Iklan

Ane penikmat video iklan, dengan tema-tema tertentu.

Terutama iklan-iklan menyentuh hati ala-ala Thailand bisa bikin gua tercenung berhari-hari. Dan gua pun juga sangat mengapresiasi iklan hedon yang ‘bagus’ di mata gua.

Berkali-kali pingin gua bagi rasa wah ketakjuban gua akan iklan-iklan tipe-tipe hedonistik ini ke beranda Facebook gua. Tapi kok setelah gua pikir-pikir agak kurang pada tempat dan audience yang pas.

Di sini gua mau coba share 4 iklan yang paling membekas dalam kecengangan gua.

Jam

Gua suka jam. Suka sekali. Tapi bukan untuk gua pakai. Karena pergelangan tangan gua kecil dan ndak cocok dipakaein sama jam. Jadinya gua suka mengapresiasi jam dengan cara memandangnya saja. Tapi teteup, gua suka jam. Dan iklan Bvlgari berikut bener-bener bikin gua nggak berkedip memandangnya.

Komentar gua cuman satu: Seksi!

Keindahan

Gua suka sesuatu yang memanjakan mata, dalam bahasa sederhananya, keindahan. Dan iklan dari Cartier ini, bagi gua, begitu indah untuk dideskripsikan. Musiknya, gambarnya, nuansanya, semuanya pas.

Komentar gua pun sederhana: Uwoggghhh!

Mobil

Gua suka beberapa jenis mobil, terutama yang tipe sporty. Lebih tepatnya lagi, yang bentuknya lucu-lucu ndak jelas. Walau gua ndak ada rencana beli BMW sama sekali, tapi iklan BMW yang ini bener-bener gua apresiasi. Elegan luar biasa.

Romansa

Gua penggemar hal-hal yang berbau romantis sebenernya. Dan iklan Cartier (lagi) ini bener-bener bikin gua terhanyut suasana dalam waktu yang cukup lama.

Indah. Ini salah satu hal terindah yang pernah gua lihat.

Sekian.

 

Advertisements

Di Mana Pejalan Kaki?

1 bulan sudah hampir kira-kira gua mengamati perkehidupan perIndonesiaan kembali. Dan ada hal yang cukup mengganggu gua satu. Di manakah para pejalan kaki?

Seriusan!

Gua kebetulan tinggal di perumahan. Dari rumah ke depan jalan raya tempat sumber makanan ndak sampai 500 meter. 300 meter untuk jarak terdekat dan 450 meter untuk jarak yang agak jauhan lebih tepatnya. Udah gua ukur di google map. Dan tiap gua jalan dari rumah ke tempat makan, gua jarang sekali melihat orang yang berjalan kaki keluar, entah beli makan kek, jalan-jalan kek, atau apalah. Sesampainya gua di tempat toko-toko makanan pun gua melihat berjejeran sepeda motor dan mobil di depan toko-toko makanan tadi. Hm! Maka mari berpikir positif, mungkin rumah mereka jauh-jauh.

Mungkin juga, karena gua di perumahan, sehingga gua jarang lihat orang jalan… Tapi ya, kayaknya logika gua ada yang salah. Mungkin di tempat lain orang-orang yang pada jalan kaki lebih mudah ditemui.

Maka gua pun mencoba untuk jalan ke tempat-tempat yang agak jauhan, ke mall, ke balai kota, ke cafe-cafe tak terdekat, ke banyak tempat. Dan gua mulai ngeh, bahwa orang-orang sini pada males jalan kaki. Oh, tentu saja ada pengecualiannya, yaitu di dalam mall. Selebihnya, jalanan sepi pejalan kaki. Kalau ada yang jalan, termasuk gua, malah terlihat aneh. Orang-orang yang lagi duduk di pinggir jalan, menatap orang yang berjalan kaki di pinggir jalan. Absurd. Ya Tuhan, di tengah isu menipisnya dan naiknya harga bahan bakar dunia, ternyata orang-orang malah semakin giat mempergunakan hal-hal ini.

Hampir semuanya dengan giatnya menggunakan kendaraan pribadi mereka ke mana pun mereka pergi. Kalau dirangkum, kira-kira beginilah urutan kegiatan transaksi kehidupan sehari-hari.

  1. Keluar pintu rumah jalan kaki ngeluarin motor (atau mobil).
  2. Mendudukkan bokong di jok.
  3. Gerakin telapak-jari tangan dan kaki.
  4. Nikmati semilir angin (atau AC) hingga tujuan.
  5. Turunin bokong.
  6. Kemudian bertransaksi.

Bahkan untuk jarak yang ndak lebih dari 500 meter tadi, gua menemui orang yang naik mobil untuk menempuhnya. Hah!

Apakah gua tinggal di kota yang tidak ramah untuk pejalan kaki? Bisa jadi. Trotoar agak susah dinikmati terkadang. Selain jalanan panas, ramai, bergeronjal, banyak kendaraan, pohon perdu untuk pejalan kaki pun jarang. Padahal taman ada banyak bertebaran berserakan di berbagai tempat, tapi bukan untuk para pejalan kaki sih.

Menikmati kota dengan berjalan kaki itu padahal menyenangkan lho.

Nggak nyangka juga, gua akhirnya mulai membanding-bandingkan kehidupan yang dulu gua ingin sekali keluar darinya dengan kehidupan sekarang yang gua mulai berkeluh kesah dengannya. Mungkin di tulisan ini gua mau mencoba menyanjung negara yang dulu gua hobi suka nyinyiri selama di sana.

