Papan-Papan Pembuat Mata Pening

Belakangan gua mengintensifikasikan acara jalan-jalan gua ke daerah Cina Daratan. Gede bok, segede gaban pisan lah negaranya. Rasanya sayang banget kalau ndak dieksplore. Walau sebetulnya badan gua bakal pegel-pegel naek bus 3 jaman, tapi setidaknya gua udah berusaha untuk menjadi backpacker traveller dadakan.

Ini negara rasanya gado-gado. Orang-orang yang gua temui pun gado-gado. Dan, ternyata mereka ini orang-orangnya rasnya bermacam-macam. Dulu klo di Indonesia, di benak gua, yang otomatis terpikirkan ketika mendengar Cina adalah orang-orang dengan karakteristik tertentu, seperti berkulit putih, bermata sipit, berambut lurus, ulet berdagang, banyak orang kayanya, makanannya eksotis, dan sejenisnya. Sayangnya, semua streotype tadi gagal total ketika gua menginjak kaki gua ke tanah empunya.

Perkenalan gua dengan Cina Daratan pertama kalinya justru dimulai dengan kata-kata, “Ewh!?”

Balada si ribut

Tersebutlah gua pergi ke sebuah kota di pedalaman Cina. Katanya sih salah satu daerah termiskin di China. Jadi gua ga terlalu berharap banyak bakal menemukan hal-hal yang bakal bikin gua ternganga. Tapi ternyata penduduk lokal daerah tersebut yang gua temui di lounge keberangkatan sudah bikin gua ternganga duluan. Mereka ribut. Buset dah. Mana suaranya keras kayak orang mau bertengkar lagi. Seumur-umur baru kali itu gua menemukan segerombolan manusia yang suaranya naik turun kayak orang gagal nyanyi dengan suara keras dan ndak enak didengar sama sekali dan menyangka bahwa mereka bakal saling jambak-jambakan di tempat gara-gara berantem sesuatu. Tapi raut wajah mereka menampilkan kesan yang sama sekali lain, mereka senyum-senyum, wajahnya polos, manyun, pokoknya sama sekali ndak ada kesan marahnya. Ini ya, kalau misalnya gua bisa nge-mute suara orang dan cuman bisa lihat ekspresi wajah mereka, kayaknya bakal fine-fine aja kesan pertama gua. Ah, belakangan gua menemukan bangsa lain yang cara bicaranya lebih parah dari mereka, dan bonusnya, bikin mau ngakak ngedengernya.

Kembali ke Cina Daratan, maka singkat cerita, pesawat gua pun mendarat dengan menyenangkannya di kota tadi. Di pesawat sebetulnya gua udah ngecoba ngepraktekkin Mandarin gua yang belepotan, tapi daripada gua beresiko salah pesen makanan, gua gagalkan, dan gua pun pakai bahasa Inggris di dalam kabin. Sebegitu gua keluar airport dan nyegat taksi, gua pun memberanikan diri meliuk-liukan nada bicara gua sekuat tenaga dan seinget memori gua untuk ngasih tahu tujuan gua. Di luar dugaan, gua merasa fasih! Si supir taxi langsung paham, dan kita pun berangkat. Ternyata rasa hiperbola tadi hanya sesaat. Terbukti setelah ngomong agak panjangan sama si pak sopir, kejanggalan-janggalan mulai terasa. Si pak sopir mulai ndak paham sama omongan gua. Padahal gua udah merasa bener ngucapin nada kata-katanya. Dan seiring ngaconya nada-nada gua, kata-kata yang gua ucapkan pun mulai gua rasa kacrut tata bahasanya. Akhirnya tangan gua pun ikut-ikutan gerak buat mempertegas bahasa gua yang semakin mirip Tarzan.

Singkat cerita, sampailah gua di hotel dan melakukan aktivitas tujuan awal gua dengan seperti biasa. Bosen di hotel, gua pun pingin jalan-jalan. Melihat pemandangan dan kehidupan sosial masyarakat sekitar gitu. Gua bersiap pergi pakai kaos dan celana 3/4. Mbak-mbak resepsionis terbelalak ngelihat kostum gua. “Apa sih, jarang lihat cowok kece ya?” pikir gua. Begitu pintu lobi kebuka, gua merasa ada yang janggal. Udara malam itu begitu, …, berbeda, berbeda dengan udara Bandung. Dengan berbekal peta di ipod, gua pun mencoba mencari warung di sekitar yang buka malam itu. Kebingungan, gua pun mencoba nyegat setiap orang yang lewat buat gua tanyain lokasi yang pingin gua tuju. Sayangnya, ndak ada yang mau berenti bantu gua yang kebingungan. Semua yang gua deketin pada ketawa-ketawa cekikikan gua tanyai sambil pergi berlalu. Eh, tapi tadi kan emang ada yang berbeda kan ya. Dan gua sadar, badan gua mulai menggigil hebat ga terkontrol. Udaranya ternyata, buset, kelewat dingin. Gua merasa ada di freezer raksasa, dalam keadaan singletan doang. Gua pun buru-buru lari ke hotel menyelamatkan diri mencari kehangatan. Akhirnya gua pun ganti baju yang lebih hangat.

