Tugas 3 Kuliah KI – DNS (Domain Name System)

1. Pertama, saya mencoba menggunakan tools online yang ada di internet, yaitu menggunakan http://whois.domaintools.com/. Di sana saya masukkan detik.com, dan inilah biografi dari detik.com yang berhasil saya tangkap.

Adapun ketika menggunakan, nslookup saya hanya mendapatkan data sebagai berikut

> nslookup detik.com
Server: ns.comlabs.ITB.ac.id
Address: 167.205.79.4

Non-authoritative answer:
Name: detik.com
Addresses: 203.190.242.69
203.190.241.43

2. Adapun untuk mencari 4 level domain di seluruh itb, saya tidak berhasil mencari secara eksak. Yang ditemukan malah 4 level domain ke atas di seluruh itb. Adapun tools menggunakan host biasa, dengan DNS any cast ITB 167.205.30.5.

> host -l itb.ac.id 167.205.30.5 | wc
847

Dengan kata lain, ditemukan sekitar 847 domain dengan 4 level ke atas di seluruh ITB yang aktif saat ini.

Advertisements

Yee~ Dah dapet KP

Karena gua dah ngantuk buat nulis sesuatu, gua cuma mau nulis klo dah dapet KP juga akhirnya~

oh-oh-oh~

mengharukan sekali~

Akhirnya PT DAM menerima gua untuk KP di sana. Tapi si Alcatel manggil interview juga~ gimana dong?

Akhirnya setelah bingung-bingung sendiri, gua memutuskan lebih memilih PT DAM. Karena dia keknya lebih deket keelektronikaannya ama gua, jadi gua milih dia aja deh.

Hehehe…

Ya udah, tulisan lebih lengkapnya akan gua tulis terkemudian.

Makasih ya Allah~ 😀

KP

Kerja Praktek (KP – Kegiatan yang wajib dilakuin hampir seantero anak ITB)…

find job: thanks to rd

find job: thanks to rd

Mmm…

Intinya, gua belum dapet. Kalau ada yang tanya kenapa, jawabannya karena guanya bener-bener dodol dalam mencari tempat KP.

Pertama~ Gua apply ke GE kira2 4 atau 3 bulan yang lalu… doang…

Maksudnya, di gelombang pertama, biasanya anak2 pake ngirim ke 2 perusahaan sekaligus, tapi gua karena saking dodolnya atau kenapa, dengan pedenya hanya ngirim ke 1 tempat perusahaan.

Seminggu… Dua minggu… Empat minggu… Balasan buat anak2 lain sudah datang. Dua bulan… Yang lain juga dah lumayan banyak yang dapet balasan. Tiga bulan… Kok~ gua gak dapet balasan2 ya? Akhirnya gua coba konfirm ke temen. Dan jawabannya sederhana, GE tidak mengadakan segala bentuk internship apapun tahun ini…

Tidak~

Agak panik gua. ==’ Terus gua bingung, di gelombang kedua harus ngajuin proposal ke TU lagi. Jadi super tambah males deh gua. Dan akhirnya karena gua diem-diem sendiri, bulan mei pun tiba~ Dan gua belum dapet tempat KP. Tapi selanjutnya datang tawaran kedua, yaitu dari Toshiba.

Tahukah kamu? Dari sekian banyak yang daftar, bapaknya sudah wanti2 hanya 1 orang yang bakal terpilih. Ohokz-ohokz~ OK, ga apa-apa dicoba~ Dan akhirnya interview pun terjadi.

Ahahaha~ sumpah, gua belepotan ngomongnya. Apalagi pas bagian salah omong. Gua pikir ga lucu dong klo gua menarik omongan gua seakan-akan gua ga bisa ngomong grammar yang baik dan benar. T___T Ntah vava~ Pokoknya gua dah gak berharap-harap amat setelah interview.

Dan sesuai dugaan~ Gak keterima juga. Wkwkwkw… Btw, ini yang keterima si Giri. Selamat ya Gir~ 😀

Terus kepanikan semakin memuncak begitu Juni semakin mendekat. Dan akhirnya~ Gua kirim proposal ke DAM (Data Aksara Matra). Itu gua kirim tanggal 24an Mei. Ya ampun… bener-bener deh gua, lelet banget ngirim ginian.

