Fitness di Luar Negeri

—Akhirnya, gua ngepost lagi setelah gua telat sekitar 3 hari dari waktu post yang gua sempet janjikan ke temen gua.

Anyway, walau judulnya Luar Negeri, sebetulnya negara yang gua maksud adalah Malaysia, Vietnam, dan Kamboja. Jadi, singkat cerita, gua beberapa minggu yang lalu melakukan perjalanan ke Malaysia, Vietnam, dan Kamboja. Berhubung badan gua biasanya bakal pegel-pegel kalau ga olahraga beberapa waktu, maka tempat fitnes di tempat-tempat yang bakal gua kunjungi jadi prioritas pencarian gua di sana. Dan berbekal dari info sana sini, maka gua pun mencoba mendatangi tempat-tempat yang berhasil gua temui. Berikut beberapa review beberapa tempat fitnes yang sempet gua kunjungi.

Peringatan: Walau gua menulis tentang tempat Fitness, gua jauh dari ahli tentang dunia perfitnessan. Badan gua pun masih one-pack dengan lemak di sana sini. Jadi jangan tanya-tanya tentang latihan-latihan ya, karena gua pun juga ndak ahli. 😀

Fitness di Kuala Lumpur

Berhubung gua nginep di deket KL Sentral, maka pilihan terdekat gua pun jatuh pada Curvez Gym and Fitness Centre. Jangan percaya sama peta google map, karena letaknya beda. Letak sebenarnya itu ada di sini.

Curvez Gym And Fitness CentreCurvez Gym And Fitness Centre-SV

Tempatnya utamanya ada di lantai 3. Di lantai bawah sama emperannya isinya orang jualan makanan. Jadi klo misalnya laper begitu selesai bisa langsung makan di pinggir jalan bawah. Itupun kalau loe pede sama bau badan loe sih.

Btw, untuk single entry gua kemarin kena RM 15. Alatnya lumayan lengkap, kardio sama untuk angkat berat lumayan banyak. Yang kurang gua lihat justru alat-alat untuk ngelatih otot perut yang minim. Tempatnya kecil, jadi semua alat kayak dipepet gitu. Tapi ada enaknya sih, pindah alat jadi cepet tinggal geser bokong dikit udah ganti. Oh, terus ada juga deng alat buat latihan dada tapi letaknya persis ngadep kasir. Super canggung. Selain itu tempatnya bener-bener nyaman. Klo lagi bengong bisa sepedaan sambil lihat pemandangan kota di luar, di mana ketika loe nengok bawah bakal lihat orang-orang lagi makan, mobil-mobil lagi melaju, dan ketika loe ngengok ke atas bakal lihat kaca. Perfect.

Pas gua berkunjung malam hari, kebanyakan pengunjung dari ras India, dan gua tidak melihat cewek di sana kecuali mbak-mbak penjaga kasirnya. Dresscodenya kudu proper, pakai sepatu dan sejenisnya. Karena gua ditegur sama bapak penjaganya ketahuan pake sendal jepit. Haha.

Foto-foto ruangan lengkapnya bisa dilihat di sini:

https://www.google.com/maps/contrib/111605701196633206236/photos

Nama: Curvez Gym and Fitness Centre
Alamat: No. 252 - B, Jalan Tun Sambanthan, Brickfields, 50470 Kuala Lumpur

Fitness di Ho Chi Minh

Kebetulan tempat fitness yang gua datangi di sini cukup sesuatu fasilitasnya walau dengan budget minimal. Namanya S Fitness. Oh, sebelum gua ke sini, di tengah jalan menuju S Fitness, gua sempet nyasar ke tempat fitness yang gua temui deket pasar karena gua lihat iklannya dipasang di depan apartemen. Kepincut dan males capek jalan, maka gua pun masuk ke dalam. Apartemennya unyu bin mewah, dan tempat fitnessnya pun juga mewah. Gua sempet terkesiap dengan kolam renangnya. Para penghuninya pun dilihat dari pakaiannya tampak terlihat dari kalangan atas. Elegan luar biasa. Harusnya saat itu gua sadar bahwa itu adalah kombinasi yang tidak memungkinkan untuk dapet single entry versi budget. Begitu mbak-mbak resepsionisnya bilang 400ribu Dong untuk single entry, gua langsung mundur teratur kabur dari apartemen unyu itu.

