Akhirnya, Gua Nyerah

Hampir 4 bulan gua sudah menetap di Surabaya. Segala benak gua dan harapan gua yang gua bawa sewaktu balik lagi ke Indonesia sekarang mulai jelas arah keputusannya. #tsah

Percobaan gua gagal. Percobaan kehidupan gua gagal di sini. Mengingat gua sudah menghabiskan 1/3 tahun waktu gua di sini dan gua tidak melihat perubahan yang signifikan, maka dengan ini, gua pun memutuskan untuk pindahan.

Salah satu alasan gua memilih Surabaya adalah karena ini adalah salah satu kota yang gua relatif sangat tidak familiar sama sekali, biaya hidup yang relatif murah, akses penerbangan antar kota lumayan terjangkau, dan yang paling penting, sangat sedikit orang-orang yang gua kenal di sini.

Lho, kok yang paling sedikit? Ini pertanyaan yang paling sering gua denger dari temen-temen gua. Jawabannya tidak lain dan tidak bukan adalah gua pingin menantang kemampuan bersosialisasi gua di tempat yang asing sama sekali. Gua pingin menghindari orang-orang yang pernah gua kenal. Sederhananya, gua pingin cari temen baru. Temen yang sama sekali baru, punya hobi yang sama, dan 11 12 sama gua.

Bulan lalu, ada temen lama gua dari Vietnam berkunjung ke Indonesia. Gua pun jadi guide buat dia sekitar 1 mingguan. Gua temenin ke Jogja sampai Bali. Gua jadi tahu banyak tentang temen gua ini. Dan entah kenapa setelah pertemuan gua dengan temen lama gua ini, ada saat di mana gua tercenung lama sekali. Suasana hati gua ga karuan sama sekali. “What the fuck I am doing at Surabaya?”

Hingga akhirnya, gua pun mengeluarkan uneg-uneg gua ke dia. Kurang lebih begini percakapannya.

Gua: I read an article somewhere. When we get older, the number of close friends we have are decreasing. I don’t believe it. I would like to challenge that article. So I went to unfamiliar town, lived there, and tried making some new friends. But every new people I met there are just, well, not at the same chemistry with me. Mostly I got awkward introductions. I failed miserably.

Doi: So the article is true. LOL

Haha.

Absurd sekali. 4 bulan gua habiskan hidup gua hanya karena sebuah artikel.

Dan acara jalan-jalan kemaren membuka mata gua. Gua bahagia ketika lihat temen gua bahagia. Dan gua melakukan kesalahan besar dengan mencoba menghindari segala temen-temen lama gua. Padahal temen-temen lama gua juga adalah mereka-mereka yang harus gua syukuri keberadaannya. Merekalah orang-orang yang menemani kehidupan gua selama ini, bukan lantas gua nomor duakan hanya demi egoisme mencari temen baru di kota ini.

Tapi sejujurnya, gua pun juga bingung menghubungi mereka lagi. 😀

Btw, berikut adalah hal-hal yang membuat gua memutuskan hengkang dari Surabaya selain masalah transportasi.

Cafe

Gua suka ngafe. Suka sekali. Dulu waktu S1 bikin TA pun di cafe. Suer, otak gua kayak tersteroid tiba-tiba buat mikir jernih. Pas kerja di Jakarta pun begitu, keknya, hampir tiap hari saban balik kantor gua nongkrong di cafe deket kantor. Kehidupan perkorewaan pun begitu, setiap gua ada waktu gua selalu pergi ke cafe, entah ngerjain paper, cari inspirasi, ngobrol ga jelas, atau ngitung uang pun gua jabani ke cafe.

Dan gua mulai menyadari, ada 1 kekurangan besar yang cem hilang tiba-tiba begitu gua pindahan ke sini, yaitu bahwa tempat perangsang otak yang selalu mensupport kehidupan pergejean gua ndak ada yang cocok di sini sama selera gua. Gua perhatikan, kebanyakan warung kopi terdekat gua itu: keramean; ndak ada asenya; menunya biasa aja; bentuknya yang kurang menginspirasi; dan yang paling penting, kursinya keras semua. Buset dah, baru sadar manja sekali gua ini.

Desperate, gua pun mencoba pergi ke mall (yang notabene jauh pisan dari tempat tinggal gua), berharap menemukan starbaks, ekselso, atau binlif apalah, yang penting unyu, nyaman, dan ada sofanya. Dan uniknya, gua pun ndak suka juga. Kecuali ekselso, gua melihat cafe-cafe tadi kursinya keras-keras, keramean, dan gua melihat ga worth it antara harga dan tempatnya. Lho, tapi ekselso kan ada empuk-empuknya. Mmm, iya sih, gua pernah ditowel awang-awang sama mas-mas penjaga ekselso. Gua berhenti sebentar. Gua perhatikan isinya dari kaca luar. Audience-nya, saat itu, tipikal para pekerja kantoran, rata-rata dress formal, rame, dan mereka-mereka semua bergerombol cerita-cerita. Gua perhatikan baju gua, kaosan, sandalan, dan ndak ada temen. Gua gamang. Kehidupan individualis masih gua bawa-bawa juga ke sini. Entah, gua sedih tiba-tiba.

Teman/Orang (baru)

Ada 7 orang. Mereka ini gua temui di salah 2 komunitas yang gua ikuti di sini. Keenam orang ini, suer, sama persis dengan 7 kenalan lama gua. Oh Tuhan! Dalam hati gua selalu histeris ngelihat mereka ini. Dari sekian banyak manusia berhamburan di Surabaya yang gua arungi ini, hampir gua nggak pernah menemui orang-orang yang mirip dengan temen-temen gua. Tapi kenapa, justru di komunitas-komunitas yang super spesifik ini, gua justru menemui manusia-manusia berwajah mirip yang pernah gua temui sebelumnya dengan intens?