Dan akhirnya~

Jawaban belum tiba-tiba juga. 😦

Walau anak2 udah ada yang mulai 1 Juni ini, gua tetep bakal nyari terus sampai dapet. Pokoknya semester ini kudu dah beres kape-kapean. Gak mau semester depan atau semester depannya lagi. Dan rencana mau apply juga ke Pertamina abis ini lagi nunggu si ***ng datang. Wkwkwkw…

Doain gua ya~ Moga-moga dapet di tempat yang menyenangkan~ 😀

Manusia…

Jam 10:30 gua mulai nulis ginian di jam kompi yang gua pakai. Mmm… Tadi gua baru aja mbaca dari blognya anak-anak, mulai dari yang gua kenal deket, kenal tapi gak deket, sampai yang gua ga kenal sama sekali gua baca. Dan gua nggak tahu kenapa gua jadi senyum-senyum sendiri.

Maksudnya gini…

Selama ini, mungkin gua tipe-tipe orang yang acuh sama perasaan orang lain. Masalah temen misalnya. Walau gua anggep semua orang itu temen, tapi kadang-kadang gua berpikir, orang yang gua kenal, lebih baik tidak selalu dianggap teman. Nggak kayak ppkn, slogan pilih-pilih temen itu perlu terkadang ada benernya. Tapi akhir-akhir ini gua punya cara pandang yang berbeda sama orang.

Klo ngeliatin orang yang duduk di sekitar kita sepintas, rasanya nggak ada perasaan apa-apa. Tapi pas gua coba mengamati orang lain dengan seksama dari mimiknya, matanya, alisnya, cara mulutnya ngomong, gua jadi sadar, orang yang ada di depan gua itu punya perasaan dan luapan emosi yang sama, kayak gua.

Misal~ Sebutlah ada seorang teman yang bernama X. Di mata gua dia SO (Study Oriented) banget. Dan gua dari dulu sebetulnya ga suka sama orang-orang yang SO, atau mungkin, pintar karena rajin. Intinya, gua benci paradigma “dia pintar dan dia bodoh”, hanya dari alasan nilai-nilai. Akhirnya gua definisikan pintar dan bodoh menurut definisi gua. Akibatnya, dari alam bawah sadar gua, gua ga nyadar bahwa gua diam-diam ga terlalu suka berdekatan dengan orang-orang SO ataupun rajin, walau bisa jadi orang tersebut luar biasa baik. Aduh…, sorry banget… ==’ Dan belakangan ini setelah entah kenapa tiba-tiba gua mencoba mengobservasi orang-orang di sekitar gua, gua menemukan satu hal yang krusial. Yaitu, semua itu ada alasannya.

Alasan gua ga suka ama orang SO dan orang rajin. Alasan kenapa mereka SO. Alasan kenapa mereka rajin. Bahkan alasan berteman dengan teman-teman tertentu. Walaupun terdengar konyol, tapi semua itu menurut gua cuma sekadar wujud usaha kita untuk menunjukkan eksistensi kita di hadapan orang lain. Siapa sih yang mau diacuhkan di pergaulan? Siapa sih yang mau dikucilkan? Semuanya, semuanya yang waras pasti nggak mau itu terjadi. Akhirnya, muncullah jalanhidup-jalanhidup yang kita ciptakan sendiri, dengan harapan dengan cara yang kita tempuh itu, orang lain peduli dengan kehadiran kita.

Ekstrimnya gini, si X misalnya, dia SO, mungkin alasannya dia SO adalah biar orang lain mau mendekat kepadanya, walau sekadar bertanya tentang pelajaran atau apa. Kalau sudah begitu, walau dia sadar bahwa dia hanya dimanfaatkan orang lain kalau hanya dibutuhkan, tapi dia sudah cukup bahagia dia punya orang lain yang mengakui keberadaan dia. Hmmm… Sorry, keknya itu contoh yang terlalu ekstrim dan semoga hanya ada di dunia sinetron aja. Hehehe… 😀

Gua sendiri? Oh~ gua juga manusia biasa, yang butuh orang lain yang jadi temen gua. Cuma mungkin gua caranya bukan di SO atau rajin. Dan karena gua pikir mereka yang gua gak suka itu sama aja sama gua, jadi yah~, mereka juga manusia biasa, yang gua ga pantas membenci mereka. Mmm… bukan membenci sih, cuman ga suka aja. :p