Maka gua pun kembali ke rencana awal untuk menuju S Fitness. Setelah ngepot nyebrang sana sini menghindar serbuan motor-motor Vietnam, gua pun akhirnya nyampe di gang pinggir jalan raya. Masuk ke dalam ada rumah gede bagus 3 lantai keknya, yang disulap jadi tempat fitness, lengkap dengan mbak-mbak dan mas-mas penjaga fitnessnya. Penghuninya kalau diamati keknya rasio kru dan pengunjungnya adalah 35 banding 65 deh. Single entry di sini 100ribu Dong. Dengan harga segitu resepsionisnya juga sempet nawarin PT.

Tempatnya itu elegan. Alat-alatnya juga masih baru dan lengkap sekali. Pencahayaan ruangannya super cerah dan nyaman. Lantai 1 isinya alat-alat resistance, lantai 2 isinya angkat berat, dan lantai 3 isinya kardio. Pengunjungnya 50% cowok 50% cewek. Ada cafe di taman depannya. Jadi loe bisa minum-minum lucu sehabis olahraga klo kecapekan. Super cozy lah. Toiletnya pun juga bagus, ada lokernya, dan klo ndak salah ingat ada saunanya. Dan yang paling gua suka adalah, mereka nyediain hair-dryer di deket westafel, yang sangat membantu sekali buat ngeringin rambut sehabis latihan biar ga basah apek-apek gak jelas kalau naik motor pas pulangnya.

Apa ya, kayaknya ndak ada yang gua komplain dari tempat ini. Karena ini pada dasarnya rumah, loe latihan pun berasa sangat di rumah sekali. Anginnya juga sepoi-sepoi, ndak panas lah tempatnya. Orang-orangnya pun standar ramah-ramah. Oh, ada deng kekurangannya, yaitu pas gua mau naruh barang di loker, kuncinya kayaknya kudu bawa kunci gembok sendiri deh. =_=’

Intinya, ini tempat recommended banget lah kalau loe lagi di Ho Chi Minh.

Foto-foto ruangan lengkapnya bisa dilihat di sini:

https://www.google.com/maps/contrib/114758469817567938003/photos

Nama: S Fitness
Alamat: 31/4 Hoàng Việt, Phường 4, Tân Bình, Hồ Chí Minh

Fitness di Hue

Hue, kota kecil di tengah-tengah Vietnam ini termasuk kota yang agak susah nyari tempat fitnessnya. Gua sempet ngikuti diskusi orang-orang di tripadvisor tentang tempat fitness yang layak di Hue, dan gua cuman mendapati 2-3 tempat, yang itupun di dalam hotel yang jaraknya lumayan jauh sama hotel gua. Di google sempet nemu dan gua coba datangi alamatnya. Pas gua ke sana tempatnya kayaknya sudah berubah jadi restoran. Agak putus asa, gua pun akhirnya mendapatkan informasi tempat fitness dari arah yang tidak gua sangka-sangka.

Maka meluncurlah gua ke alamat yang gua dapat, dan gua pun menemukannya, namanya CLB Olympic GYM & Fitness. Di facebook-webnya sih ngakunya buka jam 5 pagi. Dan ternyata oh ternyata, beneran dong, ini tempat udah buka pagi-pagi, karena gua lewat pagi-pagi udah pada rame aja orang-orang yang ngegym.

Tempatnya luar biasa bagus, bersih, artistik, modern, pencahayaan terang, dua lantai, dan alat-alatnya masih kinclong-kinclong. Ndak nyangka di kota kecil begini ada tempat fitness keren begini. Walau jauh dari kesan kalem, tempatnya super enak buat dikunjungi. Suasananya sangat kekeluargaan sekali. Resepsionisnya juga super ramah. Pas masuk dikasih handuk kecil gitu sih. Dan gua sempet khawatir lagi lokernya jangan-jangan suruh bawa gembok sendiri. Ternyata tidak sodara-sodara, mereka ngasih kunci. Dan tepat di belakang loker, ada ruangan buat sauna. Keren ih, hampir tiap tempat fitness yang gua sambangi di Vietnam ada tempat saunanya. Sayang, gua ga kuat panas-panasan di ruangan lembab. Terus, di sebelah sauna ada toilet. Dan yang lagi-lagi bikin gua seneng adalah gua menemukan hair-dryer ngegantung di depan kaca westafel. Hore! Mana pas gua datang malem itu gua baru beres muter-muter istana dan kehujanan, praktis rambut gua basah lengket bau ga jelas. Hair-dryer pun tanpa gua sia-siakan langsung gua pakai.

