Sensasi Memulai Hidup Baru

Banyak sekali hal yang pingin gua ceritakan di sini. Sangat banyak. Ini satu bulan yang sangat melelahkan buat gua. Karena gua memutuskan balik ke Indonesia. Sebuah keputusan yang gua buat sudah dari jauh-jauh hari.

Pindahan itu…

Dan ternyata sodara-sodara, pindahan antar negara itu melelahkan sekali. Hampir setengah bulanan gua bolak-balik menyelesaikan hal-hal yang, mmm, baik yang jelas maupun ndak jelas. Mulai dari nyelesain kerjaan kantor terakhir, ngurus administrasi ke kantor pemerintahan, pesen kargo, bersih-bersih apartemen, putus perjanjian kontrak, delegasi barang sana-sini, ramah tamah bersosialisasi, pesen tiket, ngerencanain lokasi baru di Indonesia, dll dsb dst. Semuanya menguras tenaga dan uang.

Maka berangkatlah gua pulang kampung. Ndak nyadar, pas gua ngelihat pesawat gua untuk ninggalin Korewa gua berasa sangat ‘sesuatu’ dada gua. Hahaha. Ini negara udah jadi rumah ketiga gua. Bahkan setiap kali gua dulu balik ke Korewa dan ngelihat Incheon dari atas, anehnya hati gua selalu tenang, seakan gua punya perasaan gua udah nyampe rumah, gua udah bisa istirahat tenang dari hiruk pikuk kehidupan negara lain di luar Korewa. Senyinyir-nyinyirnya gua komen tentang negara yang gua tinggalin ini, dalam lubuk terdalam gua sebenarnya gua udah pewe dan seneng hidup di sini. Gua udah sayang Korewa.

Gua pun mewek.

Harga Barang

Begitu nyampe di Indonesia pun gua masih agak sibuk mempersiapkan hidup baru gua. Nggak jarang gua terkejut-kejut dengan realita kehidupan di Indonesia. Hal paling sederhana adalah Indomaret dan Alfamaret. Bahkan dalam kacamata gaya hidup perKorewaan, gua menilai harga-harga barang di toko ‘kelontong’ modern tadi agak ndak wajar, alias, mahal.

Masak teh botolan 8.000-an? Roti kesayangan gua jadi 15.000-an? Ini Indo kan? Kok mahal-mahal gini. Ini mah harga yang 10-12 sama harga-harga di Korewa. Dan bahkan terkadang dengan harga segitupun, di Korewa pun gua masih males beli barang yang harganya segitu. Dan ini di Indonesia. Ya Tuhan. Dan gua pun mengecek UMR kota-kota di Indonesia. Dan puji Tuhan! Gua nggak bisa bayangin kehidupan masyarakat biasa, orang-orang umum yang bukan kalangan menengah-atas di Indonesia. Semoga persangkaan gua salah, dan semoga gua memahami bahwa Indo-Alfa-maret adalah sudah menjelma menjadi toko barang berkelas adanya.

Sudahlah, gua percaya bahwa Tuhan menjamin rezeki kehidupan makhluk-makhluknya bahkan kepada binatang melata sekalipun sampai ajal menjemput mereka.

Gojek

Kebetulan, gua tinggal di daerah perumahan. Angkot susah nemu klo ndak jalan dulu. Dan ini kota panas dengan tingkat kelembaban ndak kira-kira. Dan gua pun belum punya kendaraan pribadi. Dan sepanjang mata memandang, gua melihat beragam lapisan masyarakat yang hilir mudik dengan motor mereka dengan wajah ceria mereka. Ummm… T_T

Dan gua pun mencoba menginstall penemuan aplikasi paling fenomenal abad 21 di Indonesia: Gojek!