Tanpa sadar, gua dulu hidup dengan manusia-manusia yang mayoritas suka jalan kaki ke mana-mana. Di jalan gua bertemu sebagian besar dengan manusia, bukan kendaraan pribadi. Di jalan gua berjalan-jalan bersama masyarakat yang juga semua bertebaran berjalan-jalan dan berbincang-bincang. Di jalan gua pun bisa dengan santainya berjalan kaki melihat pemandangan, bangunan, ataupun toko-toko sekitar sambil menikmati udara luar. Di jalan gua pun duduk, berdiri, menunggu bersama manusia-manusia sekitar akan datangnya angkot, bus ataupun kereta.

Boro-boro mau naik, jadwal dan trayek peta angkot pun susah sekali gua temui di sini.

Gua pun berpikir, untuk memecahkan permasalahan ini. Dan gua pun akhirnya menemukan solusinya: If you cannot beat them, then join them. Maka, gua pun berniat untuk beli kendaraan pribadi juga.

Hah!

Pijet

Gua penggemar pijet. Pisan.

Setiap gua jalan ke negara lain hal yang pertama gua buru adalah pijet atawa massagenya. Begitu pun kalau dalam perjalanan dalam negeri, entah pas lagi nyebrang kapal, nunggu keberangkatan, bengong di kota lain; yang mana kalau gua lagi kosong gua pasti sempatkan nyari sesuatu yang mau mijetin gua, baik manusia ataupun kursi yang bisa bergetar. Bahkan kalau lagi duduk bareng sama temen pun kadang gua godain, “pijetin gua dong gan”. Dan beruntunglah gua punya banyak temen-temen yang selalu sukses digoda, mereka pun mau mijetin gua.

Dan posisi favorit gua ketika pijet adalah ketika sandaran. Apalagi kalau kursinya gede, empuk, dan lucu. Itu rasanya super ultimate pisan itu kenikmatannya. Gua seakan bisa mengerti arti kata-kata ini.

على سرر موضونة متكئين عليها متقابلين
Mereka berada di atas dipan yang bertahta emas dan permata. Seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan.

Ini sangat gua hayati sekali kemungkinan khayalan yang paling bisa gua khayalkan. Kenikmatan surgawi bagian ini adalah salah satu gambaran yang paling bisa gua mengerti dan paling bisa gua recreate dan rasakan sedikit percikan-percikannya. #tsah

Pijet paling ideal gua adalah, di mana gua pingin rebahan di kursi gede mirip kasur super duper elegan bercorak gelap dan empuk dan penuh bulu-bulu lucu, ditemani temaram lampu dan aromaterapi ndak jelas yang enak baunya, sambil diiringi musik ndak jelas juga tapi menenangkan, di ruangan yang super menenangkan, ditemani pemijet paling handal, yang juga handal ngobrol ndak jelas yang menyenangkan, bonusnya apalagi kalau pelanggan kanan kiri bilik ikutan nimbrung ngerumpi.

Masih banyak lagi sih sebetulnya ide-ide acara pijet-memijet ini yang ada baiknya ndak gua tuliskan di blog ini. Tapi yang jelas intinya, dari alam bawah sadar gua, gua mendambakan kehidupan super rileks dengan kegiatan liburan setiap harinya sambil bertelekan di atas kasur atau apapun yang menyenangkan sambil menikmati pemandangan yang menyengangkan-menyenangkan dengan ditemani sentuhan-sentuhan menyenangkan di sekujur badan ketika pijet.

Sayangnya, kehidupan ndak bisa seperti itu. +_+

Manusia itu bekerja mencari nafkah, dan itulah yang membuat manusia sebagai manusia. Ada lelah di setiap pencarian kebaikan dalam kehidupan. Dan para pemijat tadi sangat gua apresiasi keberadaannya. Mereka adalah orang-orang yang bisa gua hadapi dengan rasa bahagia. Dahulu, gua menghormati 2 macam profesi di dunia ini. Sekarang ada 3, yaitu Guru, Dokter, dan kemudian Tukang Pijet.

Coba deh bayangkan. Mereka rela berkorban memberikan penat mereka untuk membawa kebahagiaan kepada mereka yang dipijat. Entah kenapa kesannya seperti berbahagia di atas penderitaan orang lain, ya? Tapi gua melihat keindahan tersendiri di balik filosofi pijet memijet ini. Juga, terkadang gua akan belajar banyak dengan mendengar cerita-cerita kehidupan dari para pemijat ini kalau dipancing dengan obrolan ringan per sesinya. Mulai dari perasaan mereka sebagai pemijat, kehidupan keluarganya, kesehariannya, suka dukanya, macem-macem lah. Jarang-jarang juga gua ngobrol sama orang asing. Mungkin ini juga salah satu faktor yang menyebabkan gua suka dipijet, karena gua pada dasarnya suka mendengarkan orang lain bercerita.

Beragam pemijat maka beragam pula tekniknya. Ada yang nyaman ada juga yang ndak nyaman sama sekali. Tapi tetep aja sih, sejelek-jeleknya pijetan mereka, sebetulnya masih enak juga kok rasanya klo dipikir-pikir.