Adapun alat-alatnya sepenglihatan gua komplit. Mulai dari kardio, angkat berat, resistance, perut, semua ada. Pengunjungnya pun tampak terpelajar dari kalangan menengah atas. Demografi pengunjungnya pun juga sama seperti di S Fitness, 50% cowok 50% cewek. Murmer pisan dengan fitur maksimal lah pokoknya. Mereka pasang single entry-nya di harga 60ribu Dong.

DSC00927

Jujur gua masih pingin mereview tempat ini karena termasuk suka sama tempat ini. Tapi gua putuskan sudahi sampai di sini.

Situsnya bisa ditemui di sini:

https://www.facebook.com/olympichue/

Nama: CLB Olympic GYM & Fitness
Alamat: 31 Nguyễn Thái Học, Huế

Fitness di Hoi An

Jadi Hoi An ini semacam kota tua lucu kecil di tengah-tengah Vietnam deket-deket Hue gitu. Di sini gua juga kesusahan nemu tempat fitnessnya, karena peta di Google dan tempat aslinya beda agak jauh. Tapi lokasi aslinya di peta sebenernya ada di sini.

HoiAnFitnessMap

Gua sempet kebingungan nyarinya karena google ngarah ke lokasi yang beda di peta.

Btw, tempat ini sederhana sekali. Khas seperti tempat fitness rumahan di Indonesia. Alat-alatnya lumayan lengkap walau gua kayaknya ndak terlalu lihat alat kardio di sana. Kebanyakan yang gua lihat buat angkat berat sama resistance. Dengan single entry 50ribu Dong, tempatnya agak kurang sepadan sama kualitasnya. Karena tempat sebelumnya yang 60ribu Dong aja udah dapet fasilitas banyak. Selain itu di resistance belakang, ada toilet yang, kebetulan pas gua pake latihan di sana, sepoi-sepoi semerbak aroma amonia menyapa dengan cukup gencarnya. Selain itu ada alat yang kudu diset dulu puteran besinya buat nentuin bebannya karena ndak pas lobangnya. Duh.

DSC01003

Tapi overall, tempatnya oke kok buat yang mau latihan sehari-sehari. Demografi pengunjungnya gua lihat-lihat 90% cowok 10% cewek. Dan banyak anak seukuran SMA yang latihan di sini. Bagi yang sedang berkunjung ke Hoi An, silahkan mencoba tempat fitness satu ini.

Nama: -lupa gua-
Alamat: 11 Trần Cao Vân, Sơn Phong, tp. Hội An

Fitness di Siem Reap

Seluruh kesan Kamboja yang gua temui di jalan berjungkir terbalik begitu gua memasuki tempat ini. Karena ini tempat fitnes paling sangat tertestosteron yang pernah gua temui.

Selama gua memasuki perbatasan Kamboja di hujung pedesaan sampai ke ibukotanya si Phnom Penh, gua melihat sekumpulan manusia dengan mayoritas ber-BMI rendah. Gua berpikir bahkan Vietnam atau Indonesia ndak segitu-segitunya amat. Gua sampai sempet kasihan secara ndak sadar. Karena di Phnom Penh gua sempet skip 1 hari karena udah kemaleman nyampe sananya, maka begitu nyampe Siem Reap gua pun segera nyari tempat fitness terdekat. Dan gua pun menemukan Angkor Muscle Gym. Dan eng-ing-eng pas gua dateng, ini adalah tempat fitness terbinaraga yang pernah gua temui. Karena penghuninya mayoritas badannya cem udah pada jadi semua ala-ala binaraga. Dan itu rame pisan. Semacam segala kumpulan orang-orang dengan pola makan terpenuhi dengan baik seKamboja pada kumpul di situ.