Percobaan pertama, gua pilih tempat keberangkatan dan tujuan, dan gua pun klik tombol ‘Pesen’. Ndak beberapa lama, hape berdering. Ternyata sodara-sodara, si bapaknya minta dicancel aja karena lokasi kejauhan. Beuh, pertama kalinya belum-belum udah ditolak duluan. +_+

Gua pun nyoba pesen lagi, dan begitu gua neken tombol ‘Pesen’, si bapak Gojeknya langsung nelpon. Kali ini dia bisa! Dan hore, dia pun datang tidak beberapa lama kemudian, yang mana posisi kedatangannya pun bisa kelihatan di peta. Canggih. Dan untuk servis kali ini, dalam kacamata gaya hidup perKorewaan, baru bisa gua bilang ini murah. Murah dengan pelayanan prima. Lebih efisien daripada transportasi jarak dekat perKorewaan, dan lebih murah untuk ranah private pick-up servicenya. Puas gua.

Sayangnya, waktu konfirmasi top upnya lama ndak kira-kira.

Sekian apdet beberapa kehidupan gua. Akhir kata, selamat beraktivitas. ^^

Advertisements

Salmon Kimchi Rebus dengan Kerang bersaoskan Tomat Jahe

Kimchi adalah salah satu makanan penyambut gua di Korea yang sukses bikin gua mau muntah beberapa waktu sesaat setelah lahapan pertama di mulut. Intinya, gua ga demen. Acem, kecut, busuk, aneh, ga jelas, dan ga enak.

Tapi itu dulu. Sekarang, gua malah lumayan sering makan kimchi. Bahkan gua sudah mulai bisa membedakan mana kimchi enak dan mana kimchi ga enak. Padahal, pada dasarnya, rasanya ya sebetulnya, bagi gua tetep ga enak. Hahaha.

Btw, gua menemukan sebuah penemuan luar biasa. Penemuan yang merubah cara pandang gua ke kimchi beda adanya. Gua ga asal masukin segelas air ke panci lagi buat ngerebus kimchi, tapi gua menemukan cita rasa Indonesia campur Korewa dalam ramuan gua, yang gua sendiri juga sebetulnya asal njeplak juga motong, nyincang, dan nyemplungin bumbu dapur ke panci.

Inilah penampakan amatir masak-memasak gua tanpa bumbu sachet yang bikin gua ketagihan ngulang masak dengan racikan bumbu yang sama.

Boiled ClamSalmon Kimchi with Tomato Ginger Sauce spiced with Kaffir Lime Leaves and Lemon Grass

Boiled Clam Salmon Kimchi with Tomato Ginger Sauce spiced with Kaffir Lime Leaves and Lemon Grass

Berikut adalah resep pembuatannya.

Bumbu:
1 Sere
2 lembar Jeruk Purut
5 irisan tipis Jahe

Saos:
8 butir Tomat kecil
1/2 buah Paprika
3 Cabe non pedes

Rempah:
1 sendok makan tipis Garam
1/2 sendok makan tipis Lada
1 sendok makan tipis Ketumbar

Minyak:
1 sendok makan minyak zaitun

Menu utama:
Kimchi
Kerang
Salmon

Bahan-bahan. Thanks to: Flickr Nagy (Kimchi), Mohamed Yosri (Sere), Francisco Manuel Blanco (Daun Jeruk Purut), Timothy Knepp (Salmon)

Bahan-bahan. Thanks to: Flickr Nagy (Kimchi), Mohamed Yosri (Sere), Francisco Manuel Blanco (Daun Jeruk Purut), Timothy Knepp (Salmon)

Cara memasak:

Rebus bumbu di air mendidih sambil masukkan kerang.
Tunggu sampai air menguning.
Masukkan adonan saos yang sudah diulek/dicampur/diblender.
Tambahkan rempah dan minyak zaitun.
Masukkan kimchi secukupnya.
Aduk adonan sampai mendidih.
Jika adonan sudah berkurang airnya kira2 setengahnya, masukkan Salmon.
Masak sampai adonan air tinggal setengahnya lagi.

Sajikan hangat.

Hahaha. Sorry lebay. Tapi gua coba rasanya ga norak-norak amat kok. Akhir kata, selamat masak-masak bagi siapapun yang akan masak-masak apapun.

😀

Ketibaan Musim Dingin

Waktu ga terasa jalannya cepet ya. Rasanya baru September kemaren gua perpanjang visa gua, baru April kemaren gua balik jalan-jalan, baru Januari kemaren gua ngelihat monyet-monyet pada mandi. Dan sekarang, gua ketemu musim dingin lagi. Musim yang gua ga bisa umbar-umbar aurat lagi. Haha.

Gua pribadi seneng-seneng sebel sama musim dingin. Gua seneng karena gua suka suhunya. Walau bisa minus di bawah 0, badan gua ga rewel sama suhu musim dingin. Melankolis lah. Menenangkan.

Yang gua ga suka dari musim ini adalah kalau salju turun. Bagusnya di awal doang. Sisanya jalanan jadi licin karena es membeku. Orang lokal pun banyak yang berkali-kali kepeleset jatuh. Gua yang bukan orang lokal? Haha. Apalagi kalau hujan turun, wah, itu, menambah efek licin es jadi lebih licin lagi. Gua selalu takjub sama anak2 yang bisa lari-lari di atas salju tanpa jatuh. Selain itu hari-hari entah kenapa jadi suram, cem mendung-mendung ga jelas gitu. Kurang matahari lah. Nemu secercah kehangatan matahari aja senengnya bukan main. Bahkan buka freezer kulkas pun rasanya bisa lebih hangat daripada suhu sekitar.

Wah, ternyata lebih banyak yang ga gua suka ya. Haha.

Kerjaan gua prediksi bakal ga terlalu banyak berhubung beberapa sudah mulai bisa gua beresin belakangan. Maka dari itu tahun baru gua ada rencana mau pergi ke tempat hangat, atau kalau ga, bisa dibilang panas. Lima hari udah gua coba alokasiin. Gua ga sabar nunggu hari H datang. Entah kenapa gua seneng aja nunggunya. 😀

Ah, gua inget. Gua juga baru aja dapat hasil tes kesehatan.

Haha. Ini hasil nggak banget lah. Hal yang sama sekali ga pernah gua bayangin waktu jaman SMP ataupun SMA. Jaman-jaman gua kurang gizi. Kangen gua masa-masa alay gua. Belakangan gua yang udah ngerasa nggak bener sama pola hidup gua, gua mulai coba perbaiki lagi asupan makan gua. Buah pun gua jus hampir tiap hari. Kata dokter gua disarankan menghindari makanan yang paling gua cintai. Maka ayam pun gua tinggalkan sama sekali. Ah, tragisnya.

Akhir kata, semoga liburan besok bisa menoreh bekas yang lumayan membekas di ingatan gua. Besar kemungkinan gua bikin laporan video jalan-jalan gua di liburan mendatang.

Akhir kata, selamat beraktifitas semuanya.
🙂

Pulang Kampung ke Indonesia

Korea kapan hari sempat liburan Chuseok lumayan panjang 3 hari berturut-turut di hari kerja. Gua pun cuti 2 hari biar bisa liburan 1 minggu balik ke negeri kelahiran ane sendiri.

Di sini gua bakal mengulas sedikit tentang moda transportasi yang ane tumpangi. Dan untuk perjalanan kali ini, gua mamakai rute perjalanan sebagai berikut.