Bayangkan ketika ada orang lain yang berbicara berhadapan dengan kita, dia ingin berbicara secara tulus, misal, luapan perasaannya seperti, “Eh, gua tadi abis dibeliin es krim loh~”. Orang yang tatapan matanya lurus ke mata kita, isyarat dia membutuhkan kita sebagai pribadi yang membuat dia tenang bahwa dia ada dan telah mengalami sebuah kejadian hidup yang penuh berkat. Orang yang napasnya berdinamika karena sudah merencanakan ingin mengutarakan sesuatu. Orang yang berbicara dengan mulut sinis, tersenyum, tanpa ekspresi, atau semacamnya tapi isi pembicaraannya sangat tulus. Yang artinya kita sama-sama manusia yang butuh orang lain…

Rasulullah saw bersabda, “Berlaku baiklah kepada sesama manusia. Mereka menyukai kalian selagi kalian hidup dan menangisi kalian ketika kalian meninggalkan dunia ini.” (dikutip dari irib)

Yah~ semoga saya bisa menjadi orang yang berbuat baik kepada orang lain dan menjadi orang yang disebutkan oleh Rasulullah. Amiin… 😀

lie words

This article is contaminated by religion issue, politics and related themes. Do not read this article if you are sensitive with such topics.

preface: thanks to modcult

preface: thanks to modcult

While I was senior high, I took English subject on my class. At the time, I bought some albums and one day when the album was delivered to my house, I read something weird on one song’s title. I never read the word before, and could not understand it clearly, even spell. It was “liar”. The song was in Japanese. It was typical for Japanese song with English title. Though I understood Japanese I didn’t get the song’s contents. Then in class I tried to synchronize the spelling with my friend. Was liar spelled by “li-ar” in Indon? And was liar’s meaning “wild” in English? My friend told to me, it was obviously wrong. Liar was spelled by “lai-yer” in Indon, and it was derived from “lie” + “er” words in English. Oh… ==’ I see…

OK, that was the preface. Now, consider the really stuff. It is just two things when I hear word lie in this life. First is the most significant influence in human history. And the second is my life. Frankly, the first was the most sensitive topic over human beings and their related aspects. Beside facts it was too obvious to observe. And the second may be too hyperbole for using “my life” words. Seems “social life” was the closest meaning. But I guess social life was my life too. 😀

Now first: It was faith. Religion, or something you believe. Whatever, don’t care you believe in God or not, you still have faith, for believing in a life concept, whoever you are. For you who believed in God, it still has many remained questions. What’s kind of concept you believe in God? Why do you believe in the concept? And so on.

faith: thanks to virtueradionetwork

faith: thanks to virtueradionetwork

And while I think about why we have to diverse like this, sometime I do not understand God’s purposes. And just one thing I get, most of us believe because we were teach from child, by parents, surroundings, about divinity things. And they are same too. It’s kind of chain reaction. Thus, I think it must be the source of this diversity. Because, most of these religions have too many difference, absolute difference, that it was fatal to each others. The bold line is in “fatal” word. Most of them have fatal concept. And these fatal concepts make people hesitate for re-observing their so-called-believed-thing. And, why do these religions still stand until now? It means it is hard for proving the evidence of the faith. If it was easy, we would no need for this difference. Or may be it was easy but we even do not take care for everything different with our view.

Thus, this is the conclusion. Most of them, are liar. It’s easy to prove in logic sequence that it must be only one faith that is not liar. And this is undoubtedly fact that, in this world the truth is only one.

However, we have to, because it seems too late, for making us fresh, for re-observing anything different in this religion jungle. We have critical foundation that seeded strong from child. But I sure we can make it right. And for everyday life, this difference was great I guess. The world everyday life was the most beautiful parade I ever seen because of its diversity. Not only religion, there was skin color, face, language, attitude, and much more. I glad for being born in this kind of world. If it is not, may be I am bored.

OK, it is enough for faith. Now, for second: my life. I life in country that many people say that most of their representatives was used to telling untruth for gaining votes, authority, or everything like that. It seems unfair because they just accuse in order to satisfy their bad feeling. No problem lah, but, accuse doesn’t do anything. Say we have a representative, and he gets a problem, like, mmm… for arresting his father in law because of corruption. (Oh no~~~ I used real example~ ==’) Thus, he arrests him. Nah, this is the problem. For opposition, most of them will assume, he just want to get popularity for his supporters. Then he will be dumped as traitor for his own family, in order to gain popularity. How about pro side? OFC, they will support him and say he was fair for everyone.

pizza: thanks to photostock

pizza: thanks to photostock

How if he doesn’t arrest his father in law? OFC, the opposition will say that he was not fair for everyone. In other words, they blame him because of his nepotism. And, the pro side will say same too. In this condition, the opposition always act like child. Refuse, refuse, and refuse. They, the opposition, always think their opposition lie. Thus, no one can believe. Yah, it’s hard to understand this kind of feelings. But it assures you to make several decisions leading to right view points.