Gua keder-sekedernya masuk sini. Soale biasanya tempat fitness yang gua pernah join, biasanya sekitar 50-75% penghuninya badannya masih pada devolepment in progress, jadi gua berasa ndak minder karena banyak temennya. Lah ini, duh, bahkan gua ngelihat anak cem TK diajarin fitness sama ortunya. Dan mereka mayoritas pada shirtless semua, cem 1 banding 25 yang pake kaos, kecuali yang cewek. Dan gua pake kaos.

Jadi itu cem kayak gudang pabrik yang disulap jadi tempat fitness, lengkap dengan AC alami, dengan angin sepoi-sepoi panas-panas ndak jelas. Isi alatnya, kayaknya, gua ndak lihat kardio sama sekali deh. Isinya buat angkat berat sama resistance semua. Walaupun jadul-jadul alatnya, ini adalah tempat fitness dengan alat terlengkap yang pernah gua temui. Dan harganya pun relatif murah, untuk single entry cuman $1 kalau loe orang asing dan 2000 riel untuk orang lokal. Skema bangunannya, halaman depan buat parkir motor, ini suer rame pisan ndak jelas. Terus masuk ada kasir. Adapun bagian pertama isinya angkat beban, dan ini rame ndak jelas. Isinya orang-orang telanjang dada sambil narsis-narsis depan kaca. Dilanjut seksi kedua temanya resistance. Isinya agak longgaran walau tetep aja rame. Dan terakhir di ujung gudang ada buat aerobic yang diisi mayoritas cewek-cewek.

Berhubung alat-alatnya besi-besi yang udah karatan, megang sebentar aja tangan jadi bau entah kena campuran keringat plus ferrum. Tapi jangan khawatir, ada westafel deket toilet, dengan sabun tentunya. Bukan sabun pencet sih, tapi sabun batangan yang udah dipakai banyak orang. Hem. =_= Btw, agak bingung gua nyarinya, karena berdasar peta harusnya setelah lewat jembatan masih ke utara dikit. Gua pun kebablasan, karena tempatnya persis di depan jembatan, mana malam-malam lagi.

Silahkan mencoba bagi yang sedang di Siem Reap. Worthed pisan lah. Oh iya, kalau bawa temen cewek alim, suruh aja doi persiapkan mental terekspos dengan hawa-hawa kejantanan super maksimal di tempat ini. Maklum, tempat ini ternyata berhubungan sama Angkor Bodybuilding Association alias asosiasi binaraganya mereka. 😀

Situsnya bisa ditemui di sini:

https://www.facebook.com/Angkor-Muscle-Gym-1420178121529234/

Foto-foto ruangan lengkapnya bisa dilihat di sini:

https://www.google.com/maps/contrib/112627896480431114479/photos

Nama: Angkor Muscle Gym
Alamat: House #0471, Watdamnak Village, Salakomreuk Commune, Siem Reap

 

Pengalaman ke China tanpa Visa – China Eastern Airlines – TWOV

Pada umumnya untuk masuk China, WNI membutuhkan visa. Nah kebetulan kemaren, untuk mengisi liburan dalam rangka mengingat 215 tahun dibubarkannya VOC, gua memutuskan ingin jalan-jalan ke kota-kota di negara sekitar (Korea), yang dalam hal ini gua putuskan China sebagai negara tujuan gua. Dulu pernah gua dibantuin bikin visa turis ke China, dan saat itu dokumen yang perlu disiapin ga seribet visa negara tetangganya. Tapi teuteup, gua ga ada pengalaman bikin visa turis China langsung dan gua pun males cuti bolak-balik bikin dan ambil visa di sini. Ditambah gua dapat info, visa turis ke China mensyaratkan masa berlaku Alien Card (kartu kependudukan orang asing di Korea) minimal 6 bulan. Adapun visa gua adalah visa yang kudu gua perpanjang di akhir tahun, alias gua ga memungkinkan apply visa turis ke China di bulan-bulan Juli ke bawah.

Namun ternyata Tuhan menunjukkan cara lain. Ternyata tiket pesawat dari Seoul ke Singapura lebih efisien dibanding gua beli Seoul ke Shanghai atau kota-kota sekitar. Terlebih Papi gua ada di Medan yang notabene deket dengan Singapura. Dan tiket Seoul ke Singapura ini memungkinkan gua untuk transit di Shanghai hampir seharian. Dan yang lebih menyenangkannya lagi, ternyata China memiliki kebijakan TWOV aka Transit Without Visa (Transit Tanpa Visa). Di China kebijakan ini memungkinkan para pengguna maskapai untuk berhenti sebentar di kota transit setelah melewati imigrasi, dan diperbolehkan untuk berkeliaran bebas di kota tersebut (dalam beberapa kasus, bebas di daerah tersebut) selama kurun waktu 24 jam.