  1. Incheon – Jakarta [bersama Asiana] :: Awalnya gua pesen Garuda, tapi karena satu dan lain hal, gua pun membatalkan pemesanan dan naik Asiana demi waktu liburan yang lebih panjang. Kesan gua, Garuda masih jauh lebih unggul pelayanan dan kenyamanannya. Kualitas dan tingkat kejernihan hiburan multimedia bahkan masih unggul Garuda.
  2. Jakarta – Surabaya [bersama Batik] :: Ini maskapai saudaraan sama si Lion. Gua sering denger selentingan Lion hobi telat. Dan yang bikin ane wah, si Batik ini on-time banget. Gua bahkan terkesima sama interior kabinnya yang bahkan lebih asoy dibanding Asiana atau bahkan Garuda. Bahkan, monitor layar sentunya jernih pisan. Rekomended pisan lah nih maskapai.
  3. Surabaya – Banyuwangi [bersama Mutiara Timur Malam] :: Gua baru ngeh kenapa ada harga berbeda untuk kelas eksekutif. Walau gua memilih eksekutif (yang paling murah), kereta yang ane naiki berasa ga wow-wow amat kayak eksekutif Turangga. Iseng gua tengok gerbong eksekutif sebelah, ternyata bentuknya lebih mengesankan dibanding gerbong yang ane naiki.
  4. Banyuwangi – Surabaya [bersama Wings] :: Foker. Biasanya ane naik ini berangkat jam 10-11an, tapi kemarin ane berangkat jam 1-an siang. Gua mikir jangan-jangan karena kehadiran Garuda yang ikut gabung di Blimbingsari untuk keberangkatan pagi menyebabkan kepergian Wings diubah ke siang. Anyway, ga ada multimedianya seinget gua.
  5. Surabaya – Jakarta [bersama Batik] :: Gua tetep puas naik nih maskapai. Lumayan on-time. Tapi ada satu yang beda, si multimedianya ga ada movienya, padahal pas berangkat ke Surabaya di awal gua masih lihat pilihan movie. Gantinya, gua nonton acara masak-masak di sini.
  6. Jakarta – Incheon [bersama Asiana] :: Gua ngantuk berat. Rencana gua bahkan pingin lihat Kesalahan ada di Bintang-bintang kita yang katanya bikin mewek. Tapi ga ada pilihannya.

Berikut VBlog yang sempat ane bikin sewaktu gua balik ke Indonesia.

Topiknya sebagian besar tentang makan-makan, karena gua memang lagi kangen berat masakan Indonesia. Banyak hal yang sempet ane lakuin sewaktu di Jakarta, salah satunya adalah mencoba naik komuter. Dan kesan gua adalah, wah, keren pisan lah. Moda transportasi kereta dalam kotanya sudah nyaman pisan. Masuk pake kartu, keluar pun pake kartu. Salut buat PT KAI yang terus berbenah menjadi baik.

Akhir kata, selamat menikmati.

(:

Boseong Nokchabat – 보성녹차밭으로 가는 인도네시아 사람의 일기

Last week, I have a chance to get my feet to arrive at Boseong, Jeollanamdo. Many of my Korean friends have said nothing but good about this province. So I do a little bit of research on my own, and I found that this place has an enormous amount of interesting places to go. So, the day has been set up, and I went to the station to pick my ticket up. Unfortunately, the tickets are sold out. I am forced to start my journey at the next day, the journey to Korean tea plantation, Boseong Nokchabat.

That’s okay for me. But man… the transportation for going there is quite adventurous for me. It is far, and certainly not crowded, and of course, more traditional scenes can be seen along the route. The road is refreshing. I take a train, continued by taking intercity bus from Gwangju to Boseong. And at the last minute before the departure, I loss my ticket. Duh. I don’t know how it can disappear without my notice. I ran to the booth and re-buy my ticket. =_=

The story didn’t stop there. Because I get off from the bus at the wrong city. Hahaha. I thought the bus has stopped at the destination, so when I asked the driver, “So, here is Boseong, right?” He just nodded and encourage me to get off from the bus as soon as possible because of the queue behind me. Hah. Then I realized. I arrived at the middle of nowhere between Gwangju and Boseong. I am lost. Hahaha.

Fortunately, there is a village bus coming passing me, and the driver told me that I can go to there by riding his bus. So then, I arrived at Boseong.

Next, the city bus from Boseong to Nokchabat is still long to depart. So I decided to take a taxi from the terminal to the Nokchabat. I just very exhausted at that time. But, hahaha, the taxi meter is running quite little bit faster than ordinary Korean taxi. Anyway, I arrived at the tea plantation nicely and safely. It is cloudy at the time I arrived there. But it is good.

Finally, here is my footage about my journey there. Enjoy. 😀