The answer was quite simple. Just be objective. It’s enough.

Yaah, I wonder no one will get right there. ==’ But I assure there still many people who do right things. And now, what about my really life? It’s same, but in different forms. Organization, family, friends, they are used to saying lie, from “just for fun” to “for serious”. Actually, I even don’t take care for everyone who lie to me or to others. Because I ever do this kind of thing too. In senior high, while I want to speak something interesting to other from real fact, sometime, it’s not complete if I don’t put some spices over there. The result was amazing, because they was amazed with my story. Although it was true story, but the accessories story was not true. But for sure it is amazing story.

In lower secondary, while I was assigned to give a speech for mauled nabi, I search every interesting topics over internet for my speech. I didn’t select them. And I just picked up them and, at the day, I spoke to others in the hall, with everything I got from internet without validity. As usual, they loved my speech, and it was big applause for me, but, for sure, I didn’t know, was these materials right? And after the day, while I remembered my speech, it was tacky, vulgar, and norak. Full of miss. Thus, full of lie… Although I just want to speak something truth… Then when they asked me about my speech, I just said and added something that can made my speech was right. T________T

Next lesson was, do not speak something you don’t know.

After that, I know we will need another lie for repairing our broken words. And it is not right. Because it will continue. The lesson is quite simple. We shall JUST say sorry, if we lie. It’s enough.

gossip: thanks to biojobblog

gossip: thanks to biojobblog

Another kind of lie is quite different. It’s not from ourselves, but from others. We simply say it by gossip. Oh noooo!!!! This is my hobby while I was in elementary school. With my friends, we sat together in a tree and we told everything amazing about others. Even accused someone’s fault BECAUSE OF appearance. ><‘ It means, mmm…, we hated someone because, …, OK, she is woman, …, she had ugly face… Astaghfirullah… ==’ What a pity… She was bullied just because of her ugly face. And we loved to accuse her. How sad she was. And I don’t know, how are you now girl? T.T Yaah, that was gossip. And many gossips. Until my senior high, I still love gossip. Sometime it makes us more exist and famous. But, now I know for sure, it was no good for our health guys. So, please don’t be bigos. :p

Sorry for being not-so-up-to-date…

Sorry for all of my fans who came up here and ended their expectation with useless because of my taida for updating this kind of… mmm… daily dairy? wkwkwkw~

the two: thanks to sharpbrains

the two: thanks to sharpbrains

Actually I want update this blog with some Image Processing Analysis and related subjects. Then, I just want to add some very-beginner-dummy-CSS-tutorial too. But, koukai shimasu~ T___T

Today was not writing day! It’s relaxation day!

Seriously, I got mecha-kucha na mess hibi. From weirdo-but-brilliant tasks, prac, labast, KP problems, assignments, projects, my fans, friends, to what I supposed to do. Then, facing UAS. bwahahaha,,,

stressFellow: thanks to yakahblog

stressFellow: thanks to yakahblog

Oh, June just will be arrived. ==’ May be I will no longer anymore for blogging, for a while. Sorry for this inconvenience.

Icalan Teh Botol = UGD => Sombong?

Mmm… Katanya, anak-anak UGD (Universitas Gajah Duduk) tercinta kita ini, sombong-sombong… O-o-o… Itulah salah satu gossip basi minoritas terhangat yang akhir-akhir ini diseruakkan kembali oleh beberapa oknum tertentu yang, mungkin, niatnya baik ingin mengoreksi kelakuan anak-anak UGD, tapi kesan yang muncul justru menjudge bahwa anak-anak seluruh UGD sombong-sombong.

gajah duduk : thanks to treehugger

gajah duduk : thanks to treehugger

Benarkah itu?