Tiket pun mulai gua pesan untuk tujuan Singapura. Saat itu pilihannya China Eastern Airlines yang tersedia. Ini gua lihat-lihat harganya murmer untuk ukuran penerbangan jarak jauh. Bisa dibilang Air Asianya China, walau ada juga yang China Southern Airlines. Iseng-iseng gua ngecek rating nih maskapai, dan gua pun menemukan berita bahwa dia masuk 10 maskapai terburuk. Komen-komennya banyak yang ngeluh tentang makanan yang di sediakan. Suram. =_=’

China Eastern Airlines. Thanks to: ch-aviation

China Eastern Airlines. Thanks to: ch-aviation

Btw, gua pun mulai mencari-cari Hostel murah daerah Shanghai. Oh ya, Shanghai ini punya 2 bandara internasional, Hongqiao sama Pudong. Dan bandara kedatangan gua berbeda sama bandara keberangkatan gua. Gua kudu turun di Hongqiao baru kemudian besoknya nyambung penerbangan ke Singapura via Pudong. Dan dua-duanya ini jauh jaraknya. Maka gua pun memutuskan untuk nginep di Hostel yang lokasinya kira-kira ada di tengah-tengah kedua bandara tadi, yang ternyata, setelah gua lihat-lihat peta, banyak tempat menarik yang bisa gua datangi di sekitar Hostel gua.

Peta Bandara Hongqiao ke Pudong. Thanks to: map.baidu

Peta Bandara Hongqiao ke Pudong. Thanks to: map.baidu

Maka tibalah hari H. Sebetulnya masih terbesit rasa kurang percaya diri di gua. Pertanyaan-pertanyaan cem, “Ini beneran boleh diijinkan masuk ga ya di Shanghainya. Bijimana prosesi pengurusan TWOV ini? Ada bagian sendirinyakah atau gimana?”, bermunculan di otak gua. Soalnya publikasi tentang TWOV ini lebih kenceng informasinya yang tentang TWOV 72 jam. TWOV 72 jam sendiri adalah kebijakan TWOV untuk pemegang paspor negara-negara tertentu, yang Indonesia, ternyata tidak termasuk di dalamnya. Singkat kata, akhirnya gua pun berangkat dari Incheon menuju Shanghai. Si counternya ga mempermasalahkan rencana ke-TWOV-an gua, dia malah justru nanyain status visa Singapura gua. Padahal Singapura masuk perjanjian bebas visa ASEAN.

Sesampai di dalam pesawat kesan pertama yang gua lihat, kabinnnya ga jelek-jelek amat. Ga sesuram poto kabin yang ane temuin di google. Bener-bener mengingatkan gua sama Air Asia. Juga, seinget gua walau kursinya agak keras, tapi tetep nyaman untuk diduduki. Intinya, interiornya bisa dibilang bagus. Setelah selang beberapa lama pesawat berangkat, pramugari pun mulai ngebagiin makanan. Dan pas nyampe di kursi gua, gua ngelihat tulisan “肉” aka “daging” di bungkus makanan. Gua pun tanya ke si pramugarinya ada ga makanan vegetarian. Dia pun rada bingung karena makanan tampak tidak ada, dan dia pun balik bertanya, sudah pesen makanan spesial belum sebelum berangkat? Dan gua baru ngeh si China Eastern ini menawarkan jasa makanan khusus yang bisa dipesan sebelum berangkat. Alhasil gua pun cuman makan roti. Hik. Ah, tapi untungnya, penerbangan leg kedua gua dari Shanghai ke Singapura, mereka ada sediain dua jenis makanan, yang salah satunya adalah “鱼” aka “ikan”. Puji Tuhan, gua pun bisa makan di perjalanan yang kedua ini. Pas ane lihat, isinya itu cem ikan lele deh keknya. Haha. Btw, selese dengan makanan gua pun beralih nonton film. Ini gua lupa-lupa ingat, kayaknya ya, ada leg penerbangan yang ga ada filmnya. Tapi yang ada filmnya, koleksi filmnya lumayan oke punya doi.