Gua jabarkan. Si A ini wajah tumplek bleg persis sama temen deket gua di Korea. Dulu gua selalu nahan ketawa ngobrol sama dia. Kemudian, muncullah si B, doi mirip bener sama temen akrab lama gua si B’, dari wajah sampai postur. Gua bener-bener tercenung ngelihat nih anak. Btw gua ketemu si B ini di komunitas besar yang gua termasuk jarang ngomong di dalamnya dan ndak kenal semuanya. Dan karena gua akrab sama B’, gua selalu gatel pingin kenalan dan ngajak ngobrol sama si B’ gadungan ini. Gua urungkan, karena si B ini selalu nempel sama si C, yang mana si C ini mirip sama kenalan lama gua si C’, yang, puji Tuhan, mereka cem kembar. @_@ Bayangkan, 2 orang asing berteman akrabnya dan mereka mirip kenalan lama loe semua, dan loe ada di dekat mereka. Bedanya, loe diasingkan sama 2 orang ini. Absurd. Kemudian, ada si D, yang mirip temen lama gua si D’. Wajah boleh mirip, tapi badan beda sama sekali. Kemudian ada juga si E (yang mirip si E’ temen Korea gua) yang bikin gua ga kalah tercenungnya sama si B, karena literally model rambutnya, wajah, dan cara mereka berekspresi sama persis. Padahal, sepengamatan gua, jarang sekali kemiripannya orang etnis China Indonesia yang secara fisik gua temui sama orang Korea. Iya, gua cem bisa bedain orang China, Jepang dan Korea sewaktu di Korea. Bedanya si E ini cem masih muda. Dan karena si E’ ini bikin gua sebel sewaktu di Korea, si E ini pun secara naluri gua hindari. Begitu juga si F dan G. Duh, 7 orang. Banyak ya.

Ada lumayan banyak komunitas yang gua gabungi selama gua di sini, mulai dari yang bener sampai yang ndak bener. Dan salah satu tujuan gua adalah ya itu tadi, nyari temen baru. Dan mencari teman yang cocok itu ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak orang yang berkenalan, banyak juga orang yang berbicara dengan gua. Tapi yang satu chemistry sama gua hampir bisa gua bilang ndak ada. Kesalahan ada di gua sih. Berkali-kali gua dikelilingi orang-orang yang dengan semangat mencari kegiatan bersama-sama setelah aktifitas komunitas rame-rame, tapi guanya yang kadang ndak semangat ngikutin acara jalan-jalan mereka. Ada juga komunitas yang gua ga sreg sama ideologi mereka, cem isinya orang-orang kelebihan duit. Kebalikannya, ada juga yang isinya orang-orang yang selalu mengerjap-ngerjap mengeja uang. Hadeh.

Dan gua pun mulai mengingat-ngingat, bagaimanakah ceritanya gua bisa kenal dengan teman-teman lama gua. Dan gua pun langsung dapat jawaban instan: sekolah dan kerja. Di sekolah, gua bertemu dengan orang-orang yang gua temui dengan intens setiap harinya. Mereka pun menjadi teman gua. Di tempat kerja pun begitu, karena aktivitas yang selalu kita lakukan bersama-sama, ada ikatan emosi yang terbentuk sampai hari ini. Mereka pun menjadi teman gua. Sayangnya, dua hal ini sudah tidak gua miliki lagi.

Tidak ada yang sempurna di dunia ini.

Tapi gua nggak menyesal sama sekali, walau percobaan kehidupan gua gagal. Gua seneng sekali malah. Banyak sekali pelajaran yang gua dapati selama 4 bulan di sini, walau kerjaan gua kebanyakan tidur siang melulu. Haha. Dan berhubung ada proyek baru menunggu di depan, sekalian gua pakai momentum ini untuk merefleksi kehidupan sekali lagi dan mencoba kembali ke ritme kehidupan yang dulu atau ke ritme kehidupan yang sama sekali baru.

Akhir kata, selamat beraktifitas!

Advertisements

Ketiadaan Gosip

Dulu pas kerja kantoran, sesibuk apapun shitload kerjaan, selalu gua sempatkan program pendulang apdetan gosip terkini nangkring di taskbar bawah windows. Posisi gua duduk sebetulnya sangat nyaman untuk bermagabut ria setiap hari. Sayangnya oh sayangnya, sebelah kiri gua duduklah kepala deputi dan sebelah kanan gua duduklah si bos kepala bagian.

Ndak asik. T_T

Sedangkan ndak jauh dari tempat gua, duduklah bergerombol anak-anak tim yang kerjaannya, suer, gua bingung, dari pagi sampai sore ngobrol dan bercanda terus. Mereka ngegosip terus tiap hari. Dan mereka juga cekikikan terus tiap hari. Dan mereka juga umurnya ndak beda jauh sama gua, sangat berseberangan sama dua orang di sebelah gua. Jujur, gua selalu pingin nimbrung ikutan ngegosip sama anak-anak. Dan itu cuman bisa dilakukan pas makan siang di mana pada akhirnya gua pun bisa ‘bergerombol pada tempatnya’. Tapi ya itu, cuman sebentar doang pas makan siang. Karena begitu jam masuk kantor lagi, gua kembali ke tempat gua berkutat sama kerjaan, dan mereka kembali ke tempat mereka berkutat sama gosip mereka. Ah! Gua iri!

Akhirnya gua lampiaskan dahaga gosip gua dengan buka facebook atau yutub atau situs geje apalah, secara diam-diam. Pas si bos lagi mèléng, ctrl + tab pun dengan lincah gua tekan, dan gua pun berselancar membaca postingan-postingan ga penting penyulut emosi yang muncul dari temen-temen pesbuk gua. Dan gua pun ketagihan pesbuk. Oh dunia…

Tapi, pesbuk tidak seperti dulu lagi. Dulu pas gua baru kenalan dengan mereka, isinya paling banter sebatas selfie, postingan foto alay makan-makan, jalan-jalan, atau segala sesuatu yang menenangkan. Sekarang mah boro-boro, bisa lihat ada yang ngelike foto kucing lucu aja gua bersyukur banget. Heran deh, social media yang harusnya membuat kita semakin akrab malah jadi ajang tengkar.

Gua sudah tidak melihat kedamaian lagi di dalamnya.

Atau mungkin gua yang sudah terlalu tua ya? Lelah sudah gua dengan drama dan intrik ga jelas. Dan kepulangan gua ke Indonesia benar-benar membuat gua bersyukur setengah mati, hal-hal yang dulu gua sempat hilang dalam hidup gua akhirnya pelan-pelan gua dapatkan lagi.

Di tiap jalan-jalan sore yang gua lakukan di sekeliling perumahan, gua melihat manusia dan kehidupan sehari-hari mereka. Ada bapak-bapak, ada ibu-ibu, ada mas-mas, ada mbak-mbak yang berjuang dengan keras mencari rezeki mereka dengan tanpa menyerah di tiap harinya. Ada banyak manusia dengan motornya bersegera kembali ke rumah masing-masing setelah seharian lelah bekerja untuk menemui keluarganya. Ibu-ibu langganan makanan gua, mas-mas tukang bangunan depan tempat gua, bapak-bapak penjual sate, om-om gojek, mbak-mbak Alfamaret, mereka begitu menyenangkan untuk ditemui. Mereka bagaikan mutiara yang bertebaran di muka bumi berjuang untuk kehidupan mereka dan keluarga mereka. Dunia menjadi begitu indah dengan hadirnya pejuang-pejuang ini.

Persetan dengan fitnah dan kebencian yang menyebar di dunia maya.

Kehidupan nyata seperti mereka inilah sesuatu yang jauh lebih pantas untuk diapresiasi. Karena memang hidup adalah sesuatu yang pantas diapresiasi, bukan untuk dihina-hina dan disia-siakan.

Dan hati gua entah kenapa begitu damai dengan tidak membuka social media dengan beralih menikmati dunia nyata. Gua sadar, berbahaya memang jika gua tidak mengetahui informasi. Kembali ke penyedia informasi tulus bisa jadi pilihan baik.

Ada masih banyak rencana kehidupan yang belum gua sempat eksekusi. Dan puji Tuhan, keluhan-keluhan gua tentang Indonesia perlahan memudar dengan kesibukan nggak penting gua. Oh! Gua jadi suka baca novel. Dan di luar dugaan, membaca novel itu menenangkan ya. Gua menemukan efek luar biasa yang juga luar biasanya lagi bisa menekan kebiasaan buruk bawaan gua yang lain. Buku-buku sok-sokan sebenernya masih kadang baca sih, tapi entah kenapa agak hilang selera gua ngebaca begituan.

Intinya, hobi baru gua adalah, gua mencoba menghindar segala pertentangan, atau segala sesuatu yang ga gua suka. Menghindar entah kenapa lebih menyenangkan daripada gua harus berdebat. Ada banyak cara menunjukkan ketidaksetujuan, termasuk dengan tersenyum mendengar pendapat orang untuk kemudian baru keesokan harinya menunjukkan secuil pendapat yang berbeda kepada orang lain dengan cara yang bahkan si pendengar tidak sadar bahwa itu adalah pendapat yang berbeda.

Akhir kata, masih ada banyak hal yang harus gua tata ulang, tapi secara pelan tapi pasti gua mulai mendapatkan serpihan-serpihan kehidupan gua yang hilang. Semoga esok kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik daripada hari ini.

(;

Iklan

Ane penikmat video iklan, dengan tema-tema tertentu.

Terutama iklan-iklan menyentuh hati ala-ala Thailand bisa bikin gua tercenung berhari-hari. Dan gua pun juga sangat mengapresiasi iklan hedon yang ‘bagus’ di mata gua.

Berkali-kali pingin gua bagi rasa wah ketakjuban gua akan iklan-iklan tipe-tipe hedonistik ini ke beranda Facebook gua. Tapi kok setelah gua pikir-pikir agak kurang pada tempat dan audience yang pas.

Di sini gua mau coba share 4 iklan yang paling membekas dalam kecengangan gua.

Jam

Gua suka jam. Suka sekali. Tapi bukan untuk gua pakai. Karena pergelangan tangan gua kecil dan ndak cocok dipakaein sama jam. Jadinya gua suka mengapresiasi jam dengan cara memandangnya saja. Tapi teteup, gua suka jam. Dan iklan Bvlgari berikut bener-bener bikin gua nggak berkedip memandangnya.

Komentar gua cuman satu: Seksi!

Keindahan

Gua suka sesuatu yang memanjakan mata, dalam bahasa sederhananya, keindahan. Dan iklan dari Cartier ini, bagi gua, begitu indah untuk dideskripsikan. Musiknya, gambarnya, nuansanya, semuanya pas.

Komentar gua pun sederhana: Uwoggghhh!

Mobil

Gua suka beberapa jenis mobil, terutama yang tipe sporty. Lebih tepatnya lagi, yang bentuknya lucu-lucu ndak jelas. Walau gua ndak ada rencana beli BMW sama sekali, tapi iklan BMW yang ini bener-bener gua apresiasi. Elegan luar biasa.

Romansa

Gua penggemar hal-hal yang berbau romantis sebenernya. Dan iklan Cartier (lagi) ini bener-bener bikin gua terhanyut suasana dalam waktu yang cukup lama.

Indah. Ini salah satu hal terindah yang pernah gua lihat.

Sekian.

 

Di Mana Pejalan Kaki?

1 bulan sudah hampir kira-kira gua mengamati perkehidupan perIndonesiaan kembali. Dan ada hal yang cukup mengganggu gua satu. Di manakah para pejalan kaki?

Seriusan!

Gua kebetulan tinggal di perumahan. Dari rumah ke depan jalan raya tempat sumber makanan ndak sampai 500 meter. 300 meter untuk jarak terdekat dan 450 meter untuk jarak yang agak jauhan lebih tepatnya. Udah gua ukur di google map. Dan tiap gua jalan dari rumah ke tempat makan, gua jarang sekali melihat orang yang berjalan kaki keluar, entah beli makan kek, jalan-jalan kek, atau apalah. Sesampainya gua di tempat toko-toko makanan pun gua melihat berjejeran sepeda motor dan mobil di depan toko-toko makanan tadi. Hm! Maka mari berpikir positif, mungkin rumah mereka jauh-jauh.

Mungkin juga, karena gua di perumahan, sehingga gua jarang lihat orang jalan… Tapi ya, kayaknya logika gua ada yang salah. Mungkin di tempat lain orang-orang yang pada jalan kaki lebih mudah ditemui.

Maka gua pun mencoba untuk jalan ke tempat-tempat yang agak jauhan, ke mall, ke balai kota, ke cafe-cafe tak terdekat, ke banyak tempat. Dan gua mulai ngeh, bahwa orang-orang sini pada males jalan kaki. Oh, tentu saja ada pengecualiannya, yaitu di dalam mall. Selebihnya, jalanan sepi pejalan kaki. Kalau ada yang jalan, termasuk gua, malah terlihat aneh. Orang-orang yang lagi duduk di pinggir jalan, menatap orang yang berjalan kaki di pinggir jalan. Absurd. Ya Tuhan, di tengah isu menipisnya dan naiknya harga bahan bakar dunia, ternyata orang-orang malah semakin giat mempergunakan hal-hal ini.

Hampir semuanya dengan giatnya menggunakan kendaraan pribadi mereka ke mana pun mereka pergi. Kalau dirangkum, kira-kira beginilah urutan kegiatan transaksi kehidupan sehari-hari.

  1. Keluar pintu rumah jalan kaki ngeluarin motor (atau mobil).
  2. Mendudukkan bokong di jok.
  3. Gerakin telapak-jari tangan dan kaki.
  4. Nikmati semilir angin (atau AC) hingga tujuan.
  5. Turunin bokong.
  6. Kemudian bertransaksi.

Bahkan untuk jarak yang ndak lebih dari 500 meter tadi, gua menemui orang yang naik mobil untuk menempuhnya. Hah!

Apakah gua tinggal di kota yang tidak ramah untuk pejalan kaki? Bisa jadi. Trotoar agak susah dinikmati terkadang. Selain jalanan panas, ramai, bergeronjal, banyak kendaraan, pohon perdu untuk pejalan kaki pun jarang. Padahal taman ada banyak bertebaran berserakan di berbagai tempat, tapi bukan untuk para pejalan kaki sih.

Menikmati kota dengan berjalan kaki itu padahal menyenangkan lho.

Nggak nyangka juga, gua akhirnya mulai membanding-bandingkan kehidupan yang dulu gua ingin sekali keluar darinya dengan kehidupan sekarang yang gua mulai berkeluh kesah dengannya. Mungkin di tulisan ini gua mau mencoba menyanjung negara yang dulu gua hobi suka nyinyiri selama di sana.

Tanpa sadar, gua dulu hidup dengan manusia-manusia yang mayoritas suka jalan kaki ke mana-mana. Di jalan gua bertemu sebagian besar dengan manusia, bukan kendaraan pribadi. Di jalan gua berjalan-jalan bersama masyarakat yang juga semua bertebaran berjalan-jalan dan berbincang-bincang. Di jalan gua pun bisa dengan santainya berjalan kaki melihat pemandangan, bangunan, ataupun toko-toko sekitar sambil menikmati udara luar. Di jalan gua pun duduk, berdiri, menunggu bersama manusia-manusia sekitar akan datangnya angkot, bus ataupun kereta.

Boro-boro mau naik, jadwal dan trayek peta angkot pun susah sekali gua temui di sini.

Gua pun berpikir, untuk memecahkan permasalahan ini. Dan gua pun akhirnya menemukan solusinya: If you cannot beat them, then join them. Maka, gua pun berniat untuk beli kendaraan pribadi juga.

Hah!

Pijet

Gua penggemar pijet. Pisan.

Setiap gua jalan ke negara lain hal yang pertama gua buru adalah pijet atawa massagenya. Begitu pun kalau dalam perjalanan dalam negeri, entah pas lagi nyebrang kapal, nunggu keberangkatan, bengong di kota lain; yang mana kalau gua lagi kosong gua pasti sempatkan nyari sesuatu yang mau mijetin gua, baik manusia ataupun kursi yang bisa bergetar. Bahkan kalau lagi duduk bareng sama temen pun kadang gua godain, “pijetin gua dong gan”. Dan beruntunglah gua punya banyak temen-temen yang selalu sukses digoda, mereka pun mau mijetin gua.

Dan posisi favorit gua ketika pijet adalah ketika sandaran. Apalagi kalau kursinya gede, empuk, dan lucu. Itu rasanya super ultimate pisan itu kenikmatannya. Gua seakan bisa mengerti arti kata-kata ini.

على سرر موضونة متكئين عليها متقابلين
Mereka berada di atas dipan yang bertahta emas dan permata. Seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan.

Ini sangat gua hayati sekali kemungkinan khayalan yang paling bisa gua khayalkan. Kenikmatan surgawi bagian ini adalah salah satu gambaran yang paling bisa gua mengerti dan paling bisa gua recreate dan rasakan sedikit percikan-percikannya. #tsah

Pijet paling ideal gua adalah, di mana gua pingin rebahan di kursi gede mirip kasur super duper elegan bercorak gelap dan empuk dan penuh bulu-bulu lucu, ditemani temaram lampu dan aromaterapi ndak jelas yang enak baunya, sambil diiringi musik ndak jelas juga tapi menenangkan, di ruangan yang super menenangkan, ditemani pemijet paling handal, yang juga handal ngobrol ndak jelas yang menyenangkan, bonusnya apalagi kalau pelanggan kanan kiri bilik ikutan nimbrung ngerumpi.

Masih banyak lagi sih sebetulnya ide-ide acara pijet-memijet ini yang ada baiknya ndak gua tuliskan di blog ini. Tapi yang jelas intinya, dari alam bawah sadar gua, gua mendambakan kehidupan super rileks dengan kegiatan liburan setiap harinya sambil bertelekan di atas kasur atau apapun yang menyenangkan sambil menikmati pemandangan yang menyengangkan-menyenangkan dengan ditemani sentuhan-sentuhan menyenangkan di sekujur badan ketika pijet.

Sayangnya, kehidupan ndak bisa seperti itu. +_+

Manusia itu bekerja mencari nafkah, dan itulah yang membuat manusia sebagai manusia. Ada lelah di setiap pencarian kebaikan dalam kehidupan. Dan para pemijat tadi sangat gua apresiasi keberadaannya. Mereka adalah orang-orang yang bisa gua hadapi dengan rasa bahagia. Dahulu, gua menghormati 2 macam profesi di dunia ini. Sekarang ada 3, yaitu Guru, Dokter, dan kemudian Tukang Pijet.

Coba deh bayangkan. Mereka rela berkorban memberikan penat mereka untuk membawa kebahagiaan kepada mereka yang dipijat. Entah kenapa kesannya seperti berbahagia di atas penderitaan orang lain, ya? Tapi gua melihat keindahan tersendiri di balik filosofi pijet memijet ini. Juga, terkadang gua akan belajar banyak dengan mendengar cerita-cerita kehidupan dari para pemijat ini kalau dipancing dengan obrolan ringan per sesinya. Mulai dari perasaan mereka sebagai pemijat, kehidupan keluarganya, kesehariannya, suka dukanya, macem-macem lah. Jarang-jarang juga gua ngobrol sama orang asing. Mungkin ini juga salah satu faktor yang menyebabkan gua suka dipijet, karena gua pada dasarnya suka mendengarkan orang lain bercerita.

Beragam pemijat maka beragam pula tekniknya. Ada yang nyaman ada juga yang ndak nyaman sama sekali. Tapi tetep aja sih, sejelek-jeleknya pijetan mereka, sebetulnya masih enak juga kok rasanya klo dipikir-pikir.

Ada yang memijet pakai perasaan. Sambil nanya-nanya udah pas belum tekanannya, sakit apa ndak, ada daerah yang pingin dipijet atau ndak. Ada juga yang pemijet yang suka diapresiasi pijatannya. Mereka suka memperhatikan reaksi pelanggannya. Sering gua ngegap mereka yang senyum-senyum sendiri ngelihat ekspresi wajah keenakan gua pas lagi dipijet. Ada juga calon terpijat yang merem melek ngelihat orang lain yang sedang keenakan dipijet sama pemijetnya. Kebetulan gua suka pijet kepala ringan. Gua suka terpana ngelihat orang yang kepalanya lagi diuwel-uwel pas dipijet.

Bagian tubuh buat mijet pun macem-macem. Ada yang pakai telunjuk, ada yang pakai telapak tangan, ada yang pakai sikut, ada yang pakai punggung. Dan acara pijet-pijetan yang lumayan paling eksotik yang pernah gua rasakan adalah pijet ala Thai. Buset dah, itu pemijetnya menggunakan 100% seluruh badannya deh buat mijet gua. Semua bagian badan gua kena semua. Mulai dari ditindih, ditarik, diputer, ditendang, sampai pemijetnya menggeliat di atas badan pun kejadian. Super ndak nyaman pisan. Gua selalu ngakak kalau dipijet ala-ala begini selama sesinya. Apalagi kalau yang mijet ndak bisa bahasa Inggris, bahasa tubuh secara harfiah pun bener-bener dipergunakan. Tapi enak juga kok sebetulnya. Hahaha.

Akhir kata, selamat berburu pijet bagi mereka para pecinta pijet!

Sensasi Memulai Hidup Baru

Banyak sekali hal yang pingin gua ceritakan di sini. Sangat banyak. Ini satu bulan yang sangat melelahkan buat gua. Karena gua memutuskan balik ke Indonesia. Sebuah keputusan yang gua buat sudah dari jauh-jauh hari.

Pindahan itu…

Dan ternyata sodara-sodara, pindahan antar negara itu melelahkan sekali. Hampir setengah bulanan gua bolak-balik menyelesaikan hal-hal yang, mmm, baik yang jelas maupun ndak jelas. Mulai dari nyelesain kerjaan kantor terakhir, ngurus administrasi ke kantor pemerintahan, pesen kargo, bersih-bersih apartemen, putus perjanjian kontrak, delegasi barang sana-sini, ramah tamah bersosialisasi, pesen tiket, ngerencanain lokasi baru di Indonesia, dll dsb dst. Semuanya menguras tenaga dan uang.

Maka berangkatlah gua pulang kampung. Ndak nyadar, pas gua ngelihat pesawat gua untuk ninggalin Korewa gua berasa sangat ‘sesuatu’ dada gua. Hahaha. Ini negara udah jadi rumah ketiga gua. Bahkan setiap kali gua dulu balik ke Korewa dan ngelihat Incheon dari atas, anehnya hati gua selalu tenang, seakan gua punya perasaan gua udah nyampe rumah, gua udah bisa istirahat tenang dari hiruk pikuk kehidupan negara lain di luar Korewa. Senyinyir-nyinyirnya gua komen tentang negara yang gua tinggalin ini, dalam lubuk terdalam gua sebenarnya gua udah pewe dan seneng hidup di sini. Gua udah sayang Korewa.

Gua pun mewek.

Harga Barang

Begitu nyampe di Indonesia pun gua masih agak sibuk mempersiapkan hidup baru gua. Nggak jarang gua terkejut-kejut dengan realita kehidupan di Indonesia. Hal paling sederhana adalah Indomaret dan Alfamaret. Bahkan dalam kacamata gaya hidup perKorewaan, gua menilai harga-harga barang di toko ‘kelontong’ modern tadi agak ndak wajar, alias, mahal.

Masak teh botolan 8.000-an? Roti kesayangan gua jadi 15.000-an? Ini Indo kan? Kok mahal-mahal gini. Ini mah harga yang 10-12 sama harga-harga di Korewa. Dan bahkan terkadang dengan harga segitupun, di Korewa pun gua masih males beli barang yang harganya segitu. Dan ini di Indonesia. Ya Tuhan. Dan gua pun mengecek UMR kota-kota di Indonesia. Dan puji Tuhan! Gua nggak bisa bayangin kehidupan masyarakat biasa, orang-orang umum yang bukan kalangan menengah-atas di Indonesia. Semoga persangkaan gua salah, dan semoga gua memahami bahwa Indo-Alfa-maret adalah sudah menjelma menjadi toko barang berkelas adanya.

Sudahlah, gua percaya bahwa Tuhan menjamin rezeki kehidupan makhluk-makhluknya bahkan kepada binatang melata sekalipun sampai ajal menjemput mereka.

Gojek

Kebetulan, gua tinggal di daerah perumahan. Angkot susah nemu klo ndak jalan dulu. Dan ini kota panas dengan tingkat kelembaban ndak kira-kira. Dan gua pun belum punya kendaraan pribadi. Dan sepanjang mata memandang, gua melihat beragam lapisan masyarakat yang hilir mudik dengan motor mereka dengan wajah ceria mereka. Ummm… T_T

Dan gua pun mencoba menginstall penemuan aplikasi paling fenomenal abad 21 di Indonesia: Gojek!

Percobaan pertama, gua pilih tempat keberangkatan dan tujuan, dan gua pun klik tombol ‘Pesen’. Ndak beberapa lama, hape berdering. Ternyata sodara-sodara, si bapaknya minta dicancel aja karena lokasi kejauhan. Beuh, pertama kalinya belum-belum udah ditolak duluan. +_+

Gua pun nyoba pesen lagi, dan begitu gua neken tombol ‘Pesen’, si bapak Gojeknya langsung nelpon. Kali ini dia bisa! Dan hore, dia pun datang tidak beberapa lama kemudian, yang mana posisi kedatangannya pun bisa kelihatan di peta. Canggih. Dan untuk servis kali ini, dalam kacamata gaya hidup perKorewaan, baru bisa gua bilang ini murah. Murah dengan pelayanan prima. Lebih efisien daripada transportasi jarak dekat perKorewaan, dan lebih murah untuk ranah private pick-up servicenya. Puas gua.

Sayangnya, waktu konfirmasi top upnya lama ndak kira-kira.

Sekian apdet beberapa kehidupan gua. Akhir kata, selamat beraktivitas. ^^

Papan-Papan Pembuat Mata Pening

Belakangan gua mengintensifikasikan acara jalan-jalan gua ke daerah Cina Daratan. Gede bok, segede gaban pisan lah negaranya. Rasanya sayang banget kalau ndak dieksplore. Walau sebetulnya badan gua bakal pegel-pegel naek bus 3 jaman, tapi setidaknya gua udah berusaha untuk menjadi backpacker traveller dadakan.

Ini negara rasanya gado-gado. Orang-orang yang gua temui pun gado-gado. Dan, ternyata mereka ini orang-orangnya rasnya bermacam-macam. Dulu klo di Indonesia, di benak gua, yang otomatis terpikirkan ketika mendengar Cina adalah orang-orang dengan karakteristik tertentu, seperti berkulit putih, bermata sipit, berambut lurus, ulet berdagang, banyak orang kayanya, makanannya eksotis, dan sejenisnya. Sayangnya, semua streotype tadi gagal total ketika gua menginjak kaki gua ke tanah empunya.

Perkenalan gua dengan Cina Daratan pertama kalinya justru dimulai dengan kata-kata, “Ewh!?”

Balada si ribut

Tersebutlah gua pergi ke sebuah kota di pedalaman Cina. Katanya sih salah satu daerah termiskin di China. Jadi gua ga terlalu berharap banyak bakal menemukan hal-hal yang bakal bikin gua ternganga. Tapi ternyata penduduk lokal daerah tersebut yang gua temui di lounge keberangkatan sudah bikin gua ternganga duluan. Mereka ribut. Buset dah. Mana suaranya keras kayak orang mau bertengkar lagi. Seumur-umur baru kali itu gua menemukan segerombolan manusia yang suaranya naik turun kayak orang gagal nyanyi dengan suara keras dan ndak enak didengar sama sekali dan menyangka bahwa mereka bakal saling jambak-jambakan di tempat gara-gara berantem sesuatu. Tapi raut wajah mereka menampilkan kesan yang sama sekali lain, mereka senyum-senyum, wajahnya polos, manyun, pokoknya sama sekali ndak ada kesan marahnya. Ini ya, kalau misalnya gua bisa nge-mute suara orang dan cuman bisa lihat ekspresi wajah mereka, kayaknya bakal fine-fine aja kesan pertama gua. Ah, belakangan gua menemukan bangsa lain yang cara bicaranya lebih parah dari mereka, dan bonusnya, bikin mau ngakak ngedengernya.

Kembali ke Cina Daratan, maka singkat cerita, pesawat gua pun mendarat dengan menyenangkannya di kota tadi. Di pesawat sebetulnya gua udah ngecoba ngepraktekkin Mandarin gua yang belepotan, tapi daripada gua beresiko salah pesen makanan, gua gagalkan, dan gua pun pakai bahasa Inggris di dalam kabin. Sebegitu gua keluar airport dan nyegat taksi, gua pun memberanikan diri meliuk-liukan nada bicara gua sekuat tenaga dan seinget memori gua untuk ngasih tahu tujuan gua. Di luar dugaan, gua merasa fasih! Si supir taxi langsung paham, dan kita pun berangkat. Ternyata rasa hiperbola tadi hanya sesaat. Terbukti setelah ngomong agak panjangan sama si pak sopir, kejanggalan-janggalan mulai terasa. Si pak sopir mulai ndak paham sama omongan gua. Padahal gua udah merasa bener ngucapin nada kata-katanya. Dan seiring ngaconya nada-nada gua, kata-kata yang gua ucapkan pun mulai gua rasa kacrut tata bahasanya. Akhirnya tangan gua pun ikut-ikutan gerak buat mempertegas bahasa gua yang semakin mirip Tarzan.

Singkat cerita, sampailah gua di hotel dan melakukan aktivitas tujuan awal gua dengan seperti biasa. Bosen di hotel, gua pun pingin jalan-jalan. Melihat pemandangan dan kehidupan sosial masyarakat sekitar gitu. Gua bersiap pergi pakai kaos dan celana 3/4. Mbak-mbak resepsionis terbelalak ngelihat kostum gua. “Apa sih, jarang lihat cowok kece ya?” pikir gua. Begitu pintu lobi kebuka, gua merasa ada yang janggal. Udara malam itu begitu, …, berbeda, berbeda dengan udara Bandung. Dengan berbekal peta di ipod, gua pun mencoba mencari warung di sekitar yang buka malam itu. Kebingungan, gua pun mencoba nyegat setiap orang yang lewat buat gua tanyain lokasi yang pingin gua tuju. Sayangnya, ndak ada yang mau berenti bantu gua yang kebingungan. Semua yang gua deketin pada ketawa-ketawa cekikikan gua tanyai sambil pergi berlalu. Eh, tapi tadi kan emang ada yang berbeda kan ya. Dan gua sadar, badan gua mulai menggigil hebat ga terkontrol. Udaranya ternyata, buset, kelewat dingin. Gua merasa ada di freezer raksasa, dalam keadaan singletan doang. Gua pun buru-buru lari ke hotel menyelamatkan diri mencari kehangatan. Akhirnya gua pun ganti baju yang lebih hangat.

Balada restoran Halal

Halal. thanks to: mzb

Halal. thanks to: mzb

Di luar, makanannya ga ada yang bikin selera sama sekali. Banyak pedagang pinggir jalan jualan daging-dagingan yang dibakar ndak jelas. Baunya pun menyengat, ndak harum seperti makanan-makanan Cina kebanyakan di Indonesia. Selain itu gua mulai mengenali bau babi secara samar-samar. Eits, tapi tunggu dulu. Gua ngespot sebuah restoran yang makai salah satu Hanzi buat kata Islam. Subhanallah, jangan-jangan rumah makan halal, pikir gua. Gua pun mendekat dan mulai mengamati pekerja di dalamnya. Isinya tipikal orang-orang ras Han. Gua mencoba mencari tanda-tanda ‘keislaman’ restoran ini. Gua berusaha coba nyari kaligrafi bismilah atau logo halal atau semacamnya. Ndak nemu. Tapi mas-masnya pekerjanya pake kupluk, dan cewek-ceweknya pakai, mmm, jilbab? Tapi kok jilbabnya tembus pandang. Tapi gua yakin itu model jilbab. Tapi kok nanggung?

Gua pun memberanikan diri nanya ke mbak-mbak resepsionis. Gua langsung tanya. “Islam?” Si mbaknya bengong. Dia manggil temennya. “Bismillah?” Mereka geleng-geleng ndak paham. Temen pekerja yang lain pun datang. Dalam hati, buset, salah restoran deh gua kayaknya. Ah, gua kan bisa huruf Cina, walau versi Kanji sih. Kenapa ga gua tulis aja dan tunjukkin mereka. Ndak mau kecolongan lagi, maka gua pun keluarkan buku note kecil gua, dan gua pun dengan panik mulai nulis, yang kira-kira “Gua ndak makan babi, kalian masak ndak pake babi kan?” Si mbak-mbaknya mbaca. Dia mengernyit. Temen sebelahnya pun juga. Semua mengernyit. Lah!? Ini orang Cina bukan sih? Masak ndak bisa baca tulisan Cina. Masak gua salah nulis? Setelah agak lama bengong, gua baru sadar, gua nulis Kanji, yang pada dasarnya mendekati huruf Cina tradisional aka Fantizi. Fantizi dipakai di Makau, Hongkong, sama Taiwan. Sedangkan orang-orang Cina Daratan pakai set huruf Cina yang lebih sederhana yang namanya Jiantizi. Gua pun mulai ga yakin gua tahu Jiantizi untuk kata “babi” dan “makan”.

Gua pun langsung tembak pakai Mandarin gua yang belepotan, +- “Kalian ndak pakai babi kan masaknya?” Semua langsung kompak ngomong, “Oh ndak! ndak! Kita ndak pakai babi.” Okay, 50% kayaknya ini resto halal walau gua masih belum bisa mengidentifikasi identitasnya. Tapi teuteup gua ragu. Masak gua sebut “Bismillah” tadi mereka ndak nyaut. Akhirnya gua pun pamit. Dan kabur beli roti. Sampai hotel, setelah gua coba googling ternyata mereka pakai huruf yang berbeda untuk kata “babi”. Baiklah. Gua pun mulai mencoba membagi mana Jiantizi mana Fantizi secara hati-hati. Dan pagi-paginya gua baru ngeh 100% bahwa itu restoran halal. Dan mereka ternyata bangsa yang sensitif sama nada. Salah baca huruf, atau salah sebut nada naik atau turunnya, mereka bisa ndak paham sama sekali. Pantesan gua sebut Islam kemaren ndak ngeh, orang mereka ngejanya Yi-si-lan. Ya ampun, maafkan saya meragukan kalian mas mbak.

Balada “Ewh!?”

Cina itu gede. Dengan gede di sini itu maksudnya super gede pisan. Di peta kelihatan deket, tapi begitu dijabanin buat jalan, kaki gua mulai gontai ngos-ngosan. Gua tahu menggeneralisir suatu kumpulan grup dengan satu kuas itu pasti salah. Tapi ini kesan salah yang gua dapat pertama kali ketika berkenalan dengan Cina Daratan. Banyak yang suka meludah sodara-sodara! Ndak tua ndak muda, semua meludah sembarangan. Dan kalau meludah, mereka fasih sekali. Dibunyikan sampai ke ujung qolqolah, “Tscyuih!” Buset dah. Agak stres gua dengernya. Di jalan klo gua perhatiin, jalan kudu hati-hati karena bisa jadi ada cairan-cairan tidak dikenal berserakan di bawah.

Btw, setelah agak di luar lamaan, kok gua merasa udaranya bau ya? Baunya super menyengat. Ndak pernah seumur-umur gua mencium bau daging semenyengat ini. Tapi gua belum pernah mencium bau seperti ini. Setelah agak menyasarkan diri ke sana ke mari, gua pun sampai di daerah jualan daging. Ya ampun, ternyata itu babi sodara-sodara. Babi-babi yang baru dikuliti atau dicacah digantung. Banyak. Dan itu bau. Baunya menyengat sekali. Sebuah bau yang susah gua lupain sampai sekarang. Sebetulnya gua dari dulu juga penasaran sih sama babi itu kayak gimana rasanya, bahkan foto-foto babi di google yang keluar kadang lucu-lucu. Gua sempet kepikiran klo di dunia ini ndak bisa makan babi, nanti aja deh kalau gua masuk surga, gua pingin makan babi di sana. Tapi kenyataan yang gua temui di jalanan mengurungkan niat gua untuk nyoba babi selama yang gua bisa. Bikin eneg! Ilang selera makan gua sama sekali. Namun gua pun mencoba makanan mereka yang gua yakini vegetarian. Tapi ternyata teuteup, gua ndak cocok ternyata sama makanannya. Makanannya banyak bikin tenggorokan gua sakit. Banyak minyaknya. Dan kebetulan gua pun sensitif sama minyak berlebih. Klop deh. Di mana-mana minyak. Bahkan mie pun berminyak. Eh tapi di rumah soalnya gua bikin mie goreng dengan cara direbus sih. Akhirnya gua pun banyak-banyakin makan bakpao sama roti sama bubur doang pas di sana.

Balada manusia Elegan

Pengalamannya ndak asik semua ya? Eh jangan salah, kan gua udah bilang di awal Cina itu gado-gado. Dan ndak bisa digeneralisir semuanya. Karena di lain waktu, gua justru mendapatkan segala kesan kebaikan dari Cina di acara jalan-jalan gua yang lain. Tersebutlah gua ke Shanghai. Sebuah kota metropolitan ceunah. Tapi gua pun sudah bersiap dengan menurunkan segala ekspektasi yang pernah gua alami di pengalaman-pengalaman sebelumnya. Tapi ternyata, gua mulai merasakan sesuatu yang beda. Pesawat yang gua tumpangi ke Cina ndak ribut. Lho? Kok, tumben ndak kayak pasar kayak kemarin? Bahkan mbak-mbak Cina yang duduk sebelah gua pun kalau ngomong pelan sekali, gua sampai kudu ndengerin apa yang dia coba katakan. Si pramugari yang ngelayani si mbaknya pun nggak kalah pelan. Mereka bersuara tapi seperti sudah mengerti satu sama lain, lirih, cepat, dan efisien. Hebat!

Turun di pesawat pun gua mulai mendengar ‘lagu’ naik turun ini secara masif lagi. Tapi kok, kayaknya kali ini terdengar beda. Orang-orang yang gua temui semua berbicara dengan Mandarin yang terdengar super elegan. Bernada, pelan, tempo yang pas, dan susah diikuti. Pertama kalinya gua merasakan bahwa bahasa Mandarin itu indah (dan susah) adalah dari mereka-mereka ini. Gua pun ancang-ancang melihat jalanan di kota sekitar memeriksa apakah ada ranjau air atau ndak. Dan di luar dugaan, bersih sodara-sodara. Udaranya pun gua coba hirup, bersih! Oh… inikah bagian dari Cina di mana orang-orang berbudayanya pada ngumpul? Terus gua coba amati polusi kotanya. Dan ternyata bersih juga. Eh ada yang ndak elegan-elegan amat sih kelihatannya, karena sungainya kuning. Inikah sungai kuning yang gua pelajari waktu gua masih SD? Kuning sekali sungainya. Ternyata judul sungainya Huangpu, dan ada kata Huang di sana, yang secara harfiah artinya emang kuning.

Gua pun mencoba mengarungi kota gede ini. Semuanya tertata rapi. Busnya nyaman dinaiki. Transportasi modern. Orang-orangnya juga, mmm, elegan-elegan. Mungkin karena mereka lebih kaya dibanding kota lain yang relatif lebih miskin ya, jadinya mereka lebih mudah diatur. Eh, diatur? Yakin mereka mudah diatur? Jalanannya ternyata yang susah di atur. Ini kacrut pisan, masak lampu merah pun diterobos sama mobil-mobil dan motor-motor. Ngebut lagi. Gua sampai deg-degan kalau mau nyebrang di zebra cross. Bahkan gua berpikir, ini pasti sering kecelakaan deh klo kondisinya begini. Tapi penduduk lokalnya lempeng-lempeng aja nyebrang zebra cross, dalam keadaan lampu masih merah buat nyebrang. Dan yang lebih bikin mlongo lagi adalah, orang-orang asingnya pun juga pada ngelanggar aturan, nyebrang pas saat lampu masih merah. Bahkan kadang ngasih contoh. Buset! Mereka ketularan.

Tapi seriusan, itu doang sih komplain gua. Sisanya semuanya terasa begitu indah. Pedagang-pedagannya pada sopan-sopan. Bahkan terkesan malu-malu. Pernah suatu waktu gua masuk McD-nya Cina. Gua pun bingung mau pesan apaan. Dan gua melihat menu ikan! Kebetulan gua masih belum tahu cara baca Hanzi untuk menu itu, maka gua pun menulis Hanzinya di atas note yang gua bawa dan gua tunjukkin ke mbak-mbak kasir. Dia bengong ngelihat gua nulis. Dia baca sepintas pesenan gua. Terus dia ngomoh, +- “Oh, fish? With fried fries? Big or medium? Do you want to eat here?” Ternyata dia lancar ngomong Inggris. Luar biasa mbak!

Selain itu, daerah ini juga membuka mata gua akan China. Judulnya aja kota besar. Seperti Jakarta, semua suku dan ras tumplek blek jadi satu. Di Shanghai pun begitu, semua suku dan ras tumplek bleg jadi satu. Pertama kalinya gua melihat orang-orang Cina yang tidak berwajah ‘Cina’ yang gua lihat di Indonesia. Jenis orang-orang Cina yang gua temui pun hampir komplit sudah, mulai dari yang berwajah Asia Tengah, Turki, keArab-araban, keJawa-jawaan (suer ndak bo’ong), sampai yang berkulit kehitaman pun ada. Bahkan gua melihat pasangan interracial keluyuran menghiasi kota. Maka gua, yang dalam salah satu episode hidupnya pernah dipanggil Cina walau ndak ngerasa Cina sama sekali, pun tak ketinggalan ikut diajak-ajak ngobrol sama orang-orang lokal karena disangkanya orang lokal.

Balada Mata Pening

Hong Kong

Hong Kong

Pada dasarnya, hampir sebagian besar waktu dalam hidup gua dihabiskan untuk membaca tulisan-tulisan yang berasal dari negara-negara Asia Timur, seperti Jepang, Mandarin, dan Korea. Karena gua tinggal di Korea, maka sebagian besar kehidupan gua, gua coba habiskan untuk ngebaca Hangeul. Tapi sebelum ke Korea, ada masa-masanya gua menghabiskan sebagian besar waktu gua membaca buku-buku berbahasa Jepang diselingi buku-buku berbahasa Cina. Proses transisi gua dari habit ngebaca Kanji ke Hangeul itu berat sekali. Apa ya, sistem huruf Jepang itu kompleks dan paling susah yang pernah gua pelajari seumur-umur, tapi efisien dan cepat untuk dibaca dan dimengerti. Bahkan tingkat kekompleksannya mengalahkan huruf si ibunya yaitu Hanzi Cina Daratan. Sehingga ketika gua mulai membiasakan diri membaca Hangeul yang sama sekali bukan ‘piktogram’, ada kehilangan yang sangat besar dalam tingkat kemampuan membaca gua di huruf-huruf Cina tadi.

Dan semuanya jadi super terasa menyakitkan begitu gua menginjak Hong Kong. Sakitnya bukan di hati sih, tapi di mata. Karena Hong Kong memakai Fantizi, alias huruf-huruf 11-12 jenisnya sama Kanji Jepang, bedanya, lebih usil goresannya. Sebagai ilustrasi, Jiantizi (huruf Cina Daratan) itu seperti tulisan yang disingkat-singkat kaya abg-abg lagi sms, sedangkan Fantizi (huruf Hong Kong, Taiwan, dan sekitar) itu seperti tulisan yang ditulis apa adanya. Sebagai ilustrasi, tulisan “Hy, km skrg lg da di mn sich?” dan “Hai, kamu sekarang sedang berada di mana sih?” terasa bedanya kan? Sekarang bandingkan juga dua tulisan ini, “我们能听见你” dan “我們能聽見你”, terasa mana yang lebih ngabisin tinta kalau buat diprint kan?

Dan semua huruf dan tulisan yang gua temui di Hong Kong adalah huruf-huruf Cina tradisional apa adanya tadi, lebih ruwet, lebih banyak goresannya, lebih susah dimengerti, dan lebih susah dibaca klo ukurannya kekecilan. Papan-papan iklan yang seharusnya membahagiakan malah berefek sebaliknya buat gua yang mencoba membacanya. Perih, mata gua perih, gua udah lama ndak terbiasa ngebaca tulisan kecil-kecil begitu. Mana ternyata Hong Kong itu pemilihan kata-katanya jauh lebih beda daripada Cina daratan, seperti Indonesia versus Malaysia, cuman lebih ekstrim. Baca peta google map pun harus gua gedein berkali-kali biar jelas huruf-huruf yang gua baca. Pertama kalinya dalam hidup gua, gua merasa butuh kacamata. Dan nada bicara mereka sama sekali beda sama Cina Daratan, karena bahasanya berbeda. Mereka pakai Kanton. Lebih kompleks dan lebih naik turun bervariasi. Buset dah. Pertama kalinya gua kagum sama sebuah bangsa hanya gara-gara pemilihan gaya hidup mereka, dalam hal ini, tulisan yang mereka pertahankan mati-matian.

Gua termenung di pinggir jembatan penyebrangan. Gua lihatin wajah-wajah mereka yang keluyuran di sana. Gua bertanya-tanya, ndak capek ya baca tulis begituan. Dan emang banyak sih mak-mak, bapak-bapak, dan anak-anak yang pake kacamata di mana-mana. Dan tampaknya kekhawatiran gua ndak beralasan. Karena mereka lempeng-lempeng aja.

Eits tapi tunggu dulu. Bahkan, gua mulai sadar, bahwa cowok-cowok di Hong Kong yang berseliweran di depan gua seperti gua, mereka buncit-buncit. Akhirnya! Gua menemukan negara di mana para lelakinya buncit juga kayak gua. Gua tidak sendiri lagi. Hore, artinya mereka bahagia-bahagia aja hidupnya. Buktinya suka makan. Karena selama di Korea gua sebetulnya agak tekanan batin sih klo ngelihat badan gua yang udah mulai melebar. Kapankah gua seseksi dulu lagi sewaktu masih kuliah? Karena orang-orang di sekitar gua pada slim-slim. Dan akhirnya gua punya temen kebuncitan. Ah, Hong Kong. 😀

Istirahat

Istirahat

Akhir kata, sekian laporan tertunda jalan-jalan gua. Bagi yang akan menikmati Cina, gua mengucapkan, “Selamat mengarungi!” ^^