari gak baperan. Beneran, hidup bakalan lebih indah jika engkau sudah mampu bereaksi seperti ini di setiap celaan yang ada.

Sekian.

 

Akhirnya, Gua Nyerah

Hampir 4 bulan gua sudah menetap di Surabaya. Segala benak gua dan harapan gua yang gua bawa sewaktu balik lagi ke Indonesia sekarang mulai jelas arah keputusannya. #tsah

Percobaan gua gagal. Percobaan kehidupan gua gagal di sini. Mengingat gua sudah menghabiskan 1/3 tahun waktu gua di sini dan gua tidak melihat perubahan yang signifikan, maka dengan ini, gua pun memutuskan untuk pindahan.

Salah satu alasan gua memilih Surabaya adalah karena ini adalah salah satu kota yang gua relatif sangat tidak familiar sama sekali, biaya hidup yang relatif murah, akses penerbangan antar kota lumayan terjangkau, dan yang paling penting, sangat sedikit orang-orang yang gua kenal di sini.

Lho, kok yang paling sedikit? Ini pertanyaan yang paling sering gua denger dari temen-temen gua. Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah gua pingin menantang kemampuan bersosialisasi gua di tempat yang asing sama sekali. Gua pingin menghindari orang-orang yang pernah gua kenal. Sederhananya, gua pingin cari temen baru. Temen yang sama sekali baru, punya hobi yang sama, dan 11 12 sama gua.

Bulan lalu, ada temen lama gua dari Vietnam berkunjung ke Indonesia. Gua pun jadi guide buat dia sekitar 1 mingguan. Gua temenin ke Jogja sampai Bali. Gua jadi tahu banyak tentang temen gua ini. Dan entah kenapa setelah pertemuan gua dengan temen lama gua ini, ada saat di mana gua tercenung lama sekali. Suasana hati gua ga karuan sama sekali. “What the fuck I am doing at Surabaya?”

Hingga akhirnya, gua pun mengeluarkan uneg-uneg gua ke dia. Kurang lebih begini percakapannya.

Gua: I read an article somewhere. When we get older, the number of close friends we have are decreasing. I don’t believe it. I would like to challenge that article. So I went to unfamiliar town, lived there, and tried making some new friends. But every new people I met there are just, well, not at the same chemistry with me. Mostly I got awkward introductions. I failed miserably.

Doi: So the article is true. LOL

Haha.

Absurd sekali. 4 bulan gua habiskan hidup gua hanya karena sebuah artikel.

Dan acara jalan-jalan kemaren membuka mata gua. Gua bahagia ketika lihat temen gua bahagia. Dan gua melakukan kesalahan besar dengan mencoba menghindari segala temen-temen lama gua. Padahal temen-temen lama gua juga adalah mereka-mereka yang harus gua syukuri keberadaannya. Merekalah orang-orang yang menemani kehidupan gua selama ini, bukan lantas gua nomor duakan hanya demi egoisme mencari temen baru di kota ini.

Tapi sejujurnya, gua pun juga bingung menghubungi mereka lagi. 😀

Btw, berikut adalah hal-hal yang membuat gua memutuskan hengkang dari Surabaya selain masalah transportasi.

Cafe

Gua suka ngafe. Suka sekali. Dulu waktu S1 bikin TA pun di cafe. Suer, otak gua kayak tersteroid tiba-tiba buat mikir jernih. Pas kerja di Jakarta pun begitu, keknya, hampir tiap hari saban balik kantor gua nongkrong di cafe deket kantor. Kehidupan perkorewaan pun begitu, setiap gua ada waktu gua selalu pergi ke cafe, entah ngerjain paper, cari inspirasi, ngobrol ga jelas, atau ngitung uang pun gua jabani ke cafe.

Dan gua mulai menyadari, ada 1 kekurangan besar yang cem hilang tiba-tiba begitu gua pindahan ke sini, yaitu bahwa tempat perangsang otak yang selalu mensupport kehidupan pergejean gua ndak ada yang cocok di sini sama selera gua. Gua perhatikan, kebanyakan warung kopi terdekat gua itu: keramean; ndak ada asenya; menunya biasa aja; bentuknya yang kurang menginspirasi; dan yang paling penting, kursinya keras semua. Buset dah, baru sadar manja sekali gua ini.