Ada yang memijet pakai perasaan. Sambil nanya-nanya udah pas belum tekanannya, sakit apa ndak, ada daerah yang pingin dipijet atau ndak. Ada juga yang pemijet yang suka diapresiasi pijatannya. Mereka suka memperhatikan reaksi pelanggannya. Sering gua ngegap mereka yang senyum-senyum sendiri ngelihat ekspresi wajah keenakan gua pas lagi dipijet. Ada juga calon terpijat yang merem melek ngelihat orang lain yang sedang keenakan dipijet sama pemijetnya. Kebetulan gua suka pijet kepala ringan. Gua suka terpana ngelihat orang yang kepalanya lagi diuwel-uwel pas dipijet.

Bagian tubuh buat mijet pun macem-macem. Ada yang pakai telunjuk, ada yang pakai telapak tangan, ada yang pakai sikut, ada yang pakai punggung. Dan acara pijet-pijetan yang lumayan paling eksotik yang pernah gua rasakan adalah pijet ala Thai. Buset dah, itu pemijetnya menggunakan 100% seluruh badannya deh buat mijet gua. Semua bagian badan gua kena semua. Mulai dari ditindih, ditarik, diputer, ditendang, sampai pemijetnya menggeliat di atas badan pun kejadian. Super ndak nyaman pisan. Gua selalu ngakak kalau dipijet ala-ala begini selama sesinya. Apalagi kalau yang mijet ndak bisa bahasa Inggris, bahasa tubuh secara harfiah pun bener-bener dipergunakan. Tapi enak juga kok sebetulnya. Hahaha.

Akhir kata, selamat berburu pijet bagi mereka para pecinta pijet!

Sensasi Memulai Hidup Baru

Banyak sekali hal yang pingin gua ceritakan di sini. Sangat banyak. Ini satu bulan yang sangat melelahkan buat gua. Karena gua memutuskan balik ke Indonesia. Sebuah keputusan yang gua buat sudah dari jauh-jauh hari.

Pindahan itu…

Dan ternyata sodara-sodara, pindahan antar negara itu melelahkan sekali. Hampir setengah bulanan gua bolak-balik menyelesaikan hal-hal yang, mmm, baik yang jelas maupun ndak jelas. Mulai dari nyelesain kerjaan kantor terakhir, ngurus administrasi ke kantor pemerintahan, pesen kargo, bersih-bersih apartemen, putus perjanjian kontrak, delegasi barang sana-sini, ramah tamah bersosialisasi, pesen tiket, ngerencanain lokasi baru di Indonesia, dll dsb dst. Semuanya menguras tenaga dan uang.

Maka berangkatlah gua pulang kampung. Ndak nyadar, pas gua ngelihat pesawat gua untuk ninggalin Korewa gua berasa sangat ‘sesuatu’ dada gua. Hahaha. Ini negara udah jadi rumah ketiga gua. Bahkan setiap kali gua dulu balik ke Korewa dan ngelihat Incheon dari atas, anehnya hati gua selalu tenang, seakan gua punya perasaan gua udah nyampe rumah, gua udah bisa istirahat tenang dari hiruk pikuk kehidupan negara lain di luar Korewa. Senyinyir-nyinyirnya gua komen tentang negara yang gua tinggalin ini, dalam lubuk terdalam gua sebenarnya gua udah pewe dan seneng hidup di sini. Gua udah sayang Korewa.

Gua pun mewek.

Harga Barang

Begitu nyampe di Indonesia pun gua masih agak sibuk mempersiapkan hidup baru gua. Nggak jarang gua terkejut-kejut dengan realita kehidupan di Indonesia. Hal paling sederhana adalah Indomaret dan Alfamaret. Bahkan dalam kacamata gaya hidup perKorewaan, gua menilai harga-harga barang di toko ‘kelontong’ modern tadi agak ndak wajar, alias, mahal.

Masak teh botolan 8.000-an? Roti kesayangan gua jadi 15.000-an? Ini Indo kan? Kok mahal-mahal gini. Ini mah harga yang 10-12 sama harga-harga di Korewa. Dan bahkan terkadang dengan harga segitupun, di Korewa pun gua masih males beli barang yang harganya segitu. Dan ini di Indonesia. Ya Tuhan. Dan gua pun mengecek UMR kota-kota di Indonesia. Dan puji Tuhan! Gua nggak bisa bayangin kehidupan masyarakat biasa, orang-orang umum yang bukan kalangan menengah-atas di Indonesia. Semoga persangkaan gua salah, dan semoga gua memahami bahwa Indo-Alfa-maret adalah sudah menjelma menjadi toko barang berkelas adanya.

Sudahlah, gua percaya bahwa Tuhan menjamin rezeki kehidupan makhluk-makhluknya bahkan kepada binatang melata sekalipun sampai ajal menjemput mereka.

Gojek

Kebetulan, gua tinggal di daerah perumahan. Angkot susah nemu klo ndak jalan dulu. Dan ini kota panas dengan tingkat kelembaban ndak kira-kira. Dan gua pun belum punya kendaraan pribadi. Dan sepanjang mata memandang, gua melihat beragam lapisan masyarakat yang hilir mudik dengan motor mereka dengan wajah ceria mereka. Ummm… T_T

Dan gua pun mencoba menginstall penemuan aplikasi paling fenomenal abad 21 di Indonesia: Gojek!