Setelah perjalanan singkat, maka pesawat pun nyampe di Hongqiao, Shanghai. Di ruang kedatangan imigrasi, sudah banyak orang berjejer antri masuk. Gua awalnya pikir klo TWOV 24 jam ada loketnya sendiri atau diurus maskapai. Dan gua tidak melihat kedua hal itu. Gua pun siap-siap ngeluarin tiket gua yang nunjukkin klo gua ada tiket pergi ke negara ketiga yang nunjukkin klo gua cuman transit di bawah 24 jam. Ternyata selang ga berapa lama, ada petugas imigrasi yang mondar-mandir ngecekin penumpang sambil tanya-tanya apakah mereka transit atau nggak. Giliran gua nyampe di depan petugas imigrasi dan lapor klo gua transit, si petugasnya langsung ngarahin gua dikumpulin di area sendiri setelah garis pembatas masuk imigrasi di mana ada petugas transit khusus TWOV di sana. Banyak orang-orang pada berdiri nunggu di sana. Paspor ane pun diminta. Mereka meriksa paspor satu-satu dan tiketnya ternyata. Yang lolos pemeriksaan pun mulai dipanggil satu-satu. Lama gua nunggu, ada 10-30 menit kali ya. Sampai akhirnya ada petugas yang nyocokin paspor gua sama wajah gua dan doi pun ngasih paspor gua sambil ngangguk bilang, “OK”. Haha. Gua akhirnya lolos dan bisa masuk China tanpa paspor. Hore. Jadi tips gua, klo kalian lagi TWOV-an dan kebetulan ngerencanain transit yang mepet antar 2 airport, ada baiknya diperhatikan juga waktu buat pemeriksaan transit.

Ada sesuatu yang menarik yang gua amati sewaktu gua transit balik dari Singapura-Shanghai ke Shanghai-Incheon. Waktu itu gua berangkat sekitar jam 11:25 malam Singapura dan nyampe Shanghai jam 4:55 Subuh. Mata gua masih beberapa Watt dan gua pun masih belum 100 persen sadar waktu turun. Di bandara kedatangan ada loket khusus bagi mereka yang transit tanpa masuk ngelewati imigrasi. Dan itu antrian udah mulai mengular. Dan jam segitu si loketnya masih adem ayem aja. Ada mbak-mbak yang nungguin loket sih, tapi mereka ga ngapa-ngapain. Beberapa bule yang ga sabar ngedatangin tuh meja nanya kapan dibuka. Mereka jawab sesuatu. Gua ga denger. Yang jelas si bule, yang kebetulan bawa maknya, keluar dari baris antrian dan langsung nyelonjor di kursi tunggu. Ane pun keluar antrian dan mengarungi toilet dan tempat-tempat nongkrong sekitar bareng warga-warga asing yang pada bengong-bengong ga jelas. Ternyata sodara-sodara, loketnya bukanya jam 5:30 pagi. Untung gua ga pegang penerbangan lanjutan di bawah jam segitu. Barulah ane bisa masuk ke ruang boarding yang masih sepi dan selonjor tidur di salah satu kursi gate sepi pagi itu.

Mobil Bagasi

Mobil Bagasi

Oya selain itu, transit balikan ini juga menguras ati. Sebelumnya ane pernah denger temen ane delay 2 jam di Shanghai, dan katanya ini tempat emang terkenal delaynya sama tuh maskapai. Tapi maskapai ane ternyata ga ngetem tuh manggilin penumpang di boarding room, aka tepat waktu manggilnya. Gua pikir ane beruntung masuk pesawat tepat waktu. Gua pun udah ga sabar segera nyampe Incheon dan tidur di rumah. Nuansa kabin saat itu gray, pramugari-pramugarinya hilir mudik pasang wajah sedikit senyum. Di luar pun cuaca mendung. Gua teringat gua sempet ngelihat mobil bagasi masukin barang ke dalam pesawat. Lama gua menunggu. Ada kira-kira beberapa menit, si kapten ngasih pengumuman yang gua rada ga ngeh apa maksudnya. Suasana ceria di hati gua pun mulai bete. Karena pesawat ga berangkat-berangkat. Detik pun berjalan lambat. Yang setelah gua amati gua mulai gelisah karena pesawat ga berangkat-berangkat sesudah 1 jam ane nongkrong di dalem. Beuh. Buset dah. Klo delay di boarding room gua masih bisa keluyuran jalan-jalan atau beli makanan atau cuci mata lihat pemandangan. Nah ini, gua diphpin di dalem kabin yang ga tahu kapan berangkatnya. Ngelihat orang-orang mulai ga sabar, para pramugari pun mulai ngebagiin makanan ke orang-orang. Lumayan ngehilangin kebosanan. Makanan pun beres. Terus ngapain? Haha. Bete gua di dalem kabin pas itu. Sampai akhirnya, 2 jam kemudian pesawat pun berangkat. Akhirnya!