Desperate, gua pun mencoba pergi ke mall (yang notabene jauh pisan dari tempat tinggal gua), berharap menemukan starbaks, ekselso, atau binlif apalah, yang penting unyu, nyaman, dan ada sofanya. Dan uniknya, gua pun ndak suka juga. Kecuali ekselso, gua melihat cafe-cafe tadi kursinya keras-keras, keramean, dan gua melihat ga worth it antara harga dan tempatnya. Lho, tapi ekselso kan ada empuk-empuknya. Mmm, iya sih, gua pernah ditowel awang-awang sama mas-mas penjaga ekselso. Gua berhenti sebentar. Gua perhatikan isinya dari kaca luar. Audience-nya, saat itu, tipikal para pekerja kantoran, rata-rata dress formal, rame, dan mereka-mereka semua bergerombol cerita-cerita. Gua perhatikan baju gua, kaosan, sandalan, dan ndak ada temen. Gua gamang. Kehidupan individualis masih gua bawa-bawa juga ke sini. Entah, gua sedih tiba-tiba.

Teman/Orang (baru)

Ada 7 orang. Mereka ini gua temui di salah 2 komunitas yang gua ikuti di sini. Keenam orang ini, suer, sama persis dengan 7 kenalan lama gua. Oh Tuhan! Dalam hati gua selalu histeris ngelihat mereka ini. Dari sekian banyak manusia berhamburan di Surabaya yang gua arungi ini, hampir gua nggak pernah menemui orang-orang yang mirip dengan temen-temen gua. Tapi kenapa, justru di komunitas-komunitas yang super spesifik ini, gua justru menemui manusia-manusia berwajah mirip yang pernah gua temui sebelumnya dengan intens?

Gua jabarkan. Si A ini wajah tumplek bleg persis sama temen deket gua di Korea. Dulu gua selalu nahan ketawa ngobrol sama dia. Kemudian, muncullah si B, doi mirip bener sama temen akrab lama gua si B’, dari wajah sampai postur. Gua bener-bener tercenung ngelihat nih anak. Btw gua ketemu si B ini di komunitas besar yang gua termasuk jarang ngomong di dalamnya dan ndak kenal semuanya. Dan karena gua akrab sama B’, gua selalu gatel pingin kenalan dan ngajak ngobrol sama si B’ gadungan ini. Gua urungkan, karena si B ini selalu nempel sama si C, yang mana si C ini mirip sama kenalan lama gua si C’, yang, puji Tuhan, mereka cem kembar. @_@ Bayangkan, 2 orang asing berteman akrabnya dan mereka mirip kenalan lama loe semua, dan loe ada di dekat mereka. Bedanya, loe diasingkan sama 2 orang ini. Absurd. Kemudian, ada si D, yang mirip temen lama gua si D’. Wajah boleh mirip, tapi badan beda sama sekali. Kemudian ada juga si E (yang mirip si E’ temen Korea gua) yang bikin gua ga kalah tercenungnya sama si B, karena literally model rambutnya, wajah, dan cara mereka berekspresi sama persis. Padahal, sepengamatan gua, jarang sekali kemiripannya orang etnis China Indonesia yang secara fisik gua temui sama orang Korea. Iya, gua cem bisa bedain orang China, Jepang dan Korea sewaktu di Korea. Bedanya si E ini cem masih muda. Dan karena si E’ ini bikin gua sebel sewaktu di Korea, si E ini pun secara naluri gua hindari. Begitu juga si F dan G. Duh, 7 orang. Banyak ya.

Ada lumayan banyak komunitas yang gua gabungi selama gua di sini, mulai dari yang bener sampai yang ndak bener. Dan salah satu tujuan gua adalah ya itu tadi, nyari temen baru. Dan mencari teman yang cocok itu ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak orang yang berkenalan, banyak juga orang yang berbicara dengan gua. Tapi yang satu chemistry sama gua hampir bisa gua bilang ndak ada. Kesalahan ada di gua sih. Berkali-kali gua dikelilingi orang-orang yang dengan semangat mencari kegiatan bersama-sama setelah aktifitas komunitas rame-rame, tapi guanya yang kadang ndak semangat ngikutin acara jalan-jalan mereka. Ada juga komunitas yang gua ga sreg sama ideologi mereka, cem isinya orang-orang kelebihan duit. Kebalikannya, ada juga yang isinya orang-orang yang selalu mengerjap-ngerjap mengeja uang. Hadeh.