Balada restoran Halal

Halal. thanks to: mzb

Halal. thanks to: mzb

Di luar, makanannya ga ada yang bikin selera sama sekali. Banyak pedagang pinggir jalan jualan daging-dagingan yang dibakar ndak jelas. Baunya pun menyengat, ndak harum seperti makanan-makanan Cina kebanyakan di Indonesia. Selain itu gua mulai mengenali bau babi secara samar-samar. Eits, tapi tunggu dulu. Gua ngespot sebuah restoran yang makai salah satu Hanzi buat kata Islam. Subhanallah, jangan-jangan rumah makan halal, pikir gua. Gua pun mendekat dan mulai mengamati pekerja di dalamnya. Isinya tipikal orang-orang ras Han. Gua mencoba mencari tanda-tanda ‘keislaman’ restoran ini. Gua berusaha coba nyari kaligrafi bismilah atau logo halal atau semacamnya. Ndak nemu. Tapi mas-masnya pekerjanya pake kupluk, dan cewek-ceweknya pakai, mmm, jilbab? Tapi kok jilbabnya tembus pandang. Tapi gua yakin itu model jilbab. Tapi kok nanggung?

Gua pun memberanikan diri nanya ke mbak-mbak resepsionis. Gua langsung tanya. “Islam?” Si mbaknya bengong. Dia manggil temennya. “Bismillah?” Mereka geleng-geleng ndak paham. Temen pekerja yang lain pun datang. Dalam hati, buset, salah restoran deh gua kayaknya. Ah, gua kan bisa huruf Cina, walau versi Kanji sih. Kenapa ga gua tulis aja dan tunjukkin mereka. Ndak mau kecolongan lagi, maka gua pun keluarkan buku note kecil gua, dan gua pun dengan panik mulai nulis, yang kira-kira “Gua ndak makan babi, kalian masak ndak pake babi kan?” Si mbak-mbaknya mbaca. Dia mengernyit. Temen sebelahnya pun juga. Semua mengernyit. Lah!? Ini orang Cina bukan sih? Masak ndak bisa baca tulisan Cina. Masak gua salah nulis? Setelah agak lama bengong, gua baru sadar, gua nulis Kanji, yang pada dasarnya mendekati huruf Cina tradisional aka Fantizi. Fantizi dipakai di Makau, Hongkong, sama Taiwan. Sedangkan orang-orang Cina Daratan pakai set huruf Cina yang lebih sederhana yang namanya Jiantizi. Gua pun mulai ga yakin gua tahu Jiantizi untuk kata “babi” dan “makan”.

Gua pun langsung tembak pakai Mandarin gua yang belepotan, +- “Kalian ndak pakai babi kan masaknya?” Semua langsung kompak ngomong, “Oh ndak! ndak! Kita ndak pakai babi.” Okay, 50% kayaknya ini resto halal walau gua masih belum bisa mengidentifikasi identitasnya. Tapi teuteup gua ragu. Masak gua sebut “Bismillah” tadi mereka ndak nyaut. Akhirnya gua pun pamit. Dan kabur beli roti. Sampai hotel, setelah gua coba googling ternyata mereka pakai huruf yang berbeda untuk kata “babi”. Baiklah. Gua pun mulai mencoba membagi mana Jiantizi mana Fantizi secara hati-hati. Dan pagi-paginya gua baru ngeh 100% bahwa itu restoran halal. Dan mereka ternyata bangsa yang sensitif sama nada. Salah baca huruf, atau salah sebut nada naik atau turunnya, mereka bisa ndak paham sama sekali. Pantesan gua sebut Islam kemaren ndak ngeh, orang mereka ngejanya Yi-si-lan. Ya ampun, maafkan saya meragukan kalian mas mbak.

Balada “Ewh!?”

Cina itu gede. Dengan gede di sini itu maksudnya super gede pisan. Di peta kelihatan deket, tapi begitu dijabanin buat jalan, kaki gua mulai gontai ngos-ngosan. Gua tahu menggeneralisir suatu kumpulan grup dengan satu kuas itu pasti salah. Tapi ini kesan salah yang gua dapat pertama kali ketika berkenalan dengan Cina Daratan. Banyak yang suka meludah sodara-sodara! Ndak tua ndak muda, semua meludah sembarangan. Dan kalau meludah, mereka fasih sekali. Dibunyikan sampai ke ujung qolqolah, “Tscyuih!” Buset dah. Agak stres gua dengernya. Di jalan klo gua perhatiin, jalan kudu hati-hati karena bisa jadi ada cairan-cairan tidak dikenal berserakan di bawah.

Btw, setelah agak di luar lamaan, kok gua merasa udaranya bau ya? Baunya super menyengat. Ndak pernah seumur-umur gua mencium bau daging semenyengat ini. Tapi gua belum pernah mencium bau seperti ini. Setelah agak menyasarkan diri ke sana ke mari, gua pun sampai di daerah jualan daging. Ya ampun, ternyata itu babi sodara-sodara. Babi-babi yang baru dikuliti atau dicacah digantung. Banyak. Dan itu bau. Baunya menyengat sekali. Sebuah bau yang susah gua lupain sampai sekarang. Sebetulnya gua dari dulu juga penasaran sih sama babi itu kayak gimana rasanya, bahkan foto-foto babi di google yang keluar kadang lucu-lucu. Gua sempet kepikiran klo di dunia ini ndak bisa makan babi, nanti aja deh kalau gua masuk surga, gua pingin makan babi di sana. Tapi kenyataan yang gua temui di jalanan mengurungkan niat gua untuk nyoba babi selama yang gua bisa. Bikin eneg! Ilang selera makan gua sama sekali. Namun gua pun mencoba makanan mereka yang gua yakini vegetarian. Tapi ternyata teuteup, gua ndak cocok ternyata sama makanannya. Makanannya banyak bikin tenggorokan gua sakit. Banyak minyaknya. Dan kebetulan gua pun sensitif sama minyak berlebih. Klop deh. Di mana-mana minyak. Bahkan mie pun berminyak. Eh tapi di rumah soalnya gua bikin mie goreng dengan cara direbus sih. Akhirnya gua pun banyak-banyakin makan bakpao sama roti sama bubur doang pas di sana.

Balada manusia Elegan

Pengalamannya ndak asik semua ya? Eh jangan salah, kan gua udah bilang di awal Cina itu gado-gado. Dan ndak bisa digeneralisir semuanya. Karena di lain waktu, gua justru mendapatkan segala kesan kebaikan dari Cina di acara jalan-jalan gua yang lain. Tersebutlah gua ke Shanghai. Sebuah kota metropolitan ceunah. Tapi gua pun sudah bersiap dengan menurunkan segala ekspektasi yang pernah gua alami di pengalaman-pengalaman sebelumnya. Tapi ternyata, gua mulai merasakan sesuatu yang beda. Pesawat yang gua tumpangi ke Cina ndak ribut. Lho? Kok, tumben ndak kayak pasar kayak kemarin? Bahkan mbak-mbak Cina yang duduk sebelah gua pun kalau ngomong pelan sekali, gua sampai kudu ndengerin apa yang dia coba katakan. Si pramugari yang ngelayani si mbaknya pun nggak kalah pelan. Mereka bersuara tapi seperti sudah mengerti satu sama lain, lirih, cepat, dan efisien. Hebat!

Turun di pesawat pun gua mulai mendengar ‘lagu’ naik turun ini secara masif lagi. Tapi kok, kayaknya kali ini terdengar beda. Orang-orang yang gua temui semua berbicara dengan Mandarin yang terdengar super elegan. Bernada, pelan, tempo yang pas, dan susah diikuti. Pertama kalinya gua merasakan bahwa bahasa Mandarin itu indah (dan susah) adalah dari mereka-mereka ini. Gua pun ancang-ancang melihat jalanan di kota sekitar memeriksa apakah ada ranjau air atau ndak. Dan di luar dugaan, bersih sodara-sodara. Udaranya pun gua coba hirup, bersih! Oh… inikah bagian dari Cina di mana orang-orang berbudayanya pada ngumpul? Terus gua coba amati polusi kotanya. Dan ternyata bersih juga. Eh ada yang ndak elegan-elegan amat sih kelihatannya, karena sungainya kuning. Inikah sungai kuning yang gua pelajari waktu gua masih SD? Kuning sekali sungainya. Ternyata judul sungainya Huangpu, dan ada kata Huang di sana, yang secara harfiah artinya emang kuning.

Gua pun mencoba mengarungi kota gede ini. Semuanya tertata rapi. Busnya nyaman dinaiki. Transportasi modern. Orang-orangnya juga, mmm, elegan-elegan. Mungkin karena mereka lebih kaya dibanding kota lain yang relatif lebih miskin ya, jadinya mereka lebih mudah diatur. Eh, diatur? Yakin mereka mudah diatur? Jalanannya ternyata yang susah di atur. Ini kacrut pisan, masak lampu merah pun diterobos sama mobil-mobil dan motor-motor. Ngebut lagi. Gua sampai deg-degan kalau mau nyebrang di zebra cross. Bahkan gua berpikir, ini pasti sering kecelakaan deh klo kondisinya begini. Tapi penduduk lokalnya lempeng-lempeng aja nyebrang zebra cross, dalam keadaan lampu masih merah buat nyebrang. Dan yang lebih bikin mlongo lagi adalah, orang-orang asingnya pun juga pada ngelanggar aturan, nyebrang pas saat lampu masih merah. Bahkan kadang ngasih contoh. Buset! Mereka ketularan.

Tapi seriusan, itu doang sih komplain gua. Sisanya semuanya terasa begitu indah. Pedagang-pedagannya pada sopan-sopan. Bahkan terkesan malu-malu. Pernah suatu waktu gua masuk McD-nya Cina. Gua pun bingung mau pesan apaan. Dan gua melihat menu ikan! Kebetulan gua masih belum tahu cara baca Hanzi untuk menu itu, maka gua pun menulis Hanzinya di atas note yang gua bawa dan gua tunjukkin ke mbak-mbak kasir. Dia bengong ngelihat gua nulis. Dia baca sepintas pesenan gua. Terus dia ngomoh, +- “Oh, fish? With fried fries? Big or medium? Do you want to eat here?” Ternyata dia lancar ngomong Inggris. Luar biasa mbak!

Selain itu, daerah ini juga membuka mata gua akan China. Judulnya aja kota besar. Seperti Jakarta, semua suku dan ras tumplek blek jadi satu. Di Shanghai pun begitu, semua suku dan ras tumplek bleg jadi satu. Pertama kalinya gua melihat orang-orang Cina yang tidak berwajah ‘Cina’ yang gua lihat di Indonesia. Jenis orang-orang Cina yang gua temui pun hampir komplit sudah, mulai dari yang berwajah Asia Tengah, Turki, keArab-araban, keJawa-jawaan (suer ndak bo’ong), sampai yang berkulit kehitaman pun ada. Bahkan gua melihat pasangan interracial keluyuran menghiasi kota. Maka gua, yang dalam salah satu episode hidupnya pernah dipanggil Cina walau ndak ngerasa Cina sama sekali, pun tak ketinggalan ikut diajak-ajak ngobrol sama orang-orang lokal karena disangkanya orang lokal.

Balada Mata Pening

Hong Kong

Hong Kong

Pada dasarnya, hampir sebagian besar waktu dalam hidup gua dihabiskan untuk membaca tulisan-tulisan yang berasal dari negara-negara Asia Timur, seperti Jepang, Mandarin, dan Korea. Karena gua tinggal di Korea, maka sebagian besar kehidupan gua, gua coba habiskan untuk ngebaca Hangeul. Tapi sebelum ke Korea, ada masa-masanya gua menghabiskan sebagian besar waktu gua membaca buku-buku berbahasa Jepang diselingi buku-buku berbahasa Cina. Proses transisi gua dari habit ngebaca Kanji ke Hangeul itu berat sekali. Apa ya, sistem huruf Jepang itu kompleks dan paling susah yang pernah gua pelajari seumur-umur, tapi efisien dan cepat untuk dibaca dan dimengerti. Bahkan tingkat kekompleksannya mengalahkan huruf si ibunya yaitu Hanzi Cina Daratan. Sehingga ketika gua mulai membiasakan diri membaca Hangeul yang sama sekali bukan ‘piktogram’, ada kehilangan yang sangat besar dalam tingkat kemampuan membaca gua di huruf-huruf Cina tadi.

Dan semuanya jadi super terasa menyakitkan begitu gua menginjak Hong Kong. Sakitnya bukan di hati sih, tapi di mata. Karena Hong Kong memakai Fantizi, alias huruf-huruf 11-12 jenisnya sama Kanji Jepang, bedanya, lebih usil goresannya. Sebagai ilustrasi, Jiantizi (huruf Cina Daratan) itu seperti tulisan yang disingkat-singkat kaya abg-abg lagi sms, sedangkan Fantizi (huruf Hong Kong, Taiwan, dan sekitar) itu seperti tulisan yang ditulis apa adanya. Sebagai ilustrasi, tulisan “Hy, km skrg lg da di mn sich?” dan “Hai, kamu sekarang sedang berada di mana sih?” terasa bedanya kan? Sekarang bandingkan juga dua tulisan ini, “我们能听见你” dan “我們能聽見你”, terasa mana yang lebih ngabisin tinta kalau buat diprint kan?

Dan semua huruf dan tulisan yang gua temui di Hong Kong adalah huruf-huruf Cina tradisional apa adanya tadi, lebih ruwet, lebih banyak goresannya, lebih susah dimengerti, dan lebih susah dibaca klo ukurannya kekecilan. Papan-papan iklan yang seharusnya membahagiakan malah berefek sebaliknya buat gua yang mencoba membacanya. Perih, mata gua perih, gua udah lama ndak terbiasa ngebaca tulisan kecil-kecil begitu. Mana ternyata Hong Kong itu pemilihan kata-katanya jauh lebih beda daripada Cina daratan, seperti Indonesia versus Malaysia, cuman lebih ekstrim. Baca peta google map pun harus gua gedein berkali-kali biar jelas huruf-huruf yang gua baca. Pertama kalinya dalam hidup gua, gua merasa butuh kacamata. Dan nada bicara mereka sama sekali beda sama Cina Daratan, karena bahasanya berbeda. Mereka pakai Kanton. Lebih kompleks dan lebih naik turun bervariasi. Buset dah. Pertama kalinya gua kagum sama sebuah bangsa hanya gara-gara pemilihan gaya hidup mereka, dalam hal ini, tulisan yang mereka pertahankan mati-matian.

Gua termenung di pinggir jembatan penyebrangan. Gua lihatin wajah-wajah mereka yang keluyuran di sana. Gua bertanya-tanya, ndak capek ya baca tulis begituan. Dan emang banyak sih mak-mak, bapak-bapak, dan anak-anak yang pake kacamata di mana-mana. Dan tampaknya kekhawatiran gua ndak beralasan. Karena mereka lempeng-lempeng aja.

Eits tapi tunggu dulu. Bahkan, gua mulai sadar, bahwa cowok-cowok di Hong Kong yang berseliweran di depan gua seperti gua, mereka buncit-buncit. Akhirnya! Gua menemukan negara di mana para lelakinya buncit juga kayak gua. Gua tidak sendiri lagi. Hore, artinya mereka bahagia-bahagia aja hidupnya. Buktinya suka makan. Karena selama di Korea gua sebetulnya agak tekanan batin sih klo ngelihat badan gua yang udah mulai melebar. Kapankah gua seseksi dulu lagi sewaktu masih kuliah? Karena orang-orang di sekitar gua pada slim-slim. Dan akhirnya gua punya temen kebuncitan. Ah, Hong Kong. 😀

Istirahat

Istirahat

Akhir kata, sekian laporan tertunda jalan-jalan gua. Bagi yang akan menikmati Cina, gua mengucapkan, “Selamat mengarungi!” ^^

Advertisements

Pengalaman ke China tanpa Visa – China Eastern Airlines – TWOV

Pada umumnya untuk masuk China, WNI membutuhkan visa. Nah kebetulan kemaren, untuk mengisi liburan dalam rangka mengingat 215 tahun dibubarkannya VOC, gua memutuskan ingin jalan-jalan ke kota-kota di negara sekitar (Korea), yang dalam hal ini gua putuskan China sebagai negara tujuan gua. Dulu pernah gua dibantuin bikin visa turis ke China, dan saat itu dokumen yang perlu disiapin ga seribet visa negara tetangganya. Tapi teuteup, gua ga ada pengalaman bikin visa turis China langsung dan gua pun males cuti bolak-balik bikin dan ambil visa di sini. Ditambah gua dapat info, visa turis ke China mensyaratkan masa berlaku Alien Card (kartu kependudukan orang asing di Korea) minimal 6 bulan. Adapun visa gua adalah visa yang kudu gua perpanjang di akhir tahun, alias gua ga memungkinkan apply visa turis ke China di bulan-bulan Juli ke bawah.

Namun ternyata Tuhan menunjukkan cara lain. Ternyata tiket pesawat dari Seoul ke Singapura lebih efisien dibanding gua beli Seoul ke Shanghai atau kota-kota sekitar. Terlebih Papi gua ada di Medan yang notabene deket dengan Singapura. Dan tiket Seoul ke Singapura ini memungkinkan gua untuk transit di Shanghai hampir seharian. Dan yang lebih menyenangkannya lagi, ternyata China memiliki kebijakan TWOV aka Transit Without Visa (Transit Tanpa Visa). Di China kebijakan ini memungkinkan para pengguna maskapai untuk berhenti sebentar di kota transit setelah melewati imigrasi, dan diperbolehkan untuk berkeliaran bebas di kota tersebut (dalam beberapa kasus, bebas di daerah tersebut) selama kurun waktu 24 jam.

Tiket pun mulai gua pesan untuk tujuan Singapura. Saat itu pilihannya China Eastern Airlines yang tersedia. Ini gua lihat-lihat harganya murmer untuk ukuran penerbangan jarak jauh. Bisa dibilang Air Asianya China, walau ada juga yang China Southern Airlines. Iseng-iseng gua ngecek rating nih maskapai, dan gua pun menemukan berita bahwa dia masuk 10 maskapai terburuk. Komen-komennya banyak yang ngeluh tentang makanan yang di sediakan. Suram. =_=’

China Eastern Airlines. Thanks to: ch-aviation

China Eastern Airlines. Thanks to: ch-aviation

Btw, gua pun mulai mencari-cari Hostel murah daerah Shanghai. Oh ya, Shanghai ini punya 2 bandara internasional, Hongqiao sama Pudong. Dan bandara kedatangan gua berbeda sama bandara keberangkatan gua. Gua kudu turun di Hongqiao baru kemudian besoknya nyambung penerbangan ke Singapura via Pudong. Dan dua-duanya ini jauh jaraknya. Maka gua pun memutuskan untuk nginep di Hostel yang lokasinya kira-kira ada di tengah-tengah kedua bandara tadi, yang ternyata, setelah gua lihat-lihat peta, banyak tempat menarik yang bisa gua datangi di sekitar Hostel gua.

Peta Bandara Hongqiao ke Pudong. Thanks to: map.baidu

Peta Bandara Hongqiao ke Pudong. Thanks to: map.baidu

Maka tibalah hari H. Sebetulnya masih terbesit rasa kurang percaya diri di gua. Pertanyaan-pertanyaan cem, “Ini beneran boleh diijinkan masuk ga ya di Shanghainya. Bijimana prosesi pengurusan TWOV ini? Ada bagian sendirinyakah atau gimana?”, bermunculan di otak gua. Soalnya publikasi tentang TWOV ini lebih kenceng informasinya yang tentang TWOV 72 jam. TWOV 72 jam sendiri adalah kebijakan TWOV untuk pemegang paspor negara-negara tertentu, yang Indonesia, ternyata tidak termasuk di dalamnya. Singkat kata, akhirnya gua pun berangkat dari Incheon menuju Shanghai. Si counternya ga mempermasalahkan rencana ke-TWOV-an gua, dia malah justru nanyain status visa Singapura gua. Padahal Singapura masuk perjanjian bebas visa ASEAN.

Sesampai di dalam pesawat kesan pertama yang gua lihat, kabinnnya ga jelek-jelek amat. Ga sesuram poto kabin yang ane temuin di google. Bener-bener mengingatkan gua sama Air Asia. Juga, seinget gua walau kursinya agak keras, tapi tetep nyaman untuk diduduki. Intinya, interiornya bisa dibilang bagus. Setelah selang beberapa lama pesawat berangkat, pramugari pun mulai ngebagiin makanan. Dan pas nyampe di kursi gua, gua ngelihat tulisan “肉” aka “daging” di bungkus makanan. Gua pun tanya ke si pramugarinya ada ga makanan vegetarian. Dia pun rada bingung karena makanan tampak tidak ada, dan dia pun balik bertanya, sudah pesen makanan spesial belum sebelum berangkat? Dan gua baru ngeh si China Eastern ini menawarkan jasa makanan khusus yang bisa dipesan sebelum berangkat. Alhasil gua pun cuman makan roti. Hik. Ah, tapi untungnya, penerbangan leg kedua gua dari Shanghai ke Singapura, mereka ada sediain dua jenis makanan, yang salah satunya adalah “鱼” aka “ikan”. Puji Tuhan, gua pun bisa makan di perjalanan yang kedua ini. Pas ane lihat, isinya itu cem ikan lele deh keknya. Haha. Btw, selese dengan makanan gua pun beralih nonton film. Ini gua lupa-lupa ingat, kayaknya ya, ada leg penerbangan yang ga ada filmnya. Tapi yang ada filmnya, koleksi filmnya lumayan oke punya doi.

Setelah perjalanan singkat, maka pesawat pun nyampe di Hongqiao, Shanghai. Di ruang kedatangan imigrasi, sudah banyak orang berjejer antri masuk. Gua awalnya pikir klo TWOV 24 jam ada loketnya sendiri atau diurus maskapai. Dan gua tidak melihat kedua hal itu. Gua pun siap-siap ngeluarin tiket gua yang nunjukkin klo gua ada tiket pergi ke negara ketiga yang nunjukkin klo gua cuman transit di bawah 24 jam. Ternyata selang ga berapa lama, ada petugas imigrasi yang mondar-mandir ngecekin penumpang sambil tanya-tanya apakah mereka transit atau nggak. Giliran gua nyampe di depan petugas imigrasi dan lapor klo gua transit, si petugasnya langsung ngarahin gua dikumpulin di area sendiri setelah garis pembatas masuk imigrasi di mana ada petugas transit khusus TWOV di sana. Banyak orang-orang pada berdiri nunggu di sana. Paspor ane pun diminta. Mereka meriksa paspor satu-satu dan tiketnya ternyata. Yang lolos pemeriksaan pun mulai dipanggil satu-satu. Lama gua nunggu, ada 10-30 menit kali ya. Sampai akhirnya ada petugas yang nyocokin paspor gua sama wajah gua dan doi pun ngasih paspor gua sambil ngangguk bilang, “OK”. Haha. Gua akhirnya lolos dan bisa masuk China tanpa paspor. Hore. Jadi tips gua, klo kalian lagi TWOV-an dan kebetulan ngerencanain transit yang mepet antar 2 airport, ada baiknya diperhatikan juga waktu buat pemeriksaan transit.

Ada sesuatu yang menarik yang gua amati sewaktu gua transit balik dari Singapura-Shanghai ke Shanghai-Incheon. Waktu itu gua berangkat sekitar jam 11:25 malam Singapura dan nyampe Shanghai jam 4:55 Subuh. Mata gua masih beberapa Watt dan gua pun masih belum 100 persen sadar waktu turun. Di bandara kedatangan ada loket khusus bagi mereka yang transit tanpa masuk ngelewati imigrasi. Dan itu antrian udah mulai mengular. Dan jam segitu si loketnya masih adem ayem aja. Ada mbak-mbak yang nungguin loket sih, tapi mereka ga ngapa-ngapain. Beberapa bule yang ga sabar ngedatangin tuh meja nanya kapan dibuka. Mereka jawab sesuatu. Gua ga denger. Yang jelas si bule, yang kebetulan bawa maknya, keluar dari baris antrian dan langsung nyelonjor di kursi tunggu. Ane pun keluar antrian dan mengarungi toilet dan tempat-tempat nongkrong sekitar bareng warga-warga asing yang pada bengong-bengong ga jelas. Ternyata sodara-sodara, loketnya bukanya jam 5:30 pagi. Untung gua ga pegang penerbangan lanjutan di bawah jam segitu. Barulah ane bisa masuk ke ruang boarding yang masih sepi dan selonjor tidur di salah satu kursi gate sepi pagi itu.

Mobil Bagasi

Mobil Bagasi

Oya selain itu, transit balikan ini juga menguras ati. Sebelumnya ane pernah denger temen ane delay 2 jam di Shanghai, dan katanya ini tempat emang terkenal delaynya sama tuh maskapai. Tapi maskapai ane ternyata ga ngetem tuh manggilin penumpang di boarding room, aka tepat waktu manggilnya. Gua pikir ane beruntung masuk pesawat tepat waktu. Gua pun udah ga sabar segera nyampe Incheon dan tidur di rumah. Nuansa kabin saat itu gray, pramugari-pramugarinya hilir mudik pasang wajah sedikit senyum. Di luar pun cuaca mendung. Gua teringat gua sempet ngelihat mobil bagasi masukin barang ke dalam pesawat. Lama gua menunggu. Ada kira-kira beberapa menit, si kapten ngasih pengumuman yang gua rada ga ngeh apa maksudnya. Suasana ceria di hati gua pun mulai bete. Karena pesawat ga berangkat-berangkat. Detik pun berjalan lambat. Yang setelah gua amati gua mulai gelisah karena pesawat ga berangkat-berangkat sesudah 1 jam ane nongkrong di dalem. Beuh. Buset dah. Klo delay di boarding room gua masih bisa keluyuran jalan-jalan atau beli makanan atau cuci mata lihat pemandangan. Nah ini, gua diphpin di dalem kabin yang ga tahu kapan berangkatnya. Ngelihat orang-orang mulai ga sabar, para pramugari pun mulai ngebagiin makanan ke orang-orang. Lumayan ngehilangin kebosanan. Makanan pun beres. Terus ngapain? Haha. Bete gua di dalem kabin pas itu. Sampai akhirnya, 2 jam kemudian pesawat pun berangkat. Akhirnya!

Bener-bener pengalaman unik naik si China Eastern. 😀

Sebetulnya masih banyak yang pingin gua ceritain selama gua di Shanghai sama di Singapura. Tapi intinya, not bad juga naik ini pesawat. Gua ngerasa gelar 10 maskapai terburuk keknya berlebihan untuk pengalaman gua kali ini. Karena pelayanan jalur yang gua naiki cukup baik dan memuaskan, kecuali delay tadi. Lumayan lah recommended buat yang demen perjalanan murah via Shanghai.

Berikut video acara jalan-jalan singkat gua di Shanghai.

Akhir kata, selamat berjalan-jalan.

Ketibaan Musim Dingin

Waktu ga terasa jalannya cepet ya. Rasanya baru September kemaren gua perpanjang visa gua, baru April kemaren gua balik jalan-jalan, baru Januari kemaren gua ngelihat monyet-monyet pada mandi. Dan sekarang, gua ketemu musim dingin lagi. Musim yang gua ga bisa umbar-umbar aurat lagi. Haha.

Gua pribadi seneng-seneng sebel sama musim dingin. Gua seneng karena gua suka suhunya. Walau bisa minus di bawah 0, badan gua ga rewel sama suhu musim dingin. Melankolis lah. Menenangkan.

Yang gua ga suka dari musim ini adalah kalau salju turun. Bagusnya di awal doang. Sisanya jalanan jadi licin karena es membeku. Orang lokal pun banyak yang berkali-kali kepeleset jatuh. Gua yang bukan orang lokal? Haha. Apalagi kalau hujan turun, wah, itu, menambah efek licin es jadi lebih licin lagi. Gua selalu takjub sama anak2 yang bisa lari-lari di atas salju tanpa jatuh. Selain itu hari-hari entah kenapa jadi suram, cem mendung-mendung ga jelas gitu. Kurang matahari lah. Nemu secercah kehangatan matahari aja senengnya bukan main. Bahkan buka freezer kulkas pun rasanya bisa lebih hangat daripada suhu sekitar.

Wah, ternyata lebih banyak yang ga gua suka ya. Haha.

Kerjaan gua prediksi bakal ga terlalu banyak berhubung beberapa sudah mulai bisa gua beresin belakangan. Maka dari itu tahun baru gua ada rencana mau pergi ke tempat hangat, atau kalau ga, bisa dibilang panas. Lima hari udah gua coba alokasiin. Gua ga sabar nunggu hari H datang. Entah kenapa gua seneng aja nunggunya. 😀

Ah, gua inget. Gua juga baru aja dapat hasil tes kesehatan.

Haha. Ini hasil nggak banget lah. Hal yang sama sekali ga pernah gua bayangin waktu jaman SMP ataupun SMA. Jaman-jaman gua kurang gizi. Kangen gua masa-masa alay gua. Belakangan gua yang udah ngerasa nggak bener sama pola hidup gua, gua mulai coba perbaiki lagi asupan makan gua. Buah pun gua jus hampir tiap hari. Kata dokter gua disarankan menghindari makanan yang paling gua cintai. Maka ayam pun gua tinggalkan sama sekali. Ah, tragisnya.

Akhir kata, semoga liburan besok bisa menoreh bekas yang lumayan membekas di ingatan gua. Besar kemungkinan gua bikin laporan video jalan-jalan gua di liburan mendatang.

Akhir kata, selamat beraktifitas semuanya.
🙂

Kembali ke rutinitas

Update blog ah.

Setelah satu minggu liburan ke Thailand dan Indo, kemaren minggu ane balik lagi ke Korewa, kembali ke rutinitas. Rasa males-malesan masih ngebayang. 1 hari 1 malam perjalanan bikin tepar juga ya seharian kemaren begitu nyampe rumah. Dan setelah ane perhatiin, yang bikin ribet perjalanan adalah pindah transit tidak di lokasi airport yang sama. Berikut rute perjalanan ane (sekalian ane rangkum perjalanan liburan ane).

  1. Apartemen (Ngangkot) – Subway – Naek Bus ke Airport :: Ini perjalanan masih menyenangkan. Karena gua lagi bergairah-gairahnya.
  2. Seoul (Incheon) – Bangkok (Suvarnabhumi) :: Awkward. 6 jam perjalanan tanpa film yang bisa ditonton di jalan itu ngebosenin.
  3. Bangkok (Suvarnabhumi) – Jalan-jalan :: Senang. Hahaha. Kecuali hostel ane rada jauh dari mana-mana.
  4. Jalan-jalan – Bangkok (Don Muang) :: Senang. Naek kereta ekonomi ke bandara. Bandaranya beda sama Suvarnabhumi. Mana keretanya sempet ngaret dan ngetem. Hahaha.
  5. Bangkok (Don Muang) – Surabaya (T2) :: Penerbangan delay. Bagasi bayar. Ga asik. Tapi 4 jam ga kerasa juga ya. Keknya karena ane juga sempet ketiduran di pesawat jadi ga kerasa.
  6. Hotel – Surabaya (T1) :: Sempet bermalam di hotel buat nunggu penerbangan ke Banyuwangi. Beda terminal.
  7. Surabaya (T1) – Banyuwangi (Blimbingsari) :: Naek foker. Kursi luas. Senang.
  8. Banyuwangi – Liburan :: Bersenang-senang dengan keluarga. Senang.
  9. Liburan :: Banyuwangi (Blimbingsari) :: Pesawat ngaret. Ada tamu di bandara. Rame. Panas. Ada yang booking rombongan. Lama. Sebel.
  10. Banyuwangi (Blimbingsari) – Surabaya (T1) :: Males balik, masih pengen liburan. Tapi Indonesia panas. Jadi pengen balik juga.
  11. Surabaya (T1) – Surabaya (T2) :: Beda terminal. Dan jauh. Kudu naek transport airport. Gak efektif. Mana nongkrong dulu lama di T2.
  12. Surabaya (T2) – Bangkok (Don Muang) :: Penerbangan delay. Bagasi tetep bayar. Tapi senang. Ada temen ngobrol. Gak kerasa nyampe Bangkok.
  13. Bangkok (Don Muang) – Bangkok (Suvarnabhumi) :: Beda airport. Jauh. Tapi naek bus gratisan. 1 jam. Lama dan ngantuk.
  14. Bangkok (Suvarnabhumi) – Seoul (Incheon) :: 6 jam. Kerasa cepet. Ketiduran di pesawat.
  15. Naek Bus – Subway – Ngangkot :: Laper. Belum makan.
  16. Nyuci. Tepar. Seharian. Hujan.

Dan akhirnya sekarang ane kembali lagi ke kantor dengan mood kerja masih belum ada dan masih pengen seneng-seneng.

Sekian. Dan akan ane posting video jalan-jalan ane secepatnya dan kalau ane lagi mood buat ngerjain begituan.