Ahahahaha… Aduh jeng, entah kenapa gua mau ketawa denger seliweran seperti ini. Di dunia ini yang namanya orang sombong pasti ada di mana pun juga. Tidak terkecuali di sini. Ada yang sombong-sombongan (dalam arti dibuat-buat) buat bercandaan, ada juga yang sombong karena sombong beneran. Yang terakhir disebut ini, tidak bisa dipungkiri, menyebalkan bukan main, rasanya pengen nyiram sambel ke muka orang yang bersangkutan. Wkwkwkwkwk…

Tapi apakah kebanyakan anak-anak di sini sombong? Klo dipikir-pikir, masa’ sih? Keknya jarang banget deh. Temen-temenku baek-baek, rendah hati, suka menolong, elegan, dewasa. Nggak ada yang norak. Eh, ada juga sih satu dua. Tapi yang jelas, nggak ada yang bilang, ‘eh gua pinter loh. dan loe goblok.’ Masalah topik pembicaraan juga rasanya biasa-biasa aja. Yah, walau kadang membahas konfigurasi clock yang tepat sambil baca komik di luar kampus sedikit lebay tapi hal-hal seperti itu cukup sering terjadi. Gaya hidup? Hmmm… Ada macem-macem. Ada yang saking kelebihan duit jadi perlu tempat buang duitnya. Ada juga yang kekurangan duit jadi perlu cari duit ke sana ke mari. Dan itu alamiah. Dan juga ga ada yang bilang, ‘eh gua kaya loh. dan loe miskin.’ Maksudnya, jadi kaya ataupun miskin itu bukan kejahatan kan. Jadi gua rasa istilah sombong ga pantes didapat dari bidang-bidang pembahasan seperti ini.

Adapun pendapat orang-orang yang ketemu dengan segenap orang-orang sombong dari UGD, sepertinya orang-orang tersebut sedang ketiban sial aja ketemu orang-orang semacam itu. Toh, temen-temenku yang udah pada kerja mereka semua orang yang sangat bersahaja, gak neko-neko, jauh dari segala tuduhan miring semacam itu. Kalaupun ada yang merasa tidak nyaman berada di antara mayoritas anak-anak UGD karena satu atau dua hal, rasanya mungkin karena mereka belum memahami bahwa anak-anak UGD tetaplah anak-anak biasa, manusia biasa, yang punya teman, bisa sedih, bisa senang, punya ekspresi, punya gejolak, punya harapan, punya cita-cita, tidak melulu tentang pelajaran, pelajaran, dan pelajaran.

Kenyataannya, misal elo ketemu sama segerombolan anak di tengah jalan, terus loe kenalan sama mereka, jadi temen mereka di jalan, ngobrol ngalor ngidul, bercanda, ketawa-ketawa, dan semua itu gak ada masalah kan? Tapi jika sebelum kenalan dengan gerombolan tadi loe dapet info kalau gerombolan tadi dari UGD dan loe dah dapet gossip bahwa anak UGD sombong-sombong, sifat defensif alamiah pasti akan keluar, dan statement pertama dalam benak loe adalah, “mereka pasti sombong, mereka pasti sombong…” Akibatnya, guyonan biasa pun bisa jadi akan loe anggap seriusan…

(mungkin) Itulah image. Dan (mungkin) itulah brand. Stereotip negatif yang kurang fair rasanya.

Tapi yang jelas, seperti yang sebutkan sebelumnya, gua juga ga bisa memungkiri, ada saja orang sombong di UGD. Yang mungkin klo didengar orang luar UGD bisa bikin kuping agak agak gimana gitu. Tapi itulah kenyataan. Ada yang sombong, ada yang nggak.

Nah, terlepas dari semua gossip tadi, sejujurnya gua gak mau ambil pusing. Terserah mereka mau bilang anak-anak UGD sombong kek, nggak sombong kek, yang penting gua punya temen-temen yang bersahaja, talk less work more, easy going, gila-gila (+geje), dan sederet sifat-sifat menyenangkan. Mereka tipe-tipe orang-orang yang punya kemauan kuat, cita-cita, dan punya kontribusi karya nyata yang gak sekadar omdo (red, omong doang) seperti yang gossip-gossip itu bilang. (Walau, gimana-gimanapun juga ada aja temen-temen yang omdo) Jadi~… yah, whatever lah. Kita cuma anak-anak biasa yang berada pada masa remaja yang labil dan mencoba mempersiapkan masa depan sendiri… (Ohohohokz-ohokz… Omongan gua…)

😀

From ITB with Love