Dan gua pun mulai mengingat-ngingat, bagaimanakah ceritanya gua bisa kenal dengan teman-teman lama gua. Dan gua pun langsung dapat jawaban instan: sekolah dan kerja. Di sekolah, gua bertemu dengan orang-orang yang gua temui dengan intens setiap harinya. Mereka pun menjadi teman gua. Di tempat kerja pun begitu, karena aktivitas yang selalu kita lakukan bersama-sama, ada ikatan emosi yang terbentuk sampai hari ini. Mereka pun menjadi teman gua. Sayangnya, dua hal ini sudah tidak gua miliki lagi.

Tidak ada yang sempurna di dunia ini.

Tapi gua nggak menyesal sama sekali, walau percobaan kehidupan gua gagal. Gua seneng sekali malah. Banyak sekali pelajaran yang gua dapati selama 4 bulan di sini, walau kerjaan gua kebanyakan tidur siang melulu. Haha. Dan berhubung ada proyek baru menunggu di depan, sekalian gua pakai momentum ini untuk merefleksi kehidupan sekali lagi dan mencoba kembali ke ritme kehidupan yang dulu atau ke ritme kehidupan yang sama sekali baru.

Akhir kata, selamat beraktifitas!

Ketiadaan Gosip

Dulu pas kerja kantoran, sesibuk apapun shitload kerjaan, selalu gua sempatkan program pendulang apdetan gosip terkini nangkring di taskbar bawah windows. Posisi gua duduk sebetulnya sangat nyaman untuk bermagabut ria setiap hari. Sayangnya oh sayangnya, sebelah kiri gua duduklah kepala deputi dan sebelah kanan gua duduklah si bos kepala bagian.

Ndak asik. T_T

Sedangkan ndak jauh dari tempat gua, duduklah bergerombol anak-anak tim yang kerjaannya, suer, gua bingung, dari pagi sampai sore ngobrol dan bercanda terus. Mereka ngegosip terus tiap hari. Dan mereka juga cekikikan terus tiap hari. Dan mereka juga umurnya ndak beda jauh sama gua, sangat berseberangan sama dua orang di sebelah gua. Jujur, gua selalu pingin nimbrung ikutan ngegosip sama anak-anak. Dan itu cuman bisa dilakukan pas makan siang di mana pada akhirnya gua pun bisa ‘bergerombol pada tempatnya’. Tapi ya itu, cuman sebentar doang pas makan siang. Karena begitu jam masuk kantor lagi, gua kembali ke tempat gua berkutat sama kerjaan, dan mereka kembali ke tempat mereka berkutat sama gosip mereka. Ah! Gua iri!

Akhirnya gua lampiaskan dahaga gosip gua dengan buka facebook atau yutub atau situs geje apalah, secara diam-diam. Pas si bos lagi mèléng, ctrl + tab pun dengan lincah gua tekan, dan gua pun berselancar membaca postingan-postingan ga penting penyulut emosi yang muncul dari temen-temen pesbuk gua. Dan gua pun ketagihan pesbuk. Oh dunia…

Tapi, pesbuk tidak seperti dulu lagi. Dulu pas gua baru kenalan dengan mereka, isinya paling banter sebatas selfie, postingan foto alay makan-makan, jalan-jalan, atau segala sesuatu yang menenangkan. Sekarang mah boro-boro, bisa lihat ada yang ngelike foto kucing lucu aja gua bersyukur banget. Heran deh, social media yang harusnya membuat kita semakin akrab malah jadi ajang tengkar.

Gua sudah tidak melihat kedamaian lagi di dalamnya.

Atau mungkin gua yang sudah terlalu tua ya? Lelah sudah gua dengan drama dan intrik ga jelas. Dan kepulangan gua ke Indonesia benar-benar membuat gua bersyukur setengah mati, hal-hal yang dulu gua sempat hilang dalam hidup gua akhirnya pelan-pelan gua dapatkan lagi.

Di tiap jalan-jalan sore yang gua lakukan di sekeliling perumahan, gua melihat manusia dan kehidupan sehari-hari mereka. Ada bapak-bapak, ada ibu-ibu, ada mas-mas, ada mbak-mbak yang berjuang dengan keras mencari rezeki mereka dengan tanpa menyerah di tiap harinya. Ada banyak manusia dengan motornya bersegera kembali ke rumah masing-masing setelah seharian lelah bekerja untuk menemui keluarganya. Ibu-ibu langganan makanan gua, mas-mas tukang bangunan depan tempat gua, bapak-bapak penjual sate, om-om gojek, mbak-mbak Alfamaret, mereka begitu menyenangkan untuk ditemui. Mereka bagaikan mutiara yang bertebaran di muka bumi berjuang untuk kehidupan mereka dan keluarga mereka. Dunia menjadi begitu indah dengan hadirnya pejuang-pejuang ini.