Bener-bener pengalaman unik naik si China Eastern. 😀

Sebetulnya masih banyak yang pingin gua ceritain selama gua di Shanghai sama di Singapura. Tapi intinya, not bad juga naik ini pesawat. Gua ngerasa gelar 10 maskapai terburuk keknya berlebihan untuk pengalaman gua kali ini. Karena pelayanan jalur yang gua naiki cukup baik dan memuaskan, kecuali delay tadi. Lumayan lah recommended buat yang demen perjalanan murah via Shanghai.

Berikut video acara jalan-jalan singkat gua di Shanghai.

Akhir kata, selamat berjalan-jalan.

Ketibaan Musim Dingin

Waktu ga terasa jalannya cepet ya. Rasanya baru September kemaren gua perpanjang visa gua, baru April kemaren gua balik jalan-jalan, baru Januari kemaren gua ngelihat monyet-monyet pada mandi. Dan sekarang, gua ketemu musim dingin lagi. Musim yang gua ga bisa umbar-umbar aurat lagi. Haha.

Gua pribadi seneng-seneng sebel sama musim dingin. Gua seneng karena gua suka suhunya. Walau bisa minus di bawah 0, badan gua ga rewel sama suhu musim dingin. Melankolis lah. Menenangkan.

Yang gua ga suka dari musim ini adalah kalau salju turun. Bagusnya di awal doang. Sisanya jalanan jadi licin karena es membeku. Orang lokal pun banyak yang berkali-kali kepeleset jatuh. Gua yang bukan orang lokal? Haha. Apalagi kalau hujan turun, wah, itu, menambah efek licin es jadi lebih licin lagi. Gua selalu takjub sama anak2 yang bisa lari-lari di atas salju tanpa jatuh. Selain itu hari-hari entah kenapa jadi suram, cem mendung-mendung ga jelas gitu. Kurang matahari lah. Nemu secercah kehangatan matahari aja senengnya bukan main. Bahkan buka freezer kulkas pun rasanya bisa lebih hangat daripada suhu sekitar.

Wah, ternyata lebih banyak yang ga gua suka ya. Haha.

Kerjaan gua prediksi bakal ga terlalu banyak berhubung beberapa sudah mulai bisa gua beresin belakangan. Maka dari itu tahun baru gua ada rencana mau pergi ke tempat hangat, atau kalau ga, bisa dibilang panas. Lima hari udah gua coba alokasiin. Gua ga sabar nunggu hari H datang. Entah kenapa gua seneng aja nunggunya. 😀

Ah, gua inget. Gua juga baru aja dapat hasil tes kesehatan.

Haha. Ini hasil nggak banget lah. Hal yang sama sekali ga pernah gua bayangin waktu jaman SMP ataupun SMA. Jaman-jaman gua kurang gizi. Kangen gua masa-masa alay gua. Belakangan gua yang udah ngerasa nggak bener sama pola hidup gua, gua mulai coba perbaiki lagi asupan makan gua. Buah pun gua jus hampir tiap hari. Kata dokter gua disarankan menghindari makanan yang paling gua cintai. Maka ayam pun gua tinggalkan sama sekali. Ah, tragisnya.

Akhir kata, semoga liburan besok bisa menoreh bekas yang lumayan membekas di ingatan gua. Besar kemungkinan gua bikin laporan video jalan-jalan gua di liburan mendatang.

Last winter trip

A post shared by 亜木 Prasetiadi (@agiprasetiadi) on

Akhir kata, selamat beraktifitas semuanya.
🙂