Percobaan pertama, gua pilih tempat keberangkatan dan tujuan, dan gua pun klik tombol ‘Pesen’. Ndak beberapa lama, hape berdering. Ternyata sodara-sodara, si bapaknya minta dicancel aja karena lokasi kejauhan. Beuh, pertama kalinya belum-belum udah ditolak duluan. +_+

Gua pun nyoba pesen lagi, dan begitu gua neken tombol ‘Pesen’, si bapak Gojeknya langsung nelpon. Kali ini dia bisa! Dan hore, dia pun datang tidak beberapa lama kemudian, yang mana posisi kedatangannya pun bisa kelihatan di peta. Canggih. Dan untuk servis kali ini, dalam kacamata gaya hidup perKorewaan, baru bisa gua bilang ini murah. Murah dengan pelayanan prima. Lebih efisien daripada transportasi jarak dekat perKorewaan, dan lebih murah untuk ranah private pick-up servicenya. Puas gua.

Sayangnya, waktu konfirmasi top upnya lama ndak kira-kira.

Sekian apdet beberapa kehidupan gua. Akhir kata, selamat beraktivitas. ^^

Papan-Papan Pembuat Mata Pening

Belakangan gua mengintensifikasikan acara jalan-jalan gua ke daerah Cina Daratan. Gede bok, segede gaban pisan lah negaranya. Rasanya sayang banget kalau ndak dieksplore. Walau sebetulnya badan gua bakal pegel-pegel naek bus 3 jaman, tapi setidaknya gua udah berusaha untuk menjadi backpacker traveller dadakan.

Ini negara rasanya gado-gado. Orang-orang yang gua temui pun gado-gado. Dan, ternyata mereka ini orang-orangnya rasnya bermacam-macam. Dulu klo di Indonesia, di benak gua, yang otomatis terpikirkan ketika mendengar Cina adalah orang-orang dengan karakteristik tertentu, seperti berkulit putih, bermata sipit, berambut lurus, ulet berdagang, banyak orang kayanya, makanannya eksotis, dan sejenisnya. Sayangnya, semua streotype tadi gagal total ketika gua menginjak kaki gua ke tanah empunya.

Perkenalan gua dengan Cina Daratan pertama kalinya justru dimulai dengan kata-kata, “Ewh!?”

Balada si ribut

Tersebutlah gua pergi ke sebuah kota di pedalaman Cina. Katanya sih salah satu daerah termiskin di China. Jadi gua ga terlalu berharap banyak bakal menemukan hal-hal yang bakal bikin gua ternganga. Tapi ternyata penduduk lokal daerah tersebut yang gua temui di lounge keberangkatan sudah bikin gua ternganga duluan. Mereka ribut. Buset dah. Mana suaranya keras kayak orang mau bertengkar lagi. Seumur-umur baru kali itu gua menemukan segerombolan manusia yang suaranya naik turun kayak orang gagal nyanyi dengan suara keras dan ndak enak didengar sama sekali dan menyangka bahwa mereka bakal saling jambak-jambakan di tempat gara-gara berantem sesuatu. Tapi raut wajah mereka menampilkan kesan yang sama sekali lain, mereka senyum-senyum, wajahnya polos, manyun, pokoknya sama sekali ndak ada kesan marahnya. Ini ya, kalau misalnya gua bisa nge-mute suara orang dan cuman bisa lihat ekspresi wajah mereka, kayaknya bakal fine-fine aja kesan pertama gua. Ah, belakangan gua menemukan bangsa lain yang cara bicaranya lebih parah dari mereka, dan bonusnya, bikin mau ngakak ngedengernya.

Kembali ke Cina Daratan, maka singkat cerita, pesawat gua pun mendarat dengan menyenangkannya di kota tadi. Di pesawat sebetulnya gua udah ngecoba ngepraktekkin Mandarin gua yang belepotan, tapi daripada gua beresiko salah pesen makanan, gua gagalkan, dan gua pun pakai bahasa Inggris di dalam kabin. Sebegitu gua keluar airport dan nyegat taksi, gua pun memberanikan diri meliuk-liukan nada bicara gua sekuat tenaga dan seinget memori gua untuk ngasih tahu tujuan gua. Di luar dugaan, gua merasa fasih! Si supir taxi langsung paham, dan kita pun berangkat. Ternyata rasa hiperbola tadi hanya sesaat. Terbukti setelah ngomong agak panjangan sama si pak sopir, kejanggalan-janggalan mulai terasa. Si pak sopir mulai ndak paham sama omongan gua. Padahal gua udah merasa bener ngucapin nada kata-katanya. Dan seiring ngaconya nada-nada gua, kata-kata yang gua ucapkan pun mulai gua rasa kacrut tata bahasanya. Akhirnya tangan gua pun ikut-ikutan gerak buat mempertegas bahasa gua yang semakin mirip Tarzan.