Persetan dengan fitnah dan kebencian yang menyebar di dunia maya.

Kehidupan nyata seperti mereka inilah sesuatu yang jauh lebih pantas untuk diapresiasi. Karena memang hidup adalah sesuatu yang pantas diapresiasi, bukan untuk dihina-hina dan disia-siakan.

Dan hati gua entah kenapa begitu damai dengan tidak membuka social media dengan beralih menikmati dunia nyata. Gua sadar, berbahaya memang jika gua tidak mengetahui informasi. Kembali ke penyedia informasi tulus bisa jadi pilihan baik.

Ada masih banyak rencana kehidupan yang belum gua sempat eksekusi. Dan puji Tuhan, keluhan-keluhan gua tentang Indonesia perlahan memudar dengan kesibukan nggak penting gua. Oh! Gua jadi suka baca novel. Dan di luar dugaan, membaca novel itu menenangkan ya. Gua menemukan efek luar biasa yang juga luar biasanya lagi bisa menekan kebiasaan buruk bawaan gua yang lain. Buku-buku sok-sokan sebenernya masih kadang baca sih, tapi entah kenapa agak hilang selera gua ngebaca begituan.

Intinya, hobi baru gua adalah, gua mencoba menghindar segala pertentangan, atau segala sesuatu yang ga gua suka. Menghindar entah kenapa lebih menyenangkan daripada gua harus berdebat. Ada banyak cara menunjukkan ketidaksetujuan, termasuk dengan tersenyum mendengar pendapat orang untuk kemudian baru keesokan harinya menunjukkan secuil pendapat yang berbeda kepada orang lain dengan cara yang bahkan si pendengar tidak sadar bahwa itu adalah pendapat yang berbeda.

Akhir kata, masih ada banyak hal yang harus gua tata ulang, tapi secara pelan tapi pasti gua mulai mendapatkan serpihan-serpihan kehidupan gua yang hilang. Semoga esok kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik daripada hari ini.

(;

Di Mana Pejalan Kaki?

1 bulan sudah hampir kira-kira gua mengamati perkehidupan perIndonesiaan kembali. Dan ada hal yang cukup mengganggu gua satu. Di manakah para pejalan kaki?

Seriusan!

Gua kebetulan tinggal di perumahan. Dari rumah ke depan jalan raya tempat sumber makanan ndak sampai 500 meter. 300 meter untuk jarak terdekat dan 450 meter untuk jarak yang agak jauhan lebih tepatnya. Udah gua ukur di google map. Dan tiap gua jalan dari rumah ke tempat makan, gua jarang sekali melihat orang yang berjalan kaki keluar, entah beli makan kek, jalan-jalan kek, atau apalah. Sesampainya gua di tempat toko-toko makanan pun gua melihat berjejeran sepeda motor dan mobil di depan toko-toko makanan tadi. Hm! Maka mari berpikir positif, mungkin rumah mereka jauh-jauh.

Mungkin juga, karena gua di perumahan, sehingga gua jarang lihat orang jalan… Tapi ya, kayaknya logika gua ada yang salah. Mungkin di tempat lain orang-orang yang pada jalan kaki lebih mudah ditemui.

Maka gua pun mencoba untuk jalan ke tempat-tempat yang agak jauhan, ke mall, ke balai kota, ke cafe-cafe tak terdekat, ke banyak tempat. Dan gua mulai ngeh, bahwa orang-orang sini pada males jalan kaki. Oh, tentu saja ada pengecualiannya, yaitu di dalam mall. Selebihnya, jalanan sepi pejalan kaki. Kalau ada yang jalan, termasuk gua, malah terlihat aneh. Orang-orang yang lagi duduk di pinggir jalan, menatap orang yang berjalan kaki di pinggir jalan. Absurd. Ya Tuhan, di tengah isu menipisnya dan naiknya harga bahan bakar dunia, ternyata orang-orang malah semakin giat mempergunakan hal-hal ini.

Hampir semuanya dengan giatnya menggunakan kendaraan pribadi mereka ke mana pun mereka pergi. Kalau dirangkum, kira-kira beginilah urutan kegiatan transaksi kehidupan sehari-hari.

  1. Keluar pintu rumah jalan kaki ngeluarin motor (atau mobil).
  2. Mendudukkan bokong di jok.
  3. Gerakin telapak-jari tangan dan kaki.
  4. Nikmati semilir angin (atau AC) hingga tujuan.
  5. Turunin bokong.
  6. Kemudian bertransaksi.

Bahkan untuk jarak yang ndak lebih dari 500 meter tadi, gua menemui orang yang naik mobil untuk menempuhnya. Hah!

Apakah gua tinggal di kota yang tidak ramah untuk pejalan kaki? Bisa jadi. Trotoar agak susah dinikmati terkadang. Selain jalanan panas, ramai, bergeronjal, banyak kendaraan, pohon perdu untuk pejalan kaki pun jarang. Padahal taman ada banyak bertebaran berserakan di berbagai tempat, tapi bukan untuk para pejalan kaki sih.

Menikmati kota dengan berjalan kaki itu padahal menyenangkan lho.

Nggak nyangka juga, gua akhirnya mulai membanding-bandingkan kehidupan yang dulu gua ingin sekali keluar darinya dengan kehidupan sekarang yang gua mulai berkeluh kesah dengannya. Mungkin di tulisan ini gua mau mencoba menyanjung negara yang dulu gua hobi suka nyinyiri selama di sana.

Tanpa sadar, gua dulu hidup dengan manusia-manusia yang mayoritas suka jalan kaki ke mana-mana. Di jalan gua bertemu sebagian besar dengan manusia, bukan kendaraan pribadi. Di jalan gua berjalan-jalan bersama masyarakat yang juga semua bertebaran berjalan-jalan dan berbincang-bincang. Di jalan gua pun bisa dengan santainya berjalan kaki melihat pemandangan, bangunan, ataupun toko-toko sekitar sambil menikmati udara luar. Di jalan gua pun duduk, berdiri, menunggu bersama manusia-manusia sekitar akan datangnya angkot, bus ataupun kereta.

Boro-boro mau naik, jadwal dan trayek peta angkot pun susah sekali gua temui di sini.

Gua pun berpikir, untuk memecahkan permasalahan ini. Dan gua pun akhirnya menemukan solusinya: If you cannot beat them, then join them. Maka, gua pun berniat untuk beli kendaraan pribadi juga.

Hah!

Ingatan Kehidupan Gua Terawal yang bisa Gua Ingat

Ada sebuah ingatan kehidupan. Memori kehidupan gua terawal yang pernah bisa gua ingat. Samar, bahkan begitu samarnya, gua ga yakin itu mimpi atau bukan. Uniknya, ingatan ini adalah ingatan yang paling membekas, paling kentara, dan paling terngiang dibanding ingatan-ingatan gua yang lain.

Gua ga tahu gua umur berapa waktu itu. Tapi ada satu yang gua yakin gua inget, bahwa gua “sadar” secara tiba-tiba. Berikut cuplikan ingatan kehidupan terawal gua.

Sumpek. Pengap. Sesak. Tiba-tiba gua sadar entah kenapa.

Gelap.

Gua sadar, kalau gua tersadar. Gua masih inget, gua seperti punya kesadaran penuh tiba-tiba. Seperti bangun tidur, gua seperti ngebawa beribu pikiran terpendam yang menunggu untuk dieskpresikan.

Berontak, gua pingin berontak dan ngomong. Tapi ga bisa. Gua bahkan seperti pingin jalan.

Tiba-tiba gua sadar ada di mobil malem-malem. Mobilnya tampak menyinari jalanan depan gelap dengan 2 lampu depannya. Ngelewati jembatan.

Jalan gelap. thanks to: booklikes

Jalan gelap. thanks to: booklikes

Nah lho. Sejujurnya ini absurd, dari mana gua bisa tahu konsep mobil dan jembatan di ingatan terawal gua. Hahaha. Btw, ingatan gua masih berlanjut sebetulnya. Cukup panjang. Gua cukupkan sampai di sini. Karena gua pribadi melihat ini sebagai salah satu ingatan paling berkesan dalam hidup gua karena terngiang-ngiang sampai sekarang.

Gua ga tahu umur berapa ingatan gua ini. Tapi gua entah kenapa sedikit percaya, mungkin ini ingatan awal-awal gua didatangkan ke dunia. Haha.

Gua tampaknya harus lebih banyak referensi tentang topik ini lebih lanjut.