Singkat cerita, sampailah gua di hotel dan melakukan aktivitas tujuan awal gua dengan seperti biasa. Bosen di hotel, gua pun pingin jalan-jalan. Melihat pemandangan dan kehidupan sosial masyarakat sekitar gitu. Gua bersiap pergi pakai kaos dan celana 3/4. Mbak-mbak resepsionis terbelalak ngelihat kostum gua. “Apa sih, jarang lihat cowok kece ya?” pikir gua. Begitu pintu lobi kebuka, gua merasa ada yang janggal. Udara malam itu begitu, …, berbeda, berbeda dengan udara Bandung. Dengan berbekal peta di ipod, gua pun mencoba mencari warung di sekitar yang buka malam itu. Kebingungan, gua pun mencoba nyegat setiap orang yang lewat buat gua tanyain lokasi yang pingin gua tuju. Sayangnya, ndak ada yang mau berenti bantu gua yang kebingungan. Semua yang gua deketin pada ketawa-ketawa cekikikan gua tanyai sambil pergi berlalu. Eh, tapi tadi kan emang ada yang berbeda kan ya. Dan gua sadar, badan gua mulai menggigil hebat ga terkontrol. Udaranya ternyata, buset, kelewat dingin. Gua merasa ada di freezer raksasa, dalam keadaan singletan doang. Gua pun buru-buru lari ke hotel menyelamatkan diri mencari kehangatan. Akhirnya gua pun ganti baju yang lebih hangat.

Balada restoran Halal

Halal. thanks to: mzb

Halal. thanks to: mzb

Di luar, makanannya ga ada yang bikin selera sama sekali. Banyak pedagang pinggir jalan jualan daging-dagingan yang dibakar ndak jelas. Baunya pun menyengat, ndak harum seperti makanan-makanan Cina kebanyakan di Indonesia. Selain itu gua mulai mengenali bau babi secara samar-samar. Eits, tapi tunggu dulu. Gua ngespot sebuah restoran yang makai salah satu Hanzi buat kata Islam. Subhanallah, jangan-jangan rumah makan halal, pikir gua. Gua pun mendekat dan mulai mengamati pekerja di dalamnya. Isinya tipikal orang-orang ras Han. Gua mencoba mencari tanda-tanda ‘keislaman’ restoran ini. Gua berusaha coba nyari kaligrafi bismilah atau logo halal atau semacamnya. Ndak nemu. Tapi mas-masnya pekerjanya pake kupluk, dan cewek-ceweknya pakai, mmm, jilbab? Tapi kok jilbabnya tembus pandang. Tapi gua yakin itu model jilbab. Tapi kok nanggung?

Gua pun memberanikan diri nanya ke mbak-mbak resepsionis. Gua langsung tanya. “Islam?” Si mbaknya bengong. Dia manggil temennya. “Bismillah?” Mereka geleng-geleng ndak paham. Temen pekerja yang lain pun datang. Dalam hati, buset, salah restoran deh gua kayaknya. Ah, gua kan bisa huruf Cina, walau versi Kanji sih. Kenapa ga gua tulis aja dan tunjukkin mereka. Ndak mau kecolongan lagi, maka gua pun keluarkan buku note kecil gua, dan gua pun dengan panik mulai nulis, yang kira-kira “Gua ndak makan babi, kalian masak ndak pake babi kan?” Si mbak-mbaknya mbaca. Dia mengernyit. Temen sebelahnya pun juga. Semua mengernyit. Lah!? Ini orang Cina bukan sih? Masak ndak bisa baca tulisan Cina. Masak gua salah nulis? Setelah agak lama bengong, gua baru sadar, gua nulis Kanji, yang pada dasarnya mendekati huruf Cina tradisional aka Fantizi. Fantizi dipakai di Makau, Hongkong, sama Taiwan. Sedangkan orang-orang Cina Daratan pakai set huruf Cina yang lebih sederhana yang namanya Jiantizi. Gua pun mulai ga yakin gua tahu Jiantizi untuk kata “babi” dan “makan”.

Gua pun langsung tembak pakai Mandarin gua yang belepotan, +- “Kalian ndak pakai babi kan masaknya?” Semua langsung kompak ngomong, “Oh ndak! ndak! Kita ndak pakai babi.” Okay, 50% kayaknya ini resto halal walau gua masih belum bisa mengidentifikasi identitasnya. Tapi teuteup gua ragu. Masak gua sebut “Bismillah” tadi mereka ndak nyaut. Akhirnya gua pun pamit. Dan kabur beli roti. Sampai hotel, setelah gua coba googling ternyata mereka pakai huruf yang berbeda untuk kata “babi”. Baiklah. Gua pun mulai mencoba membagi mana Jiantizi mana Fantizi secara hati-hati. Dan pagi-paginya gua baru ngeh 100% bahwa itu restoran halal. Dan mereka ternyata bangsa yang sensitif sama nada. Salah baca huruf, atau salah sebut nada naik atau turunnya, mereka bisa ndak paham sama sekali. Pantesan gua sebut Islam kemaren ndak ngeh, orang mereka ngejanya Yi-si-lan. Ya ampun, maafkan saya meragukan kalian mas mbak.

Balada “Ewh!?”

Cina itu gede. Dengan gede di sini itu maksudnya super gede pisan. Di peta kelihatan deket, tapi begitu dijabanin buat jalan, kaki gua mulai gontai ngos-ngosan. Gua tahu menggeneralisir suatu kumpulan grup dengan satu kuas itu pasti salah. Tapi ini kesan salah yang gua dapat pertama kali ketika berkenalan dengan Cina Daratan. Banyak yang suka meludah sodara-sodara! Ndak tua ndak muda, semua meludah sembarangan. Dan kalau meludah, mereka fasih sekali. Dibunyikan sampai ke ujung qolqolah, “Tscyuih!” Buset dah. Agak stres gua dengernya. Di jalan klo gua perhatiin, jalan kudu hati-hati karena bisa jadi ada cairan-cairan tidak dikenal berserakan di bawah.

Btw, setelah agak di luar lamaan, kok gua merasa udaranya bau ya? Baunya super menyengat. Ndak pernah seumur-umur gua mencium bau daging semenyengat ini. Tapi gua belum pernah mencium bau seperti ini. Setelah agak menyasarkan diri ke sana ke mari, gua pun sampai di daerah jualan daging. Ya ampun, ternyata itu babi sodara-sodara. Babi-babi yang baru dikuliti atau dicacah digantung. Banyak. Dan itu bau. Baunya menyengat sekali. Sebuah bau yang susah gua lupain sampai sekarang. Sebetulnya gua dari dulu juga penasaran sih sama babi itu kayak gimana rasanya, bahkan foto-foto babi di google yang keluar kadang lucu-lucu. Gua sempet kepikiran klo di dunia ini ndak bisa makan babi, nanti aja deh kalau gua masuk surga, gua pingin makan babi di sana. Tapi kenyataan yang gua temui di jalanan mengurungkan niat gua untuk nyoba babi selama yang gua bisa. Bikin eneg! Ilang selera makan gua sama sekali. Namun gua pun mencoba makanan mereka yang gua yakini vegetarian. Tapi ternyata teuteup, gua ndak cocok ternyata sama makanannya. Makanannya banyak bikin tenggorokan gua sakit. Banyak minyaknya. Dan kebetulan gua pun sensitif sama minyak berlebih. Klop deh. Di mana-mana minyak. Bahkan mie pun berminyak. Eh tapi di rumah soalnya gua bikin mie goreng dengan cara direbus sih. Akhirnya gua pun banyak-banyakin makan bakpao sama roti sama bubur doang pas di sana.

Balada manusia Elegan

Pengalamannya ndak asik semua ya? Eh jangan salah, kan gua udah bilang di awal Cina itu gado-gado. Dan ndak bisa digeneralisir semuanya. Karena di lain waktu, gua justru mendapatkan segala kesan kebaikan dari Cina di acara jalan-jalan gua yang lain. Tersebutlah gua ke Shanghai. Sebuah kota metropolitan ceunah. Tapi gua pun sudah bersiap dengan menurunkan segala ekspektasi yang pernah gua alami di pengalaman-pengalaman sebelumnya. Tapi ternyata, gua mulai merasakan sesuatu yang beda. Pesawat yang gua tumpangi ke Cina ndak ribut. Lho? Kok, tumben ndak kayak pasar kayak kemarin? Bahkan mbak-mbak Cina yang duduk sebelah gua pun kalau ngomong pelan sekali, gua sampai kudu ndengerin apa yang dia coba katakan. Si pramugari yang ngelayani si mbaknya pun nggak kalah pelan. Mereka bersuara tapi seperti sudah mengerti satu sama lain, lirih, cepat, dan efisien. Hebat!

Turun di pesawat pun gua mulai mendengar ‘lagu’ naik turun ini secara masif lagi. Tapi kok, kayaknya kali ini terdengar beda. Orang-orang yang gua temui semua berbicara dengan Mandarin yang terdengar super elegan. Bernada, pelan, tempo yang pas, dan susah diikuti. Pertama kalinya gua merasakan bahwa bahasa Mandarin itu indah (dan susah) adalah dari mereka-mereka ini. Gua pun ancang-ancang melihat jalanan di kota sekitar memeriksa apakah ada ranjau air atau ndak. Dan di luar dugaan, bersih sodara-sodara. Udaranya pun gua coba hirup, bersih! Oh… inikah bagian dari Cina di mana orang-orang berbudayanya pada ngumpul? Terus gua coba amati polusi kotanya. Dan ternyata bersih juga. Eh ada yang ndak elegan-elegan amat sih kelihatannya, karena sungainya kuning. Inikah sungai kuning yang gua pelajari waktu gua masih SD? Kuning sekali sungainya. Ternyata judul sungainya Huangpu, dan ada kata Huang di sana, yang secara harfiah artinya emang kuning.

Gua pun mencoba mengarungi kota gede ini. Semuanya tertata rapi. Busnya nyaman dinaiki. Transportasi modern. Orang-orangnya juga, mmm, elegan-elegan. Mungkin karena mereka lebih kaya dibanding kota lain yang relatif lebih miskin ya, jadinya mereka lebih mudah diatur. Eh, diatur? Yakin mereka mudah diatur? Jalanannya ternyata yang susah di atur. Ini kacrut pisan, masak lampu merah pun diterobos sama mobil-mobil dan motor-motor. Ngebut lagi. Gua sampai deg-degan kalau mau nyebrang di zebra cross. Bahkan gua berpikir, ini pasti sering kecelakaan deh klo kondisinya begini. Tapi penduduk lokalnya lempeng-lempeng aja nyebrang zebra cross, dalam keadaan lampu masih merah buat nyebrang. Dan yang lebih bikin mlongo lagi adalah, orang-orang asingnya pun juga pada ngelanggar aturan, nyebrang pas saat lampu masih merah. Bahkan kadang ngasih contoh. Buset! Mereka ketularan.

Tapi seriusan, itu doang sih komplain gua. Sisanya semuanya terasa begitu indah. Pedagang-pedagannya pada sopan-sopan. Bahkan terkesan malu-malu. Pernah suatu waktu gua masuk McD-nya Cina. Gua pun bingung mau pesan apaan. Dan gua melihat menu ikan! Kebetulan gua masih belum tahu cara baca Hanzi untuk menu itu, maka gua pun menulis Hanzinya di atas note yang gua bawa dan gua tunjukkin ke mbak-mbak kasir. Dia bengong ngelihat gua nulis. Dia baca sepintas pesenan gua. Terus dia ngomoh, +- “Oh, fish? With fried fries? Big or medium? Do you want to eat here?” Ternyata dia lancar ngomong Inggris. Luar biasa mbak!

Selain itu, daerah ini juga membuka mata gua akan China. Judulnya aja kota besar. Seperti Jakarta, semua suku dan ras tumplek blek jadi satu. Di Shanghai pun begitu, semua suku dan ras tumplek bleg jadi satu. Pertama kalinya gua melihat orang-orang Cina yang tidak berwajah ‘Cina’ yang gua lihat di Indonesia. Jenis orang-orang Cina yang gua temui pun hampir komplit sudah, mulai dari yang berwajah Asia Tengah, Turki, keArab-araban, keJawa-jawaan (suer ndak bo’ong), sampai yang berkulit kehitaman pun ada. Bahkan gua melihat pasangan interracial keluyuran menghiasi kota. Maka gua, yang dalam salah satu episode hidupnya pernah dipanggil Cina walau ndak ngerasa Cina sama sekali, pun tak ketinggalan ikut diajak-ajak ngobrol sama orang-orang lokal karena disangkanya orang lokal.

Balada Mata Pening

Hong Kong

Hong Kong

Pada dasarnya, hampir sebagian besar waktu dalam hidup gua dihabiskan untuk membaca tulisan-tulisan yang berasal dari negara-negara Asia Timur, seperti Jepang, Mandarin, dan Korea. Karena gua tinggal di Korea, maka sebagian besar kehidupan gua, gua coba habiskan untuk ngebaca Hangeul. Tapi sebelum ke Korea, ada masa-masanya gua menghabiskan sebagian besar waktu gua membaca buku-buku berbahasa Jepang diselingi buku-buku berbahasa Cina. Proses transisi gua dari habit ngebaca Kanji ke Hangeul itu berat sekali. Apa ya, sistem huruf Jepang itu kompleks dan paling susah yang pernah gua pelajari seumur-umur, tapi efisien dan cepat untuk dibaca dan dimengerti. Bahkan tingkat kekompleksannya mengalahkan huruf si ibunya yaitu Hanzi Cina Daratan. Sehingga ketika gua mulai membiasakan diri membaca Hangeul yang sama sekali bukan ‘piktogram’, ada kehilangan yang sangat besar dalam tingkat kemampuan membaca gua di huruf-huruf Cina tadi.

Dan semuanya jadi super terasa menyakitkan begitu gua menginjak Hong Kong. Sakitnya bukan di hati sih, tapi di mata. Karena Hong Kong memakai Fantizi, alias huruf-huruf 11-12 jenisnya sama Kanji Jepang, bedanya, lebih usil goresannya. Sebagai ilustrasi, Jiantizi (huruf Cina Daratan) itu seperti tulisan yang disingkat-singkat kaya abg-abg lagi sms, sedangkan Fantizi (huruf Hong Kong, Taiwan, dan sekitar) itu seperti tulisan yang ditulis apa adanya. Sebagai ilustrasi, tulisan “Hy, km skrg lg da di mn sich?” dan “Hai, kamu sekarang sedang berada di mana sih?” terasa bedanya kan? Sekarang bandingkan juga dua tulisan ini, “我们能听见你” dan “我們能聽見你”, terasa mana yang lebih ngabisin tinta kalau buat diprint kan?

Dan semua huruf dan tulisan yang gua temui di Hong Kong adalah huruf-huruf Cina tradisional apa adanya tadi, lebih ruwet, lebih banyak goresannya, lebih susah dimengerti, dan lebih susah dibaca klo ukurannya kekecilan. Papan-papan iklan yang seharusnya membahagiakan malah berefek sebaliknya buat gua yang mencoba membacanya. Perih, mata gua perih, gua udah lama ndak terbiasa ngebaca tulisan kecil-kecil begitu. Mana ternyata Hong Kong itu pemilihan kata-katanya jauh lebih beda daripada Cina daratan, seperti Indonesia versus Malaysia, cuman lebih ekstrim. Baca peta google map pun harus gua gedein berkali-kali biar jelas huruf-huruf yang gua baca. Pertama kalinya dalam hidup gua, gua merasa butuh kacamata. Dan nada bicara mereka sama sekali beda sama Cina Daratan, karena bahasanya berbeda. Mereka pakai Kanton. Lebih kompleks dan lebih naik turun bervariasi. Buset dah. Pertama kalinya gua kagum sama sebuah bangsa hanya gara-gara pemilihan gaya hidup mereka, dalam hal ini, tulisan yang mereka pertahankan mati-matian.

Gua termenung di pinggir jembatan penyebrangan. Gua lihatin wajah-wajah mereka yang keluyuran di sana. Gua bertanya-tanya, ndak capek ya baca tulis begituan. Dan emang banyak sih mak-mak, bapak-bapak, dan anak-anak yang pake kacamata di mana-mana. Dan tampaknya kekhawatiran gua ndak beralasan. Karena mereka lempeng-lempeng aja.

Eits tapi tunggu dulu. Bahkan, gua mulai sadar, bahwa cowok-cowok di Hong Kong yang berseliweran di depan gua seperti gua, mereka buncit-buncit. Akhirnya! Gua menemukan negara di mana para lelakinya buncit juga kayak gua. Gua tidak sendiri lagi. Hore, artinya mereka bahagia-bahagia aja hidupnya. Buktinya suka makan. Karena selama di Korea gua sebetulnya agak tekanan batin sih klo ngelihat badan gua yang udah mulai melebar. Kapankah gua seseksi dulu lagi sewaktu masih kuliah? Karena orang-orang di sekitar gua pada slim-slim. Dan akhirnya gua punya temen kebuncitan. Ah, Hong Kong. 😀

Istirahat

Istirahat

Akhir kata, sekian laporan tertunda jalan-jalan gua. Bagi yang akan menikmati Cina, gua mengucapkan, “Selamat mengarungi!” ^^

Mobil dan Rumah

Waktu kuliah, keinginan gua dulu sebatas nonton film, jalan-jalan, lulus kuliah, berprestasi, cepet dapet kerja, hidup bahagia, dan sejenisnya. Yang namanya keinginan, tampaknya selalu berubah seiring berjalannya waktu. Keinginan di waktu SD tentu berbeda dengan keinginan di waktu kuliah. Dan keinginan di waktu kuliah, tampaknya berbeda dengan keinginan di waktu gua sudah bekerja.

Mobil dan rumah, gua suka sama dua entitas ini. Kalau gua bosen kerja, gua sering ngelihatin web mobil-mobil sejenis Lambo dan semacamnya di situsnya. Bagus sih. Bikin apa ya kalau diistilahkan, hm, bikin gua tiba-tiba ada kesenangan yang datang bergelombang-gelombang. Seperti bertemunya air dan tanaman yang sudah lama ga disiram. Gua suka otomatis senyum-senyum sendiri lihat mobil-mobil beginian. Sayangnya, harga mobilnya bikin istighfar.

😀

Kemudian adalah rumah. Gua mendambakan sebuah rumah yang nyaman. Berbau petrichor maksimal jika diguyur hujan. Ada jendela yang bisa gua pakai buat merenung memandang luaran kalau hujan. Sederhana, minimalis, luas, tapi ada ruang-ruang nyaman yang bisa gua habiskan buat baca buku di siang hari atau ngelamun menikmati semilir angin. Kalau bisa, gua juga mau bikin bertingkat. Gua juga mendambakan ruang tamu gua lesehan, ditemani deretan kursi malas berbentuk bantal memanjang, dengan meja rendah ala-ala minimalis. Hah. Sangat berorientasi gua sekali ya. Padahal masih ada keperluan keluarga lain, seperti perabotan, meja, pembersih, alat masak. Belum lagi keinginan istri gua. Belum lagi kamar buat anak-anak.

Selain dua entitas di atas, gua juga masih membutuhkan beberapa hal lain yang sangat prinsipil. Panjang kalau dilist di sini. Dan itu adalah hal-hal yang gua temui di kebanyakan keluarga yang gua tahu sewaktu kecil. Tapi entah kenapa, biaya hidup di masa ini, dan di kota besar, tampaknya selalu naik tiap tahunnya.

Kadang gua termenung mikirin masa depan. Dan itu menyadarkan gua akan berbagai hal.

Hah. Banyak ya keperluan hidup itu.

Ingatan Kehidupan Gua Terawal yang bisa Gua Ingat

Ada sebuah ingatan kehidupan. Memori kehidupan gua terawal yang pernah bisa gua ingat. Samar, bahkan begitu samarnya, gua ga yakin itu mimpi atau bukan. Uniknya, ingatan ini adalah ingatan yang paling membekas, paling kentara, dan paling terngiang dibanding ingatan-ingatan gua yang lain.

Gua ga tahu gua umur berapa waktu itu. Tapi ada satu yang gua yakin gua inget, bahwa gua “sadar” secara tiba-tiba. Berikut cuplikan ingatan kehidupan terawal gua.

Sumpek. Pengap. Sesak. Tiba-tiba gua sadar entah kenapa.

Gelap.

Gua sadar, kalau gua tersadar. Gua masih inget, gua seperti punya kesadaran penuh tiba-tiba. Seperti bangun tidur, gua seperti ngebawa beribu pikiran terpendam yang menunggu untuk dieskpresikan.

Berontak, gua pingin berontak dan ngomong. Tapi ga bisa. Gua bahkan seperti pingin jalan.

Tiba-tiba gua sadar ada di mobil malem-malem. Mobilnya tampak menyinari jalanan depan gelap dengan 2 lampu depannya. Ngelewati jembatan.

Jalan gelap. thanks to: booklikes

Jalan gelap. thanks to: booklikes

Nah lho. Sejujurnya ini absurd, dari mana gua bisa tahu konsep mobil dan jembatan di ingatan terawal gua. Hahaha. Btw, ingatan gua masih berlanjut sebetulnya. Cukup panjang. Gua cukupkan sampai di sini. Karena gua pribadi melihat ini sebagai salah satu ingatan paling berkesan dalam hidup gua karena terngiang-ngiang sampai sekarang.

Gua ga tahu umur berapa ingatan gua ini. Tapi gua entah kenapa sedikit percaya, mungkin ini ingatan awal-awal gua didatangkan ke dunia. Haha.

Gua tampaknya harus lebih banyak referensi tentang topik ini lebih